Jangan Sentuh Aku, Aisyah

Jangan Sentuh Aku, Aisyah
Khitbah


__ADS_3

Senja menyapa. Aisyah tersenyum melihatnya. Kini ia berdiri membungkuk menyandarkan kedua tangan di pagar balkon kamarnya. Ia memandang ke bawah tempat di mana tenda terpasang mewah dan megah. Beberapa jam kedepan ia akan sah menjadi istri Aslan, laki-laki yang telah mengkitbahnya dua pekan yang lalu.


Aisyah kembali tersenyum mengingat-ingat rupa Aslan yang baru sekali ia temui. Hidung mancung dan bibir tipis. Aisyah tersipu malu membayangkannya.


Tak butuh waktu lama untuk Asiyah berkata iya menerima pinangan Aslan dan keluarganya. Ia bahkan menentukan sendiri waktu akad nikahnya hari ini.


Aisyah geli sendiri mengingat kelakuannya malam itu. Bagaimana bisa dia meminta abinya untuk mempercepat proses pernikahannya. Ketampanan Aslan benar-benar membuat kesadaran Aisyah berkurang.


"Apa tidak terlalu grusa-grusu, Nduk?" Tanya umik pada waktu itu di depan semua orang, termasuk Aslan.


Aisyah menggeleng mantap dan teguh dengan pendiriannya. Ia benar-benar terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada laki-laki lulusan pondok pesantren tersebut.


"Apa tidak sebaiknya kamu pikirkan dulu dan mencari jawaban lewat sholat istiqoroh? Tanyakan pada Allah, Nduk?" Ucap abinya tak benar-benar percaya dengan keputusan Aisyah yang hanya diambil dalam waktu yang sangat singkat, bahkan tak lebih dari tiga menit.

__ADS_1


"Aisyah takut akan dosa Abi jika terus memikirkan wajah tampan Abang Aslan yang masih haram bagi Asiyah. Lebih baik jika hubungan kami segera dihalalkan dalam waktu dekat." Pipinya bersemu merah ketika mengucapkan hal memalukan itu. Sayangnya Aisyah tak dapat melihat ekspresi Aslan, karena selama proses lamaran, Aslan lebih sering menunduk.


Aisyah memandang langit, mengarahkan jari-jarinya ke atas ke bawah membentuk huruf AA sebagai inisial namanya dan juga Aslan.


"Nduk." Seseorang berseru memanggilnya membuat lamunan indah Aisyah tentang Aslan buyar seketika. Aisyah menoleh, abinya sedang berdiri di ambang pintu memandang ke arahnya.


Abi Adnan, Dosen Ilmu Al qur'an dan Tafsir di salah satu universitas islam di Semarang itu melangkah pelan mendekati putri bungsunya. Ia tersenyum menyusuri kuasa Allah. Aisyah tumbuh menjadi pribadi seperti yang ia dambakan, ceria, tangguh dan penuh percaya diri.


Abi Adnan menamai putri kesayangannya Aisyah bukan tanpa maksud. Ia sungguh ingin putrinya menjadi sosok seperti Aisyah Radhiyallahu Anhu, istri Rasulullah. Abi Adnan ingin Aisyah tumbuh menjadi pribadi yang dapat diandalkan layaknya Aisyah r.a., yang mendapat julukan sebagai Ibu Orang-Orang Mukmin.


Aisyah tersenyum menyambut kedatangan abinya.


"Sudah siap lahir batin untuk jadi istri orang, Nduk?" Tanya Abi Adnan.

__ADS_1


Aisyah mengangguk malu-malu. Sungguh tak ada keraguan setitikpun di benaknya. Ia mantap menetapkan pilihannya pada laki-laki bernama Muhammad Aslan Iqraam tersebut.


Aisyah kembali tak begitu fokus dengan abinya tapi malah membayangkan hal-hal romantis yang akan Adnan lakukan ketika sudah sah menjadi suaminya. Pipinya kembali bersemu karena pikirannya sendiri.


"Kamu lagi mikirin apa, kok pipinya semerah tomat begitu?" Tanya Abi Adnan yang mulai menyadari perubahan di raut wajah putri kebanggaannya.


"Aisyah lagi membayangkan Abang Adnan memanggil Aisyah 'Ya Khumaira' dengan suara beratnya, Abi." Aisyah mencubit pipi kirinya sendiri.


Abi Adnan geleng-geleng mendengar jawaban nyeleneh putrinya. Bagaimana bisa dia tak malu mengucapkan hal seperti itu. Abi Adnan mengusap pucuk kepala Aisyah pelan kemudian memeluknya.


"Bayi Abi sudah besar rupanya, sudah bisa merasakan cinta." Ucap Abi Adnan menggoda.


"Ih, Abi." Ucap Aisyah malu-malu. Ia terus saja menggoyang-goyangkan tubuhnya layaknya anak kecil yang sedang merajuk.

__ADS_1


__ADS_2