Jodoh Diwaktu Fajar

Jodoh Diwaktu Fajar
episode 13


__ADS_3

Assalamu'alaikum....


Wa'alaikumsalaam...


Zen..!!


Baru sampai?


Iya mas...


Abah gimana??


Itu lagi di temenin ummi zen..!


Bang jen udah sahur?


Udah an.


Oiya zen, kenalin ini mas ku..!!


Hallo mas.., zen "sambil menjulurkan tangan bersalaman"


Hendhi..


Jadi ini zen yg abah minta ketemu


Iya mas, dia temen kerja firman.


ummi keluar dari dalam ruangan.


Nak zen sudah datang..!!


Iya mii..


Abah nyuruh kalian semua masuk..!!


semua masuk keruang perawatan abah.


Zen pun langsung mendekat ke abah dan meraih tangan abah untuk menyalami dan mencium tangan'y, tubuh abah yang lemah hanya mengikuti saja


Zen pun langsung membaca kan do'a untuk kesembuhan abah.


Abah pun berbicara dengan terbata-bata.


Nak zen, boleh abah bicara sama kamu??


Zen pun langsung duduk di sebelah abah.


Iya bah, abah mau bicara apa??


Abah takut nak, abah keburu di panggil sama Allah.


Sebelum abah di panggil, abah ingin sekali melihat anindya menikah, dia anak perempuan abah satu2nya


Abah kepengin menjadi walinya, tapi abah takut waktu abah gak cukup.


Ko abah bicara seperti itu??


Semua yang ada di dalam ruangan pun menetes kan air mata


Anindya, tak sanggup mendengar apa yang di katakan abah.


Bah..., kenapa abah bilang seperti itu, abah akan sembuh, abah pasti liat anindya menikah, abah pasti liat cucu2 abah dari anindya..!! Sambil menangis, anindya memeluk abah.


Abah juga berharap seperti itu ndoo..


Terus kenapa abah bilang seperti itu..!!


Abah hanya tidak mau terlambat ndoo...

__ADS_1


Abah ingin sebelum pergi, abah bisa menitipkan mu kepada orang yang tepat.


hendhy meraih pundak anindya, dan berkata


Sudah dek, biarkan abah berbicara dengan zen..!!


Iya ndo..!! Sahut ummi


Firman, mitha dan istri hendhy hanya terdiam menahan rasa sedih mereka.


Kemudian abah dan zen melanjutkan percakapannya.


Nak zen..!!


Iya bahh..


Abah boleh minta sesuatu sama kamu?


Apa yang bisa zen berikan dan zen lakukan, pasti zen akan berikan dan lakukan untuk abah..!


Abah ingin, menitipkan putri semata wayang abah, apa kamu bersedia menikah dengan anindya??


Apakah menurut abah, zen pantas untuk mendapatkan amanah itu bah??


Apa abah yakin dan percaya, zen bisa istiqamah menjaga amanah dari abah??


Abah percaya nak..!!


Baik bah, kalo abah percaya sama zen, zen siap menerima amanah dari abah, untuk menikah dengan anindya.


Ndooo..!! Panggil abah


Iya bah..


Apa kamu bersedia menikah dengan zen??


Apa pun permintaan abah, anindya pasti penuhi, setelah abah sembuh.


Gak ndoo, abah pengin kamu menikah dengan zen sekarang, abah sendiri yang akan menikahkan kalian.


Kenapa abah bersikeras menikahkan aku sama bang jen sekarang??


Kenapa gak nunggu abah sembuh??!!


Gak ndoo..., abah gak ingin terlambat.


Semua menenteskan airmata, termasuk zen.


Baik bah, anindya bersedia menikah dengan zen.


Nak zen..!!


Iya bah..


Apa kamu sudah siap??


Bagaimana dengan maharnya bah??


Nanti saja menyusul, kamu sebutkan saja, apa yang akan kamu berikan untuk maharnya..!!


Iya bah...


Zen dan anindya pun di nikahkan saat itu juga, abah sendiri yang menikahkan zen dan anindya, tepat pada waktu fajar.


Setelah di nikahkan zen dan anindya beserta kaka2nya di suruh menunggu di luar ruangan, dan bersiap untuk shalat subuh, abah hanya meminta untuk di temani ummi, waktu bertepatan dengan adzan subuh.


Kalian tunggu di luar saja, sekalian siap2 shalat subuh, abah pengin di temani ummi saja.


Iya bah...

__ADS_1


Mereka semua pun keluar, hanya ummi saja yg tetap tinggal.


Mereka shalat subuh di masjid rumah sakit, hanya di tinggalkan hendhy dan istrinya untuk bergantian.


Setelah selesai shalat subuh, lalu mereka bergantian, hendhy dan istrinya juga ummi yang ke masjid untuk shalat subuh


Setelah ummi, hendy dan istrinya selesai shalat di masjid, dan hendak kembali ke ruang perawatan abah


Di sana kondisi abah semakin melemah, anindya pun menangis sejadi2nya dan berteriak memanggil kakanya


Firman, mitha dan zen langsung bergegas masuk ke ruangan


Meliat semua orang bergegas masuk ke ruang ummi, hendhy dan istri nya yang melihat pun jadi ikut tergesa-gesa.


Zen yang melihat kondisi abah langsung pergi memanggil dokter


Zen, dan dokter pun cepat2 menuju ruang perawatan abah, setelah masuk zen melihat semua orang sedang menangis dan melihat abah yang sudah memejamkan mata dan tak bergerak


Dokter pun memeriksa nya.


Dokter lalu memberitahukan kepada semua tentang kondisi abah.


Bu, mas, mba...


Saya harap kalian bisa bersabar..!!


Bapak sudah pergi.


Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun....


Anindya dan ummi semakin tak kuasa menahan tangisannya, mendengar apa yang di katakan dokter.


Hendhy dan istrinya, firman, mitha, berusaha mencoba tegar dan mengikhlaskan kepergian abah meski pun mereka tak sanggup membendung air mata mereka.


Zen mencoba untuk menenangkan ummi dan anindya, agar tangisan air mata mereka tidak jatuh ke tubuh abah, meski pun zen sendiri tak bisa menahan air matanya.


Setelah beberapa menit, mereka berusaha memgikhlaskan kepergian abah


Zen dan firman memgurus proses pemulangan jenazah abah, agar bisa di mandikan, di shalatkan di rumah, kemudian di makamkan.


Setelah selesai pemakaman, waktu sudah tengah hari, zen pamit pulang, agar keluarga anindya bisa beristirahat, zen pun harus beristirahat karena baru sampai dari jakarta


Sebelum zen berpamitan, hendhy bertanya sama zen tentang penikahan zen dan anindya, apakah itu sah atau tidak


Namun zen tidak ingin menjawabnya, karna waktu yang belum tepat untuk membahas itu.


Zen langsung berpamitan untuk pulang, tapi ummi mencegahnya, agar zen beristirahat di rumahnya, ummi tau kalo zen sangat lelah, dan ummi berfikir kalo zen sudah menjadi bagian dari keluarganya karna sudah di nikahkan oleh abah dengan anindya


Namun zen menolak dengan halus, dengan alasan zen belum siap, untuk tinggal di rumah itu.


Zen tetap berpamitan untuk pulang, dan akan datang kembali malam hari ketika di adakan acara do'a bersama untuk almarhum abah


Zen pun akhirnya pulang, membawa kesedihan dalam keadaan tetap berpuas


Sampainya di rumah, zen menceritakan kabar duka, meninggalnya abah kepada mbah arni(neneknya zen)


Mbah arni pun ikut terpukul, mendengar berita itu, sontak mbah arni langsung terduduk lemas


Mbah arni pun berniat untuk ikut kerumah anindya, ketika zen kesana.


Setelah shalat dzuhur, zen langsung beristirahat hingga sore hari


Ketika bangun sore hari, tampak tubuh zen terlihat lebih segar, zen langsung mandi dan shalat ashar.


Zen kembali bercerita dengan mbah arni tentang kejadian di rumah sakit, tadi pagi.


Waktu pun berlalu, setelah maghrib zen dan mbah arni, pergi ke rumah anindya, untuk ikut do'a bersama di rumahnya.


tepat setelah selesai acara do'a bersama selama 7hari berturut2 hari lebaran pun datang.

__ADS_1


Suara takbir berkumandang dimana-mana.


Kondisi anindya,ummi dan keluarga pun semakin membaik, sudah mulai ikhlas dengan kepergian abah.


__ADS_2