
Setelah kejadian semalam, Fariz bangun lebih dulu dan segera membersihkan diri. Kemudian ia membangunkan istrinya yang masih meringkuk di bawah selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Fariz lalu melangkah mendekati istri kecilnya itu. "Sayang, bangun udah subuh. Sana mandi biar segar.. setelah itu kita sholat."
"Hmm bentar lagi kak," Anindira kembali masuk ke dalam selimut.
Karena merasa kesal, akhirnya Fariz menggendong tubuh Anindira masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukan nya ke dalam bathtub.
"Kak pelan pelan, ini sangat sakit, " Kata Anindira sambil meringis.
"Apakah masih sakit sekali?"
"Hmm lumayan."
"Baiklah tunggu di sini. Saya akan ambil 'kan handuk dan gamis untuk kamu, " ucap Fariz sambil bergegas keluar. Setelah mengambil semuanya, ia kembali masuk dan memberikan nya pada Anindira.
"Sekarang kamu mandi, setelah itu pakai ini. Kalau masih Nggk bisa jalan, panggil saya," Kata Fariz dengan memberikan kecupan ringan di kening Anindira.
Anindira lalu segera membersihkan dirinya. Ketika sedang memakai sabun, ia melihat banyak tanda kepemilikan yang di berikan oleh Fariz semalam. Mengingat hal itu, Anindira merasa sangat malu jika bertemu dengan Fariz.
Selesai membersihkan diri, dia segera keluar kamar. Tak lupa pula ia mengambil wudhu terlebih dahulu.
"Klek" Pintu kamar mandi terbuka.
"Kak, udah."
__ADS_1
"Masih sakit nggak? " tanya Fariz.
"Emm udah mendingan," ucap Anindira.
Mereka kemudian melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai sholat, Anindira memulai harinya seperti biasa. Ia mulai mempersiapkan makanan untuk sarapan pagi.
"Sayang, udah jadi belum? " Fariz bertanya dengan memberikan kecupan ringan di pipi Anindira.
" Bentar lagi kak. Kakak tunggu aja di meja," balas Anindira.
"Iya sayang. "
Fariz kemudian melangkah meninggalkan Anindira. Setelah selesai, Anindira segera membawa sarapan ke meja makan.
"In syaa Allah bulan depan kak. Lagian tinggal ujian skripsi aja."
"Oh, baiklah."
Setelah itu hanya dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Mereka diam dengan pikiran mereka masing masing. Setelah selesai makan, Fariz segera kembali membantu istrinya membereskan meja makan. Mereka kemudian menuju ke ruang keluarga.
"Yang, " panggil Fariz.
"Iya kak? " Anindira segera menatap suaminya.
"Nanti saya mau ke pondok, kamu mau ikut Nggk? " Fariz bertanya kembali.
__ADS_1
"Iya tentu saja mau," ucap Dira kegirangan.
"Yaudah sana siap siap. Saya tunggu kamu di mobil, " Fariz berkata sambil mengelus kepala Anindira.
Anindira kemudian segera naik ke kamar. Ia memiliki gamis berwarna hitam yang sangat terlihat indah dengan kulitnya yang putih. Ia padukan dengan Jilbab dan cadar berwarna mocca. Setelah selesai, ia segera menyusul suaminya di mobil.
Di dalam perjalanan, Anindira hanya mengoceh sambil terus tertawa. Fariz hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri kecilnya. Tak di rasa, mereka sudah berada di depan gerbang pesantren. Mereka kemudian segera masuk dan menuju ke ruangan kyai Malik.
"Assalamualaikum warahamtullahi wabarakatu. Abah? "
"Waalaikumussalam warahamtullahi wabarakatu, masuk nak. "
Fariz segera membuka pintu setelah mendengar sahutan ayahnya dari dalam. Saat itu, ia melihat ayahnya sedang duduk sambil. menikmati secangkir kopi.
"Dira di mana?" kyai Malik bertanya Karena tidak melihat keberadaan menantunya.
"Dia sedang berkeliling. Katanya sudah lama dia tidak ke sini, " balas Fariz tersenyum.
"Oh iya, ummi di mana? " Fariz mengedarkan pandangannya untuk mencari ummi nya.
"Ummi mu lagi di rumah, dia lagi masak tadi. Terus abah di suruh pergi sendiri.
Fariz hanya ber "oh" ria sambil mengangguk anggukan kepalanya. Di sisi lain ketika Anindira sedang berkeliling. Matanya tertuju kepada salah satu santriwati yang sedari tadi terus menatapnya. Ia melihat santriwati itu berjalan ke arahnya. Setelah sampai tepat di hadapannya, santriwati itu bertanya.
"Kamu istrinya ustad Fariz? "
__ADS_1