Karma Di Vila Putih

Karma Di Vila Putih
Bab 1. Pesan Misterius


__ADS_3

Dua buah mobil masuk ke halaman Vila Putih pada ketinggian 1800 mdpl di lereng Pegunungan Lawu. Tempat aku tinggal sementara semenjak lima tahun yang lalu. Aku seorang wanita. Usiaku kurang lebih dua puluh tahun. Di sana aku tinggal sendirian. Aku membantu Pak Lynn untuk menjaga vila itu. Sedangkan Pak Lynn tinggal di rumahnya sendiri bersama keluarganya.


Sebenarnya Pak Lynn penjaga vila juga. Ada beberapa vila yang dia jaga di lereng Pegunungan Lawu ini. Dan dari pekerjaannya itu Pak Lynn mendapat upah untuk menghidupi keluarganya. Menurutku Pak Lynn orangnya baik. Dialah orang yang telah menolongku dari peristiwa tragis yang mengakibatkan aku kehilangan semua orang yang aku sayangi lima tahun yang lalu. Saat itu aku tidak tahu harus ke mana. Hingga datang Pak Lynn menolongku dan memperbolehkan aku tinggal di Vila Putih ini sampai aku menemukan tempat yang lebih layak untuk kehidupanku selanjutnya.


Tak lama kemudian seorang gadis dewasa turun duluan dari mobil diikuti beberapa orang laki-laki dan wanita sebayanya. Gadis itu melempar pandangan kesekelilingnya. Kemudian kulihat dia bercakap-cakap dengan teman-temannya. Sementara Aku masih berdiri di depan jendela kamar lantai dua yang terbuka kaca dan separuh gordennya. Aku bisa melihat mereka dan mendengar percakapannya dengan jelas.


"Semoga kalian cocok dan betah di sini," kata gadis yang pertama turun itu pada teman-temannya.


Gadis itu berambut hitam lurus dengan panjang hampir sepinggang. Bulu mata lentik dan ada tahi lalat di ujung atas sebelah kanan bibirnya. Membuat banyak pasang mata tak bosan memandang paras ayu wajahnya.


Dia yang bernama Aline, anak gadis pemilik baru Vila Putih ini, sesuai dengan ciri-ciri yang pernah diceritakan oleh Pak Lynn padaku sebelum kedatangan dia bersama rombongannya ke sini.


"Aline ...." Dia dipanggil oleh seorang gadis yang berdiri di sampingnya. Aline menoleh.


"Kenapa kita ke vila ini? Nggak ke vila ayahmu yang sering kita gunakan dulu?" tanya gadis itu.


"O iya, Mitha. Aku belum cerita ke kamu, ya. Ini vila ayahku," jawab Aline.


Mitha adalah sahabat Aline semenjak SMA. Mereka sudah seperti saudara kandung saja. Sekarang Aline dan Mitha duduk di bangku kuliah yang sama semester akhir. Mereka bersama enam teman kuliahnya berencana menikmati liburan akhir tahun di vila milik ayah Aline di Tawangmangu. Sebuah tempat wisata di lereng Pegunungan Lawu.


Dengan dua buah mobil mereka berangkat dari Kota Solo. Saat matahari tergelincir ke arah barat, mereka baru tiba di Terminal Karangpandan. Masih dua puluh lima kilometer lagi jarak yang harus mereka tempuh untuk sampai di Vila Putih. Jalanan yang padat merayap membuat mereka butuh waktu yang lebih lama untuk sampai di sana.


Karena banyak mobil dan motor dengan tujuan yang sama, yaitu ke Tawangmangu saat libur akhir tahun ini. Tidak seperti hari-hari libur yang lain. Mereka ingin menikmati suasana pergantian tahun di tempat dengan ketinggian kurang lebih seribu delapan ratus meter di atas permukaan laut.


"Wah, vila baru, ya?" tanya Mitha kembali.


"Hmm, vila baru tapi lama," jawab Aline sambil tersenyum, "vila lama yang kemudian direnovasi oleh ayahku. Tiga tahun yang lalu pemiliknya menjual dengan harga relatif murah," lanjutnya.


"Terus vila ayahmu yang dulu?" tanya Mitha kembali.


"Sudah dijual untuk menutup biaya renovasi Vila Putih ini. Menurut ayahku view dan suasana tempat ini lebih bagus dan nyaman."


"Oo, begitu," kata Mitha sambil mengamati vila baru milik ayah Aline.


Sejak turun dari mobil tadi perasaanku tidak enak. Ada apa dengan Vila Putih ini? tanya Mitha dalam hati.


Mitha kemudian mengamatinya keadaan sekelilingnya dengan seksama. Tiba-tiba napasnya sedikit berat dan pandangan matanya menjadi silau. Dia melihat tubuh teman-temannya berpendar putih menyilaukan dan satu per satu menghilang dari hadapannya. Tinggal dua orang teman laki-laki saja.

__ADS_1


Sementara Aline, dalam pandangan Mitha, paras ayu dan tubuhnya berubah menjadi rusak. Rambut panjangnya pun menjadi berantakan. Seluruh kulitnya seperti tersayat-sayat dan mengelupas. Mitha mendengar Aline menjerit kesakitan kemudian bergerak cepat ke arahnya.


"Tidak ...!!!" jerit Mitha tertahan. Dia ingin menghindar tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan. Mitha lalu menutup telinga dengan kedua tangan. Sementara matanya terpejam erat. Tubuhnya sedikit limbung.


"Mitha! Kamu kenapa?" Aline memegangi tubuh Mitha agar tidak jatuh.


"Tidak! Tidak apa-apa! Aku cuma sedikit pusing," jawab Mitha.


"Tidak mungkin! Kamu pasti bohong! Apa yang kamu lihat di sini?" tanya Aline.


Sesaat kemudian Mitha membuka kedua matanya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat gadis dengan wajah dan tubuh rusak itu tepat berada di depan hidungnya. Terlihat dengan jelas di mata Mitha kulit wajah gadis itu tidak hanya mengelupas tetapi benar-benar sudah membusuk dan lembek. Beberapa belatung tampak bergerak-gerak di dalam dagingnya. Bau busuk dan anyir darah pun masuk ke hidung menusuk urat syaraf di kepala Mitha. Hingga dia merasa mual dan memuntahkan isi perutnya.


"Mith ... Mitha! Apa dia menyakitimu?" tanya Aline lagi. Mitha hanya menggeleng.


"Jacky! Sam! Bantu pegang Mitha! Bawa dia masuk ke dalam. Aku takut dia kenapa-kenapa!" Aline semakin panik. Begitu juga dengan teman-temannya. Jacky dan Sam segera membantu memegang kedua lengannya.


"Ayo, Mitha! Aku bantu berjalan. Kita beristirahat di dalam," ajak Sam.


"Tidak usah. Aku masih kuat untuk berdiri," kata Mitha dengan suara lemah.


Mitha kemudian memberanikan diri untuk memandang gadis yang masih berada di hadapannya. Dengan tubuh ditopang kedua temannya, dia perlahan mendongakkan kepalanya.


Saat Mitha menatap gadis itu, wajah dan tubuh gadis itu telah berubah normal. Tapi bukan wajah Aline lagi. Tampak olehnya seorang gadis berambut sebahu berada di hadapannya dengan pandangan kosong. Terlihat lesung pipit di kedua pipinya. Tiba-tiba roman wajah itu berubah menjadi penuh amarah. Matanya melotot tajam.


Aku ingin bebas. Aku telah lama di sini menunggu mereka. Jangan halangi aku! kata gadis itu dengan suara menggema yang hanya bisa didengar oleh Mitha. Mereka pun melakukan komunikasi secara telepati yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua saja.


Siapa yang kamu maksud? Apakah mereka teman-temanku? tanya Mitha. Wajah marah itu diam sesaat, kemudian ...


Jangan halangi aku, jangan halangi aku! Aku akan menuntut balas! katanya.


Menuntut balas? Pada siapa? tanya Mitha.


Tapi wajah marah itu tetap tidak mau menjawabnya. Sesaat kemudian mereka hanya diam dan saling bertatap mata.


"Si ... siapa kamu sebenarnya?" Dengan suara lemah Mitha memberanikan diri bertanya pada gadis berlesung pipit itu.


Aline yang berada di depan Mitha dan melihat tatapan matanya, merasa pertanyaan itu ditujukan padanya. "Aku Aline ... Mitha! Ini aku!" jawab Aline sambil memegang kedua tangan Mitha.

__ADS_1


"Mitha, apa yang kamu lihat pada diriku? Sadarlah Mitha ...!" lanjut Aline. Terlihat air matanya mengalir mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.


Sementara Mitha masih menatap wajah marah gadis berlesung pipit itu. Kemudian perlahan-lahan pandangan matanya pada gadis itu memudar. Dan berganti wajah Aline. Mitha pun menghela napas panjang.


"Aline ...," katanya.


"Iya, Mitha ... Ini aku. Kamu sudah sadar? Syukurlah! Aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu." kata Aline sambil mengusap air matanya.


Kembali Mitha menghela napas panjang kemudian mengangguk. Mengetahui keadaan Mitha sudah pulih, Jacky dan Sam melepas pegangan tangan mereka. Mereka dan teman-teman lain merasa bingung dengan kejadian yang baru saja dialami oleh Mitha.


"Tadi kamu seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak nampak. Kamu bisa melihat hantu?" tanya Jacky.


"Iya, Mith, bahkan kamu menjerit ketakutan. Apa yang barusan kamu lihat? Benar kamu bisa melihat hantu?" sahut Sam juga merasa penasaran.


"Begini, Mitha memang bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Kemampuan itu sudah ada sejak dia masih kecil," kata Aline.


Mitha hanya mengangguk. Kemudian berkata, "Ada sesuatu dengan Vila Putih ini. Aku tidak ingin ada kejadian buruk menimpa kita selama kita di sini."


"Aline, aku takut, nih! Bisa nggak kita pindah ke vila lain saja,"usul salah satu teman wanita.


"Tidak usah! Aku yakin kejadian tadi hanya halusinasi Mitha saja. Mungkin dia sedang kecapekkan." Jacky tidak setuju.


"Iya, benar. Masak kita akan kalah dengan hantu?" Sam mendukungnya.


Tiba-tiba pandangan mata Mitha seperti terseret ke arah jendela kamar di lantai dua. Tapi dia hanya melihat korden dan kaca jendela itu menutup sendiri.


"Ada apa Mith?" tanya Aline.


"Seperti ada orang di balik jendela kamar atas," jawab Mitha.


"Mungkin dia Pak Lynn. Orang yang diserahi tanggung jawab mengurus vila ini," jelas Aline.


"Nah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau begitu kita tetap menginap di vila ini," Jacky menetapkan pilihan.


Sementara Aline memandang Mitha untuk meminta pendapatnya. Kembali Mitha merasakan keanehan pada tubuhnya. Dia seperti tidak kuasa menahan anggukan kepalanya.


Aku ... aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. Apa yang terjadi padaku? tanya Mitha dalam hati.

__ADS_1


Jangan halangi aku! Kalimat itu terdengar lagi menggema di rongga kepala Mitha.


...*****...


__ADS_2