
Sasa menerima jadwal tour untuk Nina dari sang manager. Ia memeriksa jadwal Nina sesaat sambil memberi beberapa poin catatan di setiap tempat. Di antaranya, ada kota New York tertera di sana. Sasa tersenyum penuh makna. Ia yakin,Nina pasti senang dapat bertemu dengan Dito, bahkan Arumi. Sasa merasa tenang, jika Nina bertemu dengan orang yang dekat dengannya. Ini memudahkan dirinya bekerja, dan Nina tidak rewel.
"Jadi, Mama juga akan kembali ke New York bersamaku?" Tanya Nina, setelah Sasa memberi tahu jadwal keberangkatannya.
"Ya, Mama juga akan memulai untuk melatih para penari untuk berbagai pertunjukan. Lalu Mama akan menonton beberapa pertunjukanmu. Mama belum pernah menonton konsermu secara langsung. Meski pun banyak yang hilang keren, dan selalu sold out. Mama akan buktikan sendiri dengan menonton besok." Viona menunjukkan dua buah tiket konser Nina.
"Mama...!" Pekiknya tak percaya.
"Mama tinggal bilang ke aku, biar aku yang minta manager sisakan tempat untuk Mama. Lalu dua tiket? Yang satu untuk siapa?" Nina mengerutkan keningnya.
"Ya untuk Dito. Masa Mama menonton sendiri." Sahut Viona cuek.
Nina melompat memeluk Viona. Untuk pertama kalinya Viona merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Nina memeluknya dengan rasa sayang. Tuan Marco merangkul istrinya sambil tersenyum melihat Putrinya dan cucunya telah berbaikan.
***
Usai bekerja, Will mengajak Gisel ke klub untuk menghibur diri. Mark telah menunggu di sana.
"Will, sebaiknya, kita pulang saja." Bisik Gisel saat melihat Mark dikejauhan.
Will terdiam.
"Maafkan aku, Sel. Tapi, Mark ingin berbicara denganmu sebentar. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi." Ucap Will berterus terang.
"Kamu benar-benar...! Kalau saja kamu bilang Mark yang meminta, aku tak akan mau datang." Sahut Gisel ketus membuang muka sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Sel. Coba dengarkan penjelasan Mark dahulu." Will menatap Gisel meyakinkannya.
Semua itu terjadi setelah peristiwa acara pesta ulang tahun Mark yang mengundang teman teman satu angkatan dulu saat menempuh pendidikan polisi. Termasuk Will juga diundang. Saat itu, Mark khusus meminta Will untuk mengajak Gisel.
Namun ternyata saat itu, Mona, anak dari atasan Mark datang dan selalu berada di dekat Mark. Mereka selalu tampil dengan mesra selama pesta berlangsung, bahkan potongan pertama adalah untuk Mona.
Gisel yang awalnya menyukai dan berharap pada Mark, seketika melupakan perasaannya. Terlebih Mona terus menyindir, bahwa Gisel adalah perempuan lacur karena kasusnya ditangani oleh team ayahnya. Mona pernah melihat foto foto Gisel saat pertama ditemukan saat mengunjungi ayahnya.
Mona dari awal menyukai Mark, hingga mendengar kabar istrinya meninggal, ia terus berusaha mendekatinya kembali. Namun, ternyata Mark tertarik dengan Gisel.
__ADS_1
Gisel terdiam saat Mark mendekati nya dan Will. Will menepuk bahu Mark memberi semangat, lalu berlalu membiarkan kedua sejoli itu berdua. Will berlalu menuju area meja bar, melihat pertunjukan yang dilakukan oleh Andin. Andin pun tersenyum menyambut kehadiran Will dan berlenggak lenggok menggoda Will.
Di sudut klub, Mark duduk di samping Gisel yang hanya terdiam sambil menggenggam gelasnya.
"Aku ingin menjelaskan semuanya. Maafkan aku. Saat pesta kemarin. Sungguh aku tak tahu Mona akan datang dan melakukan semua itu." Ucapnya tanpa basa basi.
"Gisel, aku menyukaimu. Sungguh! Aku sudah mengatakan terus terang pada atasanku, supaya tidak terjadi salah paham. Dan aku bekerja secara profesional. Atasanku mengerti. Namun, Mona terus memaksaku. Maka, aku ingin menjelaskan semua ini padamu, agar kamu bisa dekat denganku, supaya Mona menjauh dariku." Tutur Mark.
"Jika dia tidak mau menjauh, dan terus mengejarmu?"
"Aku hanya ingin denganmu!"
"Dengar, Mark. Terima kasih untuk perasaanmu padaku. Tapi, aku rasa aku tak pantas untukmu. Kamu adalah pria baik baik, dari keluarga yang baik juga. Aku rasa aku tak pantas denganmu. Lupakan saja rasa itu, Mark. Sudah cukup." Gisel berkata sambil menatap Mark.
"Gisel, apapun keadaan dirimu aku akan menerimamu." Mark meyakinkan Gisel, ia meraih jemari tangan gadis itu dan menciumnya.
Gisel menghela napas panjang. Lalu menarik tangannya dari genggaman Mark, lalu berdiri hendak pergi. Mark terus mengikutinya, hingga di sudut ruangan, ia mendorong tubuh Gisel. Tangan kiri mengunci tubuh gadis itu, lalu tangan kanannya, meraih wajahnya. Tangan Mark menyusuri setiap mili wajah Gisel. Ia menyematkan poni yang panjang ke belakang telinga.
Mark menatap Gisel dengan tatapan tajamnya, namun penuh kelembutan. Gisel hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Dalam hatinya, sebenarnya ia sangat menyukai Mark, dan menginginkannya.
Ia menghabiskan sisa minuman dalam gelasnya. Hatinya terasa sakit saat mengetahui, bahwa Nina telah menjadi kekasih Thomas. Ia dan Thomas dari awal telah berteman, mereka tak ada masalah. Namun, dirinya terlalu takut untuk memulai dan mengungkapkan perasaannya pada Nina, membuatnya terlambat. Nina lebih memilih Thomas.
Suara dentuman musik dari DJ mulai mengalun. Para penari klub mulai meliuk-liuk tubuh seksi mereka di antara para pengunjung. Andin meliuk di tiang dengan pakaian ketat dan super seksinya. Terdengar suara siulan dan teriakan dari segerombolan pria pria.
Ada yang mendekati Andin dan menyelipkan lembaran uang ratusan ribu di dadanya. Lalu pada kakinya. Ia menyelipkan pada sepatunya.
Andin tersenyum mendekati Will kembali, beberapa gadis lain juga mendekati Will untuk menggodanya.
Will hanya tersenyum sambil terus meneguk minumannya. Ia melirik Gisel dan Mark yang kini masuk ke sebuah ruangan. Ruangan kamar yang biasa dipakai untuk pelanggan tempat itu bersama gadis di sana.
Madam Fey mengenal Mark, ia membiarkan Mark membawa gadisnya masuk ke salah satu kamar itu.
Mark mencium leher Gisel, hingga membuat gadis itu menggila. Sudah lama ia tak melakukan hal itu. Mark membuka kaos Gisel lalu menikmati gunungan lembut milik Gisel. Sontak reaksi biologis Gisel menjadi jadi, ia duduk pada pangkuan Mark membiarkan lelaki itu menikmati gunung kembar miliknya bergantian.
Tiba tiba...
__ADS_1
BRAKKK.....
Pintu kamar terbuka dan Mona masuk, memfoto adegan itu.
"Dasar wanita ******! Beraninya kamu menggoda kekasihku!" Umpatnya sambil menarik rambut Gisel.
"Mona, Mona. Tunggu." Teriak Mark.
Mona tanpa ampun menyeret Gisel yang setengah telanjang itu ke tengah ruangan.
"Dengar! Kamu tak jauh berbeda dengan perempuan perempuan itu, wanita ******! Jika kamu terus menggoda Mark, ingatlah, kamu akan tahu akibatnya!" Ancamnya sambil mendorong tubuh Gisel ke lantai.
Andin segera bergegas, turun dari panggung, menolong Gisel.
"Apa mau mu, hah?" Tanya Andin dengan suara keras.
"Ohh... Inikah sahabat sang pelacur ini! Pantas teman temannya adalah pekerja pekerja seperti ini, tak heran." Sindir Mona sambil menatap Andin dan Gisel.
"Mona, sebaiknya kamu pulang. Aku antar kamu pulang." Ucap Mark meredam suasana.
Mona menganguk. Ia tersenyum puas seolah menyindir Gisel, bahwa ia telah memenangkan Mark dari dirinya.
Will mendekati Gisel, dan mengenakan jaket jeans-nya untuk menutupi tubuh Gisel.
"Sebaiknya kalian pulang saja." Ucap Andin.
"Baik. Terima kasih, Ndin." Will membimbing Gisel keluar dari klub. Di kejauhan Madam Fey menatap mereka hanya geleng-geleng kepala.
"Will..!" Panggil Andin.
Will menoleh ke arah suara.
"Ini pakaian Gisel. Tolong jaga dia ya." Pesan Andin. Lalu Andin mendekati Gisel dan memeluk sahabatnya itu.
"Dengar, kamu tidak seperti yang dia katakan! Aku tahu kamu kuat, Sel! Aku akan selalu membelamu!" Ucapnya pada Gisel.
__ADS_1
Gisel tahu, dulu setelah kejadian buruk menimpa Gisel, ia harus melalui masa sulit dengan kejiwaannya, yang menyebabkan rutin berkonsultasi ke psikiater untuk menghilangkan traumanya. Kini kejadian itu diungkit-ungkit kembali oleh Mona. Seolah membuka luka lama yang masih belum kering. Membuat Gisel masih syok dan merasa tak nyaman.