
"Ma, Karina pulang."
"Eh, Karina anak mama yang cantik udah pulang ... gimana sekolahnya hari ini?" tanya Agnes, Ibu Karina.
"Baik, Ma. Karina dapet temen baru," jawab Karina.
"Oh, ya? Bagus dong. Mama seneng kamu akhirnya mau punya temen," kata Agnes sambil terkekeh.
"Iya. Oh, ya, Ma, papa mana?" tanya Karina.
"Papa kamu lagi nelpon di kamar," jawab Agnes.
"Oh ... ya, udah, Karina ganti baju dulu ya, Ma."
"Iya, nanti turun makan sama-sama ya, Karina."
"Iya, Ma."
Selesai berganti pakaian, Karina turun ke lantai bawah dan berjalan menuju ruang makan.
Ketika semua orang sedang menikmati makanan yang baru habis setengah itu, Jesica membuka pembicaraan.
"Ma, Pa, Jesica minta uang, dong," ujar Jesica.
"Bukannya kemarin lusa Mama baru transfer ke kamu satu juta ya, Jes?" tanya Hansen, Ayah Karina.
"Iya, memangnya sudah habis?" tanya Agnes.
"Satu juta doang, mana cukup. Aku kan banyak keperluan buat kuliah Ma, Pa," jawab Jesica.
"Emangnya kemarin uangnya Kak Jes pake buat apa sampe satu juta aja gak cukup?" tanya Karina.
Jesica terperangah ketika Karina ikut bertanya. Karina tidak pernah ikut campur ketika dia meminta uang sebelumnya. Karina tidak pernah bertanya apapun.
"Y-y-ya, buat tugas praktik lah, Kar. Ka-kamu kan tahu kalau Kakak udah kuliah ... jadi beda pengeluarannya sama kamu yang masih SMA," jawab Jesica terbata-bata.
__ADS_1
"Oh, gitu ...." Karina mengangguk.
"Iya, gitu." Jesica menghela nafas lega ketika Karina tidak bertanya lebih lanjut.
"Jadi, Ma, Pa, Jesica minta uang lagi, ya."
Tepat ketika Agnes dan Hansen pasrah dan ingin mengiyakan, suara Karina menginterupsi mereka.
"Kak Jes." Karina memanggil Jesica.
"Apa?" jawab Jesica. Jesica sebenarnya kesal karena merasa bahwa Karina dari tadi mengganggunya. Tapi, Jesica tetap berusaha untuk tidak menampilkan kekesalannya.
"Karina tadi gak sengaja lihat, di kamar Kakak kayaknya ada tas baru, deh. Tas merek itu kalau ga salah sekitar satu jutaan. Bagus banget modelnya, Karina suka banget. Karina boleh pinjam seminggu gak, Kak?" tanya Karina sambil berpura-pura terlihat seperti sangat menyukai tas itu.
"Enggak! Kakak baru beli kemarin tau, Kakak aja belum pake, masa kamu mau pinjem seminggu," jawab Jesica dengan sedikit ketus.
Karina tersenyum sinis di dalam hatinya. Jessica baru dipancing sedikit saja, sudah keceplosan. Jesica menggali lubang untuk dirinya sendiri sekarang.
"Jes? Kamu bohongin Mama sama Papa? Kamu pake uang kemarin lusa buat beli tas yang harganya satu juta?" tanya Agnes dengan raut wajah tidak percaya. Hansen juga menatap Jesica dengan kecewa.
Seketika, tubuh Jesica menegang.
"Papa kecewa sama kamu, Jes. Kamu tahu kan, kalau uang satu juta itu jumlah yang cukup besar buat keluarga kita? Papa sama Mama percayakan satu juta itu buat kamu pergunakan untuk tugas-tugas kuliah kamu. Tapi apa hasilnya sekarang? Kamu malah pake untuk beli tas bermerek yang harganya satu juta," ujar Hansen.
"Papa sama Mama kenapa marahin Jesica, sih?! Jesica cuman beli satu tas, Ma, Pa!" bentak Jesica.
"Kalau kamu butuh tas kamu bisa beli yang biasa kan, Jes? Mama sama Papa gak akan protes soal itu. Tapi kenapa kamu harus beli yang mahal? Kamu gak pernah sekalipun mempertimbangkan kondisi keuangan keluarga kita, Jes?" ucap Agnes dengan lembut, berusaha menenangkan anaknya.
"Mempertimbangkan apa? Keluarga kita punya uang yang cukup! Papa sama Mama aja yang pelit! Punya uang, tapi ngasih anaknya cuman sedikit!" teriak Jesica.
"Astaga, Jesica," ujar Papa.
"Apa?! Asal Papa sama Mama tau ya, temenku dibeliin sama orang tuanya apapun yang dia mau! Dia bahkan beli banyak barang yang lebih mahal dari yang aku minta ke kalian. Orang tua dia bahkan gak pernah sekalipun marahin dia! Sekarang lihat kalian, aku baru beli tas satu juta aja kalian udah kayak gini?!" ucap Jesica dengan nada tinggi. Wajahnya memerah karena marah.
"Kak Jesica kok, gitu sih, ngomongnya?" ujar Karina yang dari tadi tidak tahan melihat Jesica meneriaki Agnes dan Hansen.
__ADS_1
Karina memang ingin orang tuanya tahu kelakuan buruk Jesica di belakang mereka. Tapi, itu bukan berarti Karina rela orang tuanya dibentak-bentak seperti itu oleh Jesica. Orang tua nya pasti sekarang merasa kecewa dan sangat sakit hati karena perkataan Jesica.
"Diem lo, gak usah ikut campur, ya!" teriak Jesica sambil menunjuk wajah Karina.
"Jesica! Gak usah bentak adik kamu kayak gitu!" ujar Hansen.
"Papa bentak aku? Papa sama Mama emang lebih sayang sama Karina! Urusin aja tuh, Karina kesayangan kalian! Aku gak punya orang tua kayak kalian!" teriak Jesica sambil mendorong piring berisi makanan di hadapannya dan pergi keluar rumah.
Pranggg ...
Piring itu terjatuh dari meja dan pecah. Makanan yang tadinya di atas piring itu kini berserakan di lantai tersebar bersama pecahan kaca. Jesica benar-benar keterlaluan.
Agnes sudah menangis tersedu-sedu melihat kelakuan Jesica. Hansen, wajahnya sangat pucat sekarang. Hansen memijat keningnya yang berdenyut-denyut. Karina jadi merasa bersalah.
"Ma, Pa, maafin Karina, ya? Gara-gara omongan Karina, Mama, Papa, sama Kak Jes jadi berantem. Karina seharusnya gak bilang itu tadi," ucap Karina sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah dan tidak enak.
"Gak apa-apa Karina, itu bukan salah kamu. Kakak kamu aja yang keterlaluan. Justru karena omongan kamu itu Papa sama Mama jadi tahu kebohongan kakak kamu," jawab Hansen.
"Papa sama Mama istirahat aja ke kamar. Biar Karina aja yang beresin ini," ucap Karina.
"Enggak, gak usah, gak apa-apa, Karina. Biar Mama aja yang beresin," jawab Agnes sambil menghapus air matanya.
"Enggak, gak apa-apa, Ma, Karina aja."
"Gak usah," jawab Agnes.
"Pa ...?" Karina menatap Hansen untuk meminta bantuan.
"Kita ke kamar aja. Gak apa-apa biar Karina aja yang beresin," ujar Hansen.
"Tap-"
"Udah, ayo,"
Agnes mengangguk dan pergi bersama Hansen menuju kamar mereka. Karina melihat kepergian mereka dengan perasaan bersalah yang kentara. Karina kemudian berjongkok untuk mengumpulkan makanan-makanan yang bertebaran di lantai.
__ADS_1
Karina mengambil sapu untuk menyapu pecahan-pecahan piring. Lalu, Karina mengambil alat pel dan pewangi lantai untuk membersihkan lantainya. Di tengah-tengah mengepel, Karina memejamkan matanya sejenak. Tak lama kemudian, Karina membuka matanya lagi.
Tekad Karina sudah bulat. Karina hanya bisa mengeraskan hatinya sebentar dan berpura-pura tidak melihat orang tuanya bersedih. Hanya ini satu-satunya cara membuat orang tuanya menyadari kelakuan buruk Jesica. Satu-satunya cara, yaitu membuat mereka kecewa.