
Kenda, tiga tahun kuliah ia hanya menyukai satu orang. Satu orang yang selalu ia pikirkan dan tidak pernah merasa bisa tergapai. Sampai suatu ketika takdir seolah membantunya. Orang itu menemukannya saat ia sudah hampir merelakan. Tapi, orang itu membutuhkan seseorang untuk bangkit kembali.
Kenangan itu akan terus membekas. Tidak perlu diulang dengan sengaja kenangan itu akan tetap berputar sendirinya. Kamu dan aku yang tidak akan pernah menjadi kita. Karena memang kamu bukan milikku. Sejak awal aku mencoba melepas tanpa pernah mengatakan. Bahwa,
Aku mencintaimu.
Tapi, jika nanti kita bertemu lagi aku harap aku sudah tidak mencintaimu.
Seandainya kau pergi
Kau pergi meninggalkanku
Entah bagaimana aku melepasmu
Aku selalu khawatir
Aku seperti orang bodoh
Hanya bisa memandangmu
Dan mungkin hatimu akan berpaling dariku
Dan karenanya jarak antara kita semakin melebar
Sungguh aku seperti orang bodoh
Tak mampu mengucapkan kata cinta
Dan mungkin takut pada rasa sedih dan pedih
Yang akan muncul atas pertemuan kita
Seandainya kau datang
Kau datang mendekat padaku
Entah apa yang harus kulakukan
Sungguh aku tak tahu
~If - Taeyeon~
8 tahun yang lalu
Seberat apapun matamu di pagi hari, saat melihat notifikasi berdatangan tanpa henti sepertinya bisa mengalahkan efek air dingin terhadap kantuk. Kenda, gadis itu percaya bahwa saat ini bagian belakang baju yang sedang ia setrika tidak ada bedanya saat ia ambil dari jemuran. Kusut.
Bagaimana bisa tanpa pemberitahuan kuliah yang seharusnya di siang hari berubah menjadi pagi hari. Jam tujuh pula!
Sialan! Tidak usah mandi, kemarin sore sudah mandi kok.
Menggunakan kulot hitam yang sudah disetrika apa adanya dipadukan dengan tunik yang tidak terlihat disetrika -meskipun sudah disetrika- dilengkapi dengan jilbab hitam andalannya, Kenda meraih tasnya dan memakai sepatu yang teronggok di bawah jendela dengan cepat. Dari kosnya menuju kampus tidak kurang dari sepuluh menit -jika berlari- dan ternyata Kenda menghabiskan waktu dua puluh menit.
Ikhlaskan nilai A untuk semester ini Ken!
Baiklah setidaknya ia sampai dikelas meskipun mendapat pengurangan minus sepuluh dari dosen pengampunya.
Tiga SKS ternyata ampuh sekali untuk melanjutkan tidurnya yang belum selesai. Saat mata Kenda terbuka hanya tinggal dia sendiri di dalam ruang kelas tersebut. Efek tidak punya teman ternyata semengerikan ini.
"Lo ngapain disini?"
Masih tersisa satu buku di meja untum dimasukkan ke dalam tas saat suara bariton itu terdengar.
Ah.
"Oh, tadi gue ketiduran. Lo sendiri ngapain?"
"Nyari Kia."
Sosok itu berbalik pergi sedetik setelah mengatakan maksudnya. Seharusnya Kenda tidak perlu bertanya hal itu lagi. Sudah sangat jelas sekali.
...***...
Kenda sekali lagi menghapus coretan yang ia ciptakan di ipad miliknya. Tidak ini terlalu bergelombang. Ia kemudian mencoba lagi menggoreskan apple pencil ke layar ipad tersebut lalu menghapusnya kembali. Mengulangi hal yang sama beberapa kali dan baru berhenti saat seseorang datang duduk di depannya.
"Kapan selesainya kalo lo hapus terus?"
Tentang Kenda yang tidak memiliki teman tidak sepenuhnya benar, karena masih ada satu orang yang mau berteman dengannya.
"Susah."
Akhirnya Kenda memasukkan ipadnya ke dalam tas dan lebih tertarik untuk menyedot bobanya yang masih utuh.
"Lo sekarang tambah kurusan Nda. Ada masalah apa?"
Banyak
"Cerita aja sama gue."
Gue malu. Nggak sanggup cerita sama lo.
"Nyokap lo sakit lagi?"
__ADS_1
"Emm, Ta. Lo ada duit dua juta nggak?"
Prita menghela napas. Sedikit susah untuk membujuk temannya itu untuk berbicara padanya. Dan setelah berbicara langsung to the point.
"Bener nyokap lo sakit lagi?"
Kenda menggeleng. "Nggak kok, nyokap gue sehat. Dia kemarin pergi ke Surabaya sama budhe. Dua juta itu buat beli buku yang kemarin .... "
Ah, Prita ingat.
"Tapi dia kan udah bilang gapapa juga Nda, nggak usah lah."
"Tetep aja aku ngerasa bersalah, apalagi buat anak bisnis kayak mereka buku itu pasti penting banget kan?"
Prita yakin bukan itu alasannya. Sebenarnya memberikan dua juta kepada temannya ini ia sanggup sekali. Bahkan sampai lima kali lipat Prita akan tetap memberikannya. Tapi setidaknya untuk urusan yang sedikit lebih penting.
"Mereka orang kaya nggak bakal ngurusin barang rusak yang udah buruk juga."
Prita benar. Tapi hanya ini caranya.
Kenda meraih ipadnya. Berniat segera mengirim gambar yang sudah ia selesaikan kepada klien. Setidaknya komisi gambar kali ini adalah sepersepuluh dari harga buku yang ia rusak.
"Gue tau buku itu nggak terlalu penting buat dia, tapi ada sesuatu yang harus gue kasih tau ke dia Ta. Sebelum gue nyesel karena hanya bisa diam." Kenya mengatakannya dengan lirih.
Gadis dihadapannya itu menghela napas. Merasa kasihan tapi juga ingin mendukung.
Tak lama kemudian suara notifikasi terdengar dari smartphone produksi China milik Kenda. Temannya memang baik.
"Terima kasih ya Ta."
"Bilang sama gue kalo lo udah kasih tau dia."
Kenda mengangguk dengan senyum penuh harap. Meskipun ia tidak tahu seperti apa yang akan terjadi ke depannya.
...***...
Sepertinya Kenda sudah gila. Kalimat ini .... terlalu gamblang.
Mungkin hanya ini caraku ngasih tahu lo kalo gw suka sama lo.
Kenda kira kalimat ini sederhana. Tapi kenapa sekarang terlihat alay?
Tolonglah Kenda hanyalah anak jurusan kimia yang buta dengan sastra. Seribu kali ia mencoba mengarang sebuah kalimat, maka yang tercipta hanya untaian kata yang penuh dengan kealayan!
"Nanti kalo udah selesai telpon aku aja ya Ki."
Sayup-sayup suara yang ia hapal selama satu dasawarsa itu terdengar. Diiringi dengan jawaban seseorang yang seolah melengkapi nada berat pemuda itu.
"Iya nanti aku telpon. Semangat ya skripsinya hehe."
Dengan perlahan, Kenda memasukkan buku yang ia beli kemarin ke dalam tas dan memangkunya kembali. Prita benar, seharusnya uang dua juta ia berikan pada ibunya saja.
*Dia akan pergi! Rayyan akan pergi ke Amerika*!
*Kenda mendengar sesuatu yang membuat jantungnya seolah bergerak lambat, ia berusaha menajamkan indera pendengarannya hanya untuk mendengarkan suara di seberang dengan seksama, seperti saat ujian listening*.
*Rayyan adalah orang yang cerdas, tidak akan dipertanyakan lagi kenapa ia akan pergi ke Amerika. Tapi, Kenda tidak bisa mengatakan kalau ia masih memiliki kesempatan. Seharusnya Kenda memberikan buku itu kemarin, walaupun dengan kalimat noraknya*.
"*Kemarin Rayyan niatnya mau bilang sama ortunya kalo dia sama gue mau tunangan, ya sekedar buat jagain hati. Tapi orang tuanya nolak*."
*Haruskan Kenda bersyukur*?
"*Tapi aku sama dia udah sepakat bakal jaga komitmen ini sampai dia kembali dari Amerika*."
*Kenda yakin saat ini sebagian dari tubuhnya membeku. Kalian tau kan bagaimana rasanya saat mendengar orang yang kalian sukai tiba-tiba akan pergi? Rasa tidak rela tanpa malu menyelimuti diri, padahal dia bukan milik kita*.
"*Berapa lama sih Rayyan nanti*?"
"*Entah, mungkin empat tahun? lima tahun*?"
*Itu adalah waktu yang sangat lama*!
*Kenda menegakkan kembali tubuhnya dan mengalihkan pandangan ke dalam tote bag yang ia rangkul. Memandangi buku dua juta yang ia bawa hampir satu semester dengan niat ingin memberikannya kepada seseorang, namun orang itu akan segera pergi*.
__ADS_1
*Pergi bukan hanya membuat jarak fisik yang jauh, tapi juga jarak hati yang semakin tidak tergapai untuk Kenda kejar*.
...\*\*\*...
*Kenda tidak tau sudah berapa lama ia duduk di kursi besi bandara yang panjang dan dingin ini. Tapi yang pasti boba seharga tiga puluh ribu rupiah yang ia beli di dekat tempat ia duduk tadi sudah mencair. Dirinya yakin tidak melewatkan orang satu pun yang lewat. Ditambah lagi Kenda sangat hapal dengan postur tubuh Rayyan efek samping seringnya memandangi laki-laki itu dari belakang. Apakah dia belum datang atau malah terlambat*?
***Prita***
*Lo tadi berangkat jam berapa Nda*?
^^^*Jam 7*.^^^
***Prita***
*Gila lo?! Udah jam 2 dan lo masih di bandara*?
^^^*Ya*.^^^
*Kenda memang gila. Seharusnya ia tidak usah pergi ke bandara dan memilih menyelesaikan pekerjaannya di kos. Tapi, jika orang yang kita sukai akan pergi apakah kita diam saja*?
***Prita***
*Lo liat postingan gebetan lo di IG dia sana*.
*Ah benar. Hampir tiga hari ini Kenda tidak membuka aplikasi tersebut. Terlebih memang aplikasi itu adalah sumber penyakit utama hatinya. Meraih android miliknya yang sudah berusia tiga tahun dan membuka sosial media tersebut*.
*rayyanmahend25*\_

***2.091 suka***
***rayyanmahend25***\_ *Perpisahan yang berat dengan kamu*--
*312 komentar*
***kiazkia04*** *Hati-hati❤️*
***rayyanmahend25***\_ *kamu juga❤️*
*Prita benar, Kenda memang sudah gila. Dia hanya seperti orang bodoh yang mengejar hal mustahil yang sampai kapanpun tidak akan pernah ia dapatkan. Penerbangan ke Amerika butuh dua puluh jam lebih. Dan berangkat di jam siang seperti ini adalah hal yang tidak mungkin*.
***Prita***
*Pulang Nda*.
*Aku pesenin gojek ya*?
*Lupain Rayyan*.
^^^*Baiklah*.^^^
\*\*\*
*Bersambung*
*Siapa yang kayak Kenda? Gobloknya minta ampun😭🤣🙏🏻*
__ADS_1
*Padahal yang nulis juga gitu* :)