
Hari-hari berlalu begitu cepat, kebahagiaan keluarga kecil ini semakin bertambah besar setiap harinya. Zein dan Zahara terus menjalani kehidupan suami istri yang penuh dengan keberkahan. Meski, tak bisa dipungkiri harta yang mereka miliki tidak begitu banyak dari Salma dan Lukman.
Tapi siapa sangka kebahagiaan yang baru dirakit beberapa tahun itu sayangnya tak berlangsung begitu lama atas kehendak Tuhan yang maha Esa.
Tahun 1999 gejolak Gam Gerakan Aceh Merdeka kembali meriuhkan masyarakat Aceh, Nusantara kembali mengirimkan tentara bersenjata lengkap dengan wajah beringas ketanah Aceh. Mendirikan kamp militer dikampung-kampung dan merebut sebagian besar rumah dan usaha masyarakat secara paksa. Aceh kini menjadi sasaran dari negaranya sendiri setelah membantu kemerdekaan nusantara.
Begitu banyak politik dan siasat para petinggi dan pemerintah yang tak bisa dipahami oleh masyarakat Aceh. Masyarakat yang sekian lama telah hidup damao setelah penjajahan Belanda. Kini, kembali dijajah oleh negara sendiri. Penderitaan dan rasa pilu yang begitu dalam terus saja datang silih berganti seolah tak membiarkan manusia untuk senang dan hidup dalam tenang.
Sore itu di desa Pedemun. Masyarakat Gayo penduduk asli daerah Aceh kembali dilanda kabar yang menggemparkan seluruh Aceh dan sekitarnya. Dengan perasaan yang berkecamuk seluruh masyarakat kini berlarian dan keluar tergesa-gesa dari rumah mereka masing-masing atas perintah tentara nusantara yang dengan wajah kejam dan tatapan mata tajam menggedor pintu-pintu rumah dengan keras bagaikan gada yang dipukul keras pada papan renyot itu.
Seluruh masyarakat telah berkumpul dihamparan sawah yang baru saja ditanami padi itu dengan perasaan yang bingung dan takut seraya melindungi keluarga masing-masing.
Zahara yang sedang mengandung itu bersusah payah dibantu oleh sang ibu dan Zein memapahnya keluar rumah dengan Fadhil yang digendong Zein.
"DUDUK" Teriak salah satu tentara dengan lantang dan menggelegar.
Seketika semua masyarakat duduk bersila dilumpur sawah hingga rusaklah sudah tanaman padi yang baru saja ditanami itu.
__ADS_1
Dengan perasaan takut Zahara juga mendudukkan dirinya bersama sang ibu dan suami dilumpur yang kotor mengikuti perintah sang tentara. Suara riuh takut dan tangis dari anak-anak kecil memenuhi malam itu.
Malam yang sungguh menyakitkan, malam yang memberikan rasa penderitaan dan mental yang terluka bagi setiap masyarakat Aceh. Mereka duduk layaknya segerombolan domba diantara serigala yang akan siap menerkam. Tampak wajah kejam tak berprikemanusiaan dengan baju seragam hijau seperti manusia terhormat itu mengelili seluruh masyarakat dengan nyala obor di masing-masing tangan mereka menyinari wajah pilu masyarakat Aceh.
"CEPATTTTT" Teriak seseorang mengalihkan seluruh pandangan ke asal suara. Seketika saja tangan kasarnya mengayunkan keras senapan yang dipegangnya memukul pria tua yang berjalan lambat didepannya.
Anak-anak, orang tua dan anak muda yang berada di tempat itu terkejut bukan main melihat sang pria tua itu jatuh terhempas ke lumpur akibat pukulan keras dari tentara tak berprikemanusiaan itu. Suara tangis kembali menyeruak memenuhi malam itu, bagaimana bisa sesama manusia dalam satu negara memperlakukan rakyat nya seperti ini?.
"DIAMMM" Teriak salah satu tentara dengan pakaian yang sedikit berbeda dari tentara lainnya, kemungkinan besar dialah pemimpin dari segerombolan serigala ini.
Dalam hitungan detik semua masyarakat terdiam seketika, para orang tua langsung menenangkan anak mereka bahkan menutup mulut hanya agar tidak meninggalkan suara dan menimbulkan kemarahan bagi para serigala buas didepan mereka.
Zein merangkul Fadhil dan Zahara erat didalam dekapan-nya dengan sang ibu yang juga memeluk erat Zahara duduk bersila didalam petakan-petakan sawah sembari menatap lurus ke arah komandan pasukan tentara yang akan membuka suara. Entah apa yang akan dia sampaikan. Pastinya, dengan kedatangan mereka kembali ke daerah Aceh bukanlah hal yang bagus.
"Dengar kalian semua, ini adalah pengumuman dan titah dari sang presiden" Ucapnya membuka suara.
Presiden... Seorang pemimpin besar dari sebuah negara, dianggap sebagai ayah dari seluruh rakyat, karnanya menghormati dan menyayanginya adalah sebuah keharusan sebab ia adalah sang ayah. Tapi, apakah sang ayah akan membuat anaknya dalam kondisi seperti sekarang ini?. Bahkan, saat dimana masyarakat dan negara memerlukan. Tapi, sang ayah malah pergi hilang tak bersuara bagai ditelan bumi tanpa jejak sirna begitu saja.
__ADS_1
"Demi ketertiban negara dan Nanggroe. Seluruh masyarakat yang bukan asli Aceh dan Gayo harus segera meninggalkan provinsi Aceh dalam jangka waktu satu hari dan akan diperiksa kembali besok malam" Tuturnya dengan lantang.
Seketika Zahara menatap Zein dan ibunya bergantian mendengar penuturan dari tentara didepan-nya.
"Tak ada tanpa terkecuali, semua harus sudah pergi besok hari" Tambahnya kembali.
"Sekarang bubarrrr" Teriaknya menutup kerusuhan yang dibuatnya. Pertemuan singkat tak beradab kurang dari 5 menit itu selesai ditutup.
Dengan perasaan yang berkecamuk Zahara masih terduduk didalam genangan air sawah menatap sang suami yang juga menatapnya pilu dan bingung dengan situasi sekarang ini.
"Nak" Tegur sang ibu membuyarkan lamunan mereka.
Seketika lamunan mereka buyar dan beranjak dari tanah dengan saling menggandeng tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Kaki mereka terus melangkah pelan menuju rumah papan milik sang ibu.
"Zahara... Kamu jangan bengong dulu, kita bakalan cari jalan keluar tapi nanti setelah kita bersih-bersih yaa" Ucap Zein menenangkan Zahara dengan tangan yang menangkup wajahnya.
Tampak mata cantik itu sedang menahan air mata tapi memilih mengangguk pelan dan berlalu masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri sebab kejadian tadi yang mengharuskan mereka untuk duduk dilumpur sawah. Satu persatu secara bergiliran mereka siap membersihkan diri, sampai tiba sekarang sudah pukul sebelas malam.
__ADS_1
Fadhil sudah terlelap dan tertidur pulas didalam kamar, tinggal mereka bertiga yang masih terjaga dan duduk diruang tamu sederhana bermodalkan tikar lusuh berwarna kuning yang terbuat dari daun mencoba mencari solusi yang baik untuk tetap bersama dalam situasi ini.
Mereka duduk dalam diam sembari menatap satu sama lain tak tau apa yang akan dibicarakan, sang ibu memandang Zahara dengan perut buncit nya sedang terduduk disudut rumah dengan tangis yang sudah terdengar suara isak-nya. Sang ibu yang jua tak kuasa menahan air matanya mencoba menatap langit-langit rumah untuk menghentikan air mata yang akan mengalir.