Jika Kita Bertemu Lagi

Jika Kita Bertemu Lagi
BAB 4


__ADS_3

Weekend ini Kenda tidak mempunyai rencana yang berarti. Setelah melalui minggu ini dengan beberapa kejutan yang cukup membuatnya kesulitan menelan makanannya selama berhari-hari, dirinya hanya ingin mendekam di bawah selimut dan tidur dengan AC yang dingin.


Nyatanya hal sederhana itu sulit terealisasikan karena setiap Kenda memejamkan matanya, terdengar berbagai macam jenis bunyi dari samping apartemennya. Apartemen samping itu seingat Kenda sudah kosong sejak ia pindah tiga tahun yang lalu. Apakah ada penunggunya?


Menarik selimut lebih tinggi yang kini mencapai leher, Kenda mencoba untuk terlelap. Tapi, usahanya sia-sia. Mata Kenda kembali terbuka, perempuan itu menghela napas dan bangkit. Baiklah, dirinya akan melihat sebentar. Apakah benar ada penunggu di apartemen samping itu. Sudah kosong 3 tahun soalnya.


Belum sempat perempuan itu sampai ke ruang tamu, dirinya mendengar bel pintu apartemennya ditekan. Kenda melihat dari layar pintu dan seorang laki-laki membelakangi pintu.


Postur tubuh yang sangat ia hapal.


Deg


Jantung Kenda berdetak lebih kuat.


"Rayyan?"


Tangan Kenda yang memegang handle pintu terlepas dan menutup mulutnya sendiri.


"Kenapa laki-laki itu bisa di sana?" tanya Kenda yang tidak mendapatkan jawaban.


Haruskah dirinya membuka pintu? Tapi, Kenda sungguh belum sanggup untuk bertemu dengan laki-laki itu. Bel pintu kembali berbunyi tapi Kenda memantapkan diri untuk tidak bertemu dengan Rayyan. Untuk saat ini.


"Ngapain dia kesini? Jangan-jangan dia tau kalau aku tetangganya?"


Kenda berhitung sampai lima detik sebelum berbalik. Dilihatnya monitor itu lagi. Sesaat kemudian, perempuan itu tertegun cukup lama. Mata Kenda tak mampu berkedip barang sekali pun. Wajah yang sudah lama tidak dirinya lihat secara langsung, kini perempuan itu terlihat seperti berhadapan. Hanya saja, Rayyan tidak bisa melihat wajahnya.


Sepertinya Rayyan sudah menyerah. Terlihat laki-laki itu berbalik pergi meninggalkan pintu apartemen Kenda. Dan, Kenda sangat bersyukur untuk itu.


Kenda memegang dadanya yang masih meninggalkan getaran saat mengingat Rayyan. Kenda merutuki tingkahnya yang berbanding terbalik dengan ucapannya bertahun-tahun dulu.


...*****...


Berbekal kemampuan stalking dunia maya yang Kenda miliki, perempuan itu hampir hapal kegiatan Rayyan saat dikampus. Laki-laki itu mempunyai selisih satu tahun lebih tua dengannya. Sangat aktif berorganisasi. Karena hal itu terkadang Kenda sedikit merasa minder. Rayyan yang supel, Rayyan yang mempunyai banyak kenalan, koneksi dan berasal dari keluarga kaya. Berbanding terbalik dengan Kenda. Dirinya hanya anak dari sepasang orang tua petani yang tinggal di desa. Orang tuanya menggarap sawah sembari membuka toko kelontong di rumah untuk membayar kuliah dan mencukupi kebutuhan dirinya yang merantau ke Jakarta.


Kenda kembali memperhatikan Rayyan yang memberikan orasi di depan kumpulan mahasiswa lainnya. Saat ini mereka tengah berada di lapangan fakultas ekonomi. Dari yang Kenda dengar dari orasi yang disampaikan pemuda itu, mereka akan melakukan demo terhadap kenaikan uang kuliah.


Kenda duduk di taman yang mempunyai kursi melingkar terbuat dari beton. Mengeluarkan alat tempurnya berupa Ipad dan pensilnya, lalu tak lupa dirinya juga menyiapkan sebotol air mineral yang ia bawa dari kos. Dengan luwes, jarinya menggoreskan layar Ipad miliknya sembari sesekali memperhatikan laki-laki yang bersuara di sana. Beberapa kali Kenda menekan tombol undo dan memperbesar hasil pekerjaannya.


"Lucu ya."

__ADS_1


Suara itu membuat Kenda menoleh. Kia dengan blouse putih dan rok merah muda berdiri memegang buku vogel analitik di tangannya. Perempuan itu duduk di samping Kenda yang kembali menekuri pekerjaannya yang hampir rampung.


"Itu Rayyan?" tanya Kia.


"E-Enggak, ini bukan dia," sanggah Kenda, "dapet komis dari kampus sebelah buat ilustrasi banner."


Lancar sekali Kenda membuat alibi.


Dari sudut mata Kenda, ia tahu Kia tengah tersenyum. Tapi dirinya tidak bisa memastikan apakah senyum itu sekadar senyum biasa atau tidak. Alibi yang ia berikan mungkin tidak akan diterima oleh Kia, karena gambar itu kentara sekali bahwa yang dirinya gambar adalah Rayyan. Cukup jelas untuk tahu dari postur, gaya rambut, bentuk dan warna pakaian, semua itu benar-benar Rayyan.


"Lo suka sama Rayyan ya Ken?" tanya Kia lagi.


Kenda hanya diam. Bah, mereka tidak cukup dekat untuk bisa tahu apakah Kenda menyukai seseorang atau tidak. Dan, Kenda tidak perlu memberi tahu perempuan itu kan?


"Gue ada kenalan yang deket sama Rayyan, lihat yang itu. Yang pakai baju hijau. Dia namanya Yahya, dia deket lho sama Rayyan." jelas Kenda.


"Terus?" mau tak mau Kenda cukup penasaran. Dasar bucin.


"Kali aja lo pengen kenalan sama dia, tau Rayyan lebih deket. Ngga mungkin kan lo deketin Rayyan secara langsung?" senyum Kia muncul disertai dengusan geli.


'Aku juga tau diri.' ujar Kenda di dalam hati.


Rayyan dan Kia tidak jauh berbeda. Sama-sama berasal dari keluarga kaya dan terpandang, paras mereka terlihat sangat enak dipandang meskipun dengan pakaian seadanya. Dan, mereka juga sangat cerdas, tanggap pula. Bisa dikata sia-sia jika berbohong di depan mereka yang dengan cepat bisa membaca situasi orang dan sekitarnya.


Ah, jujur saja kau Kenda! Sudah tertangkap basah dengan Kia kau itu.


"Iya Ki, aku suka Rayyan." ucap Kenda dengan malu.


*Kia yang sejak tadi ikut mengamati keramaian yang ada di lapangan menoleh lagi ke arah Kenda. Bibir yang dipoles lip cream warna coral itu tersenyum miring. Kia kemudian memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Kenda. *


"Bagaimana? Mau gue bantu?" tawarnya.


Kenda mengernyitkan dahinya. "Kamu mau bantu apa?"


"Mendapatkan Rayyan." jawab Kia dengan enteng.


"Kamu bisa melakukannya?" kerutan di dahi Kenda semakin dalam, sedikit dirinya meragukan perempuan ini.


Tapi keraguan itu lenyap begitu saja setelah kembali mengingat siapa Kia. Perempuan itu sangat terkenal di kampus, bahkan ada rumor kedekatan Kia dengan Presma -Presiden Mahasiswa- di kampus mereka.

__ADS_1


"Tentu saja." jawab Kia dengan yakin.


Tanpa pikir panjang Kenda berkata bahwa dirinya ingin Kia membantunya untuk bisa mendekati Rayyan. Bertanya bagaimana caranya agar mereka bisa berbicara, cukup untuk Rayyan mengenal siapa Kenda. Selebihnya akan Kenda lakukan sendiri.


"Berikan gambar itu, gue yakin Rayyan bakal suka." kata Kia menunjukkan dengan dagu terhadap gambar yang baru saja Kenda selesaikan.


"Beneran? Rayyan bakal suka sama gambar ini?" tanya Kenda ragu, karena sejujurnya gambar yang ia buat jauh dari kata sempurna untuk bisa diberikan kepada gebetannya itu.


"Iya, tapi ya lo ngga bisa kasih gitu aja. Itu nanti dicetak dikasih figura biar cakep."


Jujur saja. Kenda sebenarnya pernah berpikir untuk memberikan hal seperti itu kepada Rayyan. Tapi, dia adalah orang cupu dengan keberanian setipis tisu. Memberikan secara langsung kepada Rayyan akan membuat dirinya tidak bisa bernapas karena terlalu malu. Memberikannya lewat orang? Oh, cukup tau diri Kenda tidak mengenal siapa pun cukup dekat kecuali Prita. Dan sahabatnya itu sudah cukup sibuk dengan kegiatan organisasi di fakultas merea ditambah dengan beberapa riset yang perempuan itu lakukan. Mungkin, melalui Kia dirinya dapat memulai kedekatan dengan Rayyan.


Tapi, apakah Kia melakukan ini secara suka rela? Atau ada maksud tertentu?


Karena mereka hampir tidak pernah berbicara secara langsung selama ini. Bahkan mereka tidak pernah terlibat dalam hal apapun untuk bisa dikatakan dekat. Kecuali fakta bahwa mereka adalah teman sekelas.


"Em, maaf Kia. Bukan bermaksud apa-apa, tapi aku mau tanya. Kamu melakukan ini ikhlas buat bantu aku?" tanya Kenda dengan nada pelan, berusaha untuk tidak menyinggung perempuan itu.


Namun, respon yang ia dapatkan adalah tawa lirih dari Kia dengan mata yang melengkung.


"Tidak ada hal yang gratis di dunia ini Ken."


Benarkan?


"Kamu mau imbalan apa? Aku yakin kamu sudah punya banyak."


Tawa terdengar lagi, yang ini jauh lebih renyah.


"Enggak, engga. Gue udah punya duit banyak Ken." Perempuan itu berkata masih dengan sisa-sisa tawanya yang belum reda.


"Kalau bukan uang lalu apa?" tanya Kenda polos.


"Lo bantuin gue lepas dari tunangan sama Rio."


Apa maksudnya?


Rio, presma universitas mereka dan Kia bertunangan?


...*****...

__ADS_1


__ADS_2