
Tut..tut..bunyi Handphone ku bergetar, sebuah nomor yang tak di kenal melakukan panggilan.
" Hallo ini siapa?" Tanyaku.
" Nomorku ndak kamu save kemaren." Terdengar suara seorang gadis.
" Oh maaf, Hilda ya. Kemaren karena Hanphone nya ngedrop jadi lupa nyimpan nomormu."
" Hilda ada perlu apa."
" Nanti sore jalan yok. saya ngak ada teman ni." Ajak Hilda.
" Bolehlah, mumpung lagi ndak ada kegiatan sore ni." Ucapku.
Sore ini Jam 15.30 aku sudah mandi, karena hari ini aku ada janji ketemu di alun-alun kota dengan Hilda. Gadis yang baru kemaren sore bertemu denganku, aku tak tahu alasannya mengajak ku bertemu. Katanya dia cuma minta di temenin, sekaligus ada yang ingin di bicarakannya.
Aku sengaja memilih datang duluan, karena ingin melihat kondisi tempat kami bertemu sambil memikirkan apa yang nanti akan aku bicarakan. Aku memilih tempat duduk yang agak di samping, biar ndak jadi pusat perhatian. Setengah jam kemudian Hilda datang, dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku berdiri dan menyiapkan kursi untuknya duduk, menurut kakakku hasmi hal kecil seperti bisa menambah nilai jual kita di depan wanita.
" Udah lama nunggu ya?" Tanyanya padaku.
" Belum lama banget sih. paling sepuluh menitan." Jawabku.
" Jadi apa yang Hilda ingin tanyakan padaku." Tanya ku.
" Engak ada." Jawabnya
" Katanya ingin ngomong sesuatu?" Tanyaku lagi.
" Aku cuma butuh teman untuk ngobrol aja."
" Karena di kota ini aku baru satu tahun, jadi teman yang ku punya hanya teman satu kampus. Jadi aku ingin melebarkan sayap pertemananku ke berbagai kalangan dan tifikal manusia." Katanya lagi.
__ADS_1
" Apakah kamu menyesal datang, karena aku berbohong akan menanyakan sesuatu padamu." Tanya nya lagi.
" Tidak, aku tak pernah menyesal terhadap apa yg telah aku putuskan dan aku lakukan. Bagiku, bisa berbicara dgn orang baru dan seorang wanita merupakan sesuatu yang baru ku untuk ku." Jawabku.
Hilda sepertinya tak percaya dengan apa yang dia dengar dariku.
"coba kamu ulangi lagi pernyataanmu tadi." Pintanya.
" Yang mana." Aku kebinggungan, perasaan tak ada yang salah dalam ucapanku tadi.
" Yang bicara dengan orang baru dan seorang wanita merupakan sesuatu yang baru untukmu." Kamu serius dengan Ucapan mu itu.
" Eh..eh.. Maksud dalam kondisi cuma duduk berdua seperti ini." Aku meralat sedikit omonganku.
" Jadi kamu belum pernah pacaran atau pacarannya dari kecil sampai sekarang ngak putus-putus?" Tanya Hilda lagi.
Mukaku agak merah mendengar omongan hilda, kalau ku bilang memang benar tak pernah pacaran sampai setua ini. Mungkin dia akan menertawakan ku dan aku akan terlihat seperti pecundang di matanya, tapi kalau aku berbohong rasanya tak pantas. Kakakku Hasmi bilang semua hubungan harus di mulai dari kejujuran jika ingin bertahan lama, baik percintaan maupun persahabatan.
" Maaf, jika tadi menyinggung perasaanmu. Tapi aneh loh, kulihat wajahmu kalau jelek sih udah jauh lewat. Kalau ganteng banget kayaknya belum sampailah." Dia malah masih tertawa mendengar ucapanku.
Sifat Hilda yang polos dan bicara apa adanya mungkin membuat orang merasa mudah dekat dengannya, tepat sekali kalau kuliah di jurusan psikologi. Aku saja yang baru dua kali bertemu seolah kehilangan sifat introver diriku, ah andai kata aku bisa seperti dia maka telah banyak tulisan yang bisa kubuat.
" Kamu tersinggung ya dengan ucapanku?" Hilda bertanya lagi.
" Engak, aku cuma kagum dengan dirimu." Kataku.
" Kamu tuh aneh banget sih, orang kalau ditertawakan seperti itu kebanyakan tersinggung loh. Kok kamunya malah kagum." Dia berkata sambil geleng-geleng kepala.
" Maksudku, kagum dengan sikapmu yang bisa cepat akrab dengan orang baru." Kataku.
" Dengan sikapku atau dengan kecantikkan ku." Katanya mulai mengoda aku.
__ADS_1
" Eh anu dua-duanya...eh bukan dengan sikapmu." Aku jadi semakin gugup di goda Hilda seperti itu.
Melihat tingkah lakuku seperti itu, dia makin tertawa kencang memperlihatan giginya yang putih dan tersusun rapi.
" Lo mahluk langka Kevin...hampir jarang di temui di planet bumi ini." Katanya sambil menunjuk ke arah mukaku.
Apa aku termasuk binatang yang di lindungi ya, seperti komodo atau badak bercula satu pikirku. Dia sepertinya bisa membaca jalan pikiranku.
" Maksudku bukan seperti hewan yang hampir punah, kamu itu model cowok yang limited edition. Terbatas." Katanya lagi.
" Aku ngak paham, maksudmu apa?" Aku mencoba mencari jawaban darinya.
" Cowok itu terlahir sebagai pengoda maka di analogikan sebagai kumbang, sedangkan cewek itu sifat dasarnya suka di goda atau di puja maka dianggap mewakili sifat bunga. Kamu kok aku goda malah grogi dan malu-malu." Katanya mencoba menjelaskanku.
" Jadi apa yang menyebabkan dirimu bisa seperti itu, ceritakan padaku. Aku ini adalah calon psikolog yang hebat, walaupu baru 48 sks yang kuselesaikan?" Tanya sambil tersenyum padaku.
melihatku ragu-ragu dia kemudian melanjutkan lagi kata-katanya.
" Seorang Psikolog selalu bisa menjaga kerahasian dari kliennya, berbeda denganmu yang penulis. Kalau kalian penulis selalu menceritakan masalah orang untuk menghibur orang."
Hilda begitu pandai merangkai kata-kata, aku jadi ingin tahu lebih dalam tentang dirinya. Apa sebaiknya kuceritakan saja apa adanya tentang diriku, supaya dia bisa memberi masukan dan lebih dekat denganku. Diakan sudah berjanji akan merahasiakan semua yang ku ceritakan.
" Baiklah aku akan menceritakan semua masa laluku yang mungkin membuat sifatku menjadi seperti ini. Tapi kamu janji ya, tak akan menceritakan pada yang lain." Kataku.
" Iya, janji." Katanya sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya.
Waktu kelas 3 SMP dulu aku pernah suka dengan seorang gadis adik tingkatku, namanya Dina Kristina. Orangnya paling cantik dan terkenal di sekolah kami. Sudah berbulan bulan perasaan itu ku pendam, hingga beberapa teman memotivasiku untuk berani mengungkapkan isi hatiku padanya. Lewat salah satu temannya kuberi tahu bahwa aku mengajak Dina untuk ketemuan berdua saja. Dina yang seperti tahu maksudku, menantangku untuk berani mengungkapkan di depan orang ramai. aku memikirkan dengan matang sebelum memutuskan menerima tantangannya. Semuanya sudah ku persiapkan sebaik mungkin, mulai dari settingan tempat, penampilanku, bahkan kata-kata yang akan aku ucapkan. Setelah selesai kegiatan senam pagi, aku mencoba meminjam mikrophone dari guru olahragaku. Ku ajak Dina maju kedepan semua murid, lalu ku ungkapkanlah semua isi hatiku. Tetapi dia menolakku dan menghinaku di depan semua orang. Mulai saat itulah aku membatasi semua perasaan ku kepada wanita.
" Sekarang apa pendapatmu setelah mendengar ceritaku? " Tanyaku kepada Hilda
" Kamu mengalami trauma berat atas kejadian tersebut, seharusnya kamu dari dulu di bawa ke psikiater supaya traumamu tidak dalam. Tetapi jangan risau, kalau kamu membolehkan, aku akan membantumu menghilangkan traumamu itu." Kata Hilda.
__ADS_1