
Bulan berlalu begitu cepat sampai hari kemarin terasa hanya seperti sebuah mimpi saja. Zein dan Lukman seolah mendapat berkah atas pernikahan mereka. kini, mereka dapat membuka ruko sembako masing-masing. perlahan perekonomian mereka sudah mulai membaik dan berita baik pun terdengar dari keluarga kecil Zahara dan Zein.
Merasa diberkati atas agama ini, Zein tak berhenti mengucapkan rasa syukur yang sangat amat dalam setiap harinya, sampai ketika malaikat kecil mereka lahir kemuka bumi ini.
"Terima kasih Zahara" Zein mengecup haru menatap Zahara bergantian dengan bayi yang mereka peluk.
'Ahmad Al-fadhil' itulah nama bayi kecil mereka.
Dengan rasa syukur yang amat besar, Zein kemudian tak lupa bersyukur dan mengadakan acara 7 hari anak-nya itu.
Zein kini menjadi pribadi yang lebih baik dengan Zahara yang terus berada disamping nya, mengajari dan saling menasehati satu sama lain.
"Alhamdulillah ya Zahara" ujar Salma menatap Bayi Zahara.
"Iya Salma... semoga cepat menular ya" tambah Zahara pada Salma yang kini belum saja ada tanda kehamilan pada dirinya.
"Aamiin" jawab Salma dengan senyuman yang terpancar dari wajahnya.
....
5 Tahun berlalu, seiring waktu berlalu itu pula Zahara dan Zein selalu mengingat dan menyaksikan hal penting atas pertumbuhan anak sulung mereka. Kebahagiaan mereka sudah sangat cukup saat ini.
"Kamu kok bisa se subur itu sih Zahara" Salma menepuk pelan lengan Zahara dengan mata yang memandang Fadhil didepan halaman.
__ADS_1
Zahara tersenyum kecil dengan mata yang menunduk-nunduk malu menatap Salma sembari membenarkan penutup perut buncit nya pelan.
"Syukuri aja Salma, Allah kasih anak untukku dan Allah kasih kamu harta yang lebih melimpah dari kami" ujar Zahara menanggapi perkataan Salma untuk menenangkan-nya.
"Kira-kira ini bakalan laki lagi atau perempuan ya" tanya Salma sembari mengelus pelan perut buncit sang sahabat dengan perasaan sedikit iri karna sampai saat ini dia belum dikaruniai seorang anak.
"Belum tau Sal" jawab Zahara membiarkan tangan Salma mengelus perutnya.
"Oh iya, udah berapa bulan? " Tanya Salma
"udah tujuh bulan sih Sal" sambung Zahara dan mendapati wajah Salma yang sedikit murung.
"Sabar Salma... sebentar lagi kamu juga bakalan dikasih momongan kok" Zahara memberikan semangat.
"Waalaikum salam" ucap Zahara dan Salma bersamaan.
Melihat siapa yang datang, segera Zahara bangkit dari duduknya menyambut sang suami.
"Loh kok udah pulang, Lukman mana? " tanya Zahara mendapati Lukman tak ada.
"Dia masih ada pelanggan tadi, jadi aku disuruh pulang duluan karna katanya bakal sedikit lama" jelas Zein dan di anggukkan oleh mereka berdua tanda paham.
"Udah mau gelap juga, aku pamit pulang duluan ya Zahara" ucap Salma pamit
__ADS_1
" Gak nungguin disini aja Sal? " ajak Zahara
"Gak usah deh Zahara, aku belum masak" jawab Salma san berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Ayahhh" Fadhil berlari menuju sang ayah dengan langkah kaki kecilnya.
"Hiyaaa Anaka ayah" tangkap Zein dan memeluk Fadhil sembari menciummi wajah sang anak.
"Ayo masuk dek" Ajak Zein pada Zahara yang berdiri memandangi mereka berdua
"Ayo bg" jawab Zahara dengan wajah tersenyum menatap Zein.
"Sudah pulang kamu nak? " ucap sang ibu basa-basi kala melihat mereka bertiga masuk.
"Iya mak" Jawab Zein dan memberikan bungkusan koran ke depan sang ibu mertua.
"Apa ini? " tanya ibu
"Tadi ada yang jualan dijalan jadi aku beli mak" Jawab Zein
"Oh iya iya" Tangan sang ibu membuka dengan telaten dan melihat kue basah dari dalam koran itu, segera Fadhil melepas pelukannya dan mendekati nenek.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Fadhil yang dengan lincah nya mendekati sang nenek yang sedang memegang kue. Suara gelak tawa mereka terdengar sangat bahagia dari dalam rumah. Terlebih ibu Zahara, sang ibu sempat sangat risau akan masa depan sang anak yang dahulu kian menolak semua lamaran dan tak kunjung ingin menikah. Melihat kehidupan bahagia yang kini Zahara dapatkan dari Zein membuat dirinya tak berhenti bersyukur dan memuja sang Maha kuasa.
__ADS_1
Dia sudah cukup dengan kebahagian dan kehidupan ini. Melihat sang anak hidup dengan nyaman bersama lelaki yang tepat dan selalu membuatnya tertawa bahagia, itu saja sudah cukup bagi sang ibu. Segala penderitaan dan kekhawatiran dimasa lalu sirna begitu saja karna melihat Zahara yang kini mendapat suami yang baik seperti Zein. Bahkan, jika Tuhan mencabut nyawanya saat ini jua, dia sudah sangat siap dan akan menghembuskan napasnya tenang dengan senyum yang mengambang.