
"Syah, bangun ayo kita sholat subuh berjamaah." Ucap Aslan pelan. Ia berusaha untuk membuat mata Aisyah terbuka, tapi bingung bagaimana caranya.
Aslan menelan salivanya kemudian semakin mendekatkan wajah ke arah Aisyah.
"Syah, subuh." Serunya pelan setengah berbisik di telinga Asiyah. Tangannya mulai meraba, membelai lembut pucuk kepala Aisyah yang masih terbungkus kain pasmina.
Aisyah terperanjat karena hembusan di telinganya. Ia bergidik geli kemudian berangsut membuka netranya. Kedua bola mata berwarna coklat muda tersebut membulat. Mukanya bersemu merah karena jarak antara ia dan Aslan begitu dekat. Aisyah tak pernah membayangkan jika suaminya akan berubah secepat ini. Bahkan ini terlalu cepat dari apa yang ia bayangkan. Hanya butuh beberapa jam hingga ia dan Aslan menjadi sepasang suami istri seutuhnya.
Aisyah mengulum senyum, kemudian mengerlingkan mata menggoda Aslan tanpa bersuara. Tak malu ia memanyunkan bibir berharap suaminya akan peka kemudian mengecupnya.
"Syah."
"Syah."
"Aisyaaaaah."
Aisyah kelabakan mendengar seseorang meneriakkan namanya berkali-kali. Kini tubuh mungilnya tersungkur di bawah ranjang. Setengah sadar, ia beranjak kemudian mengusap pahanya kesakitan.
Aisyah mendengkus kesal karena apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi. Nyatanya Aslan sedang berdiri jauh dari tubuhnya.
"Udah fajar, subuh dah mau hilang. Cepet ambil air wudlu, trus kita sholat berjamaah." Ucap Aslan hati-hati tanpa memandang ke arah Aisyah.
__ADS_1
Aisyah tersenyum. Walaupun Aslan memiliki kekurangan, setidaknya Aslan adalah sosok imam yang selama ini Aisyah dambakan.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
لَآ اُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ
وَاَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ
وَوَالِدٍ وَّمَا وَلَدَۙ
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ
Aisyah terenyuh mendengar lantunan merdu ayat suci Al Qur'an mengalun indah dari bibir tipis suaminya. Air matanya menggenang. Entah kenapa tiba-tiba dadanya teramat sesak.
"Assalamualaikum warahmatullah"
"Assalamualaikum warahmatullah"
Aslan menoleh ke belakang. Ia menyadari kesedihan yang dirasakan istrinya, namun bingung harus berbuat apa. Bahkan untuk membiarkan istrinya mengecup punggung tangannyapun ia tak bisa.
"Maaf Aisyah jika pernikahan kita hanya memberikan luka di hatimu."
__ADS_1
Aslan mengusap wajahnya kasar. Ia sangat frustasi dengan keadaannya saat ini.
Aisyah menggeleng. Kalimat Aslan membuat tangisnya semakin pecah. Ia terus menunduk dan tetap menangkupkan kedua tangannya di wajah.
Aslan sungguh tak tega melihat derai air mata istrinya. Bahkan kini air ikut merembah di pipi kiri kanannya.
"Kau dapat menghujatku sesukamu Aisyah, tapi sungguh aku mencintaimu." Suara Aslan bergetar, terdengar sangat berserah.
"Abang egois. Harusnya tidak ada yang ditutup-tutupi dalam sebuah pernikahan."
"Jika kukatakan kebenarannya, kau tidak akan mungkin membiarkanku mempersuntingmu, Aisyah."
Aisyah beristighfar mendengar kalam terakhir suaminya. Tentu saja, bukan hanya dia wanita yang akan menolak dinikahi oleh seseorang dengan phobia aneh semacam ini. Jika saja yang diidap Aslan adalah penyakit kronis, mungkin Aisyah masih dapat dengan ikhlas menerimanya.
"Maafkan aku, Aisyah." Ucap Aslan pasrah. Ia beranjak keluar kamar meninggalkan Aisyah sendirian dalam keterpurukannya.
...Ya Allah, wahai harapan orang-orang yang rindu....
...Sediakanlah untukku sebagian dari rahmat-Mu yang luas....
...Berikanlah aku petunjuk kepada ajaran-ajaran-Mu yang terang, serta bimbinglah aku dan suamiku menuju kepada kerelaan-Mu yang penuh dengan kecintaan....
__ADS_1
Aisyah menengadahkan tangan, bermunajat kepada yang maha kuasa. Ia membiarkan butiran bening terus luruh dari kedua netra sendunya.