
"Selamat pagi sayang", menghampiriku sambil memelukku. Ya, dia adalah suamiku, lelaki yang tak pernah kuduga akan menjadi jodohku.
" Pagi sayang", jawabku pada lelaki yang saat ini menjadi suamiku sambil kuberikan senyumku kepadanya.
Memang awalnya kami adalah teman sekolah di sekolah dasar. Tapi walaupun bersekolah di sekolah yang sama dan bahkan berada di satu kelas yang sama dari kelas 1 hingga kelas 5, kami tetap tidak pernah berkomunikasi layaknya teman sekelas.
"Tidurmu nyenyak?" Dia selalu bertanya hal yang sama semenjak kita pindah ke rumahnya. Setelah sah menikah, selama beberapa hari kita masih tinggal dirumah orang tuaku, tapi setelahnya kita pindah kerumahnya.
(Mengganggukkan kepala) "Mas mau sarapan apa pagi ini?" tanyaku. Tapi dengan lembut dia menjawab "Udah jangan repot repot, kita pindah kesini masih baru, kamu juga pasti masih cape bebenah barang-barang, istirahat aja, masalah sarapan aku bisa buatkan untuk kita".
Aku tidak pernah menduga akan memiliki suami sepertinya. Sebelum dengannya, aku pernah menjalin hubungan dengan seorang pria. Kami saling mengenal dan jatuh hati pada saat duduk di bangku SMA. Hingga kami berpisah jarak, kami masih menjalin hubungan LDR.
Hampir 10 tahun bersama dengannya, aku pikir dia yang akan menjadi suamiku, namun ternyata takdir berkata lain. Akhirnya kami berpisah dan tak saling berkabar, juga saling membenci.
Pada saat hatiku terluka, datanglah sosok pria. Ya, dia suamiku. Tidak mudah perjalanan kisah cinta kami hingga sampai dititik pernikahan.
__ADS_1
Awalnya aku tidak tertarik dengannya, atau dengan pria lain. Alasannya hanya karna aku trauma. Namun, perjuangan nya meluluhkan hatiku membuahkan hasil. Hingga akhirnya kami pun menikah.
"Sayang, aku dijalan pulang dari kantor, kamu mau nitip apa? Pengen makan apa? Biar aku bawain" pertanyaan yang selalu ditanya nya setiap dia pulang ngantor.
"Kayanya siomay yang disimpang jalan itu enak deh mas, boleh nitip itu?"
"Boleh banget dong, ntar aku bawain ya, ga pake baso sama telornya kan?"
Dia yang selalu ingat apa yang aku suka dan yang tidak aku suka, membuatku makin jatuh hati padanya.
"Beneeerrr.. Kamu inget ya ternyata".
" Iyadeh iyaaaa.. Kamu yang terbaik deh, yaudah kamu hati-hati ya dijalan, ga baik telfonan dijalan gitu ah, bahaya".
"Oke sayang, sampe ketemu dirumah yaaa, I love You".
__ADS_1
Kalimat terakhir setiap akan mengakhiri telfonnya. Dari awal pacaran hingga sekarang pun dia masih begitu.
"Assalamualaikum sayang, ini siomay nya".
"Waalaikumsalam mas, yeaaayyy dibawain siomay, yaudah aku siapin dulu ya, kamu bersih bersih dulu sana, abis itu kita makan bareng yaaa".
" Oke sayang" sambil mengecup keningku dia pun berlalu ke kamar mandi.
Selesainya dia mandi kami pun makan bersama. Terasa nikmat walau hanya dengan menyantap siomay. Sambil bercerita satu sama lain tentang hari ini, makin terasa nikmat suasananya.
"Kira-kira nanti kita punya anaknya cewe dulu atau cowo dulu ya?"
"Mas maunya apa? Cewe dulu atau cowo dulu?"
"Kalau mas apa aja yang penting sehat, kalau kamu maunya cowo dulu atau cewe dulu?"
__ADS_1
"Gatau kenapa aku pengennya sih cowo dulu ya, kayanya kalau ntar anak pertama cowo trus nanti punya adik cewe, kan bisa ngelindungin adiknya, tapi apapun nanti anak kita yang penting sehat".
Begitulah percakapan kita di malam hari ini, maklum sebulan menikah masih belum ada tanda tanda adanya buah hati didalam perutku. Hingga malam semakin larut dan kami pun terlelap bersama.