Karma Di Vila Putih

Karma Di Vila Putih
Bab 5. Zaskia Bercerita


__ADS_3

Apa yang dialami oleh Mitha berbeda dengan teman-temannya. Saat itu angin dingin yang menerobos masuk semakin lama semakin kuat. Lalu terdengar suara hujan deras turun dari langit. Jacky dan Sam segera berlari ke depan untuk menutup pintu dan jendela vila. Sementara itu Zaskia masih beradu muka dengan Mitha.


Tiba-tiba cahaya kilat menyambar sebuah pohon cemara di tepi jalan dekat vila. Suaranya menggelegar. Sesaat kemudian diikuti suara dahan patah dan jatuh berderak ke tanah.


Lusy, Yuli, dan Aline menjerit ketakutan. Bersamaan dengan itu tubuh Mitha jatuh lunglai ke arah Aline. Dengan gugup Aline berusaha menangkap tubuh sahabatnya itu.


Dodo dan Wawan yang masih duduk di dekat Zaskia setelah membereskan panggangan arangnya segera meloncat dan berlari ke arah Aline. Mereka membantu menahan tubuh Mitha agar tidak melorot ke lantai. Tapi tak lama kemudian kesadaran dan kekuatan tubuh Mitha kembali pulih, meski belum bisa untuk berdiri tegak.


Jacky dan Sam segera kembali ke ruang tengah dan mendapati Mitha jatuh di pangkuan Aline. Mereka bersama Dodo dan Wawan segera memapah tubuh Mitha untuk membantunya berjalan menuju kursi makan. Yuli segera mengambil air putih hangat sedangkan Lusy berlari ke ruang depan untuk mengambil minyak kayu putih dari kotak obat.


"Mitha kenapa? Mengapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Jacky.


"Zaskia ...! Ini pasti karena ulahmu!" Dodo menjawab sambil memandang tajam kearahku. Sepertinya dia begitu marah.


"Kalian tadi berdiri saling berhadapan. Kamu berhenti bicara sebentar, tak lama kemudian Mitha jatuh pingsan! Apa yang telah kamu lakukan? Aku khawatir keberadaanmu di sini dapat melukai kita juga!" lanjut Dodo.


Seketika itu juga semua pandangan mata tertuju ke arahku yang berdiri di samping Budi. Mereka semua kemudian bergerak perlahan menjauhiku. Hanya Jacky yang masih bertahan di tempatnya, meski tidak terlalu dekat denganku. Sejenak dia memandangku dengan tatapan ragu. Sementara itu kulihat Mitha sudah sadar kembali dan memperhatikan aku dari tempat duduknya.


"Hei, Zaskia ...!" tiba-tiba kudengar Jacky memanggilku.


"Ini untuk yang kesekian kalinya kamu membuat kekacauan dan keributan pada kami. Malam ini pergilah dari hadapan kami. Pulanglah dulu. Biar kami tenang," lanjut Jacky.


Jacky menyuruhku pergi. Entah kenapa aku tidak menyukai orang seperti dia. Aku tidak suka tatapan mata itu. Aku membuang muka ke arah Mitha. Dia masih memperhatikan aku. Mitha sebenarnya anak baik. Tapi kenapa juga aku malah ingin dia menjauh dariku. Aku tidak tahu kenapa Mitha selalu menjadi korban ulahku.


"Sebenarnya aku senang kalian berkunjung ke Vila Putih ini. Aku jadi punya teman. Tapi kalau ini kemauan kalian, baiklah aku akan pergi."


Aku membalikkan badan dan melangkah pergi. Baru beberapa langkah kudengar Non Aline memanggilku. Aku membalikkan badanku lagi.


"Zaskia, kamu mau pergi ke mana? Malam-malam gini, hujan deras lagi. Ke rumah Pak Lynn?" tanya Aline. Aku hanya menggeleng.


"Terus kamu mau ke mana?"


"Ke tempatku. Aku tinggal di belakang vila ini."


"Oo, jadi keluargamu tinggal dekat sini, ya? Mungkin besuk aku bisa main ke tempatmu. Aku ingin bertemu orang tuamu."


Tiba-tiba aku melihat Mitha menoleh ke arah Non Aline sambil memegangi tangannya. Raut mukanya seperti tidak sependapat dengan keinginan Non Aline. Tapi Non Aline tidak memahami maksud Mitha.


"Bukan begitu, Mith? Juga kalian semua?" lanjut Aline.

__ADS_1


Aline minta persetujuan teman-temannya. Namun kulihat Mitha dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Sementara teman-teman Non Aline lainnya hanya diam. Mungkin mereka juga tidak setuju.


"Tidak perlu, Non Aline. Aku tinggal sendirian saja di sana."


"Di mana orang tuamu?"


"Aku sebatang kara. Aku kehilangan semua orang yang aku sayangi lima tahun yang lalu. Peristiwa tragis itu telah memisahkan aku dengan mereka."


Semua terkejut mendengar pengakuan Zaskia. Mereka merasa kasihan, tapi ada rasa takut juga jika Zaskia masih di sini.


"Peristiwa tragis ...? Ee ... apa yang terjadi denganmu?"


"Aku tidak mau mengingatnya lagi."


Suasana hening sejenak.


"Terus, bagaimana kamu bisa sampai ke vila ini?" Mitha ikut bertanya.


"Saat itu aku tidak tahu harus ke mana. Hingga datang Pak Lynn menolongku. Pak Lynn orangnya baik. Dia memperbolehkan aku tinggal di Vila Putih ini untuk membantunya merawat vila ini. Sampai aku nanti menemukan tempat yang layak untuk kehidupanku selanjutnya."


"Bagaimana dengan hantu di vila ini atau sesuatu yang sering mengikutimu? Apa kamu tidak merasakan?" tanya Mitha lagi.


Wujud hantu yang diceritakan Zaskia seperti apa yang pernah nampak dalam pandanganku. Benarkah hantu itu benar-benar ada di Vila Putih ini? Zaskia sudah lima tahun berada di sini, bisa jadi keberadaan hantu itu lebih lama. Aku tidak boleh menghalanginya. Selama waktu itu ... sepertinya dia sedang menunggu sesuatu. Apa yang dia inginkan? tanya Mitha dalam hati. Tampak kegelisahan dalam raut wajahnya.


"Ada apa, Mith?" tanya Jacky.


"Hantu itu seperti dalam pandanganku," jawab Mitha.


Tiba-tiba terasa embusan angin dingin menerpa tubuh mereka. Semakin dingin dan semakin dingin. Sementara di luar hujan masih turun dengan derasnya. Cahaya kilat pun susul menyusul terlihat dari kaca jendela. Suasana menjadi mencekam.


Yuli dan Lusy saling merapatkan tubuhnya. Kalimat terakhir yang diucapkan Zaskia tadi menjadi semacam sugesti bagi Aline dan kawan-kawannya. Ketakutan akan adanya hatu di Vila Putih ini semakin mencengkeram hati mereka. Bahkan Jacky yang tidak percaya pada makhluk tak kasat mata pun mulai terpengaruh.


"Sudah cukup, Mitha! Sekarang silahkan Zaskia untuk pulang. Tinggalkan tempat ini!" kata Jacky.


"Di luar masih hujan deras, Jack. Biarkan Zaskia di sini dulu nunggu hujan sedikit reda. Mungkin dia juga lapar, bisa kita ajak makan malam dulu," usul Aline.


"Iya, Jack. Aku juga masih butuh informasi lagi dari dia," tambah Mitha.


"Tidak usah, Mith! Aku khawatir apa yang dia sampaikan akan mempengaruhi pikiran teman-teman kita!" Jack menoleh ke arah Mitha.

__ADS_1


"Tapi ini penting, Jack! Aku tidak ingin ada korban dari hantu itu," sahut Mitha. Mereka saling bertatapan mata.


"Korban apa? Hantu itu mau mencelakai kita? Atau membunuh kita? Tidak mungkin, Mith! Tidak mungkin hantu dapat membunuh manusia!" kata Jack dengan nada meninggi, "Aku tidak mau mendengar percakapan kalian lagi!" lanjut Jack sambil melangkah pergi meninggalkan ruang tengah.


"Jacky, tunggu sebentar! Jangan tinggalkan ruangan ini!" kata Mitha.


"Memangnya kenapa? Hantu itu akan mengejarku? Kemudian mencekikku?" tanya Jacky menghentikan langkahnya kemudian menoleh sejenak ke arah Mitha.


Tapi Mitha malah diam. Dia ragu untuk menjawab pertanyaan Jacky karena dia sudah bisa menduga apa yang akan disampaikannya tidak akan bisa merubah pendapat Jacky tentang hantu itu. Jacky kembali melangkah pergi setelah Mitha tidak juga menjawab pertanyaannya.


Mitha mengalihkan pandangannya pada Aline dan berkata, "Aku jadi tahu mengapa pemilik vila sebelumnya menjual vila ini dengan harga murah."


"Iya, aku juga baru mengetahui masalah ini. Lantas apakah gangguan hantu itu begitu menyeramkan atau membahayakan sehingga vila ini dijual?" tanya Aline.


"Aku tidak tahu," jawab Mitha kemudian mengalihkan pandangan kepada Zaskia, "Zas, hantu siapakah dia?"


"Aku tidak tahu. Dia itu seperti diriku, mempunyai masa lalu yang menyedihkan," jawabku.


"Bagaimana kamu tahu?" Mitha jadi penasaran.


Aku hanya diam sambil menatap mata Mitha. Tiba-tiba kulihat roman mukanya berubah menjadi gelisah. Sepertinya dia merasa takut melihat aku. Padahal aku tidak berbuat apa-apa padanya.


"Dia datang lagi ... dia datang lagi. Jangan dekati aku ... jangan dekati aku!" kata Mitha berkali-kali sambil menunjuk ke arah Zaskia.


Dia meronta dan terjatuh dari kursi Kejadian ini membuat panik teman-temannya. Apalagi lampu di ruang mereka berada tiba-tiba berkedip-kedip sendiri. Yuli dan Lusy segera berlari menuju ruang depan. Sementara Aline dibantu Wawan dan Dodo memegangi tubuh Mitha. Sedangkan Sam dan Budi berdiri di hadapan mereka menghadap ke arah Zaskia.


"Siapa yang datang, Mith? Hantu itu?" tanya Aline.


"Iya, hantu itu ...! Zaskia ...! Gadis berwajah rusak ...! Dia ..., dia ... mau minta sesuatu!" jawab Mitha dengan suara bergetar. Meski ketiga temannya tidak melihat hantu itu, namun mereka merasakan suasana di ruang tengah menjadi mencekam.


"Ayo kita bawa Mitha pergi dari sini sebelum hantu itu melukainya!" ajak Aline pada kedua temannya.


Budi segera mendekat dan membantu mereka. Sementara itu Sam memberanikan diri untuk mengusirnya. Sam maju beberapa langkah di hadapan Zaskia.


"Zaskia! Cepat kamu pergi dari sini! Aku tidak ingin hantu itu melukai teman-temanku!" kata Sam.


"Jangan, Sam! Tinggalkan Zaskia sendiri! Ayo pergi dari sini!" teriak Aline pada Sam. Segera Budi menarik tangan Sam. Mereka berenam segera meninggalkan ruang tengah.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2