Kasih Fana Dikisah Gam

Kasih Fana Dikisah Gam
Bab 21 Hari pertama


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang membangunkan seluruh makhluk dimuka bumi untuk beribadah padanya. Begitu pula dengan kedua pengantin baru yang kini masih terlelapĀ  diatas kasur sambil memeluk satu sama lain menghangatkan diri.


Zahara yang mendengar suara adzan langsung membuka matanya dan memandang Zein yang masih tertidur pulas dalam dekapan-nya. Dengan malu-malu Zahara menatap lama wajah Zein dan mencium kening-nya lama sebelum beranjak dari kasur.


Kakinya menyentuh lantai kamar dengan pelan dan merasakan nyeri yang luar biasa diantara selangkangannya. Dia tak pernah mengira akan sesakit ini walaupun tak bisa dipungkiri rasa nyaman dari sentuhan Zein tadi malam membuat dirinya seperti terbang keatas awan. Dengan tangan yang memegang erat sarung ditangannya Zahara mulai berjalan dengan menahan rasa sakit yang amat perih dan bergegas kedalam kamar mandi membersihkan diri sebelum membangunkan Zein. Zahara melangkah-kan kakinya pelan dengan kain sarung yang menutupi tubuh-nya.


Diluar kamar ada begitu banyak orang yang masih tertidur pulas, tampak raut wajah kelelahan karna acara kemarin masih tampak jelas diwajah mereka. Dengan langkah kaki kecil Zahara berlalu kekamar mandi tanpa suara.


Zahara mulai mengguyur tubuhnya pelan dengan air yang ada didalam bag. Seketika bulu kuduk Zahara berdiri merasakan air yang sangat dingin menyentuh kulitnya. Usai membersihkan diri Zahara mengambil air wudhu dan memakai sarung yang membaluti tubuhnya dan kembali kedalam kamar.


Tampak Zein masih tertidur pulas tanpa terganggu sedikitpun Dengan wajah sumringah dan malu-malu Zahara memberanikan diri mendekati sang suami dan duduk di samping-nya, lama Zahara memandangi wajah tampan Zein, Zahara kemudian membangunkan Zein untuk mengajak sholat berjamaah.


"Abg bangun yuk, udah adzan kita sholat dulu" Ujar Zahara dengan perasaan yang malu-malu kala kata itu terucap dari bibirnya.


"Hmmm" Zein menjawab ajakan Zahara dengan sedikit bergeliat manja


"Kita sholat bareng ya" Ucap Zahara kembali dengan tersenyum manis


"Sebentar dik" Ucap Zein dengan tubuh yang tak ingin keluar dari selimut dan meletakkan kepalanya dipangkuan Zahara.


Zahara tersenyum geli mendapati tingkah manja dari sang suami dan mengelus pelan rambut Zein.

__ADS_1


"Abg kamu ngapain? " Tanya Zahara dengan suara tertawa kecil merasakan geli diperutnya.


"Abg" Zahara yang merasa geli langsung mendorong kepala Zein yang sejak tadi tak berhenti menciummi perut-nya.


"Ya udah... Abg mandi dulu ya Zahara" Ucap Zein setelah sedikit sadar


"Iya bg" Ucap Zahara mengangguk pelan.


Zein berlalu kekamar mandi setelah memeluk Zahara puas. Zahara tersenyum malu-malu sembari menatap dirinya dari pantulan kaca merasakan degupan jantung nya yang kian tak berhenti.


Tangan Zahara mulai membersihkan tempat tidur.


"Kamu mau menggoda aku ya dek" Ucap seseorang memeluk Zahara berhasil mengagetkan Zahara seketika.


"Astaghfirullah kaget aku bg" Zahara memegang dadanya


Zein hanya tertawa pelan dengan tangan yang masih memeluk Zahara dari belakang. Zahara merasakan deru napas dari Zein dan rambut yang menitikkan air tepat di leher Zahara dan itu berhasil membuat Zahara terdiam seketika.


"Kamu kok diam dek? " Tanya Zein kembali dengan tubuh yang masih memeluk Zahara


"Eh e-enggak ada bg" Lamunan Zahara buyar "kita sholat dulu yuk bg" Ajak Zahara mencoba melepaskan pelukan Zein

__ADS_1


"Ayok Zahara" Ucap Zein dan melepaskan pelukan-nya.


Zahara dan Zein memakai baju mereka masing-masing dengan tetap diam dan mengenakan pakaian ibadah dalam tenang. Kini, mereka berdua sudah siap untuk menunaikan sholat subuh.


Zein berdiri didepan Zahara sebagai imam dari sang istri. Meski, Zein baru masuk Islam dan surah yang ia bacakan masih terbata-bata dan hanya memakai surah pendek sebagai sani, Zahara tetap senang, sebab ini menandakan Zein memang bersungguh-sungguh atas keinginan untuk memiliki dirinya dan tuhannya.


'Assalamu'alaikum' ucap mereka menutup sholat dan melantukan doa-doa kepada sang Pencipta alam semesta. Zahara mendengarkan segala lantunan doa yang diucapkan Zein dengan tangan yang menengadah meminta dikabulkan dengan suara Aamiin bertubi-tubi terucap dari lisannya.


Segera setelah usai berdoa, Zahara menyambut tangan Zein untuk menyalami-nya. Zein tertawa pelan kala dia mengingat kata-kata pemuda desa ini yang mengatakan.


'Habis sholat langsung balik belakang dan cium kening istrimu' tapi pemuda itu tak mengatakan ada sesi salam begini. Jadi, dia merasa sedikit malu kala hendak mencium kening sang istri tapi terhenti karna Zahara yang tiba-tiba menarik tangannya.


Zahara menciummi tangan Zein merasakan haru yang begitu luar biasa dari dalam dadanya dan menatap Zein di depan-nya. Seketika mata mereka bertemu dan Zein kini mulai menciummi kening Zahara pelan.


Sudah lama Zahara menantikan situasi ini. Kilas ingatannya kembali pada masa lalu dimana saat dia bersama santri-santri yang lain tengah membahas bab pernikahan dipesantren dulu. Memandang mata suami dengan malu-malu, menyentuh kulitnya, dicium, dibelai dengan lembut kemudian melakukan hubungan jima'. Semua penjelasan itu berhasil membuat mereka berpikir jauh dan tersenyum malu-malu.


Kini, Zahara telah merasakan kenikmatan yang telah dia pelajari itu. Zein melepas kecupan-nya dan menatap Zahara yang sangat cantik dalam balutan mukenah putih itu.


Mata Zahara kini tanpa malu-malu memandang dirinya, tidak seperti dulu ketika Zein hanya bisa mencuri-curi pandangan pada Zahara. Kini wanita cantik itu sudah berada tepat duduk didepannya.


Zein tersenyum senang menatap Zahara dan membawanya kedalam pelukan-nya. Sementara Zahara kembali membalas pelukan Zein dan larut dalam situasi yang membuatnya nyaman itu.

__ADS_1


__ADS_2