Kasih Fana Dikisah Gam

Kasih Fana Dikisah Gam
Seragam Hina


__ADS_3

Mereka duduk dalam diam sembari menatap satu sama lain tak tau apa yang akan dibicarakan, sang ibu memandang Zahara dengan perut buncit nya sedang terduduk disudut rumah dengan tangis yang sudah terdengar suara isak-nya. Sang ibu yang jua tak kuasa menahan air matanya mencoba menatap langit-langit rumah untuk menghentikan air mata yang akan mengalir.


Lama Mereka terdiam dalam hening, Zein kini mulai angkat suara usai memandangi sang istri dan ibu mertuanya.


"Ibu, Zahara, saya rasa saya tidak bisa berpisah dengan kalian yang sudah saya anggap sebagai keluarga. Situasi ini sungguh sangat mencekam dan kita seharusnya tidak saling meninggalkan" Tutur Zein


Zahara dan sang ibu mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Zein dengan seksama sembari menepis pelan air mata yang sudah mengalir dengan ujung baju tangan.


"Kita harus pergi meninggalkan Takengon bersama-sama" Tuturnya dengan mantap.


Seketika Zahara dan sang ibu menatap Zein terkejut. Menyadari akan hal itu segera Zein menjelaskan bagaimana cara agar dia bersama sang keluarga bisa ikut serta.


"Meski dengan uang yang sudah kita tabung tidak bisa menghasilkan begitu banyak uang. Kita bisa menjual ruko" Jelas Zein


Zahara yang mendengar penuturan dari Zein langsung berhenti menangis dan menatap setuju pada sang suami.


"Mengenai bagaimana kehidupan nantinya. Yang penting saat ini kita bisa lolos bersama-sama dari situasi ini. Kita harus keluar bersama-sama dan hidup-hidup dari sini" Tegas Zein


Sang ibu langsung menitikkan air mata kala menyaksikan kebesaran hati dari sang menantu. Memang benar Zein adalah suami yang tepat dan dapat dipercaya.


"Nak... " Ibu Zahara mulai membuka suara


"Ibu sangat senang mendapati kebesaran hatimu terhadap diriku dan anakku" Lirih sang ibu tanpa sadar mulai menitikkan air mata


"Tapi,.. Bagaimana bisa istrimu pergi dalam keadaan seperti ini? " Tanya sang ibu melihat sang anak yang sudah mengandung 7 bulan.


Spontan Zahara langsung tersentak mendengar perkataan sang ibu yang menyadarkan dirinya

__ADS_1


Mendengar itu, Zein kembali meyakinkan sang ibu mertua "Ibu... Karnanya Zein meminta untuk kita semua ikut pergi, tak bisa kubiarkan Zahara mengalami hal yang tak bisa kubayangkan itu, melahirkan tanpa kutemani dalam situasi ini pasti akan sangat menyakitkan Zahara" Air mata Zein pecah seketika.


"Ibu... Entah apa yang akan terjadi nanti saat dalam perjalanan, Zahara pasti kuat karna aku akan terus berada di dekatnya dan ibu yang akan selalu membantu Zahara... Sungguh bu, kekacauan didalam perjalanan nanti akan lebih baik dari pada meninggalkan kalian dalam situasi ini" Sambung Zein dengan air mata yang terjun bebas


Seketika suara riuh tangis memenuhi malam dirumah usang itu. Beradu tangis memohon kepada tuhan semesta alam agar dapat melihat ratapan dari keluarga ini dan mengulurkan bantuan pada mereka.


....


Fajar tiba, belum sampai matahari terbit menyinari alam Zein segera bergegas kerumah Lukman mencari tau apa yang akan dia lakukan. Keduanya bercerita cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruko tempat mereka berjualan. Rencana yang dipikirkan oleh Zein ternyata tidak jauh berbeda dengan Lukman. Kaki mereka mengayuh dayung sepeda dengan cepat menuju ruko.


Sontak Zein dan Lukman kaget seketika melihat begitu banyak gerombolan para tentara yang sudah berada di depan ruko milik mereka. Bahkan, ruko yang awalnya terkunci kini menganga lebar begitu saja hingga tampak lah tentara yang sudah keluar masuk ruko bebas dengan jajanan di setiap tangan mereka.


Dengan mata yang membelalak Zein dan Lukman langsung melangkahkan kakinya menerobos para tentara tak terima hendak bertanya mengapa ruko mereka diperlakukan sedemikian rupa.


"Apa yang kalian lakukannn" Terobos mereka berdua tak terima.


Seketika saja suara riuh dari gerombolan itu terdengar keras dan mulai menunjukkan posisi mereka. Belum sempat Zein dan Lukman melangkah jauh satu pukulan keras mengenai tepat ditekuk leher mereka.


"ADA APA HAAA? " Teriak salah satu tentara dari dalam kerumunan itu yang tak lain pasti seorang komandan.


Suara keras itu dengan cepat membelah gerombolan layaknya nabi Musa yang membelah lautan kala dikejar Fir'aun. Langkah kaki besarnya menapaki jalanan dan mendekat ke arah Zein dan Lukman yang sudah terkapar ditanah. Melihat Zein dan Lukman yang terkapar sembari memegangi kepalanya, segera dua tentara bertubuh gagah mendudukkan paksa Zein dan Lukman dengan tetap memegangnya agar tak terjatuh.


"Apa yang kalian lakukan? " Tanya komandan menatap Zein dan Lukman


Zein tertawa mendengar pertanyaan itu terucap dari bibir pria durjana didepan-nya


"Apa yang kami lakukan?!" Zein menatap tajam pada pria bengis didepan-nya.

__ADS_1


"Harusnya kami yang bertanya seperti itu pada kalian" Zein menatap tajam marah.


"Ohhh" Komandan itu menjawab dengan senyuman licik dibibirnya menatap Zein paham dengan apa yang sedang dia bicarakan.


"Ruko ini milik kalian?! " Tanyanya kembali sembari menunjuk-nunjuk kearah ruko.


"Dan kau adalah para segerombolan pria berlagak sombong dan bengis dan merasa seperti Tuhan hanya karna seragam hina yang kalian pakai" Tutur Lukman meluapkan rasa amarahnya, percakapan itu diakhiri dengan sebuah ludahan yang tepat mengenai wajah komandan didepan-nya.


Perbuatan Lukman seketika mengundang kemarahan dari para pasukan tentara yang tak Terima melihat sang komandan diperlakukan seperti itu tepat di hadapan mereka. Tapi, langkah mereka berhenti kala sang komandan mengacungkan tangannya tanda perintah untuk tetap diam ditempat tanpa bergerak.


"Yap... Kau benar sekali" Komandan itu berdiri dari posisi jongkok nya.


Lama dia terdiam sembari membersihkan wajahnya dengan kain yang diberikan salah satu pasukan, satu tendangan keras meluncur mengenai wajah Lukman dan membuatnya terhempas dari duduknya.


"para pria mulia" Sambungnya setelah menendang wajah Zein juga.


"Kau terlalu berani sekali" Ucap komandan itu sembari menendang wajah Lukman dan Zein secara bergantian. Hingga, darah segar terus bercucuran dari wajah mereka tanpa henti. Puas dengan perbuatannya komandan itu langsung menarik rambut mereka agar terduduk menatap wajahnya.


"Kalian seharusnya diam tanpa banyak bicara, kalian tau betapa hina dan megahnya seseorang hanya karna memakai ini" Ujarnya sembari menunjuk baju yang sedang dia pakai.


"Kau tidak tau bukan? " Ucapnya memandang mereka berdua.


"Yahhh memang orang seperti kalian mana tau" Jawabnya kembali setelah memberikan pertanyaan


"Sayang sekali" Sambung komandan itu dan beranjak dari duduk-nya


"Ruko ini sudah kami pilih untuk tempat pos kamp militer kami disini" Ucapnya enteng sembari membersihkan kedua tangannya.

__ADS_1


Mendengar itu Zein dan Lukman sontak terkejut dan langsung menatap sang komandan tak terima ingin protes.


Buggg satu pukulan kembali meluncur ke kepala mereka hingga membuat mereka terkapar di tanah tak sadarkan diri


__ADS_2