
Air mata Zein mengalir membasahi pipi nya menyusuri bercak merah bekas kejadian pagi itu. Seketika hati Zein tergesir hebat sembari menatap Zahara yang setia mendampingi dirinya saat ini, tangannya menarik pelan Zahara kedalam pelukannya merangkul erat tak kuasa menahan rasa sedih yang menimpanya.
Harta satu-satunya yang ia punya. Kini, telah diambil alih para tentara tak bermoral itu. Entah bagaimana ia akan mencari harta untuk membiayai kepergian kali ini. Sungguh, meninggalkan Zahara dalam kondisi ini sama saja seperti mendekatkan mereka pada kematian.
Zein melepas dekapan-nya dan memandang lekat-lekat wajah sang istri didalam balutan kerudung hitam yang ia kenakan. Perlahan tangannya mengelus pelan wajah Zahara agar berhenti menangis dan percaya padanya, tentang apapun yang akan terjadi Zein akan terus berada disamping-nya.
"Kami tidak bisa membantu-mu Zein, seperti yang kau tau, ruko kita sudah diambil alih" Lukman membuka suara
"Hanya sawah dibagian timur dekat laut yang kami punya" Ucapnya kembali dan terputus
"Seolah mencari untung, para tentara bersekongkol dengan pemerintah untuk menaikkan tarif tiket keluar kota dan membeli dengan harga yang sangat murah segala apa yang bisa dijual, baik emas bahkan tanah-tanah yang sudah siap ditanami" Salma menambahi ucapan Lukman dengan wajah yang menahan marah hingga rahangnya mengeras dengan air mata yang berlinang.
"Dari banyaknya harta yang sudah ditabung selama ini, seolah semua hanya sia-sia. Kita bagaikan jagal hina yang mengais harta untuk disuapi pada tuan tak berotak di tanah kita sendiri... Rumah kita sungguh sudah tak aman lagi bagi kita sang pemiliknya" Tambah Salma dengan mata melotot murka.
Semua diam mendengar penuturan Salma. Tak ada satu pun yang tak merasakan aura emosi dari setiap untaian kalimat yang dia ucapkan, bagaikan menjadi sebuah kata motivasi untuk menghancurkan para segerombolan pria bengis itu. Tetapi, tak ada yang bisa berkehendak, tak ada kata yang bisa terucap, tak ada kaki yang bisa menuntun mereka untuk membela hak mereka. Sungguh, mereka kala telak, kalah jumlah dan kalah senjata. Tinggallah kata diam yang menjadi kesimpulan dari akhir cerita kali ini.
__ADS_1
"Maaf kak Zein... Rumah Pon juga sudah diobrak-abrik, seluruh harta yang kami punya sudah dirampas dengan kejam dari kami" Tambah sang paman menatap iba pada Zein.
"Iya pon, kami juga paham, kondisi ini sungguh diluar perkiraan kita... Saya paham" Jawab Zein dengan mata sendu.
Suara adzan dzuhur menggelegar terdengar begitu menyejukkan hati. Semua orang pamit kerumah mereka masing-masing mencari solusi untuk mencari jalan rezeki masing-masing dan bersiap untuk bertemu dalam berbagai kemungkinan dimasa depan, berusaha keras untuk menghindar dari berbagai masalah yang ada. Begitu juga dengan Salma dan Lukman, mereka berdua bergegas untuk menjual tanah yang mereka punya dan akan pergi meninggalkan tanah Aceh setelah berkemas. Mereka tak bisa membantu Zein karna situasi yang tak mendukung dan harta yang terjual hanya bisa membiayai dua orang dalam perjalanan sampai tiba ditempat. Sungguh, mereka berdua tak ingin membiarkan Zahara dan Zein dilanda dalam kesusahan seperti ini. Tapi, mereka tak berdaya... Mereka tak bisa membantu.
Sementara itu, Zein masih menyandarkan punggungnya dengan Fadhil yang dia peluk erat dalam dekapan-nya. Dia masih terduduk lesu ditemani Zahara dan sang ibu mertua.
"Bg... Pakai saja ini untuk kamu pergi, Adik tak mengapa, nyawa abg saat ini yang paling utama" Ujar Zahara memaksa Zein untuk kesekian kalinya. Menyerahkan cincin emas 10 gram mahar pernikahan-nya dan uang 50 ribu ditangannya pada Zein.
"Abg" Tegur Zahara kembali pada Zein yang masih memeluk erat sang anak sulungnya
"Nak... Ibu tau rasa cintamu sungguh amat besar pada Zahara, melihat tekatkmu kemarin ibu yakin kau tak main-main ingin membawa kami bersama-Mu. Tapi, nak" Ujar sang ibu mertua pelan sembari memegang pelan lengan Zein
Seketika Zein menatap sang ibu mertua dan mendengarkan apa yang akan diucapkannya "Kamu bukan suku dari kami, kami tentu akan aman dalam beberapa waktu meski dalam suasana kacau seperti ini. Tapi, lain hal dengan dirimu, jika tak pergi tinggalkan tanah Aceh pada malam hari ini jua, kau sudah pasti tak akan bisa kami lihat kembali dalam keadaan bernafas" Tutur sang ibu mertua dan berhasil membuka mata hatinya
__ADS_1
"Seperti dirimu yang tak ingin meninggalkan kami disini, seperti itu pula rasa besar hati kami ingin kau tinggalkan tanah ini secepatnya... Tak ada keuntungan apapun yang akan kita dapatkan jika kau terus memaksa untuk tinggal" Zein menatap sang ibu dan menundukkan kepalanya merasakan beningan air mata keluar perlahan dari sana.
"Ibu akan menjaga Zahara dan Fadhil serta bayi-mu... Kau tak perlu risau, saling percaya dan berdoa saja bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik" Tambah-nya.
Zein menatap intens mata sang ibu mertua, tampak rasa sedih dan kasih sayang terpancar jelas dari sana. Zein kemudian menatap sang istri yang sudah memerah wajahnya karna air mata yang terlalu banyak ia teteskan. Perlahan tangan Zein memegang kedua tangan Zahara tanpa melepaskan Fadhil dari pangkuan-nya.
"M-maafkan aku Zahara... Aku tak berguna sama sekali untukmu dan keluarga kita" Zein membuka suara menyesal tak bisa melindungi Zein.
"Jangan bicara begitu bg... Aku ikhlas karna Allah dan percaya atas apa yang direncanakan-nya" Zahara menjawab mantap meyakinkan sang suami.
"Aku berjanji Zahara, ibu" Tuturnya memandang sang ibu dan Zahara secara bergantian.
"Setelah aku pergi dari sini, dalam jangka waktu yang cepat akan kukirimkan uang untuk kepergian kalian... Bersabarlah menunggu, akan ku cari uang untuk menyelamatkan kalian dari kondisi ini" Zein mulai berhenti menangis dan menatap mereka semua secara bergantian
"Menyusul-lah setelah kukirimkan uang" Tambah Zein dan dianggukkan oleh mereka
__ADS_1
Zein menatap mereka dengan semangat yang membara dan hati yang masih tak rela. Tapi, memang benar kata sang ibu mertua. Dengan dirinya yang terlalu memaksa untuk tetap tinggal disini tentu tidak akan menjadi sebuah keuntungan sama sekali.
Segera Zein pergi kepasar untuk menjual cincin emas milik Zahara. Mahar yang dia berikan pada Zahara. Benar saja, harga emas yang dibeli di pasar sangat murah. 1 gram hanya dihargai Rp 40.000. Dengan berat hati Zein menjual emas milik Zahara dan segera pergi kembali menuju rumah