
Selamat membaca ;)
*****
Jakarta, 2027
Sebagian besar orang memiliki fobia yang berbeda. Tapi, mereka juga memiliki fobia yang sama. Fobia hari senin.
Seharusnya Kenda tidak akan merasakan fobia ini jika dia optimis ingin menjadi freelance illustrator yang selama ini ia geluti saat kuliah. Tapi, teringat ucapan ibunya yang seperti ratu drama itu membuat Kenda memaksakan diri melamar di salah satu perusahaan kosmetik ternama di ibukota ini.
"Sekolahmu itu mahal, setidaknya bekerjalah dulu sebelum menikah, ganti uang ibu."
Ya, Kenda tau ibunya tidak akan pernah memperhitungkan apa yang beliau keluarkan untuk anaknya, ibunya pasti ingin ia memiliki pekerjaan tetap yang menjamin penghasilannya tiap bulan.
Dan, seperti itulah penyebab Kenda terjebak dengan berbagai produk kosmetik dan perawatan kulit yang membuatnya ingin merampok sebagian dari mereka. Meskipun Kenda sendiri bisa membuatnya, empat tahun ia memusingkan diri belajar dengan segala ilmu kimia dan turunannya, kini tiga tahun lebih ia bekerja sebagai Quality Control seharusnya mudah saja Kenda menirunya.
"Kenda, lo mau makan apa?"
Dianita, salah seorang rekan kerjanya bertanya setelah mereka memasuki ruangan ganti. Melepas masker yang membuatnya pengap, Kenda menjawab dengan santai. "Gue ikut lo aja Ta, enaknya apa?"
"Em, lo mau penyetan nggak?"
"Boleh deh, nggak pedes ya."
Tiga tahun bekerja di sini, Kenda seperti memulai hidup baru. Berkenalan dengan banyak orang asing, mempelajari hal baru yang sebelumnya ia tidak tau, bahkan mendapatkan teman yang sesuai dengan frekuensinya.
"Kenda, nanti jangan lupa kasih laporannya sama pak Raihan ya."
Kenda mengacungkan jempol pertanda ia sanggup melakukannya. Hari senin adalah jadwal ia mengecek produksi, membuat dan menyerahkan laporan, dan menghadap manajernya yang super teliti. Normal bukan kalau Kenda fobia dengan hari senin?
Tuing
Prita
Nda, lo mau ambil proyek gambar lagi gak?
^^^Gambar apa?^^^
Prita
Ilustrasi buat kemasan, perusahaan tempat suami gue kerja lagi bikin lomba buat desain kemasan baru mereka.
^^^Nanti gue pikirin.^^^
Prita
Sip! Hadiahnya gede Nda.
Katakanlah Kenda gila harta. Ia gemar sekali mencari uang. Jika orang normal akan lebih memilih bersantai di rumah setelah bekerja, maka Kenda akan mengerjakan pekerjaan sampingannya sebagai seorang ilustrator. Uangnya gede.
Sahabatnya, Prita kerap kali berceramah saat harus mengurusnya ketika sakit akibat kebanyakan begadang, padahal Kenda harus berangkat kerja pagi setiap hari. Kecuali weekend tentunya.
Ah iya. Prita sudah menikah satu tahun yang lalu. Juga sedang hamil tujuh bulan.
Tidak terasa sekali waktu benar-benar cepat berlalu. Prita yang sudah menikah dan akan segera memiliki anak. Dan dirinya yang masih gagal move on dengan masa lalu.
Tanpa sadar Kenda membuka instagram miliknya dan mengetikkan username yang telah ia hapal di luar kepala.
rayyanmahend25_
4.023 suka
rayyanmahend_ Jakarta
Sialan!
Cepat-cepat Kenda menutup aplikasi beserta ponselnya tersebut.
"Anjir cakep bener kan?" Dianita datang tiba-tiba meletakkan kotak makan siang yang berisi penyetan pesanannya.
"Ah? Oh ho oh, haha."
__ADS_1
"Dia kerja di perusahaan seberang kan? Gila sih, seharusnya dia jadi model atau aktor. Ganteng banget."
Aku hanya tertawa. Tertawa dengan hati di dalam sana yang selalu bergerak untuk mencari kabarnya.
"Lo kenal sama dia Ken?"
"Kami dulunya satu kampus."
Dianita manggut-manggut dengan mulutnya yang penuh nasi. "Berarti dia emang populer ya?"
Kenda mengangguk.
Lo kalo gini terus caranya ya nggak bakalan bisa move on goblok!
***
Selesai.
Ilustrasi untuk kemasan minuman seharusnya menarik perhatian dengan memperbanyak warna yang menggambarkan kandungan minuman tersebut, menyoroti keunikan dan meninggalkan kesan unik.
Siap dikirim.
Kenda menekan tombol send email setelah file yang ia unggah selesai. Hadiah lima juta dan kontrak tiga bulan. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?
"Halo bu."
"Kamu tadi kirim uang lagi?"
"Ah, iya. Udah terkirim?"
Jeda sesaat.
Tadi sore Kenda sengaja mengirimkan uang yang ia peroleh dari desain sampul buku kepada ibunya. Dan tiga jam setelahnya sang ibu menelpon.
"Nggak usah sering kirim-kirim. Uangnya ditabung aja, ibu masih cukup di rumah."
"Ya nggak apa-apa bu, Enda juga punya banyak uang di sini hehe."
"Seharusnya kamu itu kirim foto pacarmu, ibu malah tambah suka."
"Eee, Kenda kan udah bilang pengen nikmati hidup dulu."
"Kamu udah dua tujuh lho, wong temenmu si Lia aja udah punya anak dua. Kalo kamu nggak punya pacar ibu carikan aja ya?"
Loh kan?
"Kenda bisa nyari sendiri bu. Em, Kenda mau lanjutin kerjaan ya bu? Selamat malam hehe."
Klik.
Lebih baik Kenda segera menutup telepon mereka. Pacar, calon, menikah. Sepertinya masih jauh lagi.
Kenda bukan tipe orang yang mudah menyukai seseorang, sekalinya menyukai malah gagal move on sama pacar orang. Apalagi punya pacar.
Sejak dulu, meskipun ada yang menyukainya tapi mereka seolah menghindar. Seolah malu jika menyukai seorang Kenda. Apa ada yang salah dengannya? Kenda juga tidak tau. Mungkin menjadi orang yang menutup diri, merasa sedikit malu menjadi guyonan untuk mereka yang easy going.
Membenarkan posisi duduknya, Kenda kembali memandangi layar laptop. Mencari file yang harus dikerjakan dan mengerjakannya dengan cekatan. Namun tak lama setelah ia mulai bekerja, tangannya terhenti di udara.
Kenda ingin melihat wajahnya lagi.
Stop goblok! Lo kudu move on!
Plis liat sekali lagi....
Nggak!
Pliss....
Setan emang!
Meraih ponselnya dan Kenda benar-benar gila saat berhasil mengetikkan username orang itu. Dan, satu postingan itu membuatnya membeku.
Tidak. Kenda yang salah. Ia terlalu mengikuti setan sesat di kepalanya. Seharusnya ia blokir saja akun laki-laki ini.
__ADS_1
***
Di tempat lain. Laki-laki itu berjalan dengan langkah cepat saat tiga puluh menit yang lalu ia menerima kabar yang tidak masuk akal. Padahal baru saja seminggu ia kembali dari Amerika, dikiranya akan mendapatkan respon yang menyenangkan tapi ia malah mendapatkan kabar yang menjijikkan.
Sampai di sebuah pintu apartemen di gedung yang terkenal mahal di wilayahnya, laki-laki itu dengan cepat menggedor dan memencet tombol bel di sana dengan emosi.
"KIA!!! KELUAR!!"
Jari-jari itu terkepal dengan erat. Otot di sekitaran leher dan tangan menegang sehingga menciptakan tonjolan yang entah kenapa sangat seksi.
"KIA!!!"
Pintu terbuka. Dengan cepat laki-laki itu masuk dan berhenti di ruang tamu apartemen itu.
"Ki, gue nggak nyangka lo bakal ngelakuin ini sama gue!"
Kia, perempuan itu terpojok. Ia ketahuan selingkuh.
"Kamu tau dari mana?"
Laki-laki itu membuang napasnya kasar. "Masih penting gue tau dari mana? KENAPA LO LAKUIN ITU??"
"Ray, nggak kayak gitu, aku-"
"APA?? Semua udah kebukti Ki, lo mengkhianati hubungan kita yang udah gue jagain hampir sepuluh tahun. Gue cuma pergi tujuh tahun dan janji bakal hidup selamanya sama elo! Tapi lo kenapa bisa kayak gini?"
Sungguh. Rayyan kecewa dengan perempuan ini.
"Aku dijebak Ray!"
"JANGAN BOHONG!! Nggak ada orang yang dijebak datang dengan gampang ke hotel!"
Kia mematung. Jadi Rayyan sudah tau semuanya? Benar-benar habis sudah.
"Ray, aku-"
"Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi Ki! Gue bakal ambil semua yang udah gue kasih ke lo sebagai tanda terima kasih gue tapi lo bohongin gue, sorry to say gue juga bakal ambil apartemen gue balik."
Rayyan membalikkan tubuhnya hendak pergi dari tempat ini. Sebuah suara kemudian membuatnya berhenti.
"Lo juga udah selingkuh dari gue Ray! Jangan munafik lo!"
Apa maksud perempuan kurang ajar ini?
"Apa maksud lo? Sejak kapan gue selingkuh?"
Kia maju mendekati Rayyan meskipun dengan kaki yang gemetar. "Waktu kita kuliah, delapan tahun yang lalu sebelum lo ke Amerika. Lo ngapain di dalam kelas terus sama si Kenda HAH?!"
Rayyan mengerutkan keningnya. Siapa Kenda itu? Apa hubungannya dengan dirinya?
"Maksud lo apa b*ngs*t?!"
Kia menyesal mengatakan barusan. Seharusnya ia tidak menyerang balik Rayyan.
"Lo pikir gue nggak tau? Lo suka sama cewek itu kan? Lo pasti datengin Kenda saat gue nggak ada!"
Rayyan mendengus muak. Perempuan ini mencoba membalikkan keadaan dengan argumen yang fiktif. Orang gila.
"Besok gue mau lo angkat kaki dari apartemen gue!"
Rayyan membanting pintu apartemen itu dengan sekuat tenaga. Emosi yang sudah tinggi semakin meninggi saat melihat sosok yang menjadi biang kerok putusnya ia dengan Kia ada di depannya. Kampret!
"LO!!"
...*****...
...Bersambung...
...Aigooo, capek juga nulisnya haha. Ya udahlah ya....
...Alurnya sengaja dipercepat biar makin banyak part buat yang manis-manis. Hahaha...
Bonus pict si Kenda (aku gamon sama drama the red sleeve gais wkwk)
__ADS_1