
[Ting!]
[Mengundi ...]
[Selamat, anda mendapatkan 100 poin!]
[Kesempatan mengundi hari ini telah habis, silahkan kembali mengundi lagi besok!]
Karina melongo melihat hasil undiannya hari ini.
Setelah memenangkan diri, Karina langsung menggunakan beberapa poin miliknya.
[Ting!]
[Identity :
Name : Karina Neltharina Neville
Age : 17
Statistics :
Beauty : 95 (+)
Charm : 98
-> Cuteness : 37 (+)
-> Sexiness : 37 (+)
-> Elegance : 54 (+)
Point : 70
Gacha : 0/1]
Karina mengangguk puas, meski sebenarnya merasa bahwa dirinya telah menaikkan terlalu banyak statistik dalam waktu yang berdekatan.
"Ma, Karina berangkat sekolah dulu, ya," ujar Karina.
"Iya, hati-hati, ya," jawab Agnes lesu.
"Mama kenapa?" tanya Karina.
Agnes menghembuskan nafasnya.
"Kakak kamu ... kakak kamu minta uang lagi. Katanya kalau gak dikasih, dia gak mau pulang," jawab Agnes.
Karina mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.
"Memangnya kakak minta berapa, Ma?" tanya Karina.
"Lima juta. Mama sama papa ada uangnya, tapi itu kan buat tabungan keluarga kita," jawab Agnes.
"Mama sama papa mau kasih?"
"Kalau dikasih, nanti kakak kamu keterusan buat boros. Uangnya juga sayang, bisa dipake untuk hal-hal lain yang lebih mendesak. Kalau gak dikasih, kakak kamu nanti gak pulang. Kalau uang dia habis gimana? Mama sama papa khawatir sama kakak kamu. Menurut kamu Mama harus gimana?"
"Kakak pasti pulang, Ma. Mendingan Mama sama papa diemin kakak. Mama sama papa harus lebih tegas lagi, biar kakak gak seenaknya."
"Iya, omongan kamu bener juga, nanti Mama diskusiin lagi sama papa," jawab Agnes sambil mengangguk.
"Ya udah, Ma, Karina berangkat, ya," ujar Karina.
__ADS_1
Karina turun dari bus dengan terburu-buru.
"Hah, seharusnya pesen Greb aja tadi," gumam Karina.
Karina menyesal naik kendaraan umum dengan wajah cantiknya ini. Kejadian yang buruk hampir terjadi pada Karina. Hampir saja Karina dilecehkan.
"Kalau pesen sekarang, keburu gak ya nyampe sekolah?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
Deru motor terdengar di telinga Karina. Karina mengalihkan pandangannya ke arah asal suara itu. Pengendara motor itu menghentikan motornya di sebelah Karina.
Karina sedikit terpesona dengan motornya. Motor nya berwarna hitam dengan tampilan yang agresif namun tetap elegan. Karina tahu itu adalah motor dengan merek Kiwasaki, yang harganya sangat fantastis, yaitu sekitar sembilan digit angka.
"Karina?"
Suara bariton yang magnetis terdengar di telinga Karina.
"Aether?"
Pantas saja, ternyata itu adalah Aether.
"Nunggu?"
"Iya, baru mau pesen Greb," jawab Karina sambil tersenyum.
Aether mengangguk.
Setelah hening sejenak, Aether memanggil Karina.
"Karina."
"Iya?"
"Bareng."
"Kamu ngajak aku berangkat ke sekolah bareng?" tanya Karina.
"Gak apa-apa, boleh aku ikut? Itu juga kalau gak ngerepotin kamu," ujar Karina.
"Hm, sekalian," jawab Aether.
Aether tersenyum tipis. Inilah yang Aether suka dari Karina. Karina bisa memahami ucapannya tanpa harus dijelaskan lebih banyak. Karina tidak pernah terlihat sok jual mahal, tidak pernah berpura-pura menolak ucapannya.
Aether kemudian menurunkan footstep atau pijakan kaki di motornya, agar Karina tidak perlu menurunkannya sendiri.
"Makasih," ujar Karina.
Karina berusaha menaiki motor Aether, akan tetapi motor Aether yang tinggi, terlalu sulit untuk diduduki oleh Karina yang menggunakan rok sekolah.
"Pundak," ujar Aether dengan nada datar.
Karina yang mengerti ucapan Aether, meletakkan tangannya di pundak Aether, dan akhirnya Karina berhasil duduk di motor Aether.
Aether memperhatikan Karina yang duduk di belakangnya. Tak lama kemudian, Aether berdecak kecil. Aether kemudian melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Karina.
"Makasih," jawab Karina setelah paham maksud tindakan Aether yang memberikan jaketnya. Karina meletakkan jaket Aether di atas roknya dan melebarkannya untuk menutupi pahanya yang terekspos.
"Hm, pegangan," ujar Aether.
Karina menurut, memegang baju seragam Aether. Setelah memastikan Karina, Aether menyalakan mesin motornya dan pergi menuju sekolah. Aether melajukan motornya dengan kecepatan sedang agar Karina tidak merasa tidak nyaman.
Aether memarkirkan motornya di parkiran sekolah dan membuka helmnya. Bisikan dan pekikan terdengar di telinga Karina dan Aether. Terutama, ketika Aether membuka helmnya.
Murid-murid di sana awalnya terkejut ketika melihat Karina diantar oleh laki-laki. Tetapi, mereka menjadi lebih terkejut ketika mengetahui bahwa yang membonceng Karina adalah Aether. Bahkan, banyak murid yang mengambil foto dan merekam video di ponsel mereka sebagai dokumentasi.
__ADS_1
Karina kemudian berhasil turun dari motor dengan dibantu oleh Aether.
"Makasih, Aether," ujar Karina.
Aether mengangguk kepada Karina. Aether kemudian mengangkat tangan kanannya dan mengelus puncak kepala Karina. Jantung Karina seakan-akan ingin melompat keluar dari tempatnya. Karina berhasil menetralkan detak jantungnya yang sempat kacau setelah Aether menurunkan tangannya.
"Cantik," kata Aether dengan raut wajahnya yang masih sama, yaitu raut wajahnya yang datar.
"Makasih," jawab Karina sambil tersenyum ramah.
Karina sebenarnya tidak mengerti apa maksud Aether dengan memuji kecantikannya setiap kali mereka bertemu. Karina merasa bahwa otaknya yang pintar menjadi agak tidak berguna karena bahkan tidak bisa mengetahui tujuan Aether.
"Rinrin!"
Kenzo menghampiri Karina, diikuti oleh Daniel dan Sean.
"Ken?" ujar Karina sambil tersenyum manis kepada Kenzo.
"Rinrin, ayo, ke kelas bareng," ujar Kenzo sambil tersenyum ramah kepada Karina, dan memicingkan matanya kepada Aether ketika Karina tidak melihat.
Karina mengalihkan pandangannya kepada Aether.
"Aether mau bareng kita?" tanya Karina.
Aether tersenyum sinis ketika melirik Kenzo sekilas.
"Enggak, thanks," jawab Aether.
"Oh, oke," ucap Karina sambil mengangguk.
"Duluan ya, Aether," kata Karina sambil melambaikan tangan kanannya kemudian berjalan pergi mengikuti Kenzo, Daniel, dan Sean.
"Rinrin kenapa bisa dianter dia?" tanya Kenzo ketika mereka sedang berjalan di koridor yang sepi.
"Tadi enggak sengaja ketemu," jawab Karina.
"Oh ...," jawab Kenzo sambil mengangguk.
Kenzo percaya dengan penjelasan Karina. Kenzo yakin Karina tidak mungkin berbohong. Lagipula, Kenzo melihat kalau Karina tadi tidak memakai helm. Itu artinya, Karina dan Aether tidak janjian sebelumnya.
"Oh, gitu ...," ujar Daniel ikut mengangguk.
"Iya ... aku masuk duluan ya, Ken, Sean, Daniel, bye ...," kata Karina sambil melambaikan tangan kanannya ketika telah sampai di kelasnya.
"Bye, Kar," jawab Daniel.
"Bye, Rinrin," ujar Kenzo.
Karina tersenyum dan memasuki kelasnya.
"Oh my, oh my, Karina!!!"
Salsa berteriak heboh ketika melihat Karina dan segera menarik Karina untuk duduk.
"Kenapa, Sa?" tanya Karina.
"Don't you know you're now the hottest topic in the whole school?"
[Terjemahan: "Lo gak tau kalau lo sekarang jadi topik paling panas satu sekolahan?"]
"Hmm ... is it because of Aether?" tanya Karina.
[Terjemahan: "Hmm ... apakah itu karena Aether?"]
__ADS_1
"Oh my ... that's not the only thing! You went with Kenzo's group right after being with Aether! The whole school went crazy!"
[Terjemahan: "Astaga ... bukan itu aja! Lo pergi bareng kelompoknya Kenzo, tepat setelah lo bareng Aether! Satu sekolahan jadi gila!"]