
Aku turun dari tangga dan berjalan mendekati mereka. Spontan dua orang teman wanita Aline berdiri dari duduknya. Kini mereka bertujuh berdiri dan mengamati langkahku. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Mungkin mereka pikir aku hantu yang telah mengganggu Mitha.
Sesaat kemudian mereka dapat bernapas lega ketika mengetahui dengan pasti bahwa kedua kakiku benar-benar menempel pada lantai. Namun aku melihat Yuli, teman wanita Aline yang bertubuh kurus, sedikit menggeser posisi berdirinya ke samping kiri dan kanan secara bergantian sambil terus mengamati tubuhku. Kemudian Lusy, teman wanita Aline yang bertubuh agak besar itu mendekatkan mulutnya pada telinga Yuli sambil melirik ke arahku. Sepertinya mereka sedang berbisik-bisik agar aku tidak mendengar omongannya.
"Kamu mencari apa, Yul?"
"Aku mencari bayangan tubuh perempuan itu. Karena aku tadi tidak mendengar langkahnya meski kakinya menempel di lantai." Yuli balas mendekatkan mulutnya di telinga Lusy.
"Lantas? Apa kamu bisa melihat bayangannya?"
"Iya! Aku bisa melihatnya, Lus. Berarti dia bukan hantu."
Sementara aku hanya diam tanpa ekspresi melihat kelakuan dua teman Aline.
"Kamu siapa? Saudaranya Aline?" tanya Lusy memulai percakapan padaku. Dia kembali memperhatikan aku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Bukan! O ya, namaku Zaskia. Aku yang bertugas merawat dan menjaga Vila Putih ini," jawabku.
Teman-teman Aline itu hanya mengangguk mendengar sedikit penjelasanku. Saat itu aku akan melanjutkan omonganku, tapi Budi, seorang teman laki-laki Aline yang bertubuh agak pendek menyela.
"Tunggu sebentar," sela Budi, "Dari mana kamu tahu dia bernama Jacky?" lanjut Budi sambil menunjuk Jacky, laki-laki bertubuh tinggi, yang masih berdiri di dekat televisi. Jacky pun terkejut. Dia yang sejak awal tidak mempercayai hal-hal tak kasat mata harus berpikir ulang kembali.
Mereka semua tertegun mendengar pertanyaan Budi. Sementara aku tidak juga segera menjawab dan hanya menatap datar pada Budi. Untuk beberapa saat lamanya suasana ruang depan menjadi hening. Tiba-tiba Dodo yang bertindak sebagai sopir di mobil yang ditumpangi Aline dan Mitha mengajukan pertanyaan yang berbeda padaku.
"Di mana Aline dan Mitha sekarang? Semenjak kami masuk ke ruangan ini hingga kamu turun dari tangga, kami belum melihat mereka. Tadi aku melihat mereka masuk duluan ke dalam vila bersamamu," kata Dodo.
"Iya, benar juga omonganmu, Do. Hei, Zaskia! Atau siapa pun dirimu! Di mana Aline dan Mitha berada?" sahut Wawan.
"Mungkin dia telah menculik Aline dan Mitha," tambah Yuli dengan ekspresi ketakutan.
"Seandainya dia bukan makhluk tak kasat mata, pasti ada orang lain yang bersamanya," kata Sam pelan.
Semua temannya memandang ke arah Sam.
Suasana ruang depan Vila Putih pun menjadi tegang. Dan tidak ada seorang pun yang bicara. Pandangan mata mereka kemudian beralih padaku. Setelah itu kulihat Yuli dan Lusy berpegangan tangan erat-erat dan saling merasakan dinginnya suhu tangan mereka.
__ADS_1
Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa ketakutan yang terbayang jelas di wajah. Perlahan-lahan mereka menggeser posisi berdirinya mendekati tempat Jacky dan Sam berada. Sementara itu ketiga teman laki-laki lainnya, Wawan, Budi, dan Dodo juga ikut mendekat ke arah mereka.
Dan rasa takut serta curiga yang muncul kembali di dalam benak teman-teman Aline semakin kuat. Terbayang lagi kejadian yang menimpa Mitha. Mereka menganggap ada yang tidak beres di Vila Putih dan tidak ingin kejadian buruk menimpa mereka seperti apa yang pernah dikatakan oleh Mitha sebelumnya.
Aku menghela napas panjang dan memandang mereka satu per satu. Aku harus bisa memberi penjelasan agar mereka tidak lagi takut dan curiga padaku serta dapat menerima keberadaanku di sini.
"Seperti apa yang telah kalian lihat. Aku seperti kalian juga. Aku membuka pintu untuk masuk kamar, aku menginjak lantai untuk berjalan, aku juga naik turun tangga," aku membuka pembicaraan, "Aku menggantikan Pak Lynn, penjaga vila ini dan vila-vila disekitar sini, untuk menyambut dan menyiapkan keperluan Non Aline dan kalian selama liburan di sini."
Mereka saling bertatap muka dan mengangguk-angguk. Sepertinya mereka dapat menerima penjelasanku. Meski kecurigaan mereka masih ada.
"Saat mobil kalian masuk ke halaman depan vila ini, aku sedang di kamar atas. Aku mendengar dan melihat semua kejadian yang telah kalian alami di sana. Aku menghafal nama kalian saat kalian saling sebut nama," lanjutku.
Kini aku dapat melihat raut wajah mereka tidak tegang lagi. Mereka mulai terlihat santai dan mencari tempat untuk duduk.
"Sekarang akan kutunjukkan kamar kalian. Ada dua kamar di lantai bawah ini yang sudah siap di tempati untuk kalian berlima," kataku sambil memandang mereka kemudian menunjuk kamar tersebut.
"Oke, kita bagi dua saja. Kalian bertiga. Aku sama Sam," usul Jacky.
"Yuup ...," sahut Sam sambil membawa tas ransel dan gitarnya.
"Suara itu dari kamar Aline?" tanya Lusy sambil memandang ke atas kemudian menatapku dalam-dalam.
Jacky dan Sam segera menaruh kembali barang-barangnya dan berlari menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Disusul oleh lima teman lainnya. Sampai di lantai atas suara itu terdengar semakin keras disertai suara seorang wanita minta tolong. Mereka segera menuju sumber suara. Di depan pintu kamar, mereka terlihat panik. Jacky dan Sam kemudian mendekat dan berusaha membuka pintu tersebut.
"Aline ...! Mitha ...! Apa kalian berada di dalam kamar ini?" teriak Jacky berkali sambil memukul-mukulkan tangannya pada daun pintu. Aline dan Mitha yang berada di dalam membalasnya dengan memukul balik daun pintu itu.
"Iya! Aku sama Mitha di dalam!" teriak Aline.
"Apa kamu mengunci pintu ini?" kata Jacky sambil mendekatkan kepalanya pada daun pintu.
"Tidak! Tadi Zaskia yang membuka pintu ini. Setelah itu dia turun ke bawah. Kunci pintu di bawa Zaskia. Aku tidak tahu, dia sengaja mengunci pintu ini atau tidak!" Terdengar suara Mitha dari dalam kamar.
"Huh ...! Zaskia lagi! Apa yang sebenarnya dia inginkan? Dia selalu membuat keributan!" dengus Jacky. Dia tampak begitu kesal karena ulah Zaskia.
"Sepertinya Mitha yang dia inginkan. Dari dua kejadian, selalu ada Mitha yang jadi korbannya," tambah Dodo.
__ADS_1
"Karena hanya dia yang tahu dan dapat berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata! Mungkin dia sasaran utamanya!" sahut Budi.
"Tapi, bukankah Zaskia itu juga manusia seperti kita?" bantah Yuli.
"Kita harus waspada karena hantu dapat menyerupai dan meniru tingkah laku manusia." Budi mengingatkan mereka.
Yuli dan Lusy merinding mendengar penjelasan Budi. Sementara mereka berlima kembali berusaha membuka pintu kamar tempat Aline dan Mitha terkurung.
Sam mendekat lagi ke pintu dan menggerak-gerakkan gagang pintu sambil berusaha mendorong-dorong agar terbuka. Jacky dan ketiga temannya membantu juga secara bergantian. Tapi tetap tidak berhasil membukanya.
"Aline, Mitha ..., kalian baik-baik saja di dalam?" tanya Yuli.
"Iya! Aku sama Mitha baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa membuka pintu ini dari dalam," jawab Aline dari dalam kamar.
"Aline dan Mitha baik-baik saja. Sebaiknya kita tenang dulu. Sebelum kita dobrak pintu ini, tanyakan dulu pada Zaskia di mana kuncinya," kata Jacky.
"Ke mana anak itu? Mungkin dia masih di bawah. Kalau begitu biar aku cari dulu!" sahut Wawan kemudian membalikkan badan.
Mereka tidak menyadari kalau aku dari tadi ada di dekat mereka. Hingga Wawan pun terkejut saat melihatku sudah ada di hadapannya dan dia hampir saja dia menabrakku. Dia tertegun sejenak memandangku dengan sikap waspada.
Sementara itu masih terdengar suara gagang pintu digerak-gerakan dari dalam. Rupanya Aline dan Mitha masih berusaha untuk membukanya.
"Hei, dari mana saja kamu? Kamu sengaja membiarkan kami panik dan tidak mau membantu!" kata Wawan lagi.
"Aku dari tadi ada di sini mengikuti kalian. Kalian saja yang tidak memperhatikan," jawabku.
Tiba-tiba terdengar suara berderit pintu dibuka disusul Aline dan Mitha menghambur ke luar kamar. Teman-teman Aline terlihat lega.
"Sekarang kamu lihat! Apa yang baru saja kamu perbuat pada Mitha? Kamu sengaja menguncinya di kamar bersama Aline? Seandainya kamu benar orang yang menjaga Vila Putih ini, apa kamu lupa kalau Aline itu anak pemiliknya?" Wawan terlihat marah padaku.
"Aku tidak bermaksud begitu. Maafkan aku Non Aline. Aku cuma lupa memberi tahu Non Aline kalau pintu kamar utama ini agak sulit dibuka. Menurut Pak Lynn memang sudah aus gagang pintunya dan kuncinya. Perlu diganti." Aku memberi penjelasan pada mereka.
Semua bisa menerima alasanku dan Aline memaafkan aku. Sementara Mitha hanya menatapku dalam-dalam. Dia seperti memikirkan sesuatu.
Aneh! Saat di dalam dan aku mendengar suara Zaskia, kemudian pintu kamar dapat dengan mudah dibuka oleh Aline. Apakah ini ulah Zaskia atau hanya kebetulan saja? Hingga saat ini aku belum juga mendapat pandangan apa pun tentang Zaskia. Tapi kejadian di halaman depan vila tidak bisa kusepelekan. Siapa sebenarnya Zaskia? Dan apa yang dia inginkan? kata Mitha dalam hati.
__ADS_1
...*****...