
Setelah mengetahui bahwa apartemen samping miliknya sudah berpenghuni, terlebih ternyata orang itu adalah Rayyan, Kenda mencoba untuk mulai mengatur kegiatannya agar tidak menimbulkan suara yang cukup bising. Perempuan itu berpikir bahwa akan cukup menarik perhatian bila tetangganya terganggu oleh suara yang bisa ia ciptakan.
Tentu saja hal tersebut bisa menciptakan skenario dimana tetangganya itu akan datang kembali ke depan pintu atau bahkan masuk ke dalam apartemennya dan meminta Kenda untuk tidak berisik.
Kenda yakin hanya dirinya yang mempunyai pemikiran konyol seperti ini. Tapi memang sejak dulu, hanya karena suatu hal yang sepele kepala Kenda akan merangkai skenario. Mulai dari yang sederhana, biasa, hingga skenario yang paling buruk.
Seperti saat ini, jika sebelumnya saat memasak Kenda akan menggunakan kesempatan tersebut untuk menyanyi dengan heboh maka sekarang ia memasak dengan anggunly seperti seorang puteri keraton. Mungkin saja Kenda lupa jika suara memasak yang digabung dengan nyanyiannya tidak akan bisa terdengar langsung keluar apartemen.
Tapi untuk sekarang Kenda kembali memikirkan tindakannya yang sebenarnya kurang jelas juga. Bukankah dulu dirinya berkomitmen untuk tidak akan mencintai Rayyan lagi? Kenapa setelah melihat pria itu dia kembali merasakan bunga-bunga mekar di dalam perutnya?
Apakah bunga bisa mekar di dalam perut?
Menghembuskan napas kesal, perempuan itu tersenyum pongah.
"Hah. Ini bukan rasa cinta Kenda! Ini hanya rasa kagum saja. Melihat orang itu kembali dan masih terlihat cool seperti dulu," Kenda bermonolog pada dirinya sendiri.
Sepertinya Kenda tidak bisa memasak hari ini. Kaki perempuan itu melangkah mengambil dompet dari dalam kamar dan keluar. Kenda putuskan untuk membeli makanan di bawah saja.
Keluar dari alam apartemen dirinya menemukan sesuatu yang sangat ia hindari sejak pagi.
Rayyan!
Mereka berdua berhadapan. Salah sendiri Kenda yang tidak memperhatikan jalan depannya dan memilih untuk fokus menghitung uang tunai yang tersisa di dalam dompet.
Ingat perkataanmu itu Kenda. Kamu tidak jatuh cinta lagi! Hadapi!
"Hai," sapa Kenda.
Di depannya Rayyan dengan wajah datar menegakkan punggung. Mengamati perempuan itu seperti laser yang memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Lo! Tadi kenapa ngga keluar waktu gue pencet bel? Lo di rumah kan?" cecar Rayyan dengan raut wajah yang masih datar. Ciri khas dirinya saat sedang bad mood.
Apaan itu? Kenapa Kenda masih mengingatnya?
"Tadi aku masih tidur," jawab perempuan itu mencoba untuk santai.
"Jam 10? Kebo bener jadi cewek."
"Ini kan weekend! Ya terserah aku," oke jawaban yang bagus.
"Aku kamu, lo kira gue pacar lo!"
What the ...
Kenapa Rayyan yang ia kenal menjadi seperti ini? Seingatnya Rayyan selalu berkata dengan baik. Bukan ceplas ceplos seperti ini.
"Rayyan, kamu kenapa sih?" tanya Kenda tanpa sadar menyebut nama pria itu.
"Lo tau nama gue?"
__ADS_1
Sesaat hawa dingin nan aneh menyergap tengkuk Kenda. Terpikir olehnya untuk mengingatkan Rayyan bahwa dia adalah Kenda yang menyukainya delapan tahun yang lalu. Yang membuatkan ilustrasi potret pria itu setiap minggunya lengkap dengan bingkai mahal yang ia pesankan secara khusus.
"Kamu pacarnya Kia kan?" pertanyaan itu datang secara impulsif. Kenda hanya teringat hal tersebut.
Akan tetapi setelah pertanyaan itu meluncur, yang dilihat Kenda adalah raut masam Rayyan yang entah kenapa tidak bisa mengurangi ketampanan pria itu.
"Engga!"
Pria itu langsung meninggalkannya. Kenda mengerjap beberapa kali, dirinya cukup bingung. Sepertinya Rayyan dan Kia adalah pasangan paling romantis di kampus. Apa yang terjadi?
Perempuan itu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju tujuannya semula. Di depannya, ada Rayyan berjalan. Kenda kemudian berjalan menunduk sembari memperhatikan sandal hitamnya menapaki lantai keramik lorong apartemen. Akibatnya kepala Kenda menabrak sesuatu yang keras dan membuatnya sedikit linglung.
"Lo kenapa sih?!"
Jelas saja perempuan itu terkena protes pria di depannya.
"Maaf aku engga liat," akunya.
"Kalo jalan itu yang dipakai engga cuma kaki, mata juga. Tau kan nunggu lift kudu berhenti dulu?"
Mereka ternyata sudah tiba di depan lift. Kenda memang sangat payah dalam mengontrol perasaannya.
"Iya maaf."
Kedua tangan Rayyan naik ke pinggang. Sepertinya pria itu benar-benar dalam kondisi senggol bacok.
Ternyata Rayyan bukan hanya sekedar bad mood, sekarang pria itu seperti mempunyai masalah trust issue terhadap orang lain.
"Aku mau turun ke bawah, mau nyari makan," terang Kenda.
"Trus ngapain nabrak-nabrak segala?"
Oke.
"Maaf."
Cukup ucapkan satu kata itu maka semua akan selesai. Rayyan kembali berbalik badan menunggu pintu lift terbuka. Bunyi denting terdengar sebelum pintu lift terbuka. Pria itu masuk lebih dulu ke dalam lift, oleh karena itu Kenda segera menyusul dan berdiri di belakangnya. Sesaat kemudian pintu lift tertutup dan segera bergerak dari lantai delapan menuju lantai satu.
Bisa ditebak bagaimana suasana di dalam kotak besi itu?
Kenda merasakan canggung yang luar biasa. Berada di dalam lift berdua bersama dengan orang yang pernah kamu sukai. Tapi pria itu sepertinya lupa dengan Kenda. Ya, tidak apa-apa. Dengan ini Kenda akan lebih mudah membuang sisa rasa yang masih ada. Sungguh memalukan bila mengingat perkataan yang ia ucapkan bertahun-tahun dulu untuk tidak akan mencintai pria itu lagi apabila mereka bertemu kembali.
Sesampainya di lantai dasar, Kenda tetap menunggu Rayyan keluar terlebih dahulu. Pria itu berjalan dengan pasti menuju restoran di lantai dasar tersebut. Kenda yang awalnya juga ingin menuju ke sana akhirnya memilih berbelok ke minimarket. Mungkin dirinya akan membeli beberapa bungkus mi instan saja.
"Tunggu, bukankah Kia akan menikah? Kenapa Rayyan ada disini?"
Tangan perempuan itu meraih mi instan dengan rasa ayam bawang dan menaruhnya ke keranjang.
"Apa mereka akan tinggal di sini? Makanya Rayyan beli apartemen itu," lanjutnya.
__ADS_1
Kenda berjalan lurus menuju rak display tisu dan saudaranya. "Tapi untuk apa Rayyan beli apartemen itu? Harganya murah. Dia kan bisa beli apartemen mewah ya?"
Memilih salah satu pembalut, perempuan itu merasa dirinya tidak sendirian. Ada yang melihatnya berbicara sendiri. Kenda menoleh dan mendapati seorang wanita yang mungkin berusia lebih dari setengah abad memandanginya takjub. Hal itu membuat Kenda menjadi salah tingkah. Dia bisa dianggap menjadi perempuan gila berbicara sendirian.
Kenda menganggukkan kepala sambil tersenyum sungkan. Belum sempat dirinya berbalik, wanita itu memanggilnya.
"Kenda ya?" tanya wanita tersebut.
"Ya?"
Sedikit terkejut karena wanita itu tau namanya.
"Loh nok! Kamu tinggal di sini? Tante kemarin nanya ke ibumu kalau kamu tinggal di Jakarta tapi ngga tau dimana. Ya Allah beneran cantik kayak fotomu," ujar wanita itu.
Kenda terheran. Ini siapa? Bagaimana bisa kenal dengan ibunya?
"Ini Tante Yuni. Temen ibumu waktu umroh. Dulu kamu masih SMA ya, ngga inget?"
Ah, tante itu rupanya.
Benar. Ibunya mempunyai teman baru saat umroh ke tanah suci saat ia SMA dulu. Sekitar dua belas tahun yang lalu? Kenda tidak bisa menghitungnya.
Tante itu juga sering sekali datang ke rumah mereka, atau sekedar berkomunikasi lewat aplikasi pesan di hape. Beberapa kali juga tante Yuni terlihat sangat ingin menjodohkan anak laki-lakinya dengan Kenda.
"Oalah tante Yuni. Apa kabar tante? Sehat ya?" tanya Kenda berusaha ramah meskipun dia merasa tidak enak.
"Kabar tante baik. Ya Allah, akhirnya ketemu langsung sama kamu nok. Kamu tinggal di unit mana?"
"Di 810 tante," jawab Kenda.
Tante Yuni kemudian mengajak Kenda untuk segera membayar belanjaan dan keluar. Mereka duduk di kursi depan minimarket dengan ditemani beberapa kaleng minuman cincau dan camilan.
"Anak tante juga tinggal di sini, ini tante mau ke sana. Beli beberapa barang dulu, tau lah laki-laki itu engga terlalu care sama keperluannya. Apalagi anak tante itu ya ampun, kalau engga disuruh makan engga bakal makan," ujar tante Yuni panjang.
"Kadang Kenda juga sering gitu tante, maklum, sibuk hehe," balasnya yang membuat tante Yuni mendengus kecil.
"Tante pengen banget supaya dia itu cepet nikah, umurnya sudah hampir tiga puluh. Kamu sudah punya calon Nda?" tanya tante Yuni.
Kenda tersenyum canggung. Jika dulu tante Yuni 'menawarkan' anaknya di depan ibunya yang akan memberikan penolakan dengan alasan pendidikan maka kali ini Kenda harus dengan pintar menolak keinginan tante Yuni. Sepertinya ini bukan keinginan lagi. Ini obsesi.
"Doain aja ya tante, semoga lancar."
Kalimat itu seperti memberi kesan bahwa dirinya sudah siap menuju jenjang serius. Ya. Lebih baik begitu.
"Tapi kata ibu kamu, kamu masih sendiri?"
Tersenyum saja. Kenda tidak tau harus berbicara apa.
...*****...
__ADS_1