
Sira sekarang sudah berada di depan rumah nya,dia ragu untuk masuk atau tidak,Sira yakin pasti Sera menceritakan hal yang terjadi tadi di sekolah dengan kedua orang tua nya,walaupun di sini bukan Sira yang salah tapi tetap saja di mata orang tua nya tetap dia yang salah.
setelah lama berdebat dengan pikiran nya,Sira meyakinkan diri untuk masuk kedalam rumah nya.
clek
Sira berjalan sambil menundukkan kepalanya, sungguh dia sangat takut sekarang.
saat melewati ruang keluarga Sira semakin menunduk kepalanya.
"Sira"
panggilan itu sama sekali tidak diinginkan Sira sekarang, siapapun tolong Sira sekarang.
Sira membalikan badan nya dengan kepala yang masih menunduk dalam.
"apa yang kamu perbuat sampai membuat anak saya menangis seperti ini"
"Sira juga anak bunda,tapi kenapa bunda gak pernah memeluk Sira dan menengkan Sira seperti bunda lakukan dengan Sera ketika dia nangis"
"seperti nya kau perlu mendapatkan hukuman"
mendengar kata hukuman dari mulut ayah nya sontak sira langsung menegakkan kepalanya menatap sang ayah.
"Sira Mohan yah,jangan hukum Sira"
"tapi anak nakal harus di hukum"
"s-sira mohon yah j-jangan hukum Sira,Sira gak n-nakal"
"saya tidak ingin mendengar alasan mu"
Rian menyeret anak nya dan membawanya ke dalam gudang.
"yah Sira gak mau di hukum"
"DIAM!!"
Rian mengambil cambukan yang berada di sudut gudang.
CTAS
"ini untuk kau yang sudah menjadi anak pembangkang"
CTAS
"ini untuk kau yang selalu membuat masalah"
"hiks ampun yah,a-ampun hiks s.sakit yah"
CTAS
"ini untuk kau yang membuat putri ku menangis"
"Sira juga nangis sekarang yah,tapi kenapa ayah seolah tuli dan buta dengan hal itu"
CTAS
"ini untuk kau yang sudah merebut orang yang di cintai oleh Sera"
"u-dah a-ayah hiks"
CTAS
"dan ini untuk kau yang sudah menjadi benalu di kehidupan keluarga saya"
setelah itu Rian melempar cambukan yang di tangan nya sembarang arah,dan dia pun keluar dari gudang tidak lupa untuk mengunci pintu gudang tersebut.
"*cuma benalu ya?,haha miris banget hidup kamu Sira,kamu itu hanya beban di dunia ini,bahkan dunia seolah membenci mu saat ini"
"Sira capek,tapi Sira belum mau nyerah"
"Sira butuh sandaran,tapi gak ada yang bisa menjadi sandaran untuk Sira"
"Sira mau pulang,tapi bingung mau pulang kemana?"
"Sira mau marah,tapi bingung marah dengan siapa dan karna apa?"
"Sira mau mati,tapi Sira bum mau mati sebelum kalian sayang sama Sira"
"sir butuh sosok yang selalu menyemangatkan Sira,tapi siapa?"
"Sira lelah tuhan tolong batu Sira".
dan seketika semua menjadi gelap,Sira pingsan tanpa ada seorang pun yang tau,Sira pingsan tanpa ada seorang pun yang mengkhawatirkan nya,Sira pingsan tanpa ada yang mau menolong nya dan Sira pingsan dengan membawa semua beban yang dia pikul sendiri.
****
"Ehgg"
"Sira Lo udah sadar,ada yang sakit?,bilamg sama gue,Al mau gue panggilin dokter,atau Lo butuh sesuatu?"
"minum"lirih Sira
Uul langsung mengambilkan minum untuk sira.
"nih minum pelan pelan,biar gue pegin"
"makasih"
"sama sama"
"kok aku bisa di sini ul?"
"Lo masih tanya kenapa Lo di sini?,gila! Lo tau gue tadi datang ke rumah Lo,kata bokap Lo Sira nya gak aaada di rumah,gak yakin dong gue yakali Lo di izini untuk keluar rumah,dengan licik nya gue bilang ke bokap Lo kalau gue mau izin ambil buku di kamar Lo,dan dengan bodoh nya bokap Lo izinin gue yauda gue gak nyia nyian kesempatan dong,gu langsung nyari Lo,dan
__ADS_1
gue nemuin Lo di gudang dengan ke adaan pingsan,iiih sumpah kesla banget gue sama keluarga Lo itu,rasanya gue pengen suruh orang tua gue angkat Lo jadi anak biar Lo aman"ucap Uul panjang lebar,Uul menjelkannya dengan menampilkan wajah kesal nya bahkan wajah nya sampai memerah menahan kesal
sira yang mendengar penuturan Uul hanya tersenyum,dia senang setidak nya masih ada yang memperduli kan dia kan?.
"ngapain Lo senyum senyum,gue lagi kesalo ini"kesal Uul dengan memajukan bibir nya
"haha,kamu lucu kalau lagi kesal ul"
"tapi gue serius Lo saam ucapan gue yang mau nt
yuruh orang tua gue ngangkat Lo jadi anak,biar kita sama sama terus dan Lo aman gaka kan di siksa sama keluarga jahanam Lo itu"
"ish gak boleh ngomong gitu ul,gimana pun mereka tetap keluarga aku,dan untuk ngangkat aku jadi anak dan saudara kamu,itu gak perlu ul,cukup kamu selalu adaa di samping aku,itu udah membuat aku ngerasa aman"
Uul menatap Sira dengan iba,tanpa berkata apa-apa Uul langsung memeluk erat Sira,dan dengan senang hati sira membalsa pelukan sahabat nya.
"Lo gak perlu bilang kayak gitu gue pasti bakalan selalu ada di samping Lo gimana pun keadaan nya"
"dan aku perca itu"
"ahh gue hampir lupa,Lo makan dulu ya,biar gue suapin"
Sira mengangukan kepalanya sebagai jawaban.
"aaaa buka mulut nya"ucap Uul seperti menyuapi anak kecil
Sira terkekeh dan langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Uul.
"Lo tau tadi yang bantu gue bawa Lo ke rumah sakit bang Gio,gue aja kaget waktu dia tiba tiba datang waktu gue teriak karna kaget ngelihat Lo pingsan"
hukk.hukk..huk
"eh pelan pelan dong makan nya,nih minum dulu"
"gak mungkin lah bang Gio mau bawa aku ke rumah sakit"ucap Sira tak perca
"benar sumpah gue gak bohong,Lo pikir aja mana kuat gue ngangkat Lo dari gudang ke mobil"
"iya juga,tapi ga—"
"udah gak usah fikirin,nih makan lagi"
selesai makan,Sira dan Uul pun mengobrol ntah membicarakan hal apa.
"ul kapan aku pulang?"
"kata dokter tunggu himpus Lo habis baru boleh pulang"
Sira melihat himpus nya yang sedikit lagi akan habis,kemudian dia mengangguk kan kepalanya mengerti.
"besok gak usah sekolah dulu"
"loh kenapa ul?"
"Lo kan masih sakit Ira"
"Lo ngeyel kalau di bilangin"
"aku serius udah gak papa ul,aku masih sanggup untuk sekolah"
"serah Lo dah"
"permisi saya mau memeriksa ke adaan pasien"
"silahkan dok"Uul
"apa kamu sudah merasa baikan?"tanya dokter kepada Sira
"sudah dok"
"apa ada keluhan? seperti nyeri di bagian badan,atau pusing?"
"gak ada dok"
"oke,sepertinya kamu sudah membaik,cuma Luka yang kamu alami jangan sampai basah ya,biarin kering dulu"
"baik dok"
"sini tangan nya,biar saya lepas himpus nya"
"iya dok"
"tahan sebentar ya"
"aaww"ringis Sira saat himpus sudah terlepas dari tangan nya
"himpus sudah say lepas kamu sekarang sudah boleh pulang,jangan lupa Tempus obat nya di apotek"
"iya dok"
"saya permisi dulu"
"ayok pulang ul"
"iya ayok,Lo kuat jalan"
"kuat kok"
"yaudah ayok"
Uul memegang tangan Sira, takut takut nantik kalau Sira jatuh.
"pelan pelan aja Ira"
"iya ini udah pelan pelan kok ul"
__ADS_1
dengan perlahan Uul memapah Sira menuju parkiran.
"tunggu di sini sebentar,gue mau nembus obat Lo dulu"
"iya"
setelah nya Uul pergi untuk menembus obat untuk Sira.
beberapa menit menunggu akhirnya Uul datang menyampiri Sira.
"udah yuk"Uul
"iya ayok"Sira
"masuk pelan pelan ke mobil nya Sira"Uul
"iya ul"Sira
setelah membantu Sira masuk kedalam mobil,Uul langsung menjalankan mobil nya menuju rumah Sira.
"Lo gak mau nginap di rumah gue aja?"
"lain kali aja ul"
"tapi gue takut Lo di apa apain lagi sama ayah Lo"
"gak papa kamu gak usah khawatir,aku bisa jaga diri kok"
"bisa jaga diri tapi malah pingsan sampai di bawa kerumah sakit"ucap Uul dengan sinis
Sira meringis malu mendengar ucapan Uul.
"aku janji itu gak bakal terulang lagi"
"gue pegang janji Lo, kalau Lo sampai masuk rumah sakit lagi gue bakalan benar benar suruh orang tua gue untuk ngangkat Lo jadi anak+jadi saudara gue"Uul
"iya ul"ucap Sira dengan sedikit tertawa mendengar ucapan Uul
"kamu mau mampir dulu ul?"
"ya iyalah,gue udh bilang kan kalau mau main ke rumah Lo"
Sira menggelengkan kepalanya melihat Uul.
"yaudah ayok,Lo mau di dalam mobil terus?gak pengap apa"ucap Uul yang sudah keluar dari mobil nya
"eh iya tunggu ul"
mereka berdua pun berjalan beriringan masuk ke rumah Sira.
"kita langsung kekamar Lo aja"Uul
"iya"
"bagus ya baru pulang"
"b-bunda"
"habis dari mana kamu!"
"bisa biasa aja gak sik bicara nya"bukan bukan Sira yang menjawab melainkan Uul
"diam Uul,kamu gak usah ikut campur sama urusan Tante dan anak Tante"
"Tante masih nganggap Sira anak Tante?kalau Tante bilang masih,kemana Tante saat Sira di hukum sama om Rian?di mana Tante saat Sira sangat membutuhkan Tante sebagai bunda nya!!,apa Tante pernah memeluk Sira saat Sira sangat perlu pelukan seorang ibu!? dan apa pernah Tante ngelindungi Sira yang Tante bilang SIRA ADALAH ANAK TANTE!!"
Rita terdiam,benar dia tidak pernah menyayangi Sira seperti dia menyayangi anak anak nya yang lain,Rita tidak pernah melindungi darah daging nya dari amukan suami nya,lantas apa masih pantas dia di sebut seorang 'ibu' bagi Sira?.
"Tante bahkan gak pernah ngelindungi Sira,jadi denagn alasan apa Tante bilang kalau Sira ini anak Tante!"
"SAYA YANG MELAHIRKAN NYA!!"
"ooh ya memang Tante melahirkan Sira ke dunia ini,tapi mana ada seorang ibu yang melahirkan anak nya yang tega melihat anak terluka,gak ada di Duni ini seorang ibu yang rela anak nya menangis meraung raung dan lebih parah nya lagi Sira menangis karna di siksa oleh orang tua nya sendiri,dan gak ada seorang ibu yang membenci anak nya anak nya tanpa alasan"
"kamu tidak tau apa apa"ucap Rita dengan mungka memerah menahan marah
"saya memang tidak tau apa apa tentang masalah Tante sama Sira, tapi saya lebih tau semua tentang Sira dari pada Tante"
setelah mengatakan hal itu Uul langsung menarik tangan Sira untuk segera pergi kekamar nya(Sira).
"kamu gak seharusnya bicara kayak tadi ul"
"terus gue harus gimana?diam saat Lo di marahin sama bunda Lo,tolol Lo seharusnya ngebela diri Lo sendiri"
"tapi dia bunda aku ul"
"cih bunda?gak ada bunda bentukan kayak gitu,lagian nih ya,sesekali Lo itu harus ngelawan biar gak di tindas terus"
"gak mungkin aku ngelawan sama orang tua kan ul?"
"mereka aja nyiksa Lo kayak gini,kenapa Lo gak boleh ngelawan sama mereka,Lo ngelawan atas dasar ngebela diri bukan atas dasar menjadi anak pembangkang"
"kamu duduk dulu deh ul,sini duduk di samping aku"
Uul menuruti ucapan Sira.
"tenangin dulu diri kamu ul,jangan marah marah kayak gini"
"ck habis nya gue kesal sama bunda Lo"
"udah ah gak baik marah marah terus ntar cantik nya hilang"
"kecantikan gue gak akan menghilang karna gue marah marah kayak gini"
"mending kita tidur dulu,aku ngantuk nih"
__ADS_1
"boleh juga tuh"
mereka berdua pun tidur dengan nyenyak dengan tangan yang saling ber pegangan