Jangan Jadi Aku

Jangan Jadi Aku
Awal Dari Sebuah Masalah


__ADS_3

Mendengar hal itu, Alia dan Helven terkejut. Bahkan, Ocha yang tadinya tertidur ikut terbangun karena suara benda itu terdengar sangat keras. Selang beberapa menit mereka terdiam, terdengar suara langkah kaki manusia di luar kamar.


Suara hentakan kaki itu semakin jelas terdengar. Membuat buku kuduk siapapun yang mendengarnya juga akan ikut merinding. Bukan hanya itu, saat Alia melirik ke arah jam dinding ia mendapati waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 Alia kini semakin menegang.


“Ma, itu ada makhluk tinggi hitam diluar,”


“Ssstt! Kamu ngomong apa sih! Jangan aneh-aneh,” sentak Alia cepat sebelum Ocha melanjutkan omongannya.


Pria yang bertubuh besar itu, kini beranjak dari kasur. Ia berniat melihat apa yang ada diluar. Namun nihil, ia tidak mendapati siapapun di luar sana. Bahkan, saat ia melihat ke arah luar pun mobil yang tadi terparkir sudah tidak ada lagi, hanya ada mobilnya sendiri dan suasana halaman luar sangat mengerikan.


Helven menghela napasnya gusar. Kenapa bisa-bisanya ada orang yang usil seperti ini. Begitulah pikirnya, karena Helven tidak percaya dengan apa itu makhluk astral, setan, hantu dan sejenisnya.


“Siapa?” tanya Alia.


“Gak ada siapa-siapa kok,” jawab Helven sembari membalikkan badannya. Ia kembali menghampiri sang istri dan anaknya yang masih setia duduk di atas ranjang.


“Mama sama papa kenapa sih gak pernah percaya sama Ocha? Di sana ada orang bertubuh besar, hitam, gigi taring, ma–“


“STOP Ocha. Jangan bicarakan hal yang berbau mistis apa lagi hantu, mereka gak ada! Gak usah parnoan banget, papa gak suka ya!” tegas Helven pada Ocha yang kini terdiam, lalu meringkuk masuk ke dalam pelukan Alia dan menangis karena suara Helven saat itu naik beberapa oktaf.


Pria yang usianya kini sudah setengah abad itu kembali memakai kacamata bacanya. Lalu, bergelut dengan laptop yang ada di hadapannya tanpa memedulikan gangguan itu lagi. Namun, saat dirinya tengah di sibukkan dengan keyboard laptop Alia kembali terdengar setengah berbisik dengan nada suara bergetar.


“Ma, kita harus keluar sekarang juga! Penghuni rumah ini marah kita ada di sini ma! Ocha gak mau, dia bikin kita celaka. Terutama Papa, Ma!” teriak Ocha seraya menarik tangan Alia dan Helven bersamaan, namun kekuatannya belum seberapa yang mampu untuk menyeret kedua orang tuanya keluar dari ruangan itu.


“Ada dalang di balik ini semua!” tukas Helven masih berpikir jika itu adalah manusia, padahal itu adalah hal mistis.


“Ba ... bau apa ini?” tanya Alia seraya mengendus-endus aroma yang ia cium.

__ADS_1


“Ini bau melati ma!” teriak Ocha. Alia sontak terbelalak kaget mendengar apa yang di katakan oleh anaknya itu.


“Pah, ini udah gak bisa di biarin. Kita harus keluar! Lama-lama mama bisa gila di sini!” paksa Alia, menarik keluar tangan suaminya lalu menarik Ocha agar bergegas keluar dari kamar homestay yang akan ia tempati itu.


“Kita gak bisa keluar gitu aja ma! Kita udah pesan tempat ini, dan kita pun udah ba–“


“Papa lebih sayang uang, dibandingkan kita? Dibandingkan keselamatan kita, papa lebih pentingin uang!” potong Alia cepat sebelum suaminya itu kembali menjawab perkataannya.


Sontak keduanya kembali terdiam, saat bunyi kran air mengalir kembali terdengar. Seolah ada yang sedang mandi di sana, Alia semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Helven yang entah kenapa ikut menegang. Posisi mereka yang hendak melangkah keluar itu kembali dikagetkan dengan hembusan angin yang kencang dan membuat sebagian gorden terbuka.


Terlihat sekilas dari arah kamar mandi, lewat sesosok makhluk berbaju putih yang kotor dan lusuh, serta mata yang tajam dan rambut panjang terurai menatap ke arah mereka bertiga.


“Ma, ini udah diluar kendali ma, aku gak mau kalo kita sampai kenapa-napa! Pah, Ocha mohon kali ini dengerin Ocha sama mama! Makhluk yang papa anggap gak ada, itu nyata adanya sekarang!” panik gadis itu seraya berteriak.


Alia tersentak kaget dan berteriak histeris mendapati makhluk itu berada di hadapannya. Wanita itu sontak memeluk erat sang suami.


Akan tetapi, sebelum mereka berhasil keluar, ketiganya dikagetkan dengan suara cekikikan yang sangat keras. Dengan gerakan refleks keluarga kecil itu bergegas menghampiri pintu keluar. Namun, sebelum mereka benar-benar sampai ke pintu keluar sesosok makhluk hitam besar tiba-tiba melintas di hadapan Helven, Alia dan Ocha dengan cepat.


Barang-barang yang tadinya tertata rapi di setiap lorong pintu keluar itu pun berjatuhan satu per satu membuat Alia dan Ocha pun semakin ketakutan. Suara cekikikan itu semakin jelas terdengar, membuat keduanya tutup telinga dan berteriak dengan keras. Tapi tidak dengan Helven yang kini malah menantang makhluk berwajah bengis itu.


Lalu mulutnya berkomat-kamit membaca doa untuk mengusir makhluk astral itu. Dengan sigap pria itu menggandeng tangan keduanya dan menuju parkiran.


“Malam ini juga kita pulang!” putusnya.


***


Setelah kejadian semalam, Alia sudah merasa tenang. Namun berbeda dengan Ocha yang kini masih tampak memucat, dengan sikap dingin yang selalu hadir di dirinya, tidak seperti ia dulu sebelum operasi mata.

__ADS_1


“Pagi sayang, kok wajahnya pucat banget, kamu sakit?” tanya Alia seraya meletakkan tangannya ke kepala gadis itu.


“Hah? Enggak kok ma, Ocha baik-baik aja!” pungkas gadis itu lagi pada Alia yang kini tampak menatap bingung ke arahnya.


“Kalo gak enak badan, mendingan kamu istirahat aja Cha! Jangan terlalu di paksakan, nanti bisa bahaya loh, lagian di rumah kan ada bi Laksmi,” tutur Alia lagi pada Ocha yang kini menatap kosong ke arah dapurnya. Bahkan ia tidak sadar jika sang mama berbicara padanya.


“Gak ma, Ocha gak apa-apa! Ma, Ocha boleh gak minta sesuatu ke mama, bilangin ke papa buat gak usah pergi keluar kotanya sekarang. Please ma, Ocha mohon,” suara serak itu terdengar setengah berbisik pada Alia.


Wanita itu tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala gadis itu.


“Kenapa sayang? Kok kamu malah ngelarang papa buat keluar kota?” tanya Alia yang kini menarik kursi duduk di samping anak gadisnya itu.


“Bukan itu Ma, tapi Ocha gak mau papa jadi celaka!”


“Celaka gimana? Kamu jangan aneh-aneh deh,” pungkas Alia lagi.


“Mah, papa tu ada makhluk besar yang mau bal–“ kalimat Ocha tercekat. Karena pria berseragam itu, sudah berada di kursi makan.


“Pagi istri dan anak kesayangan papa,” sapa Helven saat dirinya menuruni anak tangga, dan bersiap untuk menarik kursi yang ada di hadapan mereka berdua.


“Hai, kok kalian pada tegang gitu sih mukanya?” ulang pria bertubuh besar dengan seragam coklat yang ia kenakan.


“Hah?” kaget Alia mendengar suara Helven kedua kalinya.


“Ayok sarapan!” tukas pria itu lagi.


“Ocha gak mau papa keluar kota sekarang!”

__ADS_1


***


__ADS_2