Karina, The Ex-Humble Beauty

Karina, The Ex-Humble Beauty
Bab 1 - Kemunculan Sistem yang Aneh [sudah revisi]


__ADS_3

Seorang gadis bersurai hitam legam, berwajah cantik nan mempesona. Mata gadis itu berwarna hitam gelap, pandangan matanya kini terlihat redup dan suram. Memandang keluar jendela, gadis cantik itu mengepalkan tangannya. Pandangan matanya yang suram, kini telah berubah menjadi penuh tekad.


"Aku harus cari cara buat bantuin mama sama papa," gumam Karina.


"Karina? Kamu lagi ngapain?"


Segera, gadis cantik yang dipanggil Karina itu merubah mimik wajahnya. Senyuman di wajahnya kini terlihat begitu manis. Terlihat begitu polos dan murni. Sangat kontras dengan mimik wajah sebelumnya.


"Lagi liat pemandangan kok, Kak Jes."


"Oh, tumben. Biasanya kamu lihatnya kalau ada bulan aja."


"Lagi pengen aja, Kak. Oh ya, Kak Jesica ngapain ke kamar aku?"


Karina tersenyum manis. Jauh di dalam hatinya, gadis itu mencibir kakaknya. Karina sudah jenuh dimanfaatkan oleh kakaknya terus-menerus. Tentunya, ia tidak akan melakukan hal yang begitu bodoh lagi.


Jesica menggenggam tangan Karina.


"Karina ... Kakak boleh minta tolong sama kamu?" tanya Jesica dengan raut wajah sedih.


"Tolong apa, Kak?"


"Kamu janji dulu sama Kakak! Kamu harus tolongin Kakak kali ini!"


"Kak Jesica kan belum bilang mau minta tolong apa? Aku belum bisa janji dong, Kak. Aku pasti bantu kok kalau aku sanggup."


Jesica dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Kamu pasti sanggup kok untuk bantuin Kakak! Cuma kamu yang bisa bantu Kakak. So, please help me, okay, Kar?"


Karina benar-benar akan kehilangan kesabarannya kali ini. Benar-benar menyebalkan. Gadis di depannya benar-benar mampu membuat orang lain merasa telah menyelamatkan sebuah kota karena telah membantunya.


Karina memaksakan senyumnya, ia menarik tangannya menjauh dari genggaman Jesica.


"Kak Jesica, kepala aku agak pusing, Kak. Kakak ngomongnya nanti lagi, ya? Aku mau istirahat dulu."


Jesica mengerutkan keningnya karena merasa kesal dengan perilaku Karina, tetapi dalam sekejap mata, ekspresinya kembali lagi seperti seorang kakak yang pengertian.


Jesica mengangguk pelan.


"Oke, kayaknya kamu juga lagi gak bisa bantuin Kakak. Kakak bingung banget harus minta bantuan ke siapa lagi," ujar Jesica dengan ekspresi sendu.


"Ehm, maaf Kak Jes, aku benar-benar menyesal karena aku gak bisa bantu Kakak. Mungkin Kakak harus cari bantuan orang lain, deh .... Ya udah, Kak Jes, aku kayaknya harus istirahat sekarang. Kepala aku pusing banget, Kak," jawab Karina dengan ekspresi menyesal.


Jesica terperangah, ia benar-benar tidak bisa mempercayai indra penglihatan dan pendengarannya. Karina benar-benar tidak pernah sekalipun menolak permintaannya. Tapi anehnya, kali ini Karina benar-benar menolak permintaannya.


Di mata Jesica, bahkan jika dirinya meminta Karina untuk melompat ke jurang untuk mengambilkan barang miliknya, sudah dapat dipastikan Karina akan sangat bersedia melakukannya.


"Kak? Kak Jes? Kak Jesica? Kakak mau tidur di kamar aku atau di kamar Kakak? Soalnya pintu kamar aku mau aku kunci, Kak."


Jesica tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Gak. Ehm, Kakak tidur di kamar Kakak aja. Kakak gak ganggu kamu lagi, kamu istirahat aja, Kar," jawab Jesica sambil menggelengkan kepalanya.


Karina mengangguk


"Oke," ujar Karina.


Karina mengunci pintu kamarnya setelah kepergian Jesica. Ia mengambil secarik kertas dan sebuah pena. Dengan teliti, Karina mulai menuliskan segala kemungkinan yang dapat Karina lakukan untuk membantu kondisi keuangan orang tuanya.


Sambil memandang wajahnya di kaca, Karina menyentuh wajah cantiknya.


Hening sesaat, lalu tiba-tiba saja mata Karina menangkap sesuatu yang tidak biasa.


"Apa itu?"


Itu sebuah antarmuka kecil. Aneh sekali, mengapa bisa ada di bidang pandang Karina? Karina belum sempat menekan tombol tersebut, tapi tombol tersebut sudah tertekan seakan-akan antarmuka di sana dapat di sentuh dengan pikiran dan keinginan hati.


[Ting!]


[Identity :


Name : Karina Neltharina Neville


Age : 17


Statistics :


Beauty : 55 (+)


-> Cuteness : 12 (+)


-> Sexiness : 12 (+)


-> Elegance : 24 (+)


Point : -


Gacha : 1/1]


Karina terperangah ketika melihatnya.


"Apa ini sebuah sistem? Aku memilikinya juga?" tanya Karina pada dirinya sendiri sambil tersenyum senang.


Karina melihat bahwa antarmuka sistem hanya menunjukkan statistik yang berhubungan dengan kecantikan.


"Apakah ini artinya aku hanya bisa menaikkan statistik kecantikan saja? Eh, tapi mengapa tanda tambahnya berwarna abu-abu? Apakah aku harus mengundi dulu?" gumam Karina.


Karina kemudian mulai mengundi pada antarmuka sistem.


[Mengundi ...]


[Ting!]

__ADS_1


[Selamat, anda mendapatkan 40 poin!]


Empat puluh poin ... ya, tidak buruk.


[Kesempatan mengundi hari ini telah habis, silahkan kembali mengundi lagi besok!]


Setelah mendapatkan total 40 poin, Karina langsung menggunakan poinnya untuk menaikkan statistiknya.


[Identity :


Name : Karina Neltharina Neville


Age : 17


Statistics :


Beauty : 65 (+)


Charm : 68


-> Cuteness : 17 (+)


-> Sexiness : 17 (+)


-> Elegance : 34 (+)


Point : 10


Gacha : 0/1]


Karina mengangguk puas dengan hasil datanya. Karina mengambil sebuah kaca lalu menghela nafas karena merasa lega. Karina lega, perubahannya cukup banyak, tetapi masih dapat diterima. Karina hanya menjadi semakin cantik dan semakin mempesona.


Karina memandangi sisa sepuluh poin di sana. Karina merasa ragu dan dilema. Apakah Karina harus menukar sisa poinnya ini dengan statistik? Bagaimana kalau nanti perubahan wajahnya terlalu banyak?


Karina sendiri sebenarnya masih ragu mengenai asal-usul sistem aneh ini. Sistem ini muncul begitu saja. Lalu, sistem ini juga memberikan undian gratis secara cuma-cuma. Kemudian, poin yang didapat bisa menaikkan statistik kecantikannya.


Sistem yang aneh ... Karina merasa bahwa dirinya mungkin sedang berhalusinasi. Karina berpikir bahwa mungkin saja dirinya sudah terlalu lelah untuk memikirkan cara bagaimana membantu kondisi keuangan orang tuanya. Iya, Karina yakin, pasti begitu.


Sebenarnya, keluarga Karina hanyalah keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Tentu saja seharusnya Karina tidak perlu repot-repot untuk memikirkan soal uang. Tapi, belakang ini, kakaknya, Jesica, sering sekali meminta uang kepada orang tuanya.


Alasan yang Jesica berikan adalah karena dirinya membutuhkan uang untuk keperluan kuliahnya. Meskipun, Karina meragukan keaslian alasan itu. Karina sudah beberapa kali secara tidak sengaja melihat Jesica dengan berbagai macam barang barunya.


Hanya saja, Karina tidak memberi tahu keluarganya. Karina pikir, Jesica mungkin hanya akan melakukan ini sekali-sekali saja. Tapi ternyata tidak. Jesica terus memanfaatkan kepercayaan orang tuanya.


Selain itu, Karina kemarin baru keluar dari rumah sakit. Tiba-tiba saja kemarin Karina pingsan dan membuat orang tuanya panik. Untungnya, Karina kemudian siuman, tidak lama setelah dibawa ke rumah sakit. Karina hanya terlalu banyak belajar dan terlalu kelelahan.


Karina juga tidak sengaja dengar, orang tuanya sedang kesulitan membayar cicilan kredit. Mereka hampir bertengkar juga karena itu. Karina benar-benar tertekan mendengarnya.


Padahal, Karina sudah menyerahkan hampir semua uang miliknya. Uang itu cukup banyak, sekitar beberapa juta. Karina mendapatkan semua itu dari hadiah memenangkan berbagai macam lomba untuk mewakili sekolahnya.


Karina memijat pelipisnya karena merasa frustasi. Sulit sekali untuk hidup dalam tekanan. Karina merasa bahwa ia butuh untuk lebih menikmati hidupnya.

__ADS_1


"Terlalu dalam memikirkan semua permasalahan hidupmu, hanya akan membuatmu semakin gila," gumam Karina.


__ADS_2