
Setelah itu Anindira segera masuk untuk melihat lihat kedalam rumah baru mereka. Ia sangat suka dengam nuansa rumah itu, sangat nyaman. Kemudian ia segera naik ke lantai atas di susul dengan Fariz sambil membawa koper.
"Dira, tolong masukan baju baju kita ke lemari. Saya mau bawa masuk barang belanjaan tadi ke dalam rumah, " Fariz berkata kepada sang istri. Kemudian ia kembali ke mobil untuk mengambil barang.
Dira segera melaksanakan perintah suaminya. Ia sangat senang melakukan pekerjaan rumah. Baginya pekerjaan rumah itu sangatlah menyenangkan.
"Dira harus selesai 'kan secepatnya, Biar nanti bisa masak buat kak Fariz," gumam Dira.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya selesai juga. Anindira segera turun ke bawah untuk masak makan malam. Kebetulan ia berpapasan dengan Fariz.
"Kak.. Kakak mau makan apa? " tanya Dira.
"Apa aja sayang, yang penting bisa di makan, " canda Fariz sambil terkekeh.
"Hm baiklah.. jangan lupa abis itu langsung mandi," Setelah berkata seperti itu, Dira kemudian menuju dapur. Kemudian segera memasak makanan yang sering ia masak di rumahnya.
"Semoga kak Fariz suka sama masakan Dira, " Dira bergumam sambil terus memasak.
Setelah cukup lama ia berkutat dengan alat dapur, akhirnya semua masakan nya telah jadi. Dari nasi sampai beberapa lauk yang sangat lezat. Fariz yang baru selesai membersihkan diri itu segera menghampiri istrinya.
"Hmm aroma masakan mu sangat menggugah selera.. Jadi pengen makan sekarang, " kata Fariz sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Ih kakak.. jangan peluk dulu. Dira bau belum mandi," Dira berkata dan segera melepaskan pelukan suaminya itu. Akan tetapi belum sempat Dira menjauhkan tubuhnya, Fariz sudah lebih dulu memeluknya kembali.
__ADS_1
"Mana ada bau, kamu itu udah wangi, " ucap Fariz. Kemudian Fariz menaikan sedikit jilbab Anindira sampai lehernya keliatan. Kemudian segera mencium leher jenjang istri kecilnya itu.
Dira sangat terkejut mendapat perlakuan seperti itu dan langsung berontak sampai pelukan nya terlepas.
"kaburrrr ada om om mesum, " kata Dira sambil lari terbirit menuju lantai atas.
"Mesum sama istri sendiri itu boleh sayang," teriak Fariz sambil tertawa lepas.
Dira yang sudah berada di dalam kamar memegang dadanya sambil mengatur nafasnya. Ia sangat senang sekaligus terkejut mendapat perlakuan seperti itu.
"ARGHHH Dira jangan pikir itu terus.. lebih baik sekarang mandi aja, " ucap Dira kepada dirinya sendiri.
Sehabis mandi Dira segera turun menghampiri suaminya di ruang tengah. Di sana Fariz sedang asik menonton televisi.
"Kak ayo Sholat sama sama, " ajak Anindira.
"Sayang, " panggil Fariz.
"Iya kak, kenapa? " tanya Dira.
"Kamu masih ingat 'kan yang kamu bilang malam itu sama saya, " Fariz berkata sambil terus mengunyah.
"Yang mana? " tanya Dira
__ADS_1
"Malam pertama yang tertunda. Secara 'kan kita udah di rumah baru, " jelas Fariz.
Seketika muka Anindira sangat merah menahan malu. Ia pikir Fariz sudah melupakan perkataan nya dulu, rupanya tidak. Fariz yang melihat ekspresi istrinya itu ingin sekali tertawa terbahak bahak, akan tetapi ia tetap menahannya.
"Emm iya kak, nanti malam, " kata Dira malu malu.
"Baiklah, sy tunggu, " ucap Fariz.
Mereka kemudian melanjutkan makan malam. Setelah selesai Dira segera membersihkan semuanya kemudian menyusul suami nya ke lantai atas. Mereka segera melaksanakan sholat isya.
Setelah sholat Dira kembali turun ke bawah untuk mengambil minum dan kembali lagi ke kamar. Sampai dikamar ia melihat suaminya sedang asik dengan benda pipihnya. Ia langsung saja teringat akan ucapan nya ketika masih di rumah mertuanya.
"Kalau nggk lakuin kan bakal dapat dosa.. ah ya sudahlah kan sama suami sendiri, " gumam Dira.
Ia kemudian bergegas masuk ke kamar mandi, tak lupa pula untuk mengambil baju yang sudah di belinya tanpa sepengetahuan Fariz.
"Masa iya harus pakai baju kayak gini. Ini udah kayak nggk pakai baju aja, mana transparan lagi, " gerutu Anindira.
Dengan berat hati ia akhirnya memakai baju itu dan segera melangkah keluar dari kamar mandi dan menuju ke meja hias. Fariz sangat terkejut melihat keberanian Anindira memakai baju kurang bahan itu.
"Sayang, kok pakai baju kayak gini, " Fariz berucap dengan tangan yang langsung melingkar di pinggang ramping istrinya itu.
"Kan Dira mau melaksanakan kewajiban Dira sebagai seorang istri, " kata Anindira sambil membalikan badan nya agar berhadapan dengan Fariz. Sedetik kemudian tangan nya langsung di kalungkan ke leher Fariz.
__ADS_1
Fariz yang mendengar itu segera membawa istri kecilnya itu ke tempat tidur. Ia kemudian mencium kening istrinya. Sebelum melakukan itu, mereka tak lupa untuk berdoa terlebih dahulu.
Pelan pelan Fariz mulai menjelajahi setiap inci wajah cantik Anindira. Ia mengecup kening, mata, pipi, dan berakhir di bibir ranum Anindira. Malam itu menjadi malam yang sangat panjang untuk keduanya. Mereka saling memberikan kehangatan, dan malam itu juga Anindira sudah menjadi milik Fariz sentuhnya.