Karma Di Vila Putih

Karma Di Vila Putih
Bab 2. Namaku Zaskia


__ADS_3

Mereka telah memutuskan untuk tetap tinggal berlibur di Vila Putih. Aline dan Mitha mengambil tas yang berisi barang bawaan mereka menuju pintu masuk vila. Sementara teman-temannya masih sibuk menurunkan barang bawaan masing-masing.


Tok ... tok ... tok ...! Aline mengetuk pintu setelah menaruh tas besarnya.


"Pak Lynn ...! Kami datang. Bukakan pintu donk!" teriak Aline.


Aku bergegas turun ke bawah menuju pintu depan. Sesaat kemudian terdengar suara kunci pintu dibuka dan berderit dua daun pintunya saat kutarik ke dalam.


"Selamat datang, Non Aline," sapaku dari dalam sambil tersenyum.


Aku melihat dua wanita sebaya dihadapanku. Tinggi dan berat tubuh mereka tidak jauh beda denganku. Mereka terlihat cantik dengan dandanan anak orang berada. Non Aline putri pemilik vila ini berambut hitam panjang hampir sepinggang. Sebuah bando berwarna pink menghiasi rambutnya. Sementara satunya, Mitha. Dia berambut agak kecoklatan sedikit bergelombang dengan panjang sebahu. Mereka terkejut melihatku dan sejenak saling pandang. Entah apa yang ada dalam benak mereka, terutama wanita yang berambut agak coklat itu.


Gadis itu mirip dengan gadis dalam pandanganku tadi. Tapi kali ini aku tidak mendapat firasat apa-apa. Mungkin ada gadis yang lain? Selama ini firasatku tidak pernah meleset. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan teman-temanku selama berada di Vila Putih ini, kata Mitha dalam hati.


"Kamu siapa?" tanya Aline curiga. Dia tidak pernah bertemu denganku sebelumnya. Bahkan mungkin Pak Lynn pun tidak pernah bercerita tentangku padanya.


"Kenalkan, namaku Zaskia. Aku membantu Pak Lynn merawat dan menjaga vila-vila yang diurusnya," jawabku.


"Terus di mana Pak Lynn?" tanya Aline lagi.


"Pak Lynn sedang ada urusan bersama keluarganya. Beliau menyuruhku ke sini untuk melayani keperluan kalian selama berlibur di vila ini."


"Hmm, baiklah. O ya, ini sahabatku, namanya Mitha," kata Aline sambil memegang pundak Mitha.


Mitha bermaksud mengulurkan tangannya padaku tapi aku lebih dulu mengambil dua tas besar barang bawaan Aline dan Mitha untuk di bawa ke kamarnya. Dan dengan ringannya aku membawa itu semua.


"Ayo, ikut aku," ajakku. Aku kemudian membalikkan badan dan melangkah menuju tangga kayu melingkar.


"Kamar kalian ada di lantai atas, berdampingan dengan kamar untuk teman perempuan yang lain. Untuk laki-lakinya ada di bawah," lanjutku. Aku menaiki tangga kemudian masuk ke kamar diikuti oleh Aline dan Mitha.


Kamar bercat putih itu terlihat bersih, rapi, dan cukup luas. Sebuah tempat tidur besar berada di tengahnya, cukup untuk tidur dua atau bahkan empat orang. Terdapat lemari es kecil serta dua buah kursi dan meja menghiasi sudut kamar. Ada juga almari pakaian di samping jendela kamar yang meghadap halaman depan vila.


Kamar ini berukuran paling besar bila dibandingkan dengan kamar yang lain. Karena memang dikhususkan untuk keluarga Aline. Sebuah kamar mandi berada di samping pintu menuju balkon.


"Selamat berlibur, Non. Saya mau bantu yang lain dulu. Jika perlu apa-apa tinggal panggil saya saja," kataku kemudian meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Aline segera melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Sementara Mitha berkeliling kamar dan balkon untuk melihat-lihat.


"Bagaimana menurutmu vila ini, Mith?" tanya Aline.


"Boleh juga, nyaman tempatnya. Yang pasti lebih luas dari vila yang dulu. Viewnya juga bagus kalau dilihat dari balkon," jawab Mitha.


Sejenak Mitha diam kemudian mengambil napas panjang. Kedua bola matanya bergerak-gerak tak teratur. Keningnya pun sedikit berkerut menandakan dia sedang memikirkan sesuatu. Hal ini membuat Aline penasaran.


"Kamu memikirkan apa, Mith?" tanya Aline penasaran.


"Zaskia ...!" jawab Mitha singkat sambil menoleh ke arah Aline. Aline pun bangkit dan duduk di tepian tempat tidur. Matanya menatap tajam pada Mitha.


"Zaskia ...? Ada apa dengan dia, Mith?" tanya Aline lagi.


"Dia seperti gadis yang kulihat pada pandanganku tadi. Saat itu dia tampak marah. Dan ...," Mitha tak kuasa melanjutkan perkataannya. Sesaat dia terdiam.


"Dan ..., apa?" Aline semakin penasaran dengan sikap Mitha.


"Dia mengancam akan menuntut balas pada kita," jawab Mitha.


"Menuntut balas? Zaskia akan menuntut balas pada kita? Mana mungkin, Mith? Apa salah kita padanya dan lagi kita baru ketemu pertamakali dengan dia di sini. Apa yang telah kita lakukan padanya, coba?" kata Aline dengan ekspresi muka tidak percaya.


"Nah itu yang membuat aku bingung. Saat aku bertemu muka dengan dia di bawah tadi, aku sama sekali tidak mendapat firasat apapun."


"Kalau begitu jangan risaukan Zaskia. Mungkin saat itu ada hantu lain dari vila sebelah atau entah dari mana yang iseng padamu, Mith. Karena di antara kita bersembilan ini hanya kamu yang bisa berkomunikasi dengan hantu," Aline menjelaskan. Dia mencoba menenangkan Mitha.


"Itu malah yang mengganggu pikiranku. Bisa jadi ini bukan masalah hantu yang tak kasat mata. Tapi ada seseorang yang akan berbuat jahat pada kita. Dia sudah punya target. Dan Zaskia ...," sejenak Mitha mengambil napas panjang, "Bisa jadi ada orang lain yang bersamanya," lanjutnya.


Aline yang sebelumnya tenang jadi terlihat gelisah setelah mendengar penjelasan Mitha. Dia berdiri dan berjalan mendekati Mitha.


"Apa yang mesti kita perbuat?" tanya Aline kemudian.


"Aline, tempat ini jauh dari kota dan kamu termasuk keluarga berada karena bisa memiliki vila sebesar ini. Siapa sebenarnya penjaga Vila Putih ini, sekarang dan sebelumnya? Pak Lynn ataukah Zaskia? Kita tidak tahu apakah mereka benar-benar saling mengenal. Apalagi Pak Lynn tidak memberitahumu sebelumnya tentang Zaskia. Siapa sebenarnya mereka berdua," jawab Mitha panjang lebar.


Aline menjadi panik mendengarnya dan segera mencari handphone-nya. Dia berusaha menghubungi Pak Lynn. Tapi berkali-kali nada sambung itu selalu terputus.

__ADS_1


"Ayolah Pak Lynn angkat handphone-mu! Angkat ...! Angkat ... Pak Lynn ...!" kata Aline dengan nada suara bergetar.


Mengetahui Pak Lynn tidak bisa dihubungi lewat handhone, Aline dan Mitha benar-benar panik sekarang. Mereka tidak menyangka kalau liburannya bersama teman-teman akan menjadi sebuah pengalaman yang menakutkan.


"Pak Lynn tidak bisa dihubungi. Zaskia bilang dia sedang pergi bersama keluarganya. Bisa jadi dia diluar jangkauan atau low batt," kata Aline.


"Mungkin itu hanya alibi Zaskia saja. Kita keluar melihat keadaan teman-teman!" ajak Mitha sambil menoleh ke arah pintu. Dan dia pun terkejut melihatnya.


"Aline, bukankah semua pintu di Vila Putih ini mempunyai anak kunci?" tanya Mitha. Aline mengangguk.


"Di mana anak kunci pintu itu? Aku tadi melihat Zaskia membawanya kembali setelah membuka pintu kamar ini," lanjut Mitha.


Aline segera menuju ke pintu. Dia memutar gagang pintu dan menariknya untuk membuka pintu. Tapi pintu itu tidak bisa dibuka. Aline dan Mitha terkejut dan baru menyadari kalau mereka sejak tadi terkurung di dalam kamar. Berkali-kali Aline memutar dan menarik gagang pintu itu, tetapi pintu kamar mereka tetap tidak bisa dibuka. Mitha membantunya tapi hasilnya sama saja.


...***...


Sementara itu ke tujuh teman Aline sudah menunggu di ruang depan. Sebuah ruang yang cukup luas dengan empat buah kamar tidur di sisi tepinya. Terdapat sebuah meja kecil dan dua buah kursi di depan masing-masing kamar. Di bagian tengah ruangan ditata satu set sofa setengah melingkar dengan mejanya menghadap ke salah satu dinding. Sebuah televisi flat 64 inchi dipasang pada dinding tersebut dengan seperangkat alat multimedia di bawahnya.


"Sepertinya aku akan betah berlama-lama di sini. Iyakan, Sam?" tanya Jacky sambil melihat-lihat seperangkat alat media itu dan mencoba menghidupkan flat tivi dengan remote kontrol.


"Iya, nih. Bahkan kalau mungkin selamanya di sini juga mau. Bagaimana dengan kalian?"


"Aku sebenarnya masih takut dengan kejadian yang dialami Mitha. Mungkin saja vila ini ada hantunya," kata Yuli sambil menggeser duduknya mendekati Lusy. Wajahnya masih tampak gelisah.


"Kalau aku bukannya takut, sih. Setelah kejadian itu kita mesti mencari tahu latar belakang vila ini. Apalagi Aline bilang kalau ayahnya membeli vila ini dengan harga murah. Bisa jadi ada 'sesuatu' dibalik harga murah itu. Kita mesti mempertimbangkan baik buruknya. Juga keselamatan kita selama ada di sini," kata Wawan.


"Udah, tenang aja, Yul. Nanti kita, para perempuan tidur satu kamar berempat. Kalau hantu itu datang kita hadapi bersama," sahut Lusy menenangkan Yuli.


"Tenang bagaimana? Kalau hantu itu datang saat kita tidur, terus menculik kita satu per satu, gimana coba? Hantukan tidak kelihatan dan datang tiba-tiba tanpa suara. Aku benar-benar takut nih!" bantah Yuli dengan suara meninggi.


"Sudah! Kita berpikir positif saja. Mana ada hantu di tempat terang benderang dan bersih seperti ini," potong Jacky.


Setelah keluar dari kamar Aline, aku berjalan menuju tangga dan mendengar percakapan teman-teman Aline di bawah.


"Kak Jacky benar! Tidak ada hantu di Vila Putih ini," sahutku ketika turun dari tangga.

__ADS_1


Semua pasang mata memandang ke arahku. Dan sejenak semua mulut terkunci. Suasana menjadi hening. Bahkan bunyi langkah kakiku pun nyaris tak terdengar. Hingga aku selesai turun dari tangga dan mendekat ke arah mereka.


...*****...


__ADS_2