Jodohku Teman Sekolah Dasarku

Jodohku Teman Sekolah Dasarku
Bab 5


__ADS_3

Memang jalan Tuhan untuk mempertemukan kita dengan jodoh itu bermacam-macam ya.. Tanpa diduga dan disangka aku dan Dion sudah lama saling mengenal. Dan akhirnya kami pun menjalin hubungan sebagai "pacar".


Tapi ntah kenapa aku merasa belum mencintainya, bahkan nenyukainya saja pun belum. Namun dalam benakku berkata "gapapa kita coba jalanin aja dulu" tanpa memikirkan perasaannya yang memang mencintaiku. Sangat cinta... Sangat tulus... Aku bisa merasakannya.


"Sayang makan yuk, aku otw kerumah kamu ya?", kata Dion di telfon.


" Mau makan apa? Bukannya kamu baru aja balik dari kantor? Ga cape apa? Mana jauh kan rumah kita".


"Ga cape kok, lagian ini kan weekend, kita juga ketemunya ga everyday, seminggu sekali doang, besok masih bisa istirahat akunya".


" Besok aja, kamunya baru sampe dari kantor trus mau kesini, gamau ah aku ntar mamaku marah lagi dikira aku yang suruh kamu kesini".


"Mama kamu tau kok aku yang bucin ke anaknya, hahaha".


Laki-laki ini memang sungguh sangat gila perjuangannya untuk meluluhkan hatiku. Padahal dia juga tau kalau aku belum memberikan hatiku padanya. Tapi dia selalu berusaha untuk memenangkan hatiku.


Sampainya dirumahku, seperti biasa dia selalu menyapa orangtuaku dan bahkan mengobrol dengan mereka. Tak lupa pula dia meminta izin kepada orangtuaku untuk mengajakku keluar dengannya.


"Bu, pak, saya mau izin ajak xyna keluar untuk jalan-jalan", ucapnya kepada ayah dan ibuku.


" Mau kemana ini? Malem mingguan ya? Boleh kok boleh, tapi jangan malem-malem ya pulangnya kalian, ndak elok diliat orang nanti", jawab ibuku.

__ADS_1


"Siap bu", balasnya.


Berkeliling memang bisa membuat penat kita hilang ya... Ditengah perjalanan sambil mencari tempat makan yang enak dan nyaman, Dion pun mengajakku ngobrol. Mungkin agar suasana tidak sepi.


"Kita makan apa ini? Kamu lagi ada pengen makan sesuatu ga?" tanya nya memecahkan suasana.


"Apa ya yon? Kalo makan sate aja gimana? Kamu mau ga?"


"Boleh aja ayo sih aku. Sate yang dimana ya? Coba rekomendasiin ke aku".


"Yang dideket persimpangan itu aja gimana? Aku belum pernah nyoba sih tapi selalu rame, kayanya enak".


"Persimpangan jalan itu? Gasssss".


"Yon, aku boleh ngomong sesuatu?", ucapku.


" Mau ngomong apa sih sayang? Bilang aja".


"Ntar aja deh kita makan dulu aja".


Aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa melepasnya tanpa menyakitinya lagi. Aku ingin dia bisa bahagia dengan pasangannya yang mungkin bukan aku.

__ADS_1


Selesainya kami makan, kami pun segera pulang.


"Yon, sebenernya tujuanku diusia segini itu bukan sekedar cari pacar atau mau pacaran aja, aku cari calon suami untuk nanti bisa menikah denganku".


Dion yang saat itu tengah menyetir, tak ada sedikitpun ekspresi terkejutnya.


"Emangnya kamu pikir kita pacaran gini, cuma pacaran doang gaada ujungnya?" tanyanya sambil senyum.


"Ya terus?"


"Pas aku niat buat deketin kamu, disitu aku udah pun sudah niat untuk serius, aku juga bukan hanya mencari pacar, aku pun mencari calon istri yang nantinya bisa menerima segala kekuranganku".


Disini malah aku yang terkejut dengan ucapannya.


" Maksudmu?", tanyaku.


"Xyna aku berniat untuk menikahimu, namun aku paham bahwa sampai detik ini kamu masih belum mencintaiku, tapi aku akan selalu berusaha untuk bisa memenangkan hatimu, jadi kita butuh waktu buat bisa saling memberi perasaan cinta itu".


Aku benar-benar takjub dibuat lelaki ini. Baru kali ini aku diperlakukan dengan hormat seperti ini, diperlakukan sangat lembut dan penuh kasih.


Rasa bersalahku pun semakin besar kepada Dion melihat sikapnya yang begitu manis dan tulus kepadaku. Ah, xyna ayolah apa yang salah padamu? Cobalah untuk membuka hatimu sedikit demi sedikit saja untuk Dion yaaaa. Begitu kata hatiku.

__ADS_1


Tak terasa kami pun tiba dirumah, dan ya seperti biasa lelaki ini selalu berpamitan dengan kedua orang tuaku. Sangat sopan dan santun sehingga ibuku pun sangat menyukainya. Diapun akhirnya pulang.


__ADS_2