
"Baiklah karena nak Dira sudah disini, abah ingin menyampaikan maksud dan tujuan abah ke sini. Kami kesini untuk menjodohkan nak Dira dengan anak kami Fariz, apakah nak Dira mau menerimanya?, " tutur kyai Maliq.
"Dira terserah sama ayah dan ibu aja bah," tutur Anindira sambil menatap orang tuanya.
"Sayang, kan kamu yang jalani. Jadi kamu yang harus nentuin.. Ini juga termasuk masa depan kamu nanti," balas sang ibu. Kemudian tangan sang ibu terulur untuk mengelus kepala putrinya.
"Dira, ibu dan ayah tidak akan memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini. Jika memang kamu tidak mau, kamu bisa menolaknya. Coba pikirkan baik baik ya nak, " balas ayahnya lagi.
"Dira bukannya mau menolak, hanya saja Dira masih ingin bersekolah ibu, ayah, " kata Dira sambil menunjuk wajah memelas kepada ibu dan ayahnya.
"Nak Dira, nanti nak Dira tetap bisa melanjutkan sekolah. Tak akan ada yang melarang sayang. Percaya sama Ummi," balas ummu Aisyah sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Anindira dengan wajah yang berbinar.
"Iya nak," balas ummu Aisyah kepada calon menantunya.
"Baiklah, Dira terima perjodohan ini, " jawabnya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah.. Luqman, jadi kapan acara lamarannya dimulai? " tanya Kyai Maliq kepada sahabatnya itu.
"3 hari lagi, lebih cepat lebih baik. Bagaiman nak Fariz? Apa nak Fariz setuju?" tanya luqman kepada calon menantunya..
Fariz yang saat itu sedang terpaku melihat kecantikan gadis di hadapannya segera tersadar. Dia sangat malu karena dipergoki tengah melihat kearah Anindira sejak lama. Tak ingin membuang waktu lama, Fariz segera menjawab pertanyaan dari calon mertuanya.
"Ah, i.. Iya om. Fariz tidak keberatan dengan itu," balas Fariz dengan perasaan gugup.
"Jangan panggil om, panggil ayah saja, 'kan sebentar lagi nak Fariz akan menjadi menantu ayah," tutur ayah Luqman. Fariz menanggapi ucapan itu dengan tersenyum.
"Baiklah, kami akan ke sini 3 hari lagi, " kata Kyai Maliq.
Merekapun pamit untuk pulang ke rumah. Setelah keluarga Fariz pulang, mereka semua kembali menjalankan aktivitas mereka masing masing. Anindira kembali kekamarnya dengan senyum yang mengembang. Ia sedang memikirkan ketika ia bersanding dengan pria yang selama ini ia kagumi.
"Dira nggk sabar nunggu hari lamaran. Tapi bagaimana kalau sampai Syifa tau, pasti dia marah sama Dira," ucap Dira sambil memikirkan sahabatnya itu.
Dira memang mempunyai empat orang sahabat, mereka adalah Lita, Syifa, Vania dan Kesya. Mereka sama sama mengagumi Ustad Fariz sejak lama. Tetapi Syifa sudah sejak lama menaruh hati pada Ustad Fariz. Dira kemudian beranjak untuk mengambil Hpnya diatas nakas, setelah itu ia melangkah menuju balkon kamarnya.
"Apa Dira telpon aja ya? Tapi bagaimana jika Syifa marah dan nggk mau berteman sama Dira lagi.. Ah bismillah aja dulu, " gumam Dira. Kemudian iapun mulai menekan nomor sahabat-sahabatnya, 'tak lama panggilan langsung tersambung.
[Assalamualaikum, kalian sibuk nggk?] tanya Dira kepada para sahabatnya.
[Waalaikumussalam, nggk kok Dir, kenapa?] tanya Vania.
[Gini Dira mau ngomong sesuatu sama kalian, tapi kalian jangan marah. Terutama Syifa, karena Dira nggk mau gara gara ini persahabatan kita hancur] ucap Dira panjang lebar.
[Iya, kenapa? Ngomong aja Dir nggk usah berbelit belit. Aku udah kepo nih] balas Syifa dengan terburu buru.
[Dira, U.. Udah dijodohkan sama Ustad Fariz, Sumpah Dira nggk tau apa apa. Tadi ayah sama ibu yang bilang sama Dira] Dia menjawab pertanyaan sabahatnya itu dengan sedikit gugup.
__ADS_1
[Wahh alhamdulillah kalau gitu, cieee yang udah dijodohin sama Ustad Fariz] balas Vania sambil bersorak riang.
[Kamu nggk marah Fa? Tanya Dira kepada Syifa.
[Ya nggk lah.. Malahan aku senang karena kamu udah dijodohin sama Ustad Fahri. Selamat yaa Dira] balas syifa dengan tersenyum.
[Serius?? Makasih ya.. Kalian memang sahabat terbaik Diraa] ucap Dira dengan sangat riang.
[Iya sama sama Dir] balas mereka serempak.
[Baiklah, udah dulu yaa. Assalamualaikum, dadah sahabat sahabatku," kata Dira.
[Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatu,'' balas mereka. Kemudian panggilan telpon 'pun berakhir. Dira tak berhenti mengembangkan senyuman nya saat tau jika para sahabatnya itu mendukungnya.
"Alhamdulillah, kalau gini nggk perlu risau lagi. Tinggal menunggu hari H aja, semoga acaranya berjalan lancar," gumam Dira sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya yang di tunggu tunggu akan segera terlaksanakan. Kyai Maliq beserta keluarga datang untuk melamar Anindira. Setelah acara lamaran selesai, kedua keluarga tersebut membahas tentang pernikahan.
"Jadi kapan kita akan menikahkan putra dan putri kita luqman? " tanya kyai Maliq.
"Satu minggu lagi, lebih cepat lebih baik. Selain itu dalam satu minggu adalah waktu yang baik untuk melaksanakan pernikahan dan cukup untuk mempersiapkan semuanya," tutur ayah Anindira.
"Ya baiklah, kita akan melaksanakan acara pernikahannya dirumah saya," balas kyai Maliq.
"Baiklah kalau begitu, kalian tidak keberatan kan? " tanya ayah Anindira kepada putri dan calon menantunya.
"Saya juga tidak keberatan tentang itu," Fariz tersenyum menanggapi hal itu.
"Alhamdulillah, baiklah saya beserta keluarga sangat berterima kasih kepada kalian untuk acara hari ini. Kalau begitu sampai ketemu di acara pernikahan nanti. Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatu ," kata kyai Maliq sebelum meninggalkan rumah.
"Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatu, " balas ayah Anindira.
Keluarga Fariz pun' segera meninggalkan halaman rumah Anindira. Disisi lain, Anindira tampak sangat bahagia karena akan menikahi pria yang ia kagumi selama bertahun tahun.
Tak terasa detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, sampailah pada hari yang sangat di nantikan oleh dua keluarga itu. Hari yang sangat bahagia akan segera dilaksanakan. Banyak sekali tamu undangan yang hadir diacara pernikahan mereka termasuk ke empat sebahat Anindira. Setelah drama pemilihan gaun pernikahan, akhirnya gaun yang di pilih sangat cantik dan cocok untuk di pakai Anindira dan Fariz pada hari itu.
Pembacaan ijab qobul telah dilakukan, Fariz kemudian menjemput Anindira yang berada di kamar tamu. Anindira sangat gugup ketika tau bahwa pria yang sudah resmi menjadi suaminya sedang menunggu tepat di depan pintu. Ke empat sebahat Anindira segera menggandeng tangannya untuk bertemu dengan suaminya. Setelah membuka pintu Fariz terpana akan kecantikan Anindira meskipun tertutupi cadar.
"Nak Dira, ayo salim sama suami kamu," kata ummu Aisyah.
"Iya Ummi, " balas Anindira sambil tersenyum.
Sedetik kemudian Anindira meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim. Fariz tersenyum melihat hal itu, tangannya terulur untuk mengelus kepala Anindira. Mereka pun' turun untuk melayani para tamu tamu yang hadir. Banyak sekali yang mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Setelah hampir tiga jam lamanya mereka berada di pelaminan, akhirnya acara itu selesai juga.
Orang tua Anindira pamit untuk pulang kerumah setelah menitipkan anak semata wayang mereka kepada keluarga kyai Maliq. Anindira sangat sedih ketika orang tuanya akan pulang, iya kemudian memeluk ayah dan ibunya. Ia meminta agar orang tuanya sering menjenguknya.
"Iya nak, ibu dan ayah janji akan selalu berkunjung," kata Maryam sambil mengelus kepala putrinya.
__ADS_1
"Jika nak Dira kangen, Fariz akan mengantar kamu untuk bertemu ayah dan ibumu nak. Iyakan Fariz? " balas sang ummi kemudian melirik kepada putranya itu.
"Ah iya ummi, Fariz akan mengantar Dira nanti, " Fariz berkata sambil tersenyum.
"Ma.. Makasih ," ucap Anindira sesegukan.
Setelah orang tua Anindira pulang, mereka pun masuk untuk beristirahat. Sesampainya di kamar Fariz, Anindira kemudian berjalan menuju kamar mandi karena badannya sangat terasa lengket. Fariz kemudian menyusul dan melihat istrinya sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi. Ia memilih untuk merebahkan dirinya ke atas tempat tidur karena sangat lelah melayani para tamu undangan.
Tak terasa sudah hampir setengah jam Anindira masih dalam kamar mandi. Fariz kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya.
"Dira, masih lama? " tanya Fariz kepada sang istri.
"Emm maaf ustad, Dira... Dira nggk bisa buka resleting gaunnya, " balas Anindira dari dalam kamar mandi.
"Apa kau mau aku membantu mu? " tanya Fariz lagi.
"Tapi... Dira nggk pake hijab sama cadar, gimana? " tanya Dira balik.
"Kan ' udah sah, jadi nggk apa apa ," balas Fariz.
" Oh iya hehe, " Kata Dira.
Tak lama pintu pun' terbuka dan menampilkan wajah cantik Anindira. Rambut nya masih di ikat dan menampilkan leher jenjangnya. Fariz segera tersadar dari lamunanya, kemudian segera meminta Anindira untuk berbalik.
" Tapi janji ya jangan apa apain Dira, " kata Anindira.
" Iyaa kalau di apa apain ya saya khilaf, kan udah sah jadi halal dong ," balas Fariz sambil membuka resleting dan sengaja menyentuh punggung Anindira.
"Ih tuh kan, kakak nggk boleh gitu, " Anindira berkata kemudian menepis tangan Fariz.
"Hehe iya maaf, " Fariz kemudian keluar dari kamar mandi dan menyalakan tv.
Setelah Anindira selesai mandi, Fariz pun' menyusul untuk membersihkan dirinya. Tak terasa waktu menujukan pukul 18.00. Mereka segera bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah. Setelah sholat mereka kemudian makan malam bersama.
"Abah, Ummi, Fariz berencana untuk beberapa hari ke depan bakal pindah ke rumah yang Fariz beli. Apa kalian tidak keberatan? " tanya Fariz membuka percakapan.
"Kalau abah sama ummi tidak masalah. Tapi, bagaimana dengan istrimu? " Kyai luqman balik bertanya.
"Dira ngikut Kak Fariz aja bah, " balas Anindira.
"Baiklah kalau begitu," kata Abah.
Makan malam berakhir, semua orang masuk ke kamar untuk beristirahat. Mereka tak lupa untuk melaksanakan sholat isya terlebih dahulu. Sejak tadi Anindira hanya membolak balikan badannya dan tak berniat tidur. Fariz pun' sama.
"Dira kamu tau nggk? " tanya Fariz.
"Nggak tau, 'kan belum di kasih tau," balas Anindira sambil tertawa kecil.
__ADS_1