Jatuh Cintanya Sang Penyair

Jatuh Cintanya Sang Penyair
BAB 4


__ADS_3

Pertama-tama aku harus merubah penampilanku, itu yang dikatakan kakak ku jika ingin mendekati wanita. Wanita itu tak ingin seorang laki-laki yang terlihat tengik, mereka juga sama seperti kita suka sesuatu yang segar. Kupandangi wajahku dengan seksama di cermin, rambutku terlihat panjang awut-awutan. Kedua bola mataku terlihat agak cekung dengan warna agak hitam dibawahnya karena kurang istirahat. Sedikit pucat dan tak nampak segar. Badanku juga kurang berbentuk, tak seperti kakakku yang atletis. Aku paling anti yang namanya olahraga, olah raga yang ku kuasai cuma catur. Jadi hari ini aku harus ke salon dulu untuk merubah penampilanku.


Sepulang dari salon, aku sengaja bersantai diruang keluarga untuk menunggu kakakku datang. Aku ingin menanyakan pendapatnya tentang penampilan baru ku ini. Ku nyalakan TV untuk melihat beberapa gosip kekinian, Karena biasanya perempuan itu suka dengan cowok yang kalau di ajak ngomong nyambung. Mereka suka sekali dengan gosip para selebritis yang lagi trending. Itu menurut kakakku Hasmi. Makanya aku sekarang berusaha merubah kebiasaan normalku menjadi upnormal. Ibuku yang sedang masak di dapur melintas di belakangku, dia berhenti sejenak dan menatapku seperti tak percaya.


" Kamu Kelvin kan?" Tanyanya padaku.


" Iya ibu, ini aku Kelvin emang kenapa." Kataku.


" Kamu baik-baik saja kan, Ndak ada yang salah dengan otakmu...Atau jangan-jangan kepalamu terbentur ya?" Ibuku menjejaliku dengan pertanyaan bertubi-tubi.


" Kelvin baik-baik saja bu." Kataku.


" Trus kenapa perubahanmu begitu cepat dan dratsis." Tanyanya lagi.


" Kelvin cuma bosan dengan penampilan yang lama."


" Kalau seperti ini kan baru seperti orang." Katanya, sambil berlalu.


Iya memang penampilanku berubah 180 derajat, dari gondrong dan urakan menjadi potong pendek dan rapi. Dulu kalau di rumah hari-hariku hanya di habiskan di dalam kamar. Aku bahkan lupa kapan terakhir aku bersantai di ruang keluarga. Itulah yang membuatku seolah-olah sebagai mahluk paling aneh di dalam keluarga ini. Setelah berjam-jam menunggu Kakakku akhirnya datang juga, dia hanya tersenyum melihat penampilan baruku.


" Langkah pertama udah selesai, selanjutnya langkah yang kedua." Katanya.

__ADS_1


" Apa itu kak?"Tanyaku.


" Sekarang perbanyak memahami cara hidup dan perasaan mereka, banyaklah mendengar daripada berbicara. Kemudian mulailah bergaul dengan mereka dan jangan menutupi dirimu." Ujarnya.


Sore ini seperti biasa aku dan kedua orang aneh sahabatku akan ngumpul bareng. Tempat hari ini, kami pilih yang agak jauh dari keramaian karena untuk mencari suasana baru. Tempatnya sedikit nyentrik dgn gambar berbagai bunga di setiap dindingnya, motif warna ungu dan pink mendominasi cafe ini. Ini merupakan tempat tongkrongan para sosialita yang ada dikota ku. Dobi sengaja memilih tempat ini untuk membiasakan ku dan Jarno dengan cara pergaulan wanita zaman sekarang. Memang terasa sanggat jangal untuk kami berdua, semuanya terasa serba baru dan asing. Ada beberapa kata yang mereka ucapkan belum pernah sama sekali ku dengar, gayanya yang sok paling cantik dan kaya membuatku seperti ingin muntah. Tapi aku harus kuat, tak ada lagi kata mundur di dalam kamusku.


Kulihat Dobi menyapa beberapa orang pengunjung, sepertinya dia sudah kenal dengan mereka. Kami mencari meja yang kosong, sepertinya sudah terisi semua.


" Gimana nih, kita tunggu atau cari tempat lain." Kata Dobi.


" Kita tunggu aja, kalau harus cari tempat lain harus mutar-mutar lagi." Kata Jarno.


" Kita gabung dengan dia aja yok." Ajak Dobi.


" Malu ah, kan ndak kenal." Kataku.


" Laki-laki itu harus bisa mengalahkan rasa malu. Karena cewek itu kebanyakan sifatnya menunggu, kita yang harus memulainya." Ucap dobi.


" Biar saya yang kesitu dulu, kalau memang dia mau kita gabung saya akan kasi tau kalian." Lanjut Dobi.


Dobi pun berjalan menghampirinya, mereka berdua terlihat sedang membicarakan sesuatu. Tak nampak kesan canggung dari gerak-gerik Dobi, sepertinya dia sudah terbiasa berkomunikasi dengan orang-orang yang baru dia kenal. Kalau aku berada di posisinya saat ini, mungkin hanya beberapa kata yang keluar dari mulutku.

__ADS_1


Kulihat Dobi melambai tangan kearah kami, mengajak kami untuk bergabung. Aku dan jarno beranjak kesana.


" Perkenalkan yang pakai kacamata ini Jarno dan di sebelahnya Kelvin." Kata Dobi memperkenalkan kami berdua.


" Saya Hilda." Cewek tersebut memperkenalkan dirinya.


" Ngomong-ngomong sudah kerja atau masih kuliah. Tanyanya.


" Saya kuliah sambil kerja." Jawab Jarno.


" Kalau Kelvin?" Hilda bertanya padaku.


" Saya Kerja tapi pengganguran." Kujawab sembarangan, Karena saking binggungnya aku harus menjelaskan Statusku.


Kalau mau kubilang pengganguran buktinya aku bisa dapat duit dari tulisanku, walaupun kadang hanya sesekali. Tetapi kalau kubilang kerja, aku binggung apakah layak apa yang kulakukan sekarang bisa di sebut kerja. Aku jadi menyesal ndak mau kuliah, paling tidak kalau sudah di tanya seperti ini aku bisa jawab bahwa aku mahasiswa.


" Maksud kerja tapi pengganguran itu seperti apa?" Tanya Hilda lagi karena kebinggungan dengan jawabanku.


" Oh maksudku freelance." Aku mencoba mencari kata yang mudah di pahaminya.


Hilda ternyata seorang mahasiswi jurusan Psikologi. Sekarang baru semester dua, berarti umur kami hampir sama. Dia orangnya ramah dan mudah akrab, buktinya belum satu jam kami kenal. Kami seperti sudah lama berteman.

__ADS_1


__ADS_2