Karina, The Ex-Humble Beauty

Karina, The Ex-Humble Beauty
Bab 3 - Bertemu Kenzo, Sean, dan Daniel [sudah revisi]


__ADS_3

Perpustakaan terlihat sangat sepi sekarang. Jarang ada murid yang mau menghabiskan waktu istirahat kedua mereka di perpustakaan. Karina duduk di ujung sendirian. Karina baru ingat bahwa hari ini Karina memiliki satu kali kesempatan mengundi.


[Ting!]


[Mengundi ...]


[Selamat, anda mendapatkan 50 poin!]


[Kesempatan mengundi hari ini telah habis, silahkan kembali mengundi lagi besok!]


lima puluh poin, itu tidak buruk. Setidaknya, itu lebih banyak daripada kemarin. Hari ini Karina mendapatkan sepuluh poin lebih banyak. Karina mulai menggunakan poinnya.


[Ting!]


[Identity :


Name : Karina Neltharina Neville


Age : 17


Statistics :


Beauty : 75 (+)


Charm : 98


-> Cuteness : 27 (+)


-> Sexiness : 27 (+)


-> Elegance : 44 (+)


Point : 20


Gacha : 0/1]


Sistem ini tidak seperti sistem pada novel yang Karina baca. Sistem ini tidak bisa diajak berbicara. Sistem ini juga tidak memberikan banyak poin gratis di awal.


Karina tidak mengeluh ataupun iri. Sistem ini justru sangat mempermudah Karina. Karina bahkan tidak rugi apapun. Karina tidak perlu melakukan misi merepotkan seperti yang di novel-novel.


Brukkk ...


Karina mengalihkan pandangannya dan mencari asal suara. Karina hanya penasaran saja. Betapa terkejutnya Karina ketika menemukan asal suara itu.


Itu ... Kenzo.


"Eh, sorry. Gue ganggu lo ya?" tanya Kenzo.


Karina akui, Kenzo adalah lelaki yang sangat, sangat, sangat tampan. Fitur wajahnya indah, tubuhnya tinggi, dan terlihat bagus dari sisi manapun. Suaranya saja bahkan sangat bagus.


Karina menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, kamu gak ganggu."


Kamu? Kenzo sedikit terkejut dengan penggunaan bahasa gadis cantik di depannya. Itu adalah tata bahasa yang jarang digunakan. Jarang menemukan remaja yang berbicara dengan kata aku-kamu.


Kenzo tahu siapa gadis di depannya. Gadis di depannya pasti Karina yang itu. Karina memang sangat cantik, sesuai dengan reputasinya. Malah, Kenzo merasa Karina lebih cantik dari yang ada di ingatannya.


"Lo Karina, kan?"


"Iya."


"Kenalin, gue Kenzo." Kenzo mengulurkan tangan kanannya ke Karina.


"Iya, aku tahu nama kamu Kenzo." Karina mengulurkan tangan kanannya juga.


Karina dan Kenzo melepaskan pautan tangan mereka.


"May I sit here?"


[Terjemahan: "Gue boleh duduk di sini?"]


"You may, duduk aja."


[Terjemahan: "Boleh, duduk aja."]


Kenzo menarik kursi di seberang Karina.


"Lo emang biasa ngomong pake aku-kamu, ya?" tanya Kenzo untuk membuka topik pembicaraan.

__ADS_1


"Iya."


Kenzo mengangguk mendengar jawaban Karina.


"You're here to read a book?"


[Terjemahan: "Lo di sini buat baca buku?"]


"Iya."


Kenzo merasa sedih. Apakah ketampanannya sudah luntur? Mengapa Karina dari tadi hanya menjawab 'iya' saja.


Karina yang mengamati Kenzo dari tadi, melihat ekspresi Kenzo.


"What about you?" tanya Karina.


[Terjemahan: "Kamu sendiri gimana?"]


Seketika, Karina seperti melihat cahaya di mata Kenzo yang tadi sempat redup. Lucu sekali menurut Karina. Kenzo seperti anak kecil saja.


"I'm here because I'm hiding," jawab Kenzo.


[Terjemahan: "Gue di sini karena lagi sembunyi."]


"Sembunyi? Kamu sembunyi dari siapa?" tanya Karina penasaran.


"Gue sembunyi dari, em ... dari ...." Kenzo terlihat ragu-ragu mengatakannya.


"Kalau kamu gak bisa ngasih tau gak apa-apa, kok. Aku tadi cuma ta-"


"Enggak, enggak, bukan gitu, Rin." Kenzo dengan cepat memotong ucapan Karina.


"I'm ... I'm hiding from my fans," kata Kenzo.


[Terjemahan: "Gue ... gue sembunyi dari penggemar gue."]


Karina terkekeh kecil. Ada-ada saja Kenzo ini. Karina merasa Kenzo benar-benar seperti anak kecil.


"Kok, ketawa sih, Rin?" Kenzo cemberut.


"You're cute," jawab Karina sambil terkekeh.


Seketika, mendengar jawaban Karina, pipi Kenzo sedikit memerah. Kenzo merasa ragu apakah ia salah mendengar ucapan Karina tadi. Kenzo dengar, Karina mengatakan bahwa Kenzo lucu.


"Rin, Rinrin, Rin ...." Kenzo memanggil Karina dengan nama panggilan yang dibuatnya itu. Tapi tidak apa, Karina tidak keberatan.


"Iya?"


"Boleh minta kontak Rinrin, gak?"


Karina pura-pura menampilkan ekspresi tidak mau. Karina ingin melihat reaksi Kenzo. Menurut Karina reaksi Kenzo pasti akan sangat imut.


Benar saja, Kenzo langsung cemberut lagi.


"Kalau gak bo-"


"Boleh," jawab Karina sambil tersenyum.


Karina mengambil ponsel Kenzo dan mengetikkan nomor teleponnya.


"Thanks, Rinrin," jawab Kenzo.


"Iya, sama-sama," jawab Karina.


"Kenzo!"


Panggilan orang tersebut mengalihkan atensi Kenzo dan Karina. Karina hanya menengok sebentar lalu kembali membaca bukunya. Sedangkan Kenzo langsung berdiri dari duduknya.


Karina melihat dua orang laki-laki yang menghampiri mereka. Karina tahu siapa mereka. Itu Daniel dan Sean, sahabat Kenzo.


"Ck. You took so long in the library." Daniel mengeluh kepada Kenzo.


[Terjemahan: "Ck. Lo lama amat di perpustakaannya."]


"Sorry, gue keasikan jadi lupa. Sorry, kalian jadi nunggu lama," jawab Kenzo.


Sean mengarahkan pandangannya bulak-balik antara Kenzo dan Karina. Setelah mengamati beberapa saat, Sean mencapai satu kesimpulan. Sean menebak Kenzo keasikan berbicara dengan Karina.

__ADS_1


"Lo gak mungkin keasikan baca buku kan, Zo? Eh, ada Karina?" Daniel mengalihkan pandangannya ke arah Karina.


Karina yang merasa terpanggil, mengalihkan pandangannya dari buku.


"Iya, kenapa?" tanya Karina.


"Enggak, sorry ganggu lo ya, Kar," kata Daniel.


"Engga kok."


"Daniel, Kenzo, come on, we're being waited on by Mr. Jo." ucap Sean.


[Terjemahan: "Daniel, Kenzo, ayo, kita udah ditunggu sama Pak Jo."]


"Ck, oke," jawab Kenzo.


"Duluan ya, Karina," ucap Daniel.


"Iya."


"Bye, Rinrin!"


"Iya, Ken."


Kenzo, Daniel, dan Sean pergi bersama menuju ke pintu keluar perpustakaan.


"Zo, when did you know Karina?" tanya Daniel penasaran.


[Terjemahan: "Zo, sejak kapan lo kenal Karina?"]


"Just now," jawab Kenzo sambil tersenyum tipis.


[Terjemahan: "Barusan."]


"Hah? Serius lo?" Daniel terkejut mendengar jawaban Kenzo. Bahkan, Sean sebenarnya juga sedikit terkejut.


"Iya, serius. Ngapain gue bercanda?" jawab Kenzo sambil memutar bola matanya.


"Iya, sih. It's just that you look like someone who is already close to Karina," kata Daniel.


[Terjemahan: "Iya, sih. Cuma, lo kelihatan kayak orang yang udah deket sama Karina."]


"Rinrin," ejek Sean kepada Kenzo.


"Shut up, Sean," kata Kenzo kesal.


[Terjemahan: "Diem lo, Sean."]


"Nah, iya. Pake segala ngasih nama panggilan. Lo naksir Karina, ya? Ya, emang sih ... sumpah, Karina cantik banget, gila," ujar Daniel.


"Enggak," bantah Kenzo.


"Bener, ya? Gue mau ngejar ayang Karina soalnya," ujar Daniel sambil membayangkan Karina menjadi kekasihnya.


"Karina mana mau sama lo," kata Sean.


"Ya, siapa tau gue hoki. Karina terkena panah asmara gue, terus kita jadian," jawab Daniel.


"Mimpi lo?" ujar Kenzo.


"Sialan lo berdua, gini-gini juga gue ganteng tau!" ucap Daniel yang hanya dianggap angin lalu oleh Sean dan Kenzo.


Kenzo, Sean, dan Daniel. Mereka berteman semenjak masih di taman kanak-kanak. Jika diingat-ingat, cara mereka berteman cukup lucu dan unik.


"Hei, kalian!" teriak Daniel kecil.


"Iya, kalian! Emangnya di koridor ini ada siapa lagi?" ucap Daniel kecil dengan kesal.


"Apa?" tanya Sean kecil dengan raut wajahnya yang datar dan terlihat tidak terlalu tertarik.


"Kenapa kamu manggil aku?" tanya Kenzo kecil sedikit penasaran.


"Kita sekarang adalah teman!" jawab Daniel kecil.


"Tidak tertarik," jawab Sean kecil dengan malas.


"Kenapa?" tanya Kenzo kecil tidak mengerti karena seseorang yang tidak dikenalnya mengajaknya berteman tanpa alasan.

__ADS_1


"Lihat, kita bertiga sama-sama tampan! Kita bertiga adalah yang paling tampan di sini!" jawab Daniel kecil sambil tersenyum lebar dan membusungkan dadanya karena bangga.


Nah, begitulah kira-kira bagaimana awal mula Kenzo, Sean, dan Daniel berteman.


__ADS_2