
Arumi menatap kelasnya usai mengajar. Setelah memutuskan untuk meneruskan kuliah kembali dan membantu mengurus perusahaan, jadwalnya di sekolah menari menjadi lebih singkat.
Terkadang Nina dan beberapa teman artis meminta bantuan untuk koreografi untuk video klip atau pun film. Dan biasanya Arumi mendapat bayaran untuk itu.
Sore itu ia sedang bersiap untuk berganti pakaian, lalu menuju kampusnya.
Di koridor sekolah, ia melihat Leon duduk di kursi tunggu.
"Sedang apa ke sini?" Tanya Arumi heran.
"Aku sedang menunggumu."
Arumi mengerutkan kening, menatap Leon.
"Lihatlah!" Leon menunjukkan sebuah brosur.
Arumi melihat brosur pentas seni daerah, kota tetangga. Ia membaca dan mengamati brosur itu, namun masih bingung apa yang dimaksud oleh Leon.
"Kamu belum paham?" Tanya Leon.
"Ya. Ada apa? Kamu ingin melihat acara ini?" Tanya Arumi.
"Ya. Aku ingin menontonnya, itu pertama. Lalu aku ingin membuat acara seperti itu di sini. Bersama dengan teman-temanku. Lalu semua warga yang memiliki bakat bisa mengikutinya. Kita bisa mengadakan pawai keliling kota. Lalu dapat mengundang wisatawan juga untuk datang ke sini. Jika ada keramaian, maka asumsinya hotel, restoran, pedagang, pengrajin, semua akan mendapat dampak yang baik." Cetus Leon bersemangat.
"Aku suka idemu itu. Coba diskusikan dulu dengan Papamu. Nanti aku bantu." Sahut Arumi.
"Ya, makanya sebelum aku ajukan konsep ini. Aku ingin ke kota sebelah bersamamu. Kamu mau? Ini acaranya selama sepekan. Kita bisa melihat hari Sabtu atau minggunya." Usul Leon.
Arumi terdiam memikirkan agendanya. Meski kuliah libur, dan kantor libur, tapi sekolah menari masih buka. Bahkan Arumi mengganti mengganti beberapa jadwal ke akhir pekan.
"Aku lihat jadwalku dahulu, nanti aku kabari ke kamu, ya."
Leon menganguk setuju.
*****
"Aku senang kamu bisa menemaniku di sini." Ucap Tuan Haris pada Viona yang ada dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jika istrimu tahu bagaimana?" Tanya Viona.
"Dia tak terlalu peduli padaku. Dia masih anak anak."
"Kamu pernah tidur dengannya?"
"Ya, dalam pengaruh minuman." Jawab Tuan Haris sambil tersenyum.
"Lalu untuk apa kamu menikahinya?" Selidik Viona.
"Aku butuh figur perempuan baik baik untuk melancarkan jabatannya. Sosok Arumi, putri Bara yang cantik, pandai, ramah, dari keluarga baik baik. Memiliki kepribadian yang baik pula. Namun, ia memiliki kisah sedih dalam hidupnya. Akhirnya kamu bisa lihat. Warga kota memilihku untuk menjadi ketua dewan kota periode ini." Tuan Haris menjabarkan alasan menikahi Arumi.
"Lalu perbuatan kita ini?"
"Aku mencintaimu Viona. Aku hanya ingin menikmati saat saat seperti ini bersamamu. Seharusnya kamu yang mendampingi aku saat ini, tapi.... Ah, sudahlah. Sepertinya hari menjelang senja. Sebaiknya kita segera kembali."
Tuan Haris mengenakan kembali pakaiannya, begitu juga dengan Viona. Lalu keduanya merapikan diri masing-masing.
Rumah pribadi di area perkebunan terletak agak jauh. Tuan Haris terkadang datang untuk beristirahat atau sedang ingin sendiri. Pelayan setiap pagi datang untuk membersihkan, lalu pergi lagi. Hanya itu.
Sejak acara kompetisi menari, Viona lebih sering mengunjungi keluarganya. Dengan alasan. Ingin lebih dekat dengan anak anak, terlebih Dito yang sebentar lagi akan ikut bersamanya.
Suami Viona juga sudah sangat jarang mengunjungi anak anaknya. Bahkan terkadang Nina yang harus datang menemui Papanya hanya sekedar menyapa dengan minum kopi bersama, selanjutnya ya sudah.
Begitulah keluarga Nina dan Dito. Kedua orang tua mereka sebenarnya sudah tidak saling bersama lagi, namun demi menjaga citra dan nama baik keluarga, mereka sekeluarga berakting semua baik baik saja.
Terkadang Nina hanya bisa menangis di dalam bathtub, meratapi nasibnya. Dia melampiaskan semua perasaannya dengan menyanyi, membuat lagu, bahkan kini ia belajar menari bersama Arumi.
***
Malam itu, Tuan Haris, Arumi, Leon, Will, dan Gisel duduk bersama untuk menikmati makan malam. Pemandangan yang sangat jarang terjadi akhir akhir ini.
"Pa, apakah aku boleh pergi ke kota sebelah bersama Arumi." Leon meminta ijin pada Tuan Haris.
"Untuk apa?"
"Aku ingin menyaksikan acara kesenian daerah di sana. Kami akan berangkat pagi, dan mungkin kembali sore hari." Terang Leon.
__ADS_1
"Leon memiliki sebuah ide untuk kota ini." Timpal Arumi sambil menatap ke arah Leon. Arumi memberi isyarat untuk mengatakan semua pada Tuan Haris.
"Pa, aku ingin kita ini mengadakan acara kesenian seperti kota sebelah. Kita memiliki lapangan dan gedung seni. Lalu ada sekolah menari, bahkan kita memiliki artis terkenal di sini. Banyak anak muda yang kreatif di sini, namun belum bisa membuat tempat untuk penyaluran hobi tersebut. Makanya aku ingin melihat konsep yang dibuat oleh mereka." Leon menjabarkan semua idenya.
Tuan Haris manggut-manggut mendengar ide Leon.
"Baik, kamu bisa pergi bersama Arumi."
"Pa, bolehkan aku menyetir sendiri. Supaya kami bisa fleksibel, lalu aku dapat memakai SIM yang telah kumiliki, dan tidak merepotkan Bejo." Pinta Leon masih dengan nada yang datar dan sama.
"Baiklah. Kamu boleh menyetir, tapi kamu harus menuruti kata katanya." Tuan Haris mengingatkan sambil menunjuk ke arah Arumi.
Leon tersenyum lebar.
"Terima kasih, Pa." Ucap Leon sambil memeluk Papanya.
Mereka menyelesaikan makan malam mereka.
Setelah makan Tuan Haris menuju ruang kantornya diikuti oleh Will. Lalu Arumi masuk ke ruang kantor Tuan Haris dengan membawa map.
"Aku menemukan ini." Arumi menaruh map berwarna biru muda, tepat di meja kerja Tuan Haris.
"Apa ini?"
"Aku menemukan beberapa transaksi yang mencurigakan setahun yang lalu. Dipo pernah berurusan dengan beberapa mafia. Ini data para mafia itu." Sambung Arumi.
Tuan Haris memperhatikan dengan seksama berkas yang dibawa oleh Arumi.
"Will, esok minta detektif pribadiku untuk menyelidiki ini semua."
"Baik. Apa tidak sebaiknya kita juga melaporkan ini semua pada pihak berwajib?" Kata Will.
"Kamu coba hubungi temanmu itu dulu. Aku tidak mau kita gegabah, lalu dia lolos. Aku minta rahasiakan dulu." Tegas Tuan Haris.
"Rumi, terima kasih. Kerjamu sangat baik. Tolong kamu jaga Leon saat melihat acara, atupun dalam pelaksanaannya besok. Aku ingin kamu juga dapat terlibat. Siswa sekolah menari dapat menari dan ikut di acara yang akan kita selenggarakan."
Arumi tersenyum lebar mendengar Tuan Haris menyetujui ide Leon. Ia tak sabar ingin segera memberitahu Leon akan kabar gembira ini.
__ADS_1