Jangan Sentuh Aku, Aisyah

Jangan Sentuh Aku, Aisyah
Istri Sholihah


__ADS_3

Aslan membuka kedua matanya perlahan. Ia tak mengingat apapun. Terakhir ia merasakan ciuman hangat yang dilayangkan Aisyah di pipinya.


Setengah sadar Aslan menatap ke arah tubuhnya. Ia terperanjat ketika menyadari sebuah tangan yang begitu halus melingkar di pinggangnya. Jantungnya berdetak kencang, peluh dingin di pelipisnya mulai bercucuran. Bahkan nafasnya berderu tak karuan. Mulutnya terus saja beristighfar bingung harus bagaimana ia menyingkirkan tangan istrinya.


Ia meraih selimut yang menutupi tubuhnya sebatas lutut kemudian membungkus tangan istrinya dengan benda tersebut. Perlahan ia memindahkan tangan putih bersih itu ke atas ranjang kemudian menggeser tubuhnya ke kiri sedikit menjauh. Kini ia dapat bernafas dengan lega karena akhirnya bisa menyingkirkan tangan istrinya tanpa bersentuhan.


Aisyah menjeling. Sedari tadi ia hanya sedang berpura-pura tidur untuk melihat reaksi suaminya.


Aisyah yang berpendirian teguh, tak mungkin membiarkan Aslan lolos begitu saja. Ia menggelinding semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Aslan. Bahkan ia melingkarkan satu kakinya di kaki Aslan dan kepalanya ia sandarkan di dada bidang milik Aslan.


Aisyah menyeringai. Kali ini Aslan sudah tak dapat berkutik lagi. Bagaimana bisa ia menyingkirkan tubuh Aisyah yang menempel erat tanpa menyentuhnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah.."


"Astaghfirullah.."


"Astaghfirullah.."


Hanya itu yang dapat didengar Aisyah dari bibir tipis milik Aslan. Dapat Aisyah rasakan baju yang Aslan kenakan basah hingga mengenai pipinya. Apa sebegitu menakutkannya Aisyah hingga ia penuh peluh seperti ini.


Semakin lama Aisyah merasa tak tega karena detak jantung Aslan tak dapat melambat. Bahkan kepala Aisyah ikut bergoyang karena sangking kencangnya.


Ada setitik penyesalan di benaknya karena sudah membuat Aslan dalam kecemasan yang berlebihan. Mungkin Aslan memang tidak berbohong dan benar-benar mengidap phobia aneh tersebut.

__ADS_1


Di sisi ranjang yang lain, Aslan sedang menata kembali deru nafasnya. Ia mematung membiarkan tangannya yang terus bergetar untuk kembali normal. Perasaan Aslan berkecamuk. Diapun merasa bersalah karena sudah mengecewakan istrinya. Harusnya tadi malam menjadi malam dambaan bagi semua pengantin baru, tapi phobia Aslan malah menghancurkannya.


Matanya berkunang-kunang karena air matanya menggenang. Aslan juga tak ingin menjadi manusia aneh semacam ini. Harusnya ia bahagia karena memiliki istri secantik Aisyah. Hasratnyapun ingin menyentuk setiap inchi yang ada dalam tubuh Aisyah, namun dirinya tak kuasa. Baru saja mencoba menempelkan telapak tangannya di pipi Asiyah, jantungnya kembali berloncatan tak karuan.


Ia mengurungkan niatnya kemudian teramat pelan turun dari ranjang. Ia takut akan menimbulkan keributan dan membangunkan Aisyah dari tubuh nyenyaknya.


Matanya memandang ke arah jam weker yang tergeletak di atas meja rias Aisyah. Baru pukul 3 pagi.


Ia pergi ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Sebelum menggelar sajadahnya Aslan melakukan hal yang bahkan tak pernah Aisyah duga.


Matanya terpejam namun Aisyah dapat merasakan ketika Aslan menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Air di pelupuk matanya menetes. Apakah ini takdir yang harus ia jalani seumur hidupnya, serumah dengan laki-laki yang sudah halal baginya namun tak saling menyentuh.

__ADS_1


Air matanya semakin deras berjatuhan. Mungkinkah dia akan selamanya menjadi pengantin yang perawan. Aisyah wanita normal, ia juga ingin merasakan sentuhan laki-laki.


Namun Asiyah tak goyah. Dengan tetap terpejam, ia menggeleng-geleng menghilangkan pikiran-pikiran buruknya. Walau bagaimanapun keadaan Aslan, Aisyah sudah berjanji pada Abi Adnan dan Umi Hanifa jika ia akan menjadi istri sholihah seutuhnya.


__ADS_2