Jangan Sentuh Aku, Aisyah

Jangan Sentuh Aku, Aisyah
Akad


__ADS_3

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيْجَهَا عَلَى الْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ وَرَضِيْتُ بِهِ وَاللهُ وَلِيُّ التَّوْفِيْقِ


Aslan sangat lancar merapalkan lafad akad nikahnya. Sebagai seorang penghafal Al Qur'an tentunya tak sulit bagi lidahnya hanya untuk mengucapkan kalimat tersebut.


Ia menengadahkan tangan mendengar Abi Adnan mendoakan kebaikan untuk pernikahannya. Bulir bening terdorong begitu saja dari kedua bola matanya.


Abi Hamdan, mengusap punggung Aslan pelan. Kedua bola mata ayah dan anak tersebut bertatapan, penuh keharuan.


Di barisan belakang, Umi Aini sedang mengusapkan selembar tisu di pipi kiri kanannya. Tangisnya pecah, menyaksikan putra tunggalnya yang beberapa detik lalu baru saja berganti status sebagai suami orang.


Sedang di kamar, Aisyah juga menangis haru mendengar sorak ramai orang-orang yang berkata Alhamdulillah.


Ia tak menyangka di usianya yang baru genap dua puluh tahun empat bulan yang lalu, ia sudah menjadi istri sah seseorang. Pernikahannya tak hanya sah di mata agama tetapi juga sah di mata negara.


Umi Hanifa memeluk erat putri bungsunya. Air matanya tak berhenti berderai. Berat untuknya melepaskan Aisya. Sebelumnya ketika Zahra, kakak Aisyah menikah, perasaan Umi Hanifa tak sesedih ini. Ia tak bisa membayangkan putrinya yang bahkan sejak berusia enam tahun selalu hidup jauh darinya di pesantren, kini kembali harus berpisah dengannya.

__ADS_1


Aisyah semakin mengeratkan pelukannya seakan paham dengan perasaan sang umi.


"Insayallah Aisyah akan menjadi istri yang sholihah. Tidak akan Asiyah kecewakan Abi dan Umi yang sudah sepenuh hati membesarkan Aisyah." Ucap Aisyah mencoba menenangkan.


Umi Hanifa hanya menggangguk tak kuasa untuk berkata-kata.


"Dek, sudah waktunya." Ucap Zahra yang sedari tadi sudah berdiri di sisi ranjang.


Aisyah beranjak, kemudian menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Selamat ya. Semoga Allah menganugerahkan ketentraman dunia akhirat dalam kehidupan pernikahanmu dan Aslan."


Air mata keduanya kembali menetas tak dapat membendung keharuan yang begitu dalam ini.


Seseorang menekan gagang pintu perlahan kemudian membukanya.

__ADS_1


"Yang, sudah ditunggu." Ucap Farhan suami Zahra.


Mereka sudah terlalu lama larut dalam kebahagian ini hingga lupa jika di ruang tamu puluhan orang sedang menunggu kemunculan Aisyah, sang mempelai wanita.


Aisyah melangkah pelan. Ia menunduk malu. Ini kali pertama dalam hidupnya, jantungnya berdetak begitu kencang. Ia bahkan takut jika orang lain yang berada di sekitarnya dapat ikut mendengar irama jantungnya.


Semua mata tertuju ke arahnya. Beberapa orang berbisik memuji kecantikan gadis yang bibirnya sudah merah merekah tanpa polesan lipstick tersebut.


"Cium tangan suamimu, Nduk." Ucap Abi Adnan lembut. Aisyah mengangguk kemudian perlahan meraih tangan suaminya. Keduanya gemetaran. Entah perasaan Aisyah saja atau bagaimana, tapi tangan Aslan jauh lebih gemetar dari Aisyah. Bahkan ketika tangan itu menyentuk keningnya rasanya sangat dingin.


Aslan mengusap pelan puncak kepala Aisyah


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ


Ia merapalkan doa secara khusyu. Sebuah doa indah yang biasa dilafalkan seorang suami pada istrinya, kemudian dengan lembut mendaratkan ciuman di kening Aisyah.

__ADS_1


Kini tak ada jarak di antara keduanya. Janji suci telah selesai terikrar. Aisyah mantap menetapkan hatinya untuk mengabdi menjadi seorang istri yang sholihah sepanjang hidupnya.


__ADS_2