Jangan Sentuh Aku, Aisyah

Jangan Sentuh Aku, Aisyah
Malam Pertama


__ADS_3

Aisyah perlahan memasukkan anak kunci kemudian memutarnya. Mukanya bersemu merah membayangkan hal-hal indah yang akan ia selami sebagai pengantin baru. Ia membalikan badan kemudian menatap penuh haru ke arah suaminya. Air menggenang di kedua bola matanya. Hari ini ia menjadi wanita paling bahagia di dunia dan malam ini ia akan menjadi seorang istri seutuhnya.


Perlahan ia melangkahkan kaki ke arah Aslan. Senyum merekah tak lepas dari ujung bibirnya.


"Assalamualaikum, Abang." Ucapnya lembut.


"Waalaikumsalam." Jawab Aslan terbata dengan suara bergetar. Ia terlihat sangat gusar. Mungkin karena selama ini ia tak pernah hidup berdampingan dengan perempuan makanya ia kebingungan ketika pertama kalinya harus berdua dalam satu ruangan dengan istrinya, Aisyah.


Aisyah semakin mendekat kemudian duduk di samping Aslan. Tangannya hendak meraih tangan Aslan dan menciumnya dengan takdzim. Ia merunduk, namun tangan yang hendak ia raih tak juga ia temukan. Tanpa mendongakkan kepala ia meraba-raba apa yang ada di hadapannya.


Sedikit mendongak ia mendapati Aslan sedang melipat kedua tangannya di dada. Aisyah kesal, apa suaminya sengaja melakukan hal itu untuk menggodanya. Atau Aslan tidak menyadari jika Aisyah hendak mencium tangannya.


Tapi apa mungkin, Aisyah bahkan merunduk. Tidak mungkin kan Aisyah melakukan tindakan itu tanpa maksud.


Aisyah mencoba berkhusnudzon kemudian kembali melancarkan aksinya. Ia menengadahkan tangan berharap suaminya peka kemudian meraih tangan kanannya.


Namun Aslan tidak bergeming, dia tetap saja melipatkan tangan di depan dadanya.


Aisyah mulai kesal. Ia semakin mendekatkan diri memepet ke tubuh suaminya.


Tak disangka Aslan malah sedikit menggeser pantatnya. Aisyah mengernyitkan dahi tak paham dengan semua ini. Apa Aslan memang sedang menghindarinya.


Aisyah tak kehabisan akal, ia terus mengikuti apa yang suaminya lakukan, menggeser tubuh mereka hingga hampir ke tepi ranjang.


Aslan yang sudah penuh peluh semakin menghindar. Tangannya sangat dingin dan lidahnya kelu.


Aisyah tak mengerti dengan sikap laki-laki yang beberapa jam lalu baru saja menjadi suaminya. Tapi ia tak gentar, sudah tidak ada celah lagi untuk Aslan. Ia tak punya ruang lagi untuk menghindar. Sejengkal saja ia bergeser, tubuhnya akan terjengkang.


Baru Aisyah akan menggerakkan tubuhnya, Aslan sudah menghadangnya menggunakan satu telapak tangan.


"Stop, berhenti di situ." Ucapnya terbata.

__ADS_1


Aisyah semakin tak mengerti. Harusnya Aslan senang karena Aisyah sudah berinisiatif untuk mendekatinya terlebih dahulu.


Aisyah tak mengindahkan ucapan Aslan dan kembali menggeser tubuhnya. Secepat kilat Aslan berdiri menjauhinya.


"Jangan mendekat." Ucap Aslan seraya berjalan mundur dengan muka tegang. Peluh dingin terus saja membasahi kening dan telapak tangannya.


Aisyah tak gentar. Ia bukannya mundur malah semakin menjadi. Kini ia ikut berdiri dan menundung mundur suaminya.


Aslan kelabakan, ia sudah sampai di sudut ruangan. Tak ada lagi tempat untuknya berlari.


Ia memejamkan mata, takut-takut Aisyah akan menyentuhnya.


"Tolong Aisyah berhenti di situ." Kini bahkan punggungnya ikut basah karena ketakutan.


"Percaya atau tidak aku mengidap Haphephobia." Ucap Aslan ragu-ragu. Ia menyilangkan kedua tangannya seperti seorang yang takut ternoda.


Aisyah mendengkus kesal mendengar ucapan suaminya. Apa mungkin ada orang yang mengidap Haphephobia. Selama ini ia hanya tahu jika ada orang semacam itu tapi belum pernah melihatnya langsung.


Aslan mengangguk dalam posisi yang sama.


"Hanya pada perempuan." Imbuhnya.


Aisyah membuang nafasnya kasar semakin tak percaya dengan racauan suaminya.


"Mana mungkin tadi pagi bahkan Abang mencium keningku di depan penghulu."


"Aku tidak benar-benar mencium keningmu. Aku mencium kain yang menutupinya."


"Maksud Abang jilbabku? Tapi aku mencium tangan Abang. Bagaimana Abang menjelaskannya?"


"Kita berdua mengenakan sarung tangan Aisyah, kau lupa?"

__ADS_1


Aisyah merotasi matanya mengingat-ingat setiap adegan pagi tadi. Benar apa yang diucapkan Aslan, mereka berdua sama-sama mengenakan sarung tangan.


"Lantas bagaimana caranya kita berdua bisa memiliki anak, jika bersentuhan saja Abang tak bisa?" Ucap Aisyah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aslan. Kedua bola matanya menatap tajam ke arah Aslan.


Aslan menelan salivanya kasar mendengar racauan Aisyah. Ia juga memikirkan hal yang sama. Tapi mau dikata apa, berada sedekat ini dengan Aisyah saja membuat jantungnya berloncatan tak karuan.


Deruan lembut nafas Aisyah dapat ia rasakan di wajahnya. Ia semakin gugup dan mulutnya terus mengatup.


"Apa Abi dan Umi Abang tahu?" Tanya Aisyah menelisik. Ia tak berpindah sejengkalpun dari posisinya membiarkan Aslan terus-terusan menahan nafas dan menutup erat-erat matanya.


Aslan mengangguk karena memang seperti itulah kenyataannya.


"Jadi kalian semua menjebakku?" Aisyah berkacak pinggang menyadari keadaannya. Bagaiamana bisa Abi Hamdan yang sangat ia hormati membohonginya selama ini. Bahkan di dalam proposal taarufnya tak ia temukan kekurangan Aslan secuilpun.


Aslan bungkam. Benar juga kata Aisyah. Tapi ia tak bermaksud menjebak Asiyah dalam pernikahan ini. Ia benar-benar mendamba Aisyah sebagai istrinya. Hanya saja kekurangannya itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


"Baiklah, ayo kita buktikan apakah yang Abang ucapkan itu suatu kebenaran atau sebuah kebohongan."


Aisyah menelan salivanya kasar. Kemudian semakin memajukan wajahnya ke arah suaminya.


"Bismillahirrohmanirrahim." Ucapnya lantang. Secepat kilat Aisyah mendaratkan kecupan lembut di pipi Aslan.


Aslan ambruk. Getaran yang ditimbulkan oleh perbuatan Asiyah membuat lututnya tak kuat menumpu tubuh gempalnya.


Aisyah mengerutkan dahinya. Ia memandangi tubuh lemas sang suami. Ia menggeleng-geleng menyaksikan laki-laki bertubuh tinggi itu pingsan.


Aisyah terdiam untuk beberapa saat memikirkan langkah yang harus ia ambil selanjutnya. Apa dia akan membiarkan Aslan tergeletak di lantai begitu saja sampai pagi.


Aisyah mendengkus kesal. Ia menggeret kedua kaki Aslan kemudian bersusah payah membopong tubuh yang beratnya hampir dua kali lipat dari tubuh mungilnya ke atas ranjang. Aisyah melepas sepatu suaminya kemudian melemparnya sembarangan.


Kini ia duduk di bibir ranjang. Ia tak dapat menyembunyikan ekspresinya yang teramat kesal. Terus-terusan ia menoleh ke belakang memandangi wajah tak berdosa suaminya. Ini benar-benar bukan malam pertama yang ia bayangkan. Bagaimana bisa mempelai laki-laki pingsan di saat seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2