
Hilda Sawiden mahasiswi psikologi semester dua, keren juga ya kalau aku bisa kuliah pikirku. Ah sayang benar aku tidak kuliah, kalau tidak aku akan bisa menyebut diriku sama dengan dia.
" ibu, tahun depan aku kuliah ya." Kataku.
" Tumben, tapi ngak boleh ambil seni atau satra." Kata ibuku.
" Terserah ibu, yang penting kelvin kuliah."
" Gimana kalau ambil jurusan manajemen atau perbankkan." Tanya ibuku sambil terus mengerjakan menyetrika baju.
" Tapi kayaknya Psikologi Kelvin lebih cocok bu." Menatapnya sambil meminta persetujuan.
" Kalau kamu mampu, Ibu dan Ayah pasti setuju." Terus melanjutkan pekerjaannya.
" Memangnya pendaftarannya kapan?" Kata Ibuku.
" Bulan depan Bu, Nanti Kelvin minta bantu teman untuk cari informasi."
Aku coba kembali membuka file novel yang sudah hampir sebulan tidak kusentuh, mencoba mencari ide untuk melanjutkanya. Tetapi tak ada satu kalimatpun yang bisa kurangkai, apa aku coba bikin puisi saja supaya bisa memantik ide-ide baru untuk novelku. Tetapi puisi yang akan kubuat tentang apa, ah..sepertinya tentang kekaguman ku kepada Hilda bisa memberikan cara pandangku berbeda terhadap sosok wanita.
Kehangatan senja yang tak lama...
berlalu tertutup perkasanya malam...
Di telaga hati berkisah...
gundah rasa untuk bersama...
Wahai gadis pembawa rasa...
Ukir rasaku dengan manismu...
Agar tertawar rasa pahitku...
__ADS_1
karena indahmu memabukku...
Tatap matamu menyetubuhi pikiranku...
bayang-bayang wajahmu menjajah otakku...
dapat kah waktu membengkokkan cintamu...
pada sudut gelap penantianku...
kamarku 00,00,01
kubaca lagi puisi pertama untuk Hilda yang ku buat, lumayanlah mewakili perasaanku. Tetapi rasa yang terungkap dari puisi tersebut masih terasa ragu-ragu, sepertinya belum berani terus terang ku ungkap. Rencananya akan ku buat puisi yang lebih jujur lagi tentang perasaan ku padanya, seandainya perasaan kekaguman ini berubah jadi cinta. Tapi untuk saat ini biarlah hubungan kami seperti ini, aku sebagai seorang pasien dan dia sebagai seorang calon psikolog yang berusaha membantu ku.
Malam ini aku ada janjian dengan Hilda, katanya dia akan mengenalkan diriku dengan temannya yang memiliki masalah yang serupa denganku. Supaya kami bisa saling berbagi dan menguatkan, dan menemukan jalan keluar untuk masalah ini.
Aku pergi ke lokasi yang telah di tentukan oleh Hilda, sebuah rumah berwarna kuning keemasan di kompleks Mandau Permai No 5. Dari tadi aku hanya berdiri diam, rumah yang berada di hadapan ku begitu besar. Apa mungkin Hilda tinggal di sini pikirku, karena kutahu penampilan Hilda begitu sederhana.
" Nyari siapa mas." Seorang security memandangku dengan curiga.
" Oh, non Hilda ya. Barusan dia tadi masuk." Kata bapak tersebut.
" Ayo saya antar, nanti mas binggung nyari tempatnya di mana." Kemudian bapak tersebut mengajakku mengitari rumah lewat jalan belakang.
Berkali-kali kami keluar masuk pintu, sebelum akhirnya bertemu dengan Hilda. Dia mengunakan pakaian serba hitam, dan beberapa orang juga mengunakan pakaian dengan warna yang sama. Aku mulai curiga dengan Hilda dan kawan-kawan, jangan-jangan mereka merupakan sebuah sekte. Aku sering menonton dan membaca bagaimana sebuah sekte merekrut para amggotanya, kemudian di jadikan tumbal atau korban sebuah ritual gaib
Tapi melihat wajah mereka bertiga selain Hilda aku tak yakin dengan pikiranku tersebut. Wajah teman-teman Hilda begitu cantik, dan kesemuanya adalah perempuan. Apa mungkin orang-orang secantik itu berubah jadi sadis dan brutal, kemudian menjadi beringas. Tak ada aura negatif dari mereka, tapi paling tidak aku harus juga bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
" Kelvin sini, ngapain cuma bengong di situ." Hilda memanggil dan melambaikan tangannya ke arahku.
Kulangkah kan kakiku, sambil melihat kekiri dan kanan. Siapa tahu ada jebakan yang mereka pasang untukku. Melihat tingkahku yang aneh, teman- teman Hilda sepertinya tercengang. Hilda yang sepertinya tahu akan pikiranku tiba-tiba berteriak.
" Kelvin, awas di belakangmu."
__ADS_1
Aku langsung reflek merebahkan diri kelantai dan berguling kedepan dua kali. Berharap sesuatu berbahaya tidak mengenai ku. Terdengar suara tawa dari keempat perempuan yang sudah mengelilingiku, suara Hilda yang paling nyaring di antara teman-temannya.
" Kamu ngapain Kelvin, pakai guling-guling segala." Hilda menanyakan kepadaku dengan masih tetap tertawa.
Kulihat teman-temannya juga tak berhenti tertawa melihatku, aku seperti boneka mampang bagi mereka.
" Tadi kan kamu yang bilang awas." Kataku ke pada Hilda.
Hilda dan teman-temannya semakin keras tertawanya, bahkan ada yang sampai terduduk-duduk karena menahan perutnya yang sakit melihat perbuatanku.
" Makanya jadi orang jangan curigaan mulu, kebanyakan nonton Film Horor sih."
" Pasti kamu tadi mikir, kalau kami ini adalah sebuah sekte rahasiakan. Karena kami semua mengunakan pakaian hitam." Kata Hilda kepadaku.
" Iya, aku pikir begitu." Jawabku. Hilda memang hebat dia bisa membaca pikiranku hanya dengan melihat gelagatku tadi.
" Kami ini baru pulang melayat, karena salah satu teman kami ada yang meninggal." Kata Hilda kepadaku.
Pantasan saja mereka semua mengunakan pakain hitam dan nampak berdiam diri dari tadi. Kupikir mereka sedang merapal sesuatu mantra atau laku khusus sebelum melaksanakan sebuah ritual. Rupanya mereka berduka karena ada temannya yang meninggal dunia. Tapi paling tidak apa yang kulakukan tadi bisa sedikit mengurangi rasa sedih mereka.
" Kenalkan Ini Kelvin, orang aneh yang aku ceritakan kemaren." Kata Hilda kepada teman-temannya.
" Saya Desi." Seorang cewek yang badannya sedikit lebih rendah dari Hilda mengenalkan dirinya padaku.
" Saya Aira." Wanita berkacamata yang berada di sebelah Desi mengenalkan dirinya padaku.
" Kalau saya Sophi." Wanita yang kulihat paling cantik di antara mereka semua, bahkan kecantikan di atas si Hilda lagi.
" Hilda, kok kamu mengenalkanku sebagai orang aneh." Protesku kepada Hilda.
" Kalau kamu tidak aneh, maka kamu tidak akan di terima di kelompok ini. Karena mereka yang ada di sini memiliki masalah yang hampir sama dengan mu." Hilda coba menjelaskan kepadaku.
Ternyata setelah penjelasan singkat dari Hilda, aku baru tahu kalau club ini memang Hilda buat khusus untuk kami-kami yang sulit menjalin hubungan dengan lawan jenis. Mungkin akibat sebuah trauma atau memang sesuatu yang belum aku paham betul. Tapi kalau melihat cewek-cewek cantik anggotanya tapi mungkin penyebab traumanya sama seperti aku.
__ADS_1
Misalnya yang paling cantik Sophi, apa mungkin kasusnya sama denganku. Dia nembak cowok waktu sekolah di depan orang ramai, kemudian dengan sombongnya cowok tersebut menolak cintanya Sophi. Ah tak masuk akal bagiku, kalaupun ada yang berani menolak cintanya cewek secantik Sophi. Maka cowok tersebut pasti sudah di gebukin rame-rame sama satu sekolahan.