
Sam ... anak itu bernama Sam. Aku juga tidak suka padanya. Dia seperti Jacky, menyuruhku pergi. Apa sebenarnya salahku? Aku tidak pernah menakuti mereka. Tapi mereka menganggap hantu itu muncul karena aku. Aku sebenarnya kasihan pada Mitha dan Non Aline. Baiklah aku akan pulang tapi aku tidak bisa meninggalkan Vila Putih ini.
Sementara itu mereka telah berada di ruang depan. Keempatnya segera duduk bersandar pada kursi sofa. Napas mereka sedikit terengah-engah. Mitha duduk bersandar dengan menutupkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Dan perlahan kesadarannya pulih kembali. Sedangkan Sam dan Budi tetap berdiri sambil sesekali menengok ke ruang tengah. Mereka dapat bernapas lega ketika tahu Zaskia sudah tidak bersama mereka lagi.
"Aku tidak menyangka liburan kita jadi seperti ini. Vila Putih ini memang berhantu. Tapi itu hantu siapa?" tanya Aline sambil menoleh ke arah Mitha.
"Aku belum memperoleh gambaran yang jelas tentang hantu itu. Dia selalu muncul dengan wajah rusak dan kulit tubuh mengelupas semua," jawab Mitha.
"Mungkin dia arwah penasaran. Korban pembunuhan yang sedang mencari pelakunya," sahut Wawan.
"Hantu itu seperti merasa kehilangan dan sedang mencari sesuatu," kata Mitha.
"Mencari apa, Mith? Aku jadi takut, nih! Jangan sampai dia mencari korban di antara kita," kata Aline.
"Aku belum tahu, Line. Dan Zaskia ... menyembunyikan sesuatu tentang hantu itu. Seperti ada hubungan antara mereka berdua yang tidak bisa dipisahkan," jelas Mitha.
"Apa aku bilang! Hantu itu selalu datang jika ada Zaskia. Kamu, Mith, jangan gegabah juga! Kalau sampai ada korban di antara kita bagaimana?" kata Dodo.
Sesaat kemudian Jacky datang bersama Yuli dan Lusy menghampiri mereka. Jacky sempat mendengar percakapan itu.
"Aku tidak percaya hantu dapat melukai atau membunuh manusia. Itu tadi karena rasa takut Mitha sehingga dia berhalusinasi!" bantah Jacky.
"Sudah-sudah! Syukur Mitha tidak apa-apa," sahut Aline.
"Zaskia juga sudah pergi," tambah Sam. Mereka melihat ke arah ruang tengah. Lampu sudah kembali menyala normal dan Zaskia sudah tidak ada di sana.
"Dia pergi ke mana hujan-hujan begini? Kasihan dia," kata Aline.
"Biar saja! Toh rumahnya juga cuma di belakang vila ini!" sahut Dodo.
"Iya, semoga vila ini jadi tenang. Dan kita bisa menikmati pergantian tahun malam nanti," tambah Sam. Semua pun mengangguk tanda setuju.
"Omong-omong, kalian tidak lapar? Makan, yuk!" ajak Aline.
"Lapar, sih. Tapi ...," jawab Yuli sambil memandang dan memegang tangan Lusy.
"Tapi kenapa, Yul?" tanya Lusy.
"Aku masih takut kalau harus makan di ruang tengah itu," jawab Yuli. Semua saling berpandangan mata sepertinya setuju dengan perkataan Yuli.
"Hmm, kalau begitu kita makan di sini saja, di ruang depan," usul Aline.
"Oke! Yuk, siapa bantu aku mengambilnya?" tanya Jacky. Spontan Dodo berdiri diikuti oleh Wawan.
"Kalian para wanita di sini saja. Kami yang mengambil peralatan dan makanan di ruang tengah," kata Wawan. Mereka berlima segera menuju ruang tengah.
"Iya, aku sekalian menyiapkan alat panggangan jagung. Beberapa jam lagi kita akan melewati pergantian tahun. Kita rayakan dengan membakar jagung," sahut Dodo.
__ADS_1
"Tapi cuaca sepertinya tidak berpihak pada kita, Do. Hujan belum juga mereda," timpal Budi.
"Hmm, tidak apa-apa. Kita bisa bakar jagung di teras situ aja," sahut Yuli merasa senang.
Tak lama kemudian mereka kembali sambil membawa peralatan dan makanan siap santap. Aline bersama keempat teman wanitanya segera menatanya di meja. Nasi dengan lauk ayam goreng tepung.
"O, iya. Aku tadi juga membuat mi goreng. Bagi yang tidak mau nasi bisa mencicipi nasi gorengku, spesial pastinya. Kalian tidak mengambilnya sekalian?" tanya Lusy.
"Ee ..., tadi di meja makan hanya ada ini," sahut Jacky.
"Ee, mungkin masih ada di meja samping kompor. Gara-gara Zaskia datang tadi, semuanya jadi panik," lanjut Lusy.
"Tenang, aku ambilkan," kata Jacky.
Sementara itu Mitha tiba-tiba saja merasakan sesuatu datang mendekatinya dari belakang. Sebuah bayangan hitam perlahan berubah bentuk menjadi gadis manis berlesung pipit tampak dalam pandangannya.
Gadis berlesung pipit ..., dia muncul pertama kali dalam pandangan mataku saat aku datang ke vila ini. Mungkin dia wujud asli dari gadis berwajah rusak. Hantu itu tetap ada di sini meski Zaskia sudah pergi. Bagaimana ini?
Semilir angin dingin berembus pelan menerpa punggung Mitha. Seketika itu juga merinding bulu kuduknya. Kemudian bayangan itu terasa menekan punggungnya sehingga Mitha merasa berat dan susah untuk bernapas.
Jangan menghalangiku! kalimat itu terdengar lagi bergema memenuhi rongga kepala Mitha.
Dalam waktu yang bersamaan, Mitha melihat Jacky berjalan menuju ruang tengah kembali. Mitha begitu terkejut dan tidak menyangka bayangan itu kemudian bergerak melayang perlahan mengikuti Jacky. Spontan Mitha berdiri dari duduknya sambil menjulurkan tangannya ke depan. Dia berusaha memperingatkan Jacky.
"Jacky ..., minggir! Hantu itu ...," teriak Mitha.
"Hantu itu ... mendekatimu, Jack! Menyingkirlah!" pinta Mitha dengan nada suara bergetar.
Jacky menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan. Dia menatap Mitha dengan rasa kesal di hati dan berkata, "Mith, tolong hentikan omonganmu tentang hantu itu. Kamu memang bisa melihatnya. Tapi kami? Jangan sampai hal ini mempengaruhi pikiran teman-teman kita. Mereka bisa jadi takut dan tidak nyaman menikmati liburan di vila ini."
"Benar, aku setuju denganmu, Jack!" sahut Sam, "Aku khawatir juga rasa takut itu malah akan membuat kita panik sehingga melakukan hal-hal yang dapat membahayakan kita sendiri," lanjut Sam.
"Jack ... Sam, dan juga teman-teman yang lain, dengarkan aku! Hantu itu ada di vila ini! Selama ini ia sedang mencari sesuatu pada kita," kata Aline bertambah gelisah karena hantu itu semakin mendekat ke arah Jacky.
Kini hantu itu hanya berjarak lima langkah di hadapan Jacky. Tubuhnya tampak bergerak-gerak seperti sedang memperhatikan Jacky. Tapi Jacky tidak bisa melihatnya. Sesaat kemudian hantu itu menggerakkan kedua tangannya ke depan. Setelah itu Jacky merasa seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Tubuhku tidak bisa digerakkan! Apa yang terjadi? Tidak mungkin hantu itu yang melakukannya. Tidak mungkin! kata Jacky dalam hati sambil berusaha meronta. Tetapi tubuhnya tetap tidak bisa digerakkan juga.
"Jack ...! Cepat menyingkir dari tempatmu!" perintah Mitha dengan nada suara berat. Tetapi Jacky tidak bisa menjawab bahkan menggerakkan tubuhnya.
Mitha kemudian memusatkan konsentrasi pikirannya pada sosok hantu tersebut. Pandangan matanya menatap tajam pada sesuatu tak kasat mata yang berdiri di hadapan Jacky tersebut. Mitha pun segera menjulurkan kedua tangannya dan menarik napas panjang. Dia melakukan gerakan seperti sedang menahan sesuatu agar tidak maju ke depan dan sesekali berusaha menariknya ke belakang. Mitha dan sosok tak kasat mata tersebut terlihat saling tarik menarik adu kekuatan.
Jangan halangi aku! terdengar suara menggema di rongga kepala Mitha. Sosok hantu itu kemudian menoleh. Tiba-tiba wajah manis gadis berlesung pipit itu berubah menjadi wajah rusak.
Mitha begitu terkejut dan merasa ada sesuatu yang mendorong tubuhnya ke belakang dengan kuat. Mitha berusaha menahannya. Namun rasa sesak yang memenuhi dadanya membuat dia tak mampu bertahan. Tubuh Mitha terlempar ke belakang dan jatuh bergulung-gulung di lantai. Sesaat kemudian dia mencoba untuk duduk sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Terlihat darah mengalir dari ujung bibirnya.
Mitha kembali memandang ke arah sosok hantu tersebut. Dan melihat hantu itu bergerak cepat menerjang dan menembus tubuh Jacky yang berdiri tak bisa digerakkan.
__ADS_1
"Akh ...!" Jacky tersentak dan menjerit tertahan.
Udara dingin ini terasa mencengkeram tubuhku. Mataku ..., kenapa jadi berkunang-kunang begini? Dan aku ... aku tidak bisa lagi menahan berat tubuhku sendiri. Apa yang sedang terjadi? Sebentar kemudian tubuh Jacky menjadi limbung dan jatuh terkulai di lantai.
"Jacky ...!" kata Mitha dengan suara lemah sambil menahan rasa sakit di dadanya.
Serta merta Dodo bersama Aline, Yuli, dan Lusy berlari menolong Mitha. Mereka membantunya berdiri dan membawa Mitha ke sofa.
"Kamu tidak apa-apa, Mith?" tanya Aline dengan panik sambil membersihkan bercak darah di bibir Mitha.
"Aku tidak apa-apa," jawab Mitha masih dengan suara lemah, "Cepat tolong Jacky. Hantu itu telah pergi," lanjutnya.
Dodo segera mengajak ketiga teman lainnya untuk menolong Jacky. Untunglah Jacky segera sadar kembali. Mereka segera menuju sofa dan duduk bersama teman-teman lainnya menghadap meja yang telah tersedia makanan. Tapi kejadian yang baru saja mereka alami telah membuyarkan selera makan mereka.
Suasana hening dan mencekam menyelimuti ruang depan. Sementara malam pun merangkak semakin tinggi. Dan hujan di luar sudah sedikit mereda. Suara degup jantung mereka serasa berpacu dengan detak-detik jarum jam di dinding.
"Aku berharap waktu segera pagi. Aku tidak ingin berlama-lama di Vila Putih ini," kata Lusy memecah keheningan.
"Iya, aku juga. Besok pagi akan kusuruh orang rumah untuk menjemputku. Aline, aku membatalkan rencanaku untuk ikut menginap tiga hari di sini," sahut Yuli.
"Tidak apa-apa. Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini," jawab Aline, "kenapa juga ayah beli vila ini tidak tanya latar belakangnya. Kalau begini aku juga takut," lanjutnya.
"Apa Pak Lynn tidak pernah cerita tentang hantu itu? Dia jugakan yang menjaga vila ini sebelum dibeli ayahmu?" tanya Mitha sambil menoleh ke arah Aline. Aline hanya menggelengkan kepala dengan lesu.
"Juga tentang Zaskia?" tanya Mitha kembali. Semua mata memandang ke arah Mitha saat dia menyebut nama Zaskia. Sekali lagi Aline hanya menggelengkan kepalanya.
"Zaskia tidak ada di sini. Kenapa juga hantu itu tetap muncul, meski hanya Mitha yang bisa melihatnya. Tapi hantu itu mulai menganggu kita. Dan Jacky korban pertamanya. Aku khawatir hantu itu akan mengganggu yang lain juga," kata Dodo.
"Iya, Mith. Maafkan aku tidak percaya pada omonganmu. Karena memang aku dan yang lain tidak bisa melihatnya seperti dirimu. Tapi aku tadi merasakan ada sesuatu yang menabrak tubuhku. Aku merasa sangat dingin dan tubuhku menjadi lemas. Setelah itu aku tidak bisa mengendalikan tubuhku lagi," jelas Jacky. Semua memperhatikan penjelasan Jacky.
"Meski aku tidak sepenuhnya percaya pada makhluk tak kasat mata, tapi kejadian tadi seperti nyata. Bisa jadi hantu itu ada dan sedang mencari sesuatu yang dapat mencelakai kita," lanjut Jacky. Suasana tambah mencekam setelah Jacky selesai bercerita.
"Mith, benarkah hantu itu mencari sesuatu pada kita?" tanya Aline. Mitha mengangguk.
"Dan hantu itu telah menunggu lama. Seperti mau balas dendam. Tapi apa salah kita padanya?" lanjut Mitha.
"Zaskia pernah bilang kalau hantu itu punya masa lalu yang menyedihkan. Mungkin ada suatu peristiwa sebelum dia jadi hantu?" tanya Dodo.
"Ee ..., aku jadi ingat. Dulu Pak Lynn pernah cerita. Ditemukan mayat wanita dengan tubuh yang sudah rusak di hutan kecil di belakang vila ini. Mungkin dia yang jadi hantunya," jawab Aline.
"Sudah lama?" tanya Mitha.
"Beberapa tahun sebelum ayahku membeli vila ini," jawab Aline.
Mitha mengambil napas panjang dan sedikit mendongakkan kepalanya. Pandangan matanya menerawang ke langit-langit ruang depan Vila Putih.
Zaskia kehilangan keluarganya. Mungkinkah hantu itu dulunya salah satu keluarga Zaskia? Dan kenapa hantu itu mengatakan yang ditunggunya sudah datang, saat aku dan teman-temanku berlibur di Vila Putih ini? Siapa yang ditunggunya? Apakah ini hanya suatu kebetulan saja?
__ADS_1
...*****...