Karma Di Vila Putih

Karma Di Vila Putih
Bab 4. Tapi Hantu itu Ada


__ADS_3

Malam baru menjelang. Langit merah di ufuk barat pun baru saja menghilang. Aline dan Mitha berdiri di atas balkon. Mereka memandang cakrawala langit. Bentangan pemandangan alam lereng Lawu terlihat begitu indah di bawah kerlip bintang di langit malam.


Tapi tak lama kemudian mendung hitam tebal berarak-arak menggulungnya. Cahayanya sirna berganti tiupan angin malam yang terasa dingin menusuk tulang. Kini yang terlihat berganti pemandangan kerlap-kerlip lampu Kota Solo di bawah langit hitam.


"Hmm, dingin! Mendung gelap juga mulai datang. Semoga tengah malam nanti tidak," kata Aline sambil merapatkan jaketnya.


"Iya, semoga kita beruntung nanti malam bisa menikmati pergantian tahun dalam suasana cerah. Dan dia tidak mengganggu kita lagi," sahut Mitha.


"Siapa, Mith? Zaskia ...?" Aline menoleh ke arah Mitha.


Dilihatnya Mitha sedang menerawang jauh. Pandangan matanya seolah-olah menembus gulungan mendung tebal dan ingin menyibaknya agar terungkap juga misteri gadis berambut hitam sebahu dan berlesung pipit yang muncul dalam pandangannya.


"Zaskia, atau entah siapa pun dia. Aku tak ingin dia mengganggu acara liburan kita ini," jawab Mitha.


Mitha pun menoleh ke arah Aline sambil tersenyum. Tapi senyuman itu masih terasa menyisakan tanya, siapakah gerangan gadis itu dan mengapa semua ini harus terjadi.


"Hmm, lupakan dulu Zaskia. Bukankah dia sudah menjelaskan semuanya pada kita tentang siapa dirinya? Zaskia seperti kita juga. Sekarang mari kita bergembira menikmati liburan kita di Vila Putih ini," kata Aline menenangkan Mitha. Mitha hanya mengangguk dan kembali tersenyum.


Bagiku belum semua terungkap. Bahkan ini mungkin baru awalnya. Semoga tidak ada Zaskia yang lain, kata Mitha dalam hati.


Aline menyorongkan sedikit tubuhnya di atas tembok balkon karena mendengar nyanyian diiringi suara gitar. Ternyata Jacky dan Sam sedang bernyanyi sambil berjoget gembira di atas rumput di halaman depan vila. Aline tertawa kecil melihat tingkah polah kedua temannya itu.


Mitha menoleh ke arahnya dan merasa heran. "Ada apa, Lin? Kamu menertawakan sikapku ini?" tanya Mitha.


"Bukan, Mith. Tapi lihat tuh, kelakuan dua orang temanmu," jawab Aline sambil menunjuk ke bawah balkon. Mitha segera menyorongkan tubuhnya seperti Aline. Seketika meledaklah tawanya.


"Ayook, semangat!" teriak mereka berdua. Mendengar teriakan itu Jacky dan Sam diam sebentar dan mendongakkan kepala ke atas.


"Ayook ikut!" kata mereka serempak kemudian kembali bernyanyi sambil berjoget.


Tiba-tiba embusan angin dingin menerpa tubuh Aline dan Mitha yang berada di atas balkon. Mitha segera merapatkan jaketnya. Tapi udara dingin itu masih terasa menembus pori-pori kulit tubuhnya. Hingga dia harus merapatkan kedua telapak tangannya kemudian diangkat menempel pada ujung hidungnya. Perlahan-lahan dia embuskan hawa hangat dari mulutnya.


"Dingin-dingin gini jadi lapar. Turun, yuk! Nengok Lusy sama Yuli yang sedang masak," ajak Aline sambil membalikkan badannya kemudian melangkah meninggalkan balkon.


"Yuuk ...! Mudah-mudahan sudah matang," kata Mitha mengikuti langkah Aline. Mereka segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkon. Sejenak mereka di kamar untuk merapikan tempat tidur dan membersihkan bungkus-bungkus makanan ringannya.


"O ya, di mana Zaskia?" tanya Mitha sambil mengambil bungkus makanan ringannya yang masih tersisa satu kemudian disodorkan pada Aline. Aline membuka bungkusnya dan segera memakannya.


"Entah, Mith. Tadi dia membantu Lusy dan Yuli membawakan barang-barang mereka yang masih tertinggal di bawah. Mungkin sekarang sedang membantu memasak di dapur," jawab Aline.

__ADS_1


Sementara di lantai bawah, canda tawa Wawan, Dodo, dan Budi membuat suasana ruang dapur menjadi begitu ceria. Yuli dan Lusy sedang menyiapkan nasi dengan menu ayam goreng tepung. Sebentar lagi siap untuk dihidangkan. Sedangkan ketiga teman mereka menyiapkan arang dengan tempat panggangan dan bumbu-bumbu untuk jagung bakarnya. Mereka berencana membakar jagung di halaman depan vila untuk menyambut pergantian tahun nanti malam.


Keceriaan mereka seolah telah melupakan rasa takut pada kejadian misteri yang dialami oleh Mitha tadi sore. Hingga beberapa saat mereka larut dalam canda tawa di ruang tengah. Ruang tengah Vila Putih itu merupakan ruang makan yang menyatu dengan dapur. Tak lama kemudian Dodo yang sedang membawa panggangan penuh arang dan hendak keluar dari ruang tengah terkejut dan secara reflek melemparkan panggangannya. Benda itu melayang di udara. Sementara arang yang ada di dalamnya terhambur keluar dan jatuh berserakan di lantai bersama panggangannya. Dodo terkejut karena tiba-tiba dia melihat seseorang berwarna gelap berdiri di tengah pintu menghalangi jalannya.


"Ada apa, Do?" tanya Wawan. Dia menghentikan aktivitasnya diikuti teman yang lain dan segera mendekati Dodo.


"Zaskia ...?" tanya Wawan lagi saat melihat aku sedang berdiri di tengah pintu. Aku hanya mengangguk.


"Iya, nih, Zaskia! Bikin kaget aku saja! Aku tadi sekilas melihat penampakan hantu sebelum berubah menjadi kamu!" sahut Dodo dengan nada kesal.


Aku tidak menanggapi omongan Dodo. Kemudian aku melihat dia membereskan arang-arang yang berserakan dibantu oleh Wawan dan Budi.


"Jangan bercanda, Do!" bentak Wawan.


"Iya, Do, jangan bercanda! Jangan buat aku takut lagi! Bisa-bisa aku suruh orang rumah untuk jemput aku pulang sekarang," kata Yuli diikuti anggukan kepala Lusy.


"Aku tidak bercanda! Sepertinya ada sesuatu tak kasat mata selalu mengikutimu, Zas! Mungkin hantu penunggu Vila Putih ini. Sejak kami datang dan ada kamu, kejadian mistis itu selalu muncul," jelas Dodo sambil menatapku curiga.


"Jangan sembarangan omong, Do. Aku benar-benar takut, nih!" sahut Yuli.


"Memang kenyataannya begitu!" lanjut Dodo serius.


"Sudah ..., tenang dulu. Jangan membuat diri kita jadi takut dan panik," sela Budi menengahi, "Terus sedang apa kamu di situ, Zas?" lanjutnya sambil menoleh ke arahku. Kini semua mata memandangku.


Sementara itu, Jacky dan Sam yang berada di halaman depan juga mendengar keributan itu dan segera masuk ke dalam untuk melihatnya. Sedangkan mereka bertiga telah selesai membereskan kembali arang-arang yang tadi berserakan. Dodo dan Wawan duduk meluruskan kedua kakinya di lantai. Sementara aku melihat Budi berdiri sambil menghela napas panjang. Dia menatapku dalam-dalam.


"Zaskia ...." Dia memanggilku. Kami berdua jadi saling pandang.


"Kami semua berterima kasih padamu karena telah bersedia membantu menyiapkan keperluan kami," kata Budi berhenti sejenak.


"Tapi entah benar atau tidak apa yang barusan dikatakan Dodo tentang hantu yang selalu mengikutimu, sekarang ceritakan tentang hantu itu dan apa yang kamu alami selama kamu di sini. Juga tentang kamu dan tentang Vila Putih ini," lanjut Budi.


Aku terdiam mendengar permintaan Budi untuk menceritakan semuanya. Ada rasa gamang menyelimuti hatiku. Mulutku terasa bergetar saat mulai bercerita.


"Tentang hantu di vila ini ...," aku diam sejenak karena mendengar banyak langkah kaki mendekatiku. Ternyata Non Aline dan ketiga teman lainnya berdatangan ke sini. Mungkin mereka mendengar keributan karena kedatanganku di dapur ini.


"Zaskia? Kamu di sini juga?" tanya Aline ketika melihatku. Aku hanya mengangguk.


"O ya, Lusy, Yuli, sudah siapkah makanannya?" lanjut Aline.

__ADS_1


Tapi Lusy dan Yuli hanya diam dengan wajah gelisah. Hal itu membuat Aline keheranan dan bertanya, "Ada apa ini?"


"Tunggu sebentar, Lin. Aku tadi sempat mendengar Zaskia akan membicarakan tentang hantu," sela Mitha.


"Apa ini berhubungan denganmu dan vila ini, Zaskia?" lanjut Mitha sambil menoleh dan menatapku dalam-dalam. Sementara aku hanya mengangguk lagi.


Aku tetap tidak bisa mendapatkan pandangan tentang Zaskia. Aku seperti terhalang tembok yang cukup tebal. Apakah dia sengaja menghalangi pandanganku? Hey Mitha, bukankah kamu yang diancam agar tidak menghalangi gadis berambut sebahu itu? Berarti Zaskia adalah gadis itu! Benarkah ...? Aku belum menemukan benang merah dari kejadian ini, kata Mitha dalam hati.


"Tadi aku melihat hantu berwarna gelap sebelum Zaskia datang ke sini. Aku curiga hantu itu selalu bersamanya," sahut Dodo.


"Zaskia, lanjutkan ceritamu tentang Vila Putih ini. Apa yang kamu ketahui selama ini?" tanya Mitha.


Suasana hening sejenak. Sementara malam baru berjalan di sepertiga pertama. Dan mendung tebal masih menempel di langit malam. Semua pasang mata menatapku menunggu aku bicara. Tiba-tiba suara tokek menggema cukup lama dan terdengar keras memenuhi ruangan dalam vila. Kemudian suara itu perlahan menghilang dan disambut suara burung hantu yang terbang melintas beberapa kali di atas Vila Putih. Suara detik jarum jam dinding pun seperti berpacu dengan detak jantung orang-orang yang berada di dalam Vila Putih. Aku menatap mata Aline dan Mitha secara bergantian yang berdiri di hadapanku.


"Tentang hantu di Vila Putih ini ...," aku mengulangi omonganku.


Tapi belum selesai, angin malam yang dingin bertiup kencang menerobos masuk ke dalam vila melalui pintu serta jendela ruang depan. Dan terus masuk menuju ruang tengah tempat kami berada. Udara semakin terasa dingin dan semakin bertambah dingin hingga apa yang ada di sekeliling Mitha semua terlihat membeku diam tak bisa bergerak. Kecuali aku yang terus melanjutkan ceritaku. Tapi Mitha tidak menyadarinya.


"Apa yang dilihat Dodo dan dialami olehmu memang harus terjadi," lanjutku.


"Harus terjadi? Apa maksudmu?" tanya Mitha.


"Supaya kalian semua tahu bahwa aku ada. Aku ada di Vila Putih ini. Dan kamu tidak boleh menghalangiku!"


"Kamu? Kamu siapa? Terus mengapa aku tidak boleh menghalangimu?" tanya Mitha penasaran.


"Karena aku ... Zaskia!"


Sesaat kemudian suasana hening kembali. Dan semua masih berada di tempatnya masing-masing. Sementara Zaskia terlihat diam dan menunduk. Rambutnya terurai kedepan menutupi sebagian wajahnya.


"Aku tidak paham apa maksudmu. Bukankah kamu memang Zaskia?" tanya Mitha lagi sambil mendekat dan sedikit menunduk untuk melihat wajah Zaskia.


Apakah ada Zaskia lain yang tak tampak oleh mata manusia biasa? tanya Mitha dalam hati sambil terus memperhatikannya.


Saat itu Mitha benar-benar terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba Zaskia mengangkat kepalanya. Rambutnya kembali tersibak dan wajahnya tepat berada di depan wajah Mitha.


Mitha tersentak! Jantungnya serasa berhenti berdetak dan dadanya terasa sesak untuk bernapas. Saat melihat kulit wajah Zaskia berubah menjadi rusak mengelupas. Matanya memutih dan rambut hitamnya memanjang berantakan.


"Aku telah menunggu kedatangannya!" Terdengar suara menggema di ruangan tengah Vila Putih itu.

__ADS_1


Setelah itu dengan cepat Mitha menarik mundur kembali kepalanya. Tapi pandangan matanya berangsur-angsur menjadi gelap. Dan dia jatuh lunglai di pangkuan Aline yang berada di sampingnya.


...*****...


__ADS_2