Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Usai Pesta, terjadilah !


__ADS_3

Tiba di balai kota, sopir membukakan pintu untuknya, dan Will membukakan pintu mobil untuk Tuan Haris. Lalu ia melangkah ke luar sambil menggandeng lengan Tuan Haris, sesuai instruksi kemarin malam.


Mereka berjalan memasuki balai kota, diikuti tatapan hampir seisi gedung itu. Arumi mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk bersikap tenang. Tuan Haris berhenti sejenak, menatap wajah Arumi sejenak, sambil mengangguk kepala memberi isyarat supaya tenang.


Tuan Haris menunggu dengan sabar, lalu Arumi menganguk, memberi tanda bahwa ia telah siap.


Mereka berjalan melangkah menuju tengah ruangan.


Para petinggi dan pejabat kota menyalami Tuan Haris, dan berkenalan dengan Arumi. Terlihat beberapa pengusaha rekan Papanya yang ia kenal ada di sana.


"Hai, Tuan Haris, selamat atas pernikahannya!" Seorang pejabat menyapa dan menyalami Tuan Haris dan Arumi. Arumi menyambut uluran tangan pejabat itu sambil tersenyum.


Tuan Haris berkeliling dan berbincang dengan pejabat dan rekannya. Arumi meminta ijin untuk ke toilet sebentar pada Tuan Haris.


Arumi keluar dari ruang pesta itu, ia baru dapat bernapas dengan lega. Ia menuju toilet, dan segera masuk ke sebuah bilik yang kosong. Ia hanya duduk dalam bilik toilet itu untuk menenangkan pikirannya. Baru kali itu ia datang ke suatu acara yang berisi para pejabat dan pengusaha besar. Mungkin, Papa Mamanya pernah, bahkan sering, tapi dia, baru kali ini.


Perutnya terasa mual saat harus berjalan menggandeng Tuan Haris, yang pantas dipanggil Papa olehnya, lalu ditatap oleh puluhan pasang mata, yang usianya lebih tua darinya. Arumi merasa bukan di sini tempatnya. Ingin rasanya ia menangis, ia sangat merindukan Mamanya.


"Akhirnya Tuan Haris membawa istri barunya." Terdengar dari ruang luar bilik toilet ada yang bercakap-cakap.


"Iya, aku tak menyangka, itu putri Bara." Ucap yang lain.


"Aku kasian padanya, keponakannya sendiri dijadikan tumbal oleh pamannya."


"Anne lebih kasihan lagi. Dia begitu polos, hanya dimanfaatkan oleh Dipo."


"Dengar dengar, Dipo yang membakar rumah Bara."


"Hus... Jangan menyebar gosip, tak enak jika didengar orang lain."


"Suamiku pernah cerita kebakaran disengaja."


"Benarkah?"


"Ya, tapi, sudah jadi rahasia umum, Dipo itu licik. Bara yang terlalu baik pada lawannya. Menyerahkan adiknya yang bodoh itu. Harusnya biarkan saja Adiknya bersama Dipo, dan urus m keluarga intinya saja."


"Sudahlah, itu urusan keluarga lain, tak usah terlalu dibahas."


Arumi berusaha mengintip siapa yang sedang berbincang itu, namun tak begitu jelas terlihat. Tak lama dua orang itu pergi meninggalkan toilet, dan Arumi segera keluar dari bilik.


Ia sangat terkejut dengan kebenaran yang barusan ia dengar.


Lalu ia keluar dari ruangan itu, menuju ruang pesta itu mencari Tuan Haris. Saat di depan pintu, Arumi melihat Will menatap ke sebuah tempat di dalam ruang pesta, ia mengikuti tatapan Will, di atas panggung tampak seorang perempuan cantik sedang bernyanyi dengan suara merdunya. Arumi tersenyum kecil, dan menatap ke arah Will, yang masih tak berkedip menatap penyanyi itu.


Arumi mendekati suaminya yang sedang berbincang dengan anggota dewan kota.


"Oh, baiklah, tampaknya istri saya telah kembali." Ucapnya pada orang itu.


"Maaf, aku tersesat." Ucap Arumi polos.

__ADS_1


Mereka tertawa mendengar ucapan Arumi.


"Tenang saja, bukan hanya Anda yang pernah tersesat saat mencari toilet, saya pun pernah." Ucap pejabat itu sambil mengedipkan sebelah matanya.


Arumi hanya tersenyum.


Arumi menikmati hidangan pada pertandingan perjamuan itu. Pesta diadakan oleh walikota yang baru terpilih, sebagai pengenalan.


Tuan Haris sebagai salah satu dewan kota terpilih juga, dan kini dia sebagai kandidat terkuat dalam pemilihan sebagai pemimpin dewan kota.


Penyanyi cantik berdiri menatap tumpukan potongan kue di meja.


"Ambil saja, tidak akan membuat gemuk, jika cuma makan dua atau tiga potong." Goda Arumi, sambil mengambil sepotong kue dan langsung menggigitnya.


"Oh... Benar juga, siapa yang peduli." Ucapnya sambil mencomot kue lalu memakannya.


"Sepertinya aku pernah melihatmu.. hhmmm.. dimana ya?" Nina, penyanyi cantik itu mengerutkan kening, berusaha mengingat.


Arumi hanya tersenyum menatap Nina.


"Oya?" Katanya tak percaya.


"Ahhh... Kamu adalah penari itu! Benarkah? Kamu pemenang utama kontes, lalu kamu juara ke 2 dunia dua tahun lalu." Katanya berhasil mengingat.


"Ya.. Namaku Arumi." Arumi mengulurkan tangannya, berkenalan.


Mereka tampak akrab mengobrol, tak sadar sepasang mata tengah memperhatikan mereka dengan penasaran. Will mengamati setiap gerak gerik Nina dan Arumi yang terlihat akrab saat mengobrol.


Dari jauh, Arumi melihat Will memberi kode untuk mendekat ke arah Tuan Haris, karena saat itu dia tengah meneguk minuman di bar.


Arumi berpamitan pada Nina, lalu mendekati suaminya yang mulai agak mabuk.


Ia dan Will membawa Tuan Haris menuju mobil untuk pulang.


Sepanjang perjalanan Tuan Haris menceritakan tentang pemilihan ketua dewan kota dan mengatakan akan tetap merebut perusahaan Papa Arumi.


Arumi hanya mendengarkan setiap rancauan Tuan Haris.


Sesampainya di rumah, Will membawa Tuan Haris ke kamarnya.


"Kamu urus Tuan Haris!" Ucap Will, meninggalkan Arumi dalam kamar Tuan Haris.


Arumi mendekati Tuan Haris, membuka sepatu dan kaos kakinya, lalu jasnya.


Saat Arumi membuka dasi, Tuan Haris tiba tiba duduk memegang pundak Arumi, dan menatap wajahnya.


Tuan Haris dalam pengaruh minuman, mendekap tubuh Arumi, lalu menciumi rambut dan pipi Arumi, lalu ia melahap bibir Arumi dengan lembut.


"Tu-tuan.. ja-jangan... Ja-jangan... Ahhh..." Penolakan Arumi membuat Tuan Haris makin menjadi.

__ADS_1


Dia tak berhubungan selama beberapa tahun, dan dalam pengaruh minuman, membuat semakin larut untuk melampiaskan hasrat lelakinya.


Arumi, gadis cantik dengan tubuh yang menggoda, dengan dada yanga ranum berisi, membuat Tuan Haris tergoda untuk bermain dan menghisap dada Arumi.


Dengan satu gerakan dress Arumi telah terlepas. Kini tangan Tuan Haris telah bermain di dada Arumi, dia menghisap dada Arumi bagai bayi yang kelaparan.


Arumi yang berteriak menolak, namun erangan nikmat yang keluar dari mulutnya.


"Cobalah untuk menikmati." Ucap Tuan Haris dengan lembut di telinga Arumi, lalu bibirnya telah berkelana di leher gadis itu, lalu turun ke dada, perut, dan daerah intimnya.


Tuan Haris melempar penutup daerah intim Arumi, lalu membuka pahanya. Tangannya bermain pada daerah itu dengan perlahan. Terdengar rintihan pelan Arumi.


"Tu-tuan... Jangan.! Arumi memohon.


"Kamu istriku, aku berhak mendapatkan ini." Lalu Tuan Haris membuka kemejanya, dan celana panjangnya. Ia masih bermain di daerah wanita Arumi dengan lembut, lalu menjilati seperti sedang menikmati es krim.


Arumi menutup matanya, ada rasa nikmat seakan ingin ia rasanya, namun ia merasa ini tak pantas.


"Nikmatilah, jangan ditahan. Jika ada sesuatu yang kamu rasanya lepaskan!" Ucap Tuan Haris. Ia tahu Arumi mulai merasakan kenikmatan yang ia berikan.


Perlahan lahan ia mengaduk bagian itu, lalu menjilat, seakan ada yang akan keluar dari daerah itu, Arumi menggenggam erat sprei dan menggeleng kepalanya, Tuan Haris seolah melahap bagian itu, Arumi menjambak rambut suaminya, dan akhirnya dia berteriak.


"Aku ingin pipis..!"


"Lepaskanlah!" Bisik suaminya dengan lembut.


"Aaaaaa.....!" Teriak Arumi, cairan putih membanjiri daerah wanitanya, untuk pertama kalinya ia merasakan sensasi seperti itu.


Tuan Haris kemudian membuka paha Arumi dan memasukkan pusakanya yang tak sabar untuk bertemu pasangannya.


Arumi berteriak kaget seketika, saat pusaka yang seperti timun itu masuk ke dalam miliknya.


"Tenang... Aku akan pelan pelan, nikmati saja!" Ucap Tuan Haris.


Arumi hanya bisa menurutinya. Tuan Haris bergerak maju mundur, peluh menetes dari dahinya, ia menatap Arumi yang hanya terpejam, ia mencium bibir gadis itu.


Makin lama makin intens, awalnya terasa perih, namun lama kelamaan terasa sangat nikmat, Arumi mulai bisa menikmati, dengan mata terpejam, ia membayangkan wajah pemuda yang pernah menari bersamanya.


Arumi merasa benda seperti timun itu seakan sesak masuk dalam miliknya, makin dalam dalam dan dalam.


Tuan Haris dan Arumi semakin lama bergerak seirama mencari nikmatnya, tak lama tubuh mereka saling merengkuh dan bergetar, Tuan Haris menumpahkan berjuta benihnya dalam tubuh Arumi.


Tuan Haris yang lelah tertidur di kasurnya.


Arumi melihat bercak darah di sprei, ia merasa sedih dan malu. Rasa sakit menjalar di bagian bawah tubuhnya.


Ia mencari pakaiannya yang tergeletak di lantai. Arumi segera memungut dan mengenakannya satu persatu, lalu keluar dari kamar Tuan Haris. Ia berlari menuju kamarnya, lalu menguncinya. Ia menuju kamar mandi, menyalakan shower, dan mengguyur tubuhnya.


Ia menangis mengingat yang baru saja terjadi. Seseorang yang pantas dipanggil Papa olehnya melakukan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2