Jika Kita Bertemu Lagi

Jika Kita Bertemu Lagi
BAB 6


__ADS_3

Silahkan klik suka dan tinggalkan komen ya, ini 1.500 kata lebih :)


...*****...


*Tiga hari setelah Kia menghampirinya, Kenda kembali mencari perempuan itu dengan membawa paper bag putih yang ia beli dari toko di depan kampus. Tiga hari itu juga, Kenda bersusah payah membuat hadiah yang cukup cantik agar bisa diberikan kepada Rayyan melalui Kia. *


Namun, sudah hampir lima belas menit Kenda mencari Kia seantero fakultas sains namun perempuan itu tidak kunjung ditemukan. Nomor Kia tidak menjawab saat ditelfon, pun dengan pesannya yang masih centang satu sejak kemarin.


Duduk di depan ruang laboratorium kimia organik, Kenda mendesah. Ia mengintip kado yang sudah ia siapkan di dalam paper bag. Sebuah gambar ilustrasi Rayyan yang dicetak dengan art karton ukuran B5, dilapisi dengan pigura yang ia pesan khusus dengan harga cukup mahal karena dirinya minta dalam waktu yang sangat singkat. Kalau di total semua, termasuk dengan perintilan kecil untuk menghias pigura ini mungkin bisa untuk membayar uang kosnya.


*Gedung laboratorium tidak pernah sepi, tapi juga tidak ramai. Kebanyakan penghuninya akan disibukkan dengan kegiatan praktikum yang mengharuskan para praktikan untuk fokus terhadap apa yang dikerjakan. *


Tidak dengan sahabatnya, Prita. Perempuan berpotongan rambut sebahu itu keluar dari dalam laboratorium kimia organik masih dengan jas lab, masker, dan sarung tangannya menghampiri Kenda yang tersenyum masam.


"Lagian percaya aja sama Kia," ujar Prita ikut duduk di sampingnya.


"Aku juga engga tau dia bakal ngilang gini," kata Kenda cukup sedih.


Prita membuka sedikit paper bag yang Kenda bawa tadi. Matanya membulat saat melihat apa yang dibawa sahabatnya itu. Dikeluarkannya benda dan tersebut dan dirinya berdecak kagum. Kagum karena kegilaan sahabatnya itu.


"Gila lo? Habis duit berapa?" tanya Prita sembari memperhatikan detail yang ada pada karya seni sahabatnya. Seharusnya Kenda tidak masuk jurusan kimia ini, ia bisa menjadi seniman dengan masuk ke jurusan seni.


"Bisa buat bayar kos kayaknya."


"Tau gitu lo ngapain sih kasih kayak ginian? Tinggal bilang aja, kalau ngga berani kirim dm atau wa. Ih, sayang duitnya Kenda sayaaang," protes Prita gemas.


"Mau gimana lagi."


Desah halus terdengar dari mulut sahabatnya itu. Dari tadi Prita sudah cukup gemas dengan kepolosan Kenda. Kepolosan? Prita harus mengoreksinya. Ini adalah kegoblokan yang hakiki.


*Kepala dua sahabat itu menoleh ke arah pintu gedung. Di sana ada sosok yang sejak tadi Kenda cari tengah berjalan ke arah mereka. Dan melihat dia membuat Kenda selalu merasa rendah. Kia selalu menawan dengan tatanan rambutnya yang sangat memukau. Ia yakin blouse maroon yang saat ini perempuan itu pakai merupakan merk kenamaan yang hanya bisa dibeli di mall saja. Kontras dengan pakaiannya yang satu bulan lalu ia beli dari e-commerse. *


Ketukan sepatu kets yang mempunyai corak tanda centang itu berhenti dengan jarak satu meter dari Kenda. Kia berdiri menatap pigura yang dipegang oleh Prita untuk sesaat dan seolah tersistem senyum seketika terlukis di bibirnya.


"Sudah lo siapin ternyata."


Kenda kemudian berdiri, diikuti dengan Prita yang memasukkan pigura milik Kenda ke dalam paper bag. Kenda meraih paper bag tersebut dan menyerahkannya kepada Kia tanpa ragu.


"Ini Ki."


Kia menerima paper bag itu dan membawanya dengan tangan kiri.


"Sori ya tadi gue ada bimbingan buat olim sama bu Uti," Kia melirik ke arah Prita yang masih di samping kiri Kenda, "gue bakal kasih ini ke Rayyan. Jadi, jangan lupa janjimu kemarin."


Kia melenggang pergi keluar gedung. Sementara Prita terlihat ingin menginterogasi sahabatnya itu. Apa yang mereka pertukarkan?


"Lo ada janji apa sama Kia Nda?" tanyanya.


"Ada Ta," jawab Kenda yang menurut Prita sangat tidak jelas.


"Iya janji apa gue tanya. Lo ngga usah aneh-aneh deh. Kia itu red flag banget jadi orang, lo ngga liat tadi tatapannya kayak apa?"


Bukannya Kenda tidak tau. Tapi lewat Kia perempuan itu merasa bahwa semuanya bisa menjadi lebih lancar. Atau malah sebaliknya?


Tiba-tiba Kenda berbalik dan memegang kedua bahu Prita yang terkejut.


*"Ta, ini gimana? Kenapa aku tina-tiba percaya gitu aja sama Kia? Kalau jadi kacau gimana?" tanya Kenda yang mulai sadar. *

__ADS_1


Prita berdecak dan menurunkan tangan Kenda.


"Mending lo sekarang menuhin janjinya si Kia, lo disuruh ngapain?"


*****


Sesuai saran dari Prita, Kenda akhirnya mencoba mencari tau Rio, PresMa mereka. Tidak sulit untuk menemukan informasi tentang Rio. Cowok itu sangat populer di dalam dan di luar kampus. Meskipun Rayyan lebih populer, tapi Rio mempunyai tempat tersendiri di hati para mahasiswa. Khususnya mahasiswi.


Dibukanya akun instagram milik laki-laki itu.


DewaRioga410


Rio Dewangga


217 Postingan


8.945 Pengikut


419 Mengikuti


Sepertinya ini bukan cara yang tepat. Tidak mungkin Kenda mengirim DM ke akun instagram presma universitas ini. Tidak akan pernah dibaca. Kenda yakin.


"Kamu engga follow akunku?"


Pertanyaan itu membuat Kenda terkejut dan membuat perempuan itu tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Entah suatu kebetulan macam apa yang dialami Kenda saat ini, tapi Rio orang yang tengah ia stalking itu ada di belakangnya sambil melempar senyum.


Menoleh kanan kiri seolah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan. Dan mereka tengah berada di bawah pohon karsen di belakang gedung fakultas sains yang memang akan sepi di tengah hari sehabis zuhur seperti ini.


"R-Rio?"


*Rio tertawa, hal itu menambah pesona tersendiri. Diletakkan jaket denim yang ia pakai dan dipakai untuk duduk. Rio meraih ponsel Kenda yang jatuh dan meniup layarnya yang terkena tanah, membersihkannya dengan tangan. *


"Ngapain disini?" tanya Rio setelah mengembalikan ponsel Kenda, dan diterima dengan canggung oleh perempuan itu.


"Engga ngapa-ngapain."


Pemuda itu masih tersenyum. Apa iya dia selalu tersenyum seperti itu setiap hari?


"Em, Rio. Kamu mau tunangan sama Kia?" tanya Kenda akhirnya. Lebih baik ia segera menyelesaikan urusan ini, sungguh Kenda tidak bisa tenang jika mengingatnya terus menerus.


"Kamu dengar dari siapa?" tanya Rio balik.


"Dari Kia."


"Kia?"


Tiba-tiba Rio tertawa hingga terbatuk-batuk. Ada gerangan apa hingga cowok itu bisa tertawa sampai sedemikian rupa?


"Kenapa?" tanya Kenda terheran-heran.


Seperti tertawanya yang spontan itu, secepat itu juga Rio meredakan tawanya. Raut wajah Rio menjadi sedikit keruh.


"Kia yang minta tunangan."


Jawaban itu membuat Kenda mengangkat sebelah alisnya. Kenapa Kia meminta Rio membatalkan pertunangan jika perempuan itu yang yang meminta untuk tunangan?


"Awalnya orang tua kami yang ingin menjodohkan. Biasa, untuk kepentingan bisnis. Keluargaku investor di sana. Aku engga mau, Kia juga. Tapi setelah ada rumor kami pacaran, yang engga aku tau juga dari siapa, Kia mulai mendesak orang tuanya untuk segera menyiapkan pertunangan kami," terang Rio.

__ADS_1


"Tapi-"


"Kia minta kamu batalin pertunangan ini?" tanya Rio memutus perkataan Kenda.


"Iya."


"Aku yakin dia sudah mendapatkan orang lain," Rio mendengus geli.


*Semakin tinggi alis Kenda terangkat. Kia meninggalkan Rio begitu saja untuk bersama orang lainnya? *


"Sebenarnya bukan kamu aja yang nyoba untuk membantu membatalkan pertunangan kami, maksudku yang disuruh Kia, hehe."


Ada beberapa perempuan dari fakultas ini yang sudah mendekati Rio untuk mencoba membatalkan pertunangan mereka atas perintah Kia dengan imbalan uang. Namun, Rio yang memang bersikap tegas tidak bisa dengan mudah dipermainkan oleh Kia.


"Ah begitu ternyata."


Rio tersenyum. Dirinya berdiri dan membersihkan jaketnya dari tanah dan dedaunan. Rio memakai kembali jaketnya dan siap untuk pergi. Tapi sebelum itu, ia mengulurkan tangannya kepada Kenda.


"Siapa namamu?" tanya Rio kemudian.


"Kenda, anak kimia," jawab Kenda.


"Senang berkenalan denganmu Kenda."


*****


*Keesokan harinya, Kenda sengaja datang ke kelas lebih awal dari teman sekelasnya yang lain untuk mencoba merangkai kata yang tepat perihal kegagalannya berbicara dengan Rio kemarin sambil menunggu Kia datang. *


Salah seorang teman sekelasnya datang. Tetapi, dari arah pintu Kenda bisa melihat tatapan temannya seperti menatap sengit kearahnya. Bukan hanya satu orang, hampir semua orang yang mengikuti kelas pagi yang sama dengan Kenda melempar tatapan yang sama. Beberapa di antara mereka bahkan dengan terang-terangan berbisik dan bergunjing mengenai dirinya.


"Engga tau malu banget. Ternyata orang yang pendiam tu lebih menyeramkan ya."


"Iya, kok bisa ya nikung temennya sendiri."


"Kasihan Kia."


"Tapi Kia juga udah dapat penggantinya kok."


"Beneran?"


"Iya, kemarin aku liat mereka di taman fakultas ekonomi. Kia sama Rayyan itu pelukan tau."


"Anjir! Jangan-jangan Kia yang selingkuh?"


"Engga mungkin lah, Rio sama Kenda lebih dulu berduaan tau. Entah apa yang mereka lakukan selama ini."


Kenda tertunduk semakin dalam. Saat ini seluruh kelas dengan tidak tau rasa kasihan berkata sesuai keinginan mereka tentangnya. Pembelaan yang dia berikan semakin membuatnya menjadi bulan-bulanan di kampus. Satu tahun dirinya habiskan sembari menutup telinga. Bukan dirinya tidak mau membela. Tapi, Kenda tidak mempunyai pembela selayaknya Kia. Rio yang seharusnya ikut membelanya, seakan menghilang dan tidak ingin ikut campur setelah masa jabatan presmanya habis.


Sedangkan Kia bersikap seolah tidak mengenalnya setelah kejadian itu. Perempuan yang awalnya berkata akan membantu dirinya dekat dengan sang pujaan hati, ternyata berniat untuk mengambilnya. Kenda tidak bisa berdiri dengan tegak di tengah keramaian kampusnya sendiri, tidak bisa duduk dengan nyaman di kelas, bahkan tidak bisa makan dengan damai di kantin.


Kenda juga mencoba menutup mata untuk mengabaikan kemesraan Kia dan Rayyan yang ditebar hampir di seluruh penjuru kampus. Dan, seperti itu lah dirinya menjalani sisa satu tahun di kampus.


"Jika kita bertemu lagi, aku harap aku sudah tidak mencintaimu."


*****


note:

__ADS_1


Ini adalah akhir cerita masa lalu mereka. Untuk episode selanjutnya kita lanjutkan kisah mereka di masa kini ya. Terima kasih ^^


__ADS_2