Jangan Sentuh Aku, Aisyah

Jangan Sentuh Aku, Aisyah
Sahabat Aslan


__ADS_3

Pesta pernikahan digelar begitu megah. Aisyah terlihat sangat anggun mengenakan baju pengantin berwana hijau muda. Sedang Aslan duduk di sampingnya mengenakan setelan jas hitam dan sepatu pantofel berwarna senada. Mereka berdua tampak amat serasi bak putri yang sedang bersanding dengan pangerannya.


Para tamu undangan tak dapat melepas pandang dari arah pelaminan. Mereka begitu terpukau dengan paras kedua mempelai. Semua orang membantin bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sempurna. Aslan sangat beruntung dapat mempersunting Aisyah yang sangat cantik, rupa dan juga akhlaknya, pun begitu sebaliknya.


Aisyah malu-malu melirik Aslan, suami barunya. Hal-hal kotor terlintas di otaknya. Ia bergidik geli membayangkan pikirannya sendiri. Ini bahkan masih siang, menunggu malam menjulang teramat lama bagi Aisyah.


Ia tak sabar menantikan Aslan membelai pipinya, tidur di pangkuannya, dan mereka saling berpagut mesra. Hal-hal indah yang selama dua pekan ini selalu Aisyah nanti. Aisyah benar-benar menggilai Aslan suaminya.


Aisyah sekejap berpikir, apa Aslan orang yang sangat pendiam. Kenapa sedari tadi ia tak mencoba mengajak Aisyah berbicara. Aisyah hanya beberapa kali mendengar suara beratnya ketika ia bertanya. Selebihnya Aslan hanya diam.


Terlihat dua orang wanita yang memiliki penampilan sama seperti Aisyah dalam kesehariannya mendekat ke arah pelaminan. Nada dan Safa, sahabat dekat Aisyah yang selama bertahun-tahun ini selalu menjadi tempatnya mengadu di pesantren. Hubungan ketiganya dapat dikatakan lebih dari sekedar sahabat. Bahkan Aisyah tak sedekat ini dengan Zahra, kakaknya.


Dengan tetap melangkahkan kaki, dua wanita berjilbab panjang tersebut terus saja menyeringai menggoda Aisyah.


Mereka berbarengan memeluk Aisyah erat kemudian mengucapkan kalimat lirih yang mampu membuat Aisyah terperanjat.

__ADS_1


"Ini kado dari kita lingerie dalam berbagai model dan warna." Bisik Nada.


"Astaghfirullah." Aisyah mengelus dadanya mendengar kegilaan sahabatnya. Seumur-umur Aisyah selalu mengenakan pakaian tertutup, mana mungkin ia berani mengenakan pakaian setengah telanjang semacam itu.


Safa melirik ke arah Aslan yang membuang muka dan tak sedetikpun memandang mereka bertiga.


"Ganteng." Bisiknya lagi. Aisyah tersipu malu mendengar sahabatnya sedang memuji suaminya. Ia tak mengelak karena ia juga menyadari ketampanan Aslan suaminya.


Aisyah, Nada, dan Safa mengabadikan momen indah tersebut dalam sebuah foto, namun Aslan malah berlalu meninggalkan mereka bertiga untuk menyapa tamunya.


Aisyah mulai cemburu. Ia meninggalkan Nada dan Safa begitu saja kemudian mendekati Aslan dan para tamunya. Ia menyeringai berharap Aslan memperkenalkan dirinya.


Sedetik dua detik Aisyah menunggu, namun harapannya tak kunjung menjeru.


"Aisyah." Ucapnya penuh percaya diri. Aslan tersenyum kemudian menyahuti tutur istrinya.

__ADS_1


"Oh iya sampai lupa. Istri cantikku." Ucap Aslam menatap teduh wajah Aisyah.


Aisyah teramat bahagia. Aslan menyebutnya cantik di hadapan wanita lain. Ingin rasanya ia menari-nari menunjukkan suka citanya pada semua tamu undangan yang datang.


"Aku Andre. Yang ini Bilal, Fahmi, Fatan dan Irham. Kalau yang tak kalah cantik itu Reina." Ucap salah satu sahabat Aslan yang terlihat paling tampan. Dalam hati Aisyah memujinya, namun tetap Aslan terbaik baginya.


Ia tersenyum tak begitu ikhlas ketika mendengar nama wanita itu disebut kemudian menyalaminya.


'Jadi namanya Reina.' Gumam Aisyah pada dirinya sendiri namun mulutnya tetap mengatup.


"Sahabtanya Aslan." Ucap wanita itu seakan mencoba membuat Aisyah merasa iri. Apa mereka sedekat itu.


"Kenal dimana? Bukannya Aslan tinggal di pesantren ya selama bertahun-tahun, kok bisa bersahabat." Tanya Aisyah menelisik.


Reina tersenyum membiarkan pikiran Aisyah penuh dengan tanda tanya. Ia tak menjawab pertanyaan Aisyah, bahkan Aslanpun hanya terdiam ikut tak bersuara.

__ADS_1


__ADS_2