Kasih Fana Dikisah Gam

Kasih Fana Dikisah Gam
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini


__ADS_3

Sayup-sayup Zein mendengar suara isak tangis yang bersautan seperti mengelilingi dirinya.


"Abg.... " Suara tangis wanita didekat telinganya terdengar semakin jelas seperti ini adalah sebuah kenyataan.


"Abg.... " Suara wanita itu terdengar kembali ditelinga Zein, tapi kali ini ada tangan yang menggoyangkan tubuhnya seolah meminta untuk bangkit, gerakan tersebut berhasil membangkitkan Zein dari pingsannya.


Zein yang masih belum begitu sadarkan diri memandang heran dengan tubuh yang menahan sakit menatap wanita yang membangunkan dirinya yang tak lain adalah Zahara sang istri tercinta.


Wanita itu terduduk tepat disamping kepalanya sembari beberapa kali mengusap air matanya pelan dengan ujung baju yang ia kenakan. Tampak, sudah banyak orang didalam rumah kala dia bangun dari pingsannya. Ada Salma yang duduk bersila disamping Lukman entah kapan sadar-nya. Dia tak tau jelas apa yang telah terjadi tadi sampai keluarga Salma juga berada di sini dan mengelilingi dirinya dengan raut wajah yang sendu.


Dengan rasa syukur Zahara kembali menatap sang suami dengan air mata mengalir ternyata Allah masih memberikan dirinya kesempatan untuk merangkul sang suami yang sekarang penuh dengan lebam dan di penuhi darah di sekujur tubuh-nya. Zahara kini membantu Zein yang berusaha bangkit dari tidurnya untuk bersandar ke dinding rumah.


"Apa yang terjadi? " Tanya Zein setelah duduk dibantu Zahara.


Semua mata saling memandang menatap satu sama lain mengingat bagaimana kejadian tadi pagi yang begitu mengagetkan mereka. Ayah Salma mulai membuka suara dan menceritakan bagaimana kejadian tadi bermula.


Tadi pagi tepat pukul delapan tiba-tiba kampung ini kedatangan tentara berseragam lengkap dengan senapan di masing-masing tangan mereka. Mereka datang entah apa gerangan berkendarakan mobil militer dan mencari-cari dimana rumah kepala desa.

__ADS_1


Saat itu seluruh masyarakat sedang berada diluar rumah bergegas untuk membantu memperbaiki sawah masyarakat yang rusak karna kekacauan tadi malam. Ayah Salma selaku kepala desa langsung melangkahkan kakinya dengan bertanya-tanya apa yang akan mereka perbuat kembali.


Seketika saja kala Ayah Salma maju tentara tersebut langsung meminta Ayah Salma menuntunya kekediaman mereka. Meski, bingung dan takut sembari menerka-nerka apa yang akan terjadi, ayah Salma tetap melangkahkan kakinya memimpin jalan diikuti mobil militer dibelakang-nya.


Sesampainya didepan rumah dua tentara langsung masuk kedalam rumah kepala desa mendahului dirinya. Dengan perasaan kaget ayah Salma segera bergegas masuk kedalam rumah mengikuti dua tentara yang lantang itu.


"Diam disini" Ucap satu tentara yang terduduk di bangku sopir menghentikan dirinya


"Jika kau tak mau dua orang ini mati, maka diam disini" Ancam nya sembari menunjuk dua orang yang berlumuran darah terkapar diatas mobil dengan tatapan iblisnya.


Mendengar itu ayah Salma langsung terdiam mengurungkan niatnya dan melangkah lebar mendekati mobil melihat siapa yang dimaksud tentara itu. Lama dia memperhatikan siapa dibalik orang yang berlumuran darah itu akhirnya dia mengetahui bahwa dua orang pria ini tak lain adalah saudaranya sendiri, suami dari Zahara dan Salma.


"Tidak.... Jangan ambil semua" Ayah Salma teekjeur bukan main kala melihat kotak perhiasaan dan dompet berisikan uang masyarakat beserta uang miliknya ditangan dua tentara itu.


"Kami mau makan apa? Ini uang masyarakat" Ayah Salma mencoba menghentikan dua tentara itu dengan sekuat tenaga


Bugg ayah Salma terjatuh usai di dorong dan ditendang dengan kerasnya oleh para pejabat berseragam yang tak lain adalah tikus masyarakat.

__ADS_1


"Jika tak ingin nyawa mereka melayang maka diam dan jangan bergerak" Ucap tentara itu sembari meletakkan senapan tepat dikepala Lukman yang masih tak sadarkan diri.


Lemah... Hanya itu kata yang tersisa dari situasi ini, melihat senjata api yang terbuat dari besi itu diagungkan seolah menjadi satu alat yang menjadi penentu nyawa manusia. Manusia yang memiliki alat ini ditangannya seolah-olah menjadi pengendali seluruh insan dan menjadi malaikat kematian. Terpaksa ayah Salma diam di tempat dan berhenti memaksakan kehendaknya untuk mengambil harta milik dirinya, harta milik masyarakat desa demi menyelamatkan dua manusia yang tak lain adalah anaknya.


"Bagus" Ucapnya kembali melihat sang kepala desa dengan mudahnya dikendalikan.


"Cepat" Perintah tentara yang terduduk diatas mobil pada dua tentara itu agar segera naik keatas mobil.


Dengan mengacungkan tangan, dua tentara itu mulai mengangkat Zein dan Lukman bergantian kemudian mengayunkan-nya dan langsung melemparnya dari atas mobil keatas tanah yang penuh kerikil kecil berwarna coklat itu.


"Ayo pergi" Ucap nya dan meninggalkan sang kepala desa dengan mata yang masih menatap mereka durjana.


'Tak habis pikir ku bagaimana bisa Nusantara melakukan ini pada tanah yang membantu kemerdekaan mereka, masyarakat yang awalnya bukan bagian dari negara Nusantara. Bersatu hanya karna ingin membantu kemerdekaan Nusantara. Tapi, siapa sangka kala binatang barat itu sudah dihabisi tanpa sisa. Kini, Nusantara juga mendapat semangat untuk menjajah. Segerombolan manusia miskin lagi hina yang merasa gagah itu dengan tanpa malu dan pikir panjang melakukan penjajahan pada daerah ini, daerah kaya sebagai tabung mereka, daerah dengan masyarakat kuat karna mereka lemah tak berdaya melawan Belanda. Tak ingatkah mereka kala bapak mereka memohon untuk membantu kemerdekaan mereka dengan wajah tanpa malu meminta para pasukan gagah Aceh untuk dikirimkan pada mereka padahal Aceh sama sekali tak mendapatkan keuntungan. Bahkan, kala kemerdekaan Nusantara diragukan, Aceh kembali membantu menyiarkan melalui radio pintu rime Gayo karna Nusantara miskin tak berharta. Mereka sungguh keturunan angkuh yang merasa bangga sudah pernah menjajah layaknya masyarakat barat. Sungguh para pejuang Aceh salah mengambil langkah untuk membantu manusia yang seharusnya tak perlu dikasihani' Darah ayah Salma mendidih dengan urat leher yang membentuk lehernya, wajahnya memerah menahan tangis tak terima dengan segala apa yang terjadi pada dirinya, anaknya, menantunya, masyarakat dan seluruh saudara nya yang kini pasti tak luput dari perbuatan kasar dari pasukan militer durjana ini.


Matanya terus memandang pasukan tentara itu sampai hilang dari pandangannya sembari mengucapkan sumpah serapah serta doa yang dia panjatakan kepada tuhan yang maha Esa agar sang tuhan membalas segala apa yang mereka lakukan. Meski, tidak saat ini semoga kelak tuhan meluluh lantakkan mereka tanpa ampun dimuka bumi ini.


Kini, matanya menatap Lukman dan Zein yang masih belum sadarkan diri, darah segar keluar begitu saja dari sela-sela luka mereka. Ayah Salma melangkahkan kakinya mendekati Zein dan Lukman memastikan bahwa mereka berdua masih punya nyawa untuk membalaskan dendam tanah ini. Membalaskan dendam dari luka dan ketidakhormatan yang mereka dapatkan saat ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah" Lirih-nya lega dan memandang langit menghentikan air matanya, tak ia ijinkan air mata itu menetes keatas tanah kebanggaan-nya ini karna sebuah penghinaan yang mereka dapatkan.


__ADS_2