Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Penyerangan


__ADS_3

Malam itu, Will menemani Tuan Haris ke pesta di klub malam milik Pak Broto. Perayaan ulang tahun seorang pengusaha, yang tak lain dan tak bukan adalah Papanya Andra. Andra juga datang, mengundang Gisel, Andin, dan Bela. Andra yang telah berpisah dengan Rea, karena telah hamil duluan dengan Steve, akhirnya memutuskan untuk menikmati kesendirian.


Saat ini Andra berteman dan menempuh kuliah bersama dengan Bin, putra walikota, sekaligus sahabat Leon dan Dito. Andra juga mengundang Bin di acara pesta ulang tahun Papanya.


Tuan Haris terlihat berbincang dengan beberapa pejabat dan pengusaha dengan serius. Sedang anak anak muda sedang menari di lantai dansa diiringi hentakan musik DJ. Andin saat itu sedang libur, jadi ia datang sebagai pengunjung. Andra selalu dekat dengan Andin. Mereka masih sering berhubungan, namun hanya sekedar pelampiasan saja dan untuk bersenang-senang saja. Andin belum ingin membina hubungan yang serius dengan seseorang saat ini, begitu pula Andra.


Bin terlihat menggandeng Bela, dan berdansa bersamanya.


Gisel duduk di bar sambil menikmati gelasnya.


"Boleh aku temani?" Sapa seseorang dengan suara berat.


Mark telah duduk di sebelahnya.


"Terserah. Aku harap wanita itu tidak membuntutimu dan marah marah padaku!" Sindir Gisel sambil tersenyum sinis ke arah Mark.


"Gisel, aku hanya ingin denganmu. Sungguh!" Ucap Mark sambil menatap Gisel.


Gisel hanya menggelengkan kepalanya. Ia berjalan keluar dari klub itu, Mark mengikutinya.


"Dengar Mark, aku tak ingin kita menjadi bahan olok-olok teman temanmu. Kejadian waktu itu, sungguh membuatku trauma. Rekan kerjamu telah melihatku, melihat tubuh telanjangku! Kamu tahu rasanya? Saat rekan rekanmu menatapku, seolah mereka telah menelanjangiku! Mengingatkan aku akan peristiwa yang telah menimpamu! Aku harap kamu tidak pernah mendekatimu lagi, Mark. Kumohon!" Gisel menatap wajah Mark dengan tatapan lembut.


Mark memeluk Gisel. Ia mendekap erat tubuh gadis itu. Ingin rasanya ia melindunginya, namun, Gisel segera melepaskan pelukan Mark. Ia berjalan menjauhi Mark, entah dia tak punya tujuan saat itu.


Mark menatapnya dari kejauhan hingga tubuhnya menghilang di belokan.


Tiba tiba tubuh Gisel ditarik masuk dalam mobil, dan mulutnya dibekap.


Gisel meronta-ronta dan menggigit tangan penjahat yang berbadan kekar itu, lalu berteriak minta tolong.


Namun, pria pria berbadan kekar itu tentu jauh lebih kuat dari pada dia seorang gadis lemah.


Tiga pria itu membawa Gisel ke sebuah gudang.


"Oh, aku sudah memperingatkan padamu untuk menjauhi Mark!" Ucap Mona saat tubuh Gisel si hempaskan ke lantai gudang itu.


"Aku sudah menolaknya!"


"Kenapa dia masih mengejarmu?"


"Mana aku tahu? Itu bukan urusanku!" Sahut Gisel dengan sinis.


"Dengar! Sekali lagi kamu harus menjauhi Mark. Aku tak segan-segan akan menghabisi dirimu!"


Gisel menyeringai mendengar ucapan Mona.


"Kamu kurang menarik di mata Mark!" Ucapnya.

__ADS_1


Sontak Mona meradang dan menatap tajam ke arah Gisel.


"Dasar kau....!" Mona menoleh ke arah tiga kali laki bertubuh besar itu, dan memberi isyarat untuk menghabisi Gisel.


Seorang menarik lengan Gisel dan membekapnya.


"Aku ingin melihat adegan reka ulang peristiwa waktu itu lagi, saat kamu di pakai beramai ramai! Apa kamu masih ingat? Mereka pernah melakukan padamu, dan Mamamu!" Pekik Mona sambil membalas menyeringai kejam.


Gisel langsung menatap tajam ketiga lelaki bertubuh besar tadi, dan memperhatikan dengan seksama. Jujur, dia pun untuk wajah kurang mengingat, namun untuk ukuran tubuh ia masih mengingat.


Mirip dengan postur tubuh orang orang yang menyerang rumah mereka. Jika benar, ucapan Mona. Maka, ia akan melawan dan membalas dendam.


Dua orang menarik lengan Gisel dan mencoba untuk memegang tubuhnya, salah satu mendekat dan mencium wajahnya.


"Hhhmm... Harum..!" Bisik nya seraya menyeringai lebar menatap dua rekannya.


Tangannya meraba wajah Gisel, menyusuri setiap inci tubuhnya, dari wajah, turun ke leher, lalu menuju ke dada. Tangannya menuju dia gunung kembar Gisel yang memang bentuknya terlihat ranum dan menggoda.


"Aku masih ingat, dadamu sangat menggairahkan!" Ucap lelaki itu sambil mencium seolah membauinya.


"Milik ibunya juga masih enak, masih legit dan sempit meski sudah berumur!" Imbuh salah satu lelaki yang memegang lengan Gisel sambil tertawa.


DEG!


Gisel teringat, salah seorang yang pernah meruda paksa mama dan dirinya memiliki tato berbentuk segitiga di pergelangan tangannya. Ia melirik ke arah lelaki di depannya itu, dan ternyata dia memiliki tato itu.


"Kalian baj**an..!!" Umpatnya sambil meludah ke wajah lelaki itu.


Lelaki itu terkejut, lalu tersenyum sinis padanya.


PLAK..


Tamparan dengan sukses mendarat di wajah Gisel.


"Kamu sudah mulai berani melawan rupanya, heh...!" Dia mulai meremas dada Gisel, lalu membuka kancing kemeja Gisel satu persatu. Terlihat dada yang ranum, membuat raut wajahnya menyeringai ingin melahapnya.


"Aku menyukai dadamu, gadis kecil!" Bisik nya tepat di telinga Gisel.


"Cepatlah, kalian pakai wanita ja**Ng itu! Aku ingin melihat dengan seksama dan dengan jelas, rupanya saat miliknya dipakai beramai ramai! Pasti wajahnya terlihat sangat cantik sekali!" Mona terkikik geli setelah mengucapkan itu.


Gisel menatap tajam pada Mona, seolah mulai paham, bahwa, Mona memiliki penyakit sakit jiwa dan tak segan segan menyiksa orang demi kesenangannya.


Gisel menyapu pandangan ke sekeliling, ia mencari jalan untuk melarikan diri. Akhirnya ia melihat pintu gudang sedikit terbuka, meski agak jauh, ia yakin bisa mencapai pintu itu.


Ia merogoh pelan sakunya dengan tangan masih dipegang oleh salah satu penjahat itu. Ia menarik tangannya dan berhasil mengambil semprot merica yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi untuk berjaga diri.


Ia menyemprotkan ke arah pria terdekatnya, lalu ke sebelahnya. Belum sempat pria itu berteriak, ia telah menyemprotkan pada pria di depannya.

__ADS_1


"Aaawww....! Dasar jal*Ng!" Umpat salah satu dari mereka.


Gisel tak peduli, ia menyemprotkan cairan itu juga ke wajah Mona, dan langsung bergegas menuju ke arah pintu yang sedikit terbuka tadi.


Ia tak mempedulikan lagi teriakan dan makian yang membahana untuknya dari orang orang yang terkena semprotan itu.


Gisel memdorong dengan sekuat tenaga pintu itu dan menyeruak keluar dari gudang itu, dan berlari menuju jalan raya yang kelihatan dari itu. Ia menaikinya sebuah drum, dan melompat dari pagar.


HUFT...!


Ia sukses mendarat ke aspal, namun kurang tepat, sehingga kakinya sedikit terluka, namun tak dipedulikan lagi. Ia terus berlari menuju ke persimpangan jalan di depannya yang terlihat ramai dan hendak meminta pertolongan pada polisi, jika ada yang bertugas di pos penjagaan di sana.


***


Usai mengantar Tuan Haris yang mulai setengah mabuk pulang ke rumah, ia menyusuri jalanan mencari Gisel, yang tak ditemukan lagi saat di klub.


Mark mengatakan bahwa Gisel tadi sudah keluar dan tak ingin diganggu. Will berasumsi bahwa Gisel telah pulang. Ia menanyai Bela dan Andin, mereka tidak tahu keberadaan Gisel, dan menyangka telah bersama Mark, karena mereka tadi melihat Gisel bersama Mark.


Will melihat Mark pergi sendiri dengan kesal. Ia menceritakan Gisel menolaknya karena Mona. Padahal ia sama sekali tidak menyukai Mona.


Saat mengantar Tuan Haris, Will memeriksa kamar Gisel, yang ternyata gadis itu belum kembali.


Ia mulai mencemaskan keadaan gadis itu, saat itu Thomas juga sedang berada di luar kota mengerjakan beberapa pekerja.


Will kembali menyusuri jalanan ke arah klub madam Fey. Ia melihat sosok berlari terpincang-pincang di jalanan, ia melihat di kejauhan tiga orang berlari ke arah gadis yang berlari pincang itu.


Will menatap tajam, gadis yang berlari dengan kemeja terbuka itu.


"Astaga! Gisel!" Ia langsung menghentikan mobilnya, dan bergegas turun menuju ke arah Gisel yang terseok-seok itu.


Gisel melihat Will di depannya. Ia menghambur ke arah Will.


"Tolong aku! Mereka yang dulu menyerang aku dan mama!" Ucap menunjuk ke arah orang yang mengejar tadi.


Will menatap tajam ke arah mereka, lalu mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi Mark.


Tak lama sirine polisi terdengar, dan ketiga laki laki itu berbalik menghambur berlari menyelamatkan diri. Namun, polisi dengan sigap segera menangkap mereka, dan Mona juga, yang ternyata dalang dan otak penganiayaan Gisel.


Gisel meminta Will membawanya saja. Ia tak ingin bertemu dengan Mark.


Akhirnya Will pergi sambil membawa Gisel, dan Mark segera menuju markas menyelesaikan kasusnya itu.


Will membuka pintu apartemennya, dan mempersilakan Gisel masuk. Will membantu memapah karena kaki Gisel terluka saat melompat pagar gedung tadi.


"Bersihkan dulu badanmu! Tunggu dulu." Ia segera berlalu, tak lama ia kembali lagi dengan handuk di tangannya. Ia menyodorkan pada Gisel.


Gisel masuk ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2