Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Makan Siang Bersama asisten


__ADS_3

Arumi dapat bernapas lega setelah sampai di dalam kamarnya. Ia mengunci rapat rapat pintunya. Teringat olehnya tatapan mata Tuan Haris bagai menelanjangi tubuhnya. Usapan tangan Tuan Haris di pipinya membuatnya bergidik geli, seakan tak pantas dilakukan olehnya dan Tuan Haris, yang lebih pantas dipanggilnya Papa.


Meskipun Tuan Haris hanya menatap, dan mengingatkan supaya saat pesta jangan mempermalukannya, namun, sentuhan tangannya tadi membuatnya ketakutan.


Arumi memejamkan matanya perlahan, tariannya bersama pemuda tadi sore menari nari dalam mimpinya, seolah nyata. Lama lama makin lama Arumi benar bener tenggelam dalam alam mimpinya bersama pemuda tadi, melupakan ketakutannya akan Tuan Haris.


***


Siang itu Will mengetuk pintu kamar Arumi, ia membawa dress yang akan dikenakan untuk ke pesta nanti malam. Selain dress, ada clutch dan sepatu high heels branded yang di bawakan oleh Will.


Will menaruh semua barang di tempat tidur. Arumi hanya menatapnya saja, tak banyak bicara dengan lelaki dingin asisten suaminya itu.


"Jam empat nanti, periasmu akan datang. Tolong tepat waktu." Pesan Will dengan ekspresi datarnya.


"Terima kasih. Will..?" Ucap Arumi, Will menoleh.


"Kapan terakhir kali kamu tersenyum?" Tanya Arumi sambil tersenyum lebar, hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Will hanya menatapnya dingin, lalu berbalik meninggalkan kamar Arumi.

__ADS_1


"Astaga...! Lelaki gunung es kutub selatan!" Pekik Arumi pada Will, setelah menutup pintu kamarnya.


Arumi menatap barang barang tangan akan dikenakannya, ia mengambil dress itu dan mematut pada cermin.


Arumi berlenggak lenggok mondar mandir dalam kamarnya, berjalan bak model catwalk sambil mencoba high heels yang diberikan oleh Will.


Lalu ia memainkan ponselnya untuk mengisi waktu luangnya, lalu ia menonton video tentang tarian modern, lalu mencobanya. Ia menyetel musik lalu menggerakkan tubuhnya dengan gemulainya. Tak terasa tubuhnya mulai lelah dan perutnya mulai terasa lapar.


Ia keluar dari kamarnya, menuju tangga untuk turun menuju arah dapur.


"Loh, Mbak Arumi, kenapa tidak makan di meja makan saja?" Tanya Mbok Darmi.


"Saya makan di sini saja, bareng kalian sajalah. Di dalam sepi." Tolak Arumi.


"Memang Tuan Haris tidak makan di rumah?" Tanya Arumi.


"Bapak biasanya makan di luar, Mbak. Pulang biasanya sore." Terang Mbok Darmi.


"Ya sudah kita makan sama sama saja di sana, kalo aku ga boleh makan di sini bareng kalian." Pinta Arumi.

__ADS_1


"Waduh... Jangan Mbak, yuk, silahkan makan sama sama kami di sini." Ucap Surti sambil mengambil piring baru untuk Arumi.


"Wah, sopnya enak sekali! Apalagi sambalnya, mantap!" Puji Arumi sambil menyeka mulutnya yang memerah akibat kepedesan.


"Terima kasih, Mbak." Jawab Surti.


"Oya, kalian mulai kerja di sini kapan?" Tanya Arumi sambil mengunyah tempe gorengnya.


"Saya yang paling lama Mbak. Lalu Bejo, keponakan saya, Minten sana Surti beberapa tahun yang lalu, saat Ibu mulai agak sakit." Terang Mbok Darmi.


"Sakit apa Mbok?"


"Sakit kanker. Ibu sampai dibawa berobat ke luar negeri untuk pengobatan. Sempat sembuh, lalu Ibu menyelenggarakan lomba menari, yang pemenangnya dapat ikut lomba ke luar negeri. Lalu kondisi Ibu makin menurun setelah itu." Jawab Mbok Darmi.


"Ya, termasuk saya. Saya dua tahun yang lalu juara kompetisi itu, lalu dikirim ke London untuk kejuaraan dunia. Akhirnya saya mendapat juara dua. Namun, saya harus kehilangan orang tua saya." Cerita Arumi sambil menghentikan makannya, matanya mulai berkaca-kaca mengingat kejadian waktu itu. Semua asisten rumah tangga yang sedang makan bersamanya terdiam.


Mbok Darmi menepuk lembut bahu Arumi memberi semangat.


"Yang sabar ya Mbak. Kami semua akan menemani dan membantu Mbak Arumi, jika memerlukan bantuan." Ucap Minten.

__ADS_1


Arumi menatap mereka semua satu per satu, lalu senyum mengembang di bibirnya.


"Terima kasih." Ucap Arumi dengan tulus.


__ADS_2