Jatuh Cintanya Sang Penyair

Jatuh Cintanya Sang Penyair
BAB 1


__ADS_3

" JIKA KAMU BUKAN ANAK RAJA DAN BUKAN ANAK ULAMA BESAR MAKA JADILAH SEORANG PENULIS" Imam Al-Ghazali.


Poster di atas mengantung tepat di sebelah pintu kamarku. Kata itulah yang selalu memotivasiku dalam melanjutkan hobi ku sebagai penulis, Tapi jangan di anggap kemampuanku sudah sama dengan beliau. Beliau adalah seorang ulama besar, karyanya seperti Ihya Ulumudin susah terkenal dari beberapa belas abad yang lalu di seluruh dunia. Sedangkan aku hanya seorang yang baru belajar, belum ada karya yang kuhasilkan selain tumpukan folder puisi dan novel di dalam folder laptop ku. kesamaan kami hanyalah sama-sama berasal dari keluarga sederhana.


Aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, Kakakku yang tertua adalah seorang perempuan yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan BUMN yang terkenal di negeri ini, Namanya Diah Pitaloka baru mempunyai satu orang anak. Dia merupakan kebanggaan keluarga karena sejak dari sekolah dasar selalu mendapatkan peringkat. Hingga memasuki bangku kuliah dengan predikat lulusan terbaik di Universitas dan mendapatkan beasiswa S2 di Universitas Terbaik di negeri ini. Hampir tak ada cacatan kesalahan di dalam perjalan hidupnya.


Kakak ku nomor dua adalah seorang atlet bela diri, punya badan yang atletis dan sangat populer di kalangan wanita. Masa-masa kelam nya ketika di bangku SMP, gonta ganti sekolah karena sering berkelahi. Bahkan Bapak ku hampir putus asa mengurusnya, untuk ibuku yang sabar selalu berhasil membujuk bapak. Mulai menjadi anak baik setelah berkenalan dengan seorang guru silat yang kemudian mampu menjadikanya seorang athlet profesional. Pencapaian terbaiknya merebut medali perunggu pada ajang Sea Games.


Berbeda sekali dengan kakak ku Hasmi yang mempunyai badan athelis, badanku bisa di bilang kurus. Aku juga tidak populer di kalangan wanita bahkan mungkin hampir tidak dikenal. Jangan dikalangan wanita, teman pria yang ku punya bisa di hitung denga jari. Yang paling akrab cuma dua orang yaitu Jarno pria berkacamata yang hoby nya sama dengan ku dan satu orang lagi adalah Dobi pengoleksi wanita cantik dan tante tante kesepian.


Hari-hariku kuhabiskan dengan berdiam diri dikamar dan keluar paling nongkrong bersama dua mahluk dari planet lain tersebut. Aku tak kuliah seperti kedua kakak ku, karena semua keluargaku menolak keinginanku untuk kuliah di jurusan sastra di sebuah Institut Kesenian. Menurut mereka tidak ada yang bisa di harapkan dengan menjadi seorang seniman.


Bagiku menjadi seorang penulis adalah jalan hidup yang telah di di takdirkan tuhan untuk ku, jadi sebesar dan seberat apapun rintangan dan halangannya tidak akan pernah menyurutkan langkah ku. Dikeluargaku, aku di anggap anak yang paling aneh, walaupun semasa ku sekolah aku bukan anak yang pintar tetapi aku tak pernah membuat kedua orangku sampai di panggil pihak sekolah.


Kelvin Alvarido adalah namaku, tetapi nama yang ku pakai di setiap karyaku adalah Sudiken Samo yang merupakan singkatan dari Susah di kenal sama orang. Aku udah beberapa kali mengirim puisiku dalam lomba cipta puisi, tetapi hanya peringkat 20 prestasi tertinggi yang pernah ku capai.


***

__ADS_1


Sore ini kami bertiga janjian di sebuah Cafe yang berada di dekat sebuah Mall yang merupakan pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Cafe yang memang merupakan tempat tongkrongan paling populer di kalangan para anak muda di sini. Orang-orang yang nongkrong di sini dengan berbagai alasan mulai dari hanya menghabiskan waktu, membicarakan bisnis,mencari insiprasi bahkan ada yang bertujuan untuk mencari pasangan.


Ketika kulangkahkan kakiku masuk kedalam cafe kulihat Jarno dan Dobi sudah datang duluan, mereka memilih meja di tengah yang tak jauh dari stage yang biasa di gunakan untuk live musik. Kalau memilih meja di tengah berarti yang duluan datang adalah Dobi, karena menurutnya meja ditengah itu adalah posisi yang paling strategis untuk melihat cewek cewek yang menjadi tamu di cafe ini. Kalau saya dengan Jarno biasanya memilih meja yang berada paling pojok karena kami tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian.


" Akhirnya sang pecundang datang juga." Kata Dobi dengan suara keras sehingga beberapa tamu menoleh kepada kami.


Aku merasa tak enak dengan pandangan mereka yang seolah menatapku seperti seekor binatang sirkus yang sedang atraksi, kulihat Dobi dengan santainya seolah-olah dia seorang popstar yang baru selesai menyanyikan satu lagu.


"Hus bicaranya jangan keras-keras, ini cafe bukan pabrik." Kataku.


Temanku satu ini sintingnya memang sudah kelewatan, aku binggung waktu hamil mamanya ngidam apa ya. Tapi walaupun sifatnya begitu, dia adalah sahabat ku yang paling setia. Kami sudah berteman mulai dari SD sampai sekarang. Sedangkan Jarno yang seperti patung dari tadi merupakan temanku dari SMA, kami berdua merupakan pengurus mading di sekolah, penunggu setia perpustakaan dan mahluk paling ndak populer di sekolah. Karena kesamaan itulah yang membuat kami menjadi akrab.


" Gimana kabar puisi mu, Masuk sepuluh besar ndak?" Tanya Jarno padaku.


" Seperti biasa, hanya masuk 20 besar." Jawabku.


" Mungkin soul dari puisi mu ndak ada, sehingga hanya merupakan rangkaian kata-kata indah tanpa jiwa di dalamnya." Kata Jarno.

__ADS_1


"Emang tema lombanya kemarin apa." Lanjutnya.


" Temanya Merindu, makanya puisiku tentang kerinduan kepada sang mantan." Ku menjawab pertanyaannya.


" Pantesan gak bisa menang, kamu kan pangeran salju dengan hati yang lebih dingin dari kutub selatan. Jadi ngak mungkin bisa menulis sebuah kerinduan kepada mantan dengan bagus kalau ndak pernah merasa rindu." Ucap Jarno


Jarno memang lebih hebat daripada aku kalau soal membuat sebuah karya satra, karena dia merupakan Top Up di Noveltoon sebuah aplikasi buat para penyuka novel. Dan dia juga beberapa kali memenangkan lomba puisi pada tingkat nasional. Jadi menurutku apa yang di katakannya memang masuk akal.


" Kalau begitu, untuk membuat sebuah karya sastra yang punya jiwa bearti kita harus mengalami dulu ya?" Tanyaku


" Kalau kamu mau menceritakan sebuah durian sedangkan kamu tak pernah melihat dan memakannya dan hanya tahu durian itu dari informasi orang lain. Apa mungkin kamu bisa menceritakanya secara presisi." Katanya lagi


" Makanya sebuah karya satra yang baik dan punya jiwa di dalamnya hanya bisa di buat oleh orang yang pernah mengalaminya ataupun orang yang mampu berhalusinasi tingkat tinggi seolah-olah dia pernah mengalaminya." lanjutnya.


Tak terasa hari pun mulai malam, kata-kata dari Jarno tadi memang benar-benar memberikan inspirasi padaku tentang bagaimana membuat sebuah karya yang baik. Berarti itu yang menjadi sebuah alasan mengapa selama ini karyaku tak pernah menang.


Akhirnya acara ngopi bareng pun selesai, kami memutuskan untuk pulang. Bagiku ini adalah ngopi yang paling bermamfaat yang pernah kulakukan.

__ADS_1


__ADS_2