
Seorang gadis tengah menangis di kamarnya, menangisi nasibnya yang begitu menyedihkan. Hinaan dan makian sudah menjadi makanannya sehari-hari, meskipun begitu dia masih selalu menangis saat dirinya dihina dan dimaki. Hinaan dan makian itu bukan dari ibu angkat maupun ayah angkatnya. Hinaan dan makian itu keluar dari mulut kakak angkat nya. Ayah dan ibu angkat nya sangat baik dan menyayanginya tapi di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang sempurna. Dia memiliki kakak angkat yang tidak menyukai keberadaannya entah apa alasannya.
"ANNA!!!...." begitu mendengar namanya disebut, gadis itu langsung bangkit dari tempat tidur, berlari menuju sumber suara, tak lupa mengusap air matanya.
"I..iya kak Sean? Ada... apa?"
"Kenapa kau lama sekali!!?"
"Maaf kak"
"Bersihkan kamarku"
"Hah?"
"Apa kau tuli!"
"Ba.. baiklahkak"
Seperti itulah hari-hari Anna saat di hari libur sekolah, saat orang tuanya tidak ada. Padahal di rumah ini terdapat beberapa pelayan untuk mengurusi pekerjaan rumah tapi mengapa harus Anna? Hanya Sean yang tau alasannya. tapi masih untung hinaan dan makian belum keluar dari mulut kakaknya ini. Anna pun bergegas membersihkan kamar sang kakak.
saat membersihkan meja Anna tak sengaja menyenggol figura foto di meja itu alhasil
PRANKK
Anna panik, sang kakak pasti akan sangat marah.
"ANNA!!!" Tubuh Anna mengejang karena kaget.
"Kau!!! Apa yang kau lakukan!!!" Anna hanya diam sambil tertunduk.
" dasar gadis sialan.... dimana matamu!!! hah... sial cepat bersihkan pecahan itu! dan pergi dari kamarku!!!!" Anna pun membungkuk dan mengambil pecahan beling itu, sambil menahan tangis. tangan Anna tergores oleh pecahan beling dan membuat darahnya berceceran di lantai marmer yang putih itu. Tapi Anna tak sadar karena yang dipikirkan nya 'cepat bersihkan Anna atau kau akan semakin dimaki'. Setelah pecahan sudah terkumpul annapun bergegas pergi.
Saat Anna sudah di ambang pintu.
"hey..."Anna pun berbalik
"Ya? Kak?"
"Lihat ke lantai" Anna pun reflek melihat ke lantai
"Darah..." gumam Anna sangat lirih.
" jangan lupa bersihkan itu, aku tak mau darah kotor mu mengotori kamarku "
Tanpa menjawab Anna pun langsung bergegas pergi, entah kenapa melihat darah, yang lebih tepatnya darah miliknya, tangannya merasakan rasa perih yang sangat, darahnya menetes cukup banyak tadi, setelah membuang pecahan kaca Anna mencuci tangannya, dan benar saja luka sayatan nya cukup lebar. Anna pun bergegas mengambil kain lap untuk membersihkan darahnya di kamar kakaknya itu. saat masuk kamar kakaknya, 'sepi' di mana kakaknya? Anna tak mau berpikir keras dan bodo amat dimanapun kakaknya ana tak peduli. setelah selesai Anna pergi ke kamarnya. untung saja besok hari liburnya usai jadi dia bisa ke sekolah. Kadi dia tak akan berhadapan dengan kakaknya, tapi ayah dan ibunya baru akan pulang 4 hari lagi. hari ini hari yang cukup melelahkan untuk Anna. dalam hatinya Anna sangat menyayangi ibu, ayah dan kakak angkat nya.
Anna menguap dan matanya mulai terpejam, sambil menggeliat memeluk guling dan berucap "selamat tidur"
.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya Anna berangkat pagi-pagi sekali seperti biasa, karena untuk menghindari kakaknya. Anna tak ingin mendengar hinaan ataupun makian dari kakaknya di pagi yang cerah ini. saat Anna membuka pintu kamarnya, suasana masih sepi, Anna yakin kakaknya pasti masih tidur karena mungkin, kakaknya ada kuliah siang, walau kuliah pagi sekalipun pasti tak sepagi ini. Anna ke sekolah naik bus.
.
.
.
.
Setelah lelah bersekolah, Anna pergi ke sebuah taman untuk mengerjakan tugas sekolah bersama teman-temannya, karena setelah liburan sekolah banyak tugas yang menumpuk.
Saat sedang mengerjakan tugas
teman-teman Anna berpamitan untuk membeli es krim sebentar dan menyuruh Anna dan Rio, teman Anna untuk mengerjakan tugas.
.
.
.
Tapi dari kejauhan ada Sean yang sedang memperhatikan Anna dan Rio, karena tak sengaja lewat. tanpa mengubah ekspresi Sean pun meninggalkan taman itu.
.
.
.
Sekarang sudah pukul 06.00 dan Anna masih berada di halte bus, Anna sudah satu jam menunggu bus tapi kenapa tak ada bus? Huff... padahal Anna sudah sangat lelah, tadi Anna dan teman-temannya berpisah di taman. teman-teman Anna mengendarai sepeda ontel untuk pulang dan arah jalan pulang mereka dengan Anna sangat berbeda.
kenapa Anna tak mengendarai sepeda saja untuk ke sekolah? jawabannya rumah Anna sangat jauh, bila ditempuh dengan sepeda ontel akan menghabiskan waktu 1 jam dan mengapa Anna tak di antar jemput saja? Jawabannya Anna tak mau merepotkan orang tuanya. Anna ingin mandiri. Dan tak ingin di cap pemalas oleh kakaknya karna dulu Anna pernah di antar jemput, tapi Sean mengatainya pemalas.
Anna melihat ke sisi kanan dan kirinya kenapa belum juga ada bus yang lewat? huff terpaksa Anna harus berjalan kaki. Dan Anna pun menyusuri jalan langkah demi langkah, sampai akhirnya dua jam kemudian Anna sudah berada di depan rumah yang cukup luas dan berlantai empat.
dengan tenaga yang seadanya, Anna membuka gerbang dengan kunci yang dimilikinya, saat akan membuka pintu utama, 'kenapa pintunya tidak dikunci?' Batin anna. Tapi persetan Anna sudah sangat lelah.
Anna kaget saat melihat kakaknya duduk di sofa utama dengan melipat kedua tangannya dan melihat Anna dengan tatapan tajam. Anna mematung di tempat.
"Dari mana saja kau?"
"Ak.. aku..."
"Dari mana saja kau hah? Jam segini baru pulang,kau pikir kau siapa? Apa yang harus aku katakan kalau ayah dan ibu ku menanyakan tentang mu hah!"
__ADS_1
Anna semakin menunduk sambil menahan tangis.
"Maaf"hanya kata itu yang bisa Anna katakan.
"Maaf? Cih"
"Ma.. maaf kak... ak..aku tadi mengerjakan tugas dan tadi bu--" ucapan Anna terpotong.
" cih... Mengerjakan tugas?!.....
Jangan berbohong Anna! Kau pikir aku sebodoh itu! Dasar gadis sialan,kau pikir aku tak tau kau tadi sedang berpacaran di taman hah! Dasar gadis pembohong! Apa aku perlu merobek mulut mu dulu supaya kau berhenti berbohong! Atau aku juga harus mematahkan kaca mata mu?agar kau cepat pulang ke rumah dan tidak keluyuran!"
Anna masih menunduk dan kini air matanya sudah tak bisa di bendung lagi.
"A... a..ku ta..tad..i" Anna menghentikan ucapannya karena Sean berjalan mendekati Anna. Tubuh Anna makin gemetar ketakutan.
"Kau tadi apa hah!" Bentak sean sambil menutup pintu utama di belakang Anna dengan keras,membuat membuat Anna mengejang karna kaget. Dan entah sejak kapan sean sudah berdiri di depan Anna. Sean menggebrak pintu dengan posisi tubuhnya di depan Anna.
"Ta... ta..di ak.. ak..u hiks menunggu hiks bus di hal.. halte tap.. tapi hiks b...bu--" ucap Anna terpotong.
"Tapi apa?!! Hah?!! busnya tak kunjung datang dan kau memilih berjalan kaki dan akhirnya kau pulang semalam ini! iya?!! dasar pembohong! hentikan air mata palsu mu itu!kau harus diberi hukuman agar tak mengulangi hal seperti ini lagi!"
Sean pun menarik tangan kanan Anna dengan sangat kuat. membawa Anna ke dalam kamar Sean. Sean memegang tangan Anna dengan satu tangan dan satu tangannya lagi digunakan untuk mencari sesuatu dan Anna dia mencoba melepaskan tangan kanannya yang di genggam erat oleh Sean dengan tangan kirinya. tangan Anna sangat sakit Anna yakin tangannya pasti sudah merah.
"Hiks... kak aku minta maaf... kumohon lepaskan kak... aku tidak berbohong... hiks"
Sean tidak menggubris perkataan Anna.
Akhirnya Sean pun mendapatkan apa yang dia cari.
Tangis Anna pun semakin keras karna yang Sean cari dari tadi ternyata tali yang sekarang ada di genggaman Sean. Sean pun menarik Anna keluar kamarnya dan membawa Anna ke kamar tamu. Dan Sean pun berbalik, meraih tangan kiri Anna dan mengikat kedua tangan Anna dengan kuat "hiks.. kak.. hiks.. maafkan hiks..Anna" Sean juga mengikat kedua kaki Anna. Sean pun menggendong Anna ala karung. Anna hanya bisa menangis, menangis, dan memohon. Sean membawa Anna ke dalam kamar mandi yang berada di kamar tamu itu,dan meletakkan Anna di bed tab yang dingin.
" ini hukuman untuk mu gadis pembohong"
"Hiks... tapi aku tidak berbohong kak... hiks..." tanpa membalas ucapan Anna, Sean langsung meninggalkan Anna dan mengunci pintu kamar mandi dan tak lupa mematikan lampu kamar mandi.
Tubuh Anna sudah tak bertenaga lagi, Anna lelah, Anna belum makan, Anna lelah berjalan dan juga lelah menangis. Tubuh Anna merasakan hawa dingin dari kamar mandi. Anna trauma, Sean selama ini tidak pernah melakukan ini padanya, biasanya kakaknya, hanya akan memaki dan menghinanya, tak sampai memperlakukannya seperti ini. hal di luar perkiraannya.
Tapi, Anna masih bersyukur,bersyukur karna Sean tak mengguyurnya dengan air.
Tubuh Anna sudah tak kuat lagi, dan akhirnya setelah 30 menit lamanya di kamar mandi yang dingin dan gelap Anna pun tak sadarkan diri.
.
.
.
Saat Anna tersadar, Anna masih di tempat yang sama. bedanya tangan dan kakinya sudah tak terikat lagi. Tak ingin berlama lama Anna segera bangkit dari bed tab dan berjalan menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar, Anna langsung mengganti pakaiannya dan meringkuk di tempat tidur dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya.
__ADS_1