Jangan Jadi Aku

Jangan Jadi Aku
Gak Semua Dari Mereka Itu Baik


__ADS_3

“Jangan ganggu dia!” sentak Vito dengan suara yang menggelegar, Ocha yang berada di sana langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Ini bukan sosok biasa, melainkan seorang wanita berbaju pengantin lusuh dengan rambut sebahu yang ia miliki, tak hanya itu wajahnya juga terlihat sangat marah dan energi negatif yang ia pancarkan juga begitu sangat kuat.


“Ocha, bantu aku,” lirihnya.


Perlahan, gadis itu membuka matanya meskipun bulu kuduknya merinding. Namun, ia tetap berusaha untuk kuat dan percaya jika dirinya berada di dalam lindungan-Nya.


“Kenapa kamu minta tolong ke dia?” tanya Vito lagi.


“Kamu gak akan tau, ini sesama perempuan! Ocha, bantu aku,” lirihnya. Mirisnya, wajahnya yang dilumuri darah, dan bau anyir yang menyengat membuat gadis itu nyaris saja muntah. Juga tidak ada raut kesedihan yang terpancar dari wajahnya saat ia berbicara dengan Vito.


“Huek! Vito! Udah diem! Biarin dia bilangin apa yang dia mau. Tapi kalo udah diluar nalar, gue gak akan mau bantu dia,” ujar Ocha, setengah mual melerai Vito agar hantu itu bisa menyampaikan pesannya dengan cepat, karena gadis itu pun sudah tidak tahan dengan bau anyir juga raut wajah yang mengacak isi perutnya.


Seketika wajah yang tadinya menjijikkan itu berubah menjadi biasa, seperti kuntilanak kebanyakan hanya pucat pasi.


Vito hanya diam, seraya menatap Ocha dan hantu pengantin itu berkomunikasi. Kenapa tiba-tiba wanita itu merubah wujudnya saat bersama Ocha.


“Bantu aku, aku di bunuh saat hari pernikahan ku. Tapi, calon suamiku tidak tau kalo aku di bunuh, aku takut kalo dia menyangka aku lari dari pernikahan ini,”


“Hah? Terus kenapa kamu menguntit sampai ke sini?”


“Aku tau, kalo kamu bisa melihatku,” jawabnya. Kemudian suara isak tangis pilu terdengar oleh Vito juga Ocha, mereka berdua saling tatap dan bulu kuduk mereka pun meremang.


“Sudah cukup! Beri tahu aku siapa namamu, dan siapa nama calon suamimu itu?”


Raut wajah yang tadinya datar, dengan ekspresi mengerikan berubah menjadi raut wajah bahagia.


“Leana. Dan nama calon suamiku Arga,”


Vito menelan salivanya dengan susah payah. Bukan karena tanpa sebab, melainkan karena bingung kenapa gadis itu malah menjabar permintaan hantu itu.


“Lo yakin mau nolong dia, Cha? Gak semua dari bangsa mereka itu baik!” bisik Vito pada Ocha yang hanya diam.


“Selagi kita inget Tuhan, dan percaya kalo Tuhan itu ada, semua gak akan jadi masalah kok. Lo tenang aja!” pungkas Ocha dengan begitu yakinnya.


“Ya udah, kalo gitu gue ikut sama lo!” putus Vito. Ocha hanya mengangguk mengiyakan.


Gadis itu hanya mengangguk.


“Gue bakalan tolongin lo, tapi Lo harus anterin gue, ke rumah calon suami lo itu!”

__ADS_1


Hantu pengantin itu mengangguk mendengar jawaban Ocha.


Kini Leana berjalan di depan, sedangkan Ocha dan Vito berjalan di belakangnya mengikuti arah Leana. Hingga beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah perumahan elite yang ternyata tidak jauh dari rumah Ocha, rumah dengan desain mewah dan terdapat beberapa mobil yang terparkir di halaman juga garasinya.


Ocha dan Vito bergantian memencet bel tamunya berkali-kali, hingga seorang wanita keluar dan menemui mereka. Wanita yang penampilannya seperti seorang pembantu itu, langsung menanyakan perihal apa keduanya itu datang ke rumah itu.


“Maaf buk, saya bisa ketemu sama tuan Arga?” tanya Ocha.


“Tuan Arga? Maaf, sebelumnya ada masalah apa ya?” tanya pembantu perempuan itu pada Ocha, dan masih belum juga mempersilahkan mereka untuk masuk.


“Oh, kita temannya mbak Leana,” sela Vito cepat mengalikan topik, karena tampaknya Ocha begitu berpikir untuk menjawabnya.


Tak menunggu waktu lama, pembantu itu langsung segera masuk ke dalam rumah untuk menemui tuan Arga, dan kembali lagi untuk mempersilahkan mereka untuk masuk. Sementara Ocha dan Vito duduk, Leana si hantu pengantin itu pun langsung ikut duduk di samping Ocha.


“Kamu temannya Leana?” tanya pria berwajah blasteran itu. Dengan serentak Vito dan Ocha mengangguk.


“Mana gadis tidak tau diri itu? Dia sudah mempermalukanku di hari pernikahan, kenapa tidak berterus terang saja jika memang tidak ingin menikah denganku?” tukasnya kasar, terlihat dari raut wajahnya sebuah kekesalan.


“Hm, sebelumnya saya minta maaf. Leana bukannya kabur dari pernikahan. Tapi dia dibunuh!” jawab Ocha cepat, karena ia tidak mau pria itu terlalu mengata-ngatai Leana yang sudah jelas akan membuat dirinya semakin terpuruk.


Sementara Leana, ia hanya menundukkan kepalanya terdiam, mendengar kalimat itu keluar dari mulut Arga, yang sudah jelas tidak mengetahui kematiannya.


“Tapi kali ini benar. Leana di bunuh saat perjalanan kemari, mayatnya di buang entah di mana dan belum di temukan sampai sekarang. Saya ke sini, juga bukan karena tanpa alasan, tapi Leana yang meminta untuk menyampaikan dan memberitahu kematiannya pada tuan Arga, calon suaminya,” jelas Ocha sedikit takut.


“Oh ya? Apa dia ada di sini? Lantas siapa yang membunuhnya, jika itu benar?” tanyanya lagi.


“Seseorang yang dekat dengan tuan Arga, dan orang itu tidak menyukai pernikahan kalian,” jawab Ocha, persis menirukan kalimat yang di katakan oleh Leana padanya. Sementara hantu gadis pengantin itu menangis.


Ocha menatap ke arah samping, Vito yang duduk menatap hantu Leana, menelan salivanya. Entah kenapa, jika Ocha bisa merasakan ketakutan juga haru ada di dalam diri Vito.


Arga menelan salivanya, ia tau siapa seseorang yang tidak menyukai pernikahan mereka.


“Akan ku buat perhitungan dengan si brengsek itu!” batin Arga geram.


“Tapi, dia sudah meninggal. Karena Leana sudah membalaskan dendamnya pada pria itu!” Pria itu dibuat kaget oleh jawaban Ocha, kenapa ia bisa membaca pikirannya.


“Hah? Ka-kamu bukan orang biasa kan?” sentak pria itu pada Ocha yang terdiam.


“Kita memang bukan orang biasa om, makanya kita datang ke sini, mau menyampaikan hal tentang kematian Leana, dia gak mau di bilang lari dari pernikahannya. Sebenarnya dia juga sayang sama om,” jelas Vito dan disertai oleh anggukkan Leana yang tersenyum.

__ADS_1


Berbeda dengan sosoknya yang awal, terlihat begitu mengerikan. Tapi ternyata, tidak semua hantu yang datang untuk kejahatan.


Arga menangis saat mendengar penuturan dari keduanya.


“Apa Leana ada di sini?” tanya Arga lagi.


“Dia di samping Ocha,” jawab Arga.


“Aku minta maaf Leana,” lirih Arga dengan nada yang penuh rasa bersalah dan begitu mengharukan.


“Oh iya, mbak Leana bilang kalo dia bakalan temenin om selalu,” tambah Ocha lagi. Sementara pria itu mengangguk dan menyeka air matanya.


“Kalo gitu, kita pamit pulang dulu ya om, mbak Leana,” lirih Ocha pelan saat mengatakan nama Leana. Mereka berdua mengangguk dan mengantarkan hingga ke depan pintu rumah. Meskipun Leana tidak terlihat oleh Arga, tapi wanita pengantin itu tampak bahagia.


“Oh iya, sebelum kita pulang mau gak main ke rumah gue dulu?” tawar Vito pada Ocha yang kini menatapnya bingung.


“Kan rumah gue deket dari sini, kenapa lo malah ajakkin gue ke rumah lo?” tanya Ocha.


“Udah ikut aja! Gue ambil motor dulu ke rumah lo,” tukas Vito dengan semangatnya.


“Eh, gak usah! Gue gak mau,”


Belum selesai Ocha menahan, Vito sudah siap dengan motornya dan akan membawa gadis itu menuju rumahnya.


“Ayo naik!” titah Vito dengan nada memaksa.


“Gue gak mau!”


“Ayo ikut gue sebentar aja! Lagian di rumah ada nyokap gue kok,” ajak Vito lagi.


Ocha berusaha untuk tidak menghiraukan panggilan Vito. Tapi pria itu udah lebih dulu menahan tangannya, hingga membuat langkah Ocha terhenti.


“Gak bisa! Ada urusan lain yang harus gue selesaikan! Jadi, next time aja. Tapi gue gak janji,” jawab Ocha yang kembali memasang wajah datar dan judesnya. Sudah bukan hal yang biasa lagi jika gadis itu memasang ekspresi datarnya.


“Ya udah, emang dasar ya lo! Tapi, pesen gue satu! Jangan terlalu sering membantu hantu atau pun roh-roh yang baru meninggal kan jasadnya. Karena gak semua dari mereka itu baik!”


Pria itu langsung melajukan motornya, membuat Ocha bingung dengan kalimatnya.


***

__ADS_1


__ADS_2