Karina, The Ex-Humble Beauty

Karina, The Ex-Humble Beauty
Bab 5 - Aetherald Arcturus [sudah revisi]


__ADS_3

Brukkk ...


"Kamu gak apa-apa, Dek?" tanya Karina dengan tatapan khawatir.


Anak kecil itu berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor. Baru saja anak kecil itu ingin membuka mulut, dia sudah dikejutkan oleh paras Karina yang cantik. Anak kecil itu langsung melongo dan seluruh wajahnya memerah.


"Dek? Kamu gak apa-apa? Maafin Kakak, ya? Kamu ada yang sakit?" tanya Karina sambil berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak kecil itu. Meskipun sebenarnya Karina yang ditabrak, tapi Karina adalah orang dewasa. Karina takut anak kecil itu terluka setelah menabrak dirinya.


Anak kecil itu mendengus.


"Huh! Ka-ka-karena Pangeran ini sedang dalam suasana hati yang baik, Pangeran ini akan memaafkan kesalahanmu," kata anak kecil itu dengan terbata-bata sambil mengangkat dagunya.


Karina tertawa pelan ketika mendengar jawaban anak kecil tersebut.


"A-a-apa yang kamu tertawakan?! Jika kamu terus tertawa, Pangeran ini benar-benar akan marah tahu!" ujar anak kecil itu sambil menggembungkan kedua pipinya.


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku tertawa karena Pangeran sangat imut," jawab Karina.


"Huh! Karena Pangeran ini masih dalam suasana hati yang baik, Pangeran ini akan memaafkanmu lagi. Nah, cepat katakan siapa namamu, dan Pangeran ini akan benar-benar mengampunimu," kata anak kecil itu.


"Namaku Karina, Pangeran," jawab Karina.


"Karina ... yah, namamu tidak buruk! Walaupun tidak lebih keren dari nama Pangeran ini!" kata anak kecil itu sambil mengangkat dagunya lagi.


Anak kecil itu baru saja akan meminta nomor telepon Karina ketika tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam besar menutupinya.


"Prince."


Anak kecil itu bergidik ketika mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sangat familiar di telinganya. Suara bariton itu sangat magnetis bagi sebagian besar orang, terutama bagi para kaum hawa. Tetapi bagi anak kecil itu, itu adalah mimpi buruknya.


"Pa-Pa-Paman ...," ujar anak itu dengan gugup.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya laki-laki itu, yang dipanggil dengan sebutan 'Paman' oleh anak kecil yang ternyata bernama Prince.


Karina menatap kedua orang di hadapannya. Anak kecil itu sudah sangat tampan. Tapi ternyata, pamannya jauh lebih tampan. Gen yang sangat unggul, pikir Karina.


Entah mengapa, rasanya laki-laki super tampan di hadapannya ini sangat familiar. Laki-laki itu tidak terlihat begitu tua, malah seperti seumuran dengan Karina. Karina merasa seperti sudah pernah melihatnya. Sayang sekali, Karina tidak dapat mengingatnya.


"A-a-aku ... umm ... A-"


"Aku tadi tidak sengaja menabrak keponakanmu, maafkan aku," ucap Karina.


Prince terkejut ketika Karina berkata begitu. Padahal, jelas-jelas tadi Prince yang menabrak Karina. Prince merasa tidak enak sebenarnya, tapi Prince juga tidak mau dimarahi oleh pamannya karena tidak meminta maaf ketika menabrak orang. Alhasil, Prince hanya diam menutup mulutnya.


"Ah, begitu. Tidak masalah," jawab laki-laki itu sambil mengangguk dengan santai, sama sekali tidak terlihat terkejut ataupun terpesona dengan kecantikan Karina.


"Ada apa?" tanya laki-laki itu kepada Karina setelah menyuruh Prince pergi bersama pengasuhnya.


Laki-laki itu telah memperhatikan Karina yang dari tadi melihat wajahnya dengan seksama. Awalnya, laki-laki itu mengira bahwa Karina sama seperti gadis lain yang terpesona dengan wajahnya. Tapi setelah diperhatikan dengan cermat, mata Karina tidak menunjukkan hal seperti itu.


Karina mengedipkan kedua matanya lalu menatap mata laki-laki di depannya.


"Hm ... kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya Karina.


Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya dan merasa sedikit terkejut dengan jawaban Karina.


"Kita satu sekolah."


"Hah?"


"Hm."


"Oh ...," jawab Karina sambil mengangguk meskipun tetap tidak bisa mengingatnya.


Laki-laki itu menyadari bahwa Karina benar-benar tidak mengetahui siapa dirinya. Itu agak mengejutkan, mengingat seberapa populer laki-laki itu di sekolah. Meskipun selama ini laki-laki itu jarang menghadiri sekolah, tapi agak aneh untuk tidak tahu siapa dirinya.


"Aether."

__ADS_1


"Aether?"


"Aetherald Arc-"


"Tunggu, jangan-jangan kamu ... Aetherald Arcturus?"


"Ya, Aetherald Arcturus."


Karina menatap Aether dengan tatapan tidak percaya, sambil memperhatikan Aether dari atas ke bawah.


Aether menaikan sebelah alisnya. Itu adalah kebiasaan Aether ketika merasa tertarik dengan sesuatu. Jujur saja, ini adalah pertama kali bagi Aether untuk diperhatikan secara kasar seperti ini.


"Nama aku Ka-"


"Gue tahu, Karina Neltharina, kan?"


"Eh? Iya."


"Lo mau beli buku ini?" tanya Aether.


"Iya," jawab Karina.


Aether mengambil buku di tangan Karina dan berjalan menuju kasir meninggalkan Karina.


Setelah selesai membayar buku tersebut, Aether menghampiri Karina.


"Buat lo, jangan ditolak. Maaf karena Prince tadi nabrak lo. Gue tahu, Prince pasti gak minta maaf pas nabrak lo."


"Makasih," jawab Karina.


Aether merasa lega ketika melihat Karina tidak menolak pemberiannya. Artinya, tidak sia-sia Aether berbicara panjang lebar. Setelah itu, Aether dan Karina berjalan bersama keluar dari toko buku. Tak lama setelah berjalan bersama, Aether tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Boleh minta tolong?" tanya Aether.


"Iya, kamu mau minta tolong apa?" ujar Karina sambil ikut menghentikan langkahnya.


Karina mengedipkan kedua matanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Aether.


"Oh, mau aku bantu pilihin?" tanya Karina.


"Hm."


"Iya, bisa kok. Sepupu kamu cewe atau cowo?" tanya Karina.


"Cowo," jawab Aether.


"Tingginya segimana? Umurnya juga berapa?"


"Hm ... sama."


Karina menganggukkan kepalanya.


"Kamu udah tau mau beli di toko mana?" tanya Karina.


"Ya, itu," jawab Aether sambil menunjuk ke suatu tempat.


"Oke," jawab Karina dengan ekspresi tenang meskipun di dalam hati sudah terkejut.


Tempat yang ditunjuk oleh Aether adalah toko pakaian bermerek yang harganya selangit. Karina bahkan tidak pernah berani memasuki toko itu. Karina takut tidak sengaja merusak sesuatu. Jika sudah rusak, Karina pasti tidak mampu membayar ganti ruginya.


"Ini kamu cobain dulu di tempat gantinya," ujar Karina.


"Hm," jawab Aether sambil mengambil pakaian yang diserahkan oleh Karina dan pergi menuju ruang ganti.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu, Karina sudah melihat pintu ruang ganti yang kembali terbuka.


"Bagus banget!" kata Karina.

__ADS_1


"Bajunya?" tanya Aether.


"Iya," jawab Karina.


"Ya udah, beli," ujar Aether.


"Eh, ini tapi masih ada yang bagus juga. Kamu gak mau cobain dulu? Siapa tau kamu lebih suka yang lain ...." ujar Karina.


"Lebih bagus mana?" tanya Aether.


"Hm ... kalau menurut aku sih, lebih bagus yang sekarang kamu pake," jawab Karina.


"Ya udah, ini," kata Aether.


Aether dan Karina kemudian berjalan menuju tempat pembayaran setelah Aether selesai menggunakan pakaiannya kembali.


"Ini kemejanya ada couple-nya, Kak. Mau sekalian beli untuk pacar kakak yang cantik?" tanya pegawai toko di sana.


"Eng-"


"Boleh," jawab Aether memotong ucapan Karina.


Karina menatap Aether dengan tatapan bertanya. Kemudian Karina mengalihkan pandangannya. Karina berusaha untuk tidak berpikiran aneh-aneh.


Mungkin Aether punya sepupu perempuan? pikir Karina.


"Ini Kak, bajunya. Bisa dicoba dulu, kalau ukurannya gak pas, bisa ditukar."


Itu adalah gaun sederhana yang indah. Warnanya hitam, panjangnya sekitar selutut Karina. Tidak banyak motif aneh disekitar gaunnya. Secara keseluruhan, gaun ini membuat penggunanya terlihat elegan, namun tetap cocok digunakan oleh remaja, tanpa membuatnya terlihat lebih tua.


"Cobain," kata Aether sambil menyerahkan baju tersebut kepada Karina.


Meskipun masih tidak mengerti, Karina tetap mengambil pakaian tersebut dan berjalan menuju ruang ganti.


Mungkin sepupunya Aether seukuran sama aku? pikir Karina lagi.


Tak lama kemudian, Karina keluar dari ruang ganti.


Bagaikan kunang-kunang di gelapnya malam, Karina menarik perhatian seisi toko. Tak sedikit orang yang memuji kecantikan Karina, entah diucapkan di dalam hati, maupun terucap secara nyata. Aether bahkan tidak bisa berkata-kata sejenak ketika melihat Karina.


"Cantik," kata Aether dengan raut wajah yang sama seperti biasanya, yaitu raut wajah yang datar.


"Makasih, Aether. Kamu juga ganteng," jawab Karina sambil tersenyum.


"Hm," jawab Aether.


Setelah Karina selesai berganti pakaian, Aether membayar kedua pakaian yang dibelinya.


"Nih," ujar Aether sambil menyerahkan salah satu tas belanja dari merek pakaian tadi.


"Kenapa?" tanya Karina.


"Buat lo," jawab Aether.


"Aku? Ini terlalu mah-"


"Gak apa, buat lo," ujar Aether sambil menyerahkan tas belanja ke tangan Karina.


"Hmm ... ya udah ... makasih, ya, Aether," ucap Karina.


"Hm," jawab Aether.


"Ya, udah aku pulang dulu ya. Makasih buat buku sama bajunya," ujar Karina.


"Ya," jawab Aether.


"Oke, duluan, ya."

__ADS_1


Aether memperhatikan punggung Karina yang semakin menjauh, kemudian berjalan pergi setelah tidak dapat melihat Karina.


__ADS_2