
Sesampainya di rumah, Ocha mendengar suara tangisan dari sudut dekat tangga menuju kamarnya. Ini bukan untuk yang pertama kali, bahkan saat dirinya pulang dari rumah sakit ia bisa mendengar tangisan yang sebelumnya tidak pernah ia dengar sama sekali.
“Hu ... hu ... hu ... hiks.”
Suara itu selalu mengusik telinga Ocha, saking seringnya ia sudah merasa tidak asing lagi. Tak ada lagi rasa ingin tau apa lagi takut yang merayapi dirinya.
Toh selama ini, makhluk itu selalu saja mengusik dirinya tapi tidak sampai melukainya. Hanya saja akan melihatkan wujud yang bisa membuat mual bahkan mengerikan.
Saat awal, Ocha memang merasakan ketakutan yang luar biasa, bahkan berkali-kali sakit juga jatuh pingsan. Tapi, untuk kali ini ia sudah mulai bisa mengendalikan diri, berusaha semaksimal mungkin untuk melatih dirinya untuk tidak peduli dan mengabaikan semua hal yang mengusik mata, pendengaran bahkan indera penciumannya.
Berada di rumah, ia tidak melihat tanda-tanda orang berada di sana. Bahkan, mama, bi Laksmi dan supirnya pun juga tidak ada terlihat.
Hatinya seakan berkata, dan otaknya juga ikut berpikir. Apa benar hal yang ia takutkan itu terjadi?
Tring!
Massage : Non Ocha, langsung ke rumah sakit Medika ya!
Gadis itu membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang. Pikiran buruk pun juga ikut melayang dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang lagi, Ocha langsung bergegas menuju mobilnya, dan melajukannya pada jalanan raya.
***
Lorong-lorong rumah sakit, Ocha sangat benci tempat ini. Semenjak ia keluar dari rumah sakit tiga tahun yang lalu, ia benci dengan tempat ini. Bukan dengan tanpa alasan, tapi karena ia bisa melihat roh-roh yang baru saja meninggalkan jasadnya, juga hantu-hantu lama yang betah bertahan di rumah sakit ini dan tak mau pergi. Juga roh-roh penasaran yang mengusili, atau sekedar memaksa Ocha untuk menolongnya.
Baru saja Ocha hendak mencari di mana mamanya berada, ia melihat sosok pucat yang ia yakini itu adalah roh yang baru saja meninggal kan jasadnya. Gadis itu berusaha untuk berpura-pura tidak melihat makhluk itu, namun apa lah dayanya, saat ia melihat kaki Alia mamanya, dengan terpaksa ia melihat mata dan wajah seorang gadis yang kurus kering dengan kepala bolong, juga perut yang cabik. Gadis itu menelan salivanya.
“Tolong aku, kasih tau keluargaku, kalo aku di sini,” bisik roh itu padanya. Namun dengan cepat ia alihkan.
Kali ini, Ocha tertegun saat mendengar tangis dan teriakan histeris dari mamanya, yang sudah terduduk lemas di kursi tunggu. Gadis itu hanya bisa terdiam dan mendekat. Tapi, sejauh ini ia belum melihat hal buruk terjadi, karena ia belum melihat roh papanya yang keluar dari raga, seperti kematian seseorang yang acap kali ia lihat.
“Ma,” panggil Ocha, dan memegangi pundak Alia yang kini masih menangis, dan memeluk cepat tubuh anak bontotnya itu.
Tak berapa lama setelah itu.
“Ocha, papa gak apa-apa kan? Papa baik-baik aja kan Cha? Kenapa papa panggil mama, bi Laksmi gak ada yang denger papa?” suara itu, membuat mata Ocha terbelalak kaget. Kali ini ia tidak salah lagi, roh yang berbicara padanya kali ini adalah roh papanya sendiri.
Ocha melepas pelukan Alia. Lalu, menatap nanar ke arah pria yang kini tampak pucat itu, bahkan kakinya saja sudah tidak menapaki lantai.
“Papa, Cha!”
“Papa udah gak ada,”
Tangis Alia semakin pecah, bahkan Helven yang berada di sana tersentak tak percaya. Seraya menatap punggung tangannya, lalu kaki yang kali ini tidak menapak ke lantai.
__ADS_1
“Cha, papa udah gak ada?” bisik Helven pada Ocha yang kini terpaku, dan air mata yang turun begitu saja dari pelupuk matanya.
Ocha hanya terdiam, dan membalas pelukan mamanya.
“Ocha udah bilang, biar papa gak usah pergi. Tapi kenapa gak dengerin? Kenapa anggap semua yang Ocha bilang itu bohong?”
Kalimat itu terlontar dari mulut Ocha, begitu saja. Mendengar hal itu, Alia semakin sesegukan, dan Helven juga ikut menitikkan air matanya. Ia menyesal, karena terlalu takabur dan tidak pernah mempercayai hal yang sebenarnya ada.
Ckit!
“Permisi Bu, tubuhnya mayat akan di bawa pulang ke rumah,” ujar salah satu perawat saat berada di hadapan keduanya.
“Bu, yang sabar ya Bu,” Bi Laksmi mengusap lembut bahu wanita yang kini menangis tersedu-sedu itu. Sementara roh Helven yang ada di sana tak kuasa menahan kepahitan juga rasa sakit yang menimpa keluarganya.
“Ma, jangan nangis lagi. Semuanya udah takdir ma,” ujar Ocha pelan, di relung hatinya yang paling dalam, ia sangat menyesal karena tidak bisa mencegah papanya. Ia membenci dirinya karena kelebihan yang ia punya. Meskipun Helven tidak percaya dengan hal mistis, roh bahkan tentang jasad yang akan kembali ke tanah, tapi ia tetap tak ingin kehilangan pria itu.
“Bu, ayok kita pulang. Jenazah udah mau di bawa pulang sama pihak rumah sakit,” tukas Bi Laksmi hati-hati, karena ia takut membuat Alia semakin terpuruk dan bersedih.
Akhirnya, Ocha dan bi Laksmi memapah tubuh Alia yang lemah itu menunjuk mobil.
Sementara Helven, tampak terdiam dan tangis yang pecah melihat kacaunya kondisi keluarganya kala itu.
***
Kali ini, rumah sudah dipenuhi oleh para pelayat, aura kesedihan semakin terasa. Di tambah, ramainya kendaraan, juga para anggota berseragam coklat juga ikut hadir kali ini.
Pria itu melangkah mendekat, lalu duduk di samping gadis yang kini bersimpuh lemah di samping jasad Helven yang kaku.
“Lo tau kan, roh bokap lo masih ada di sini, dia merasa menyesal, dan bersalah,” bisik Vito pada Ocha.
“Sebenarnya ini ada apa, Cha?” tanya Vito lagi.
“Gue gak bisa bicarain itu sekarang! Kasih gue waktu sendiri, untuk tenang!” ketus gadis itu, lalu memilih beranjak dan meninggalkan Vito yang menatap punggung gadis itu menjauhinya.
Tak berapa lama, seorang gadis datang wajahnya juga mirip dengan Ocha. Hanya saja, ia sudah terlihat lebih dewasa. Vito yang menatapnya, sudah bisa menebak jika itu kakaknya Anya. Gadis itu, sontak berlari menghampiri Alia yang tengah menangis tersedu dan begitu pun dengannya yang tak menyangka kepergian ayahnya begitu cepat.
“Anya, papa kamu udah gak ada,” suara itu terdengar begitu sedih dan pilu. Anya menyeka air matanya, lalu kembali ikut menangis terisak.
Ocha yang melihat dari balik lantai dua kamarnya, hanya menghela napas gusar.
“Gue benci sama kelebihan yang gue miliki,” batin Ocha.
***
__ADS_1
Sehari setelah Helven di makamkan, Ocha kembali ke sekolah. Ia tak bisa melihat keadaan rumah yang auranya begitu suram dan menyedihkan. Terlebih, roh Helven masih berada di sana dengan wajah yang terlihat menyesal.
Sekolah masih terlihat sangat sepi, namun Ocha tidak memiliki secuil rasa takut lagi akan hal itu.
“Aw,” ringisnya, saat seseorang melemparkan sesuatu tepat mengenai kepalanya. Gadis itu mengepal kesal.
“Heh, cewek aneh!” teriaknya. Mereka ada tiga pria yang berwajah tampan, namun memiliki sikap yang sama saja seperti siswa dan siswi kebanyakan.
Ocha yang mendengarnya menatap datar ke arah mereka bertiga.
“Kenapa?”
“Hah? Lo masih bisa bilang kenapa?” tanya salah satu dari mereka yang berdiri paling depan.
“Lo tuh jadi cewek aneh banget ya, dan lo juga bisa liat kapan bokap lo meninggal. Lo paranormal atau dukun yang bekerja sama dengan setan?” tuduhnya begitu saja, membuat Ocha terkesiap mendengar ocehan gak bergunanya. Namun percuma saja jika gadis menjawab, pasti mereka gak akan pernah percaya dengan apa yang ada.
“Gue gak aneh, tapi gue istimewa,” singkat Ocha.
“Hah! Gak ada ya, orang yang bisa liat hantu, apa lagi kejadian yang akan datang! Emang lo Tuhan?” Sarkas pria itu lagi pada Ocha.
“Kalo emang beneran bisa, coba lo liat masa depan bos gue ini,” sela salah satu temannya, yang berbicara dengan nada santai seolah tidak ada beban.
Kedua temannya itu, langsung menoleh bersamaan ke arah pria yang kali ini memegangi tengkuknya itu, seraya cengengesan.
“Lo kalo ngomong bisa gak sih, pake otak dulu?” bisik pria yang ada di sampingnya.
“Woi, bang–“
“Kematian atau pun kecelakaan tragis memang belum terlihat di lo, tapi gue lihat bakalan terjadi sesuatu di salah satu, antara kedua teman lo ini,”
Ocha menatap ke arah salah satu teman pria itu, dengan tatapan dingin, datar dan begitu tajam. Membuat buku kuduk siapapun yang melihatnya akan ikut merinding.
Pria yang di tatap lama oleh Ocha itu, menelan salivanya susah payah.
Koridor sekolah kali itu, begitu terasa dingin dan mencekam. Saat kalimat itu di lontarkannya.
“Lo gak usah percaya deh sama paranormal gadungan ini, lo tau kan di kayak gitu supaya
satu sekolahan tau sama dia, dan dia jadi terkenal,” pungkasnya lagi.
Akan tetapi, gadis itu tidak peduli. Ocha kemudian berlalu meninggalkan ketiga pria itu.
“Gak usah dengerin kata tuh cewek, dia ngomong gitu supaya kita takut dan gangguin dia lagi!” ujar pria yang tadi meminta untuk melihatkan masa depan pria angkuh yang di panggilnya bos itu.
__ADS_1
Sementara yang di tatap tajam dan lama oleh gadis itu, terlihat tampak cemas dan khawatir.
***