
Will masih mencari-cari gadis itu. Ia mengerutkan keningnya, ketika ia melihat sosok yang mirip dengan gadis itu menuju arah keluar klub. Will bergegas menuju ke arah pintu.
Will harus melewati lantai dansa yang telah penuh dengan pengunjung yang bergoyang seirama dengan musik yang dimainkan oleh DJ. Beberapa kali Will harus mengucapkan kata maaf karena menabrak beberapa orang.
Seorang petugas keamanan memperhatikan perbuatan Will itu, seakan menyadari dia menjadi perhatian petugas keamanan itu, Will mendekati dan menyapa dengan normal. Namun, sebelumnya, dia telah memasukkan amplop tadi dalam sakunya.
"Hai, bagaimana hari ini?" Sapa Will.
"Ya, seperti biasa, Will. Sejak klub Madam Fey buka, klub ini begini saja. Hanya restoran yang masih ramai. Kamu mencari seseorang?" Tanyanya kemudian.
"Ya, seorang gadis, bermata agak sipit, rambut lurus sebahu."
"Hmmm.." Petugas keamanan itu mencoba mengingat.
"Aku tak melihatnya."
"Oh, ya sudah. Tidak masalah. Terima kasih. Selamat bertugas."
Will meninggalkan klub itu dan menuju mobilnya hendak pulang.
Tiba tiba, Will mendengar suara ribut-ribut dari dalam klub. Segera Will balik badan masuk kembali ke dalam.
"Mana gadis yang bersamaku tadi?!" Teriak seorang pria dengan geram.
Tak ada satu pun yang mendekati karena dia memegang senjata.
Will masuk dan segera mengenali pria itu. Dia adalah bawahan Mark. Will mendekati dan mencoba menenangkan.
"Tunggu. Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Will.
"Mana gadis yang bersamaku tadi?" Teriak pria itu dengan emosi.
"Kamu bersama siapa tadi?"
"Dengan gadisnya Mark." Ucapnya sambil menyeringai jahat.
Will segera mengetahui, bahwa pria itu bersama Gisel, namun, tadi dia langsung menarik tangan Thomas dan pergi meninggalkan tempat itu, entah kemana.
"Mengapa kamu mencarinya? Bukankah pekerjaannya telah selesai denganmu?
"Wanita keparat! Aku diberi minuman yang membuatku tak sadar, lalu dia pergi meninggalkan aku. Kabur, tanpa menjalankan tugasnya. Dasar sialan!" Maki pria itu.
"Oke, bagaimana, jika kamu bisa tukar dengan gadis lain? Lalu kamu boleh menikmatinya." Will menawarkan dengan profesional supaya pria itu tidak marah marah dan membuat keributan di klub itu.
Pria itu terdiam, lalu tersenyum. Lalu dia mengangguk tanda setuju.
Will memberi isyarat supaya mengikutinya. Will menuju ke sebuah lorong yang berisi kamar kamar, tempat yang sama pria itu tadi ditinggalkan oleh Gisel.
Will mengetuk pintu sebuah kamar, dan tak lama seorang gadis membukakan pintu kamar itu. Gadis berpakaian super seksi ala anak sekolah. Di pakaian sekolah itu, dia mengenakan lingerie yang sangat menggoda.
Will membisikkan sesuatu pada gadis itu, dan gadis itu mengangguk angguk mengerti sambil sesekali melirik pria itu.
"Jadi, siapa anak nakal yang harus aku buat senang malam ini, Will?" Ucap wanita itu dengan genit.
__ADS_1
Pria itu mendekat dan langsung disambut oleh pelukan gadis itu.
Tiba tiba pintu itu terbuka.
"Will!" Panggil wanita itu.
Will menoleh. "Aku titip senjata anak nakal ini! Aku tak mau senjata seperti ini. Aku ingin senjata yang lain!" Ucap wanita itu dengan manja sambil terus menggelayut manja pada pria tadi.
Will mengambil pistol pria tadi dan segera membawa ke bagian barang pelanggan.
"Ada ada saja!" Ucap Will sambil geleng-geleng kepala.
"Ada apa Will?" Tanya pegawai yang bekerja menjaga bagian itu.
"Tadi ada pelanggan yang membawa pistol, jadi aku titip di sini. Aku sudah memberi catatan buku ini, dan barangnya ada di loker."
"Baiklah. Selamat beristirahat Will."
"Terima kasih."
Will melangkah kembali menuju mobilnya. Di dalam mobil dia mengambil amplop dari sakunya, dan melihat kembali isinya. Sebuah foto keluarga. Keluarganya!
Will menatap foto dua bocah laki-laki dalam foto itu. Lama sekali Will menatap foto itu. Seolah pikirannya menyatukan puzzle kepingan kepingan ingatan yang selama ini terpotong potong. Dan, akhirnya dia memejamkan matanya kuat kuat.
"Astaga! Bagaimana bisa aku melupakan aku masih memiliki kakak selama ini? Aku terlalu trauma saat bersembunyi menyaksikan Mama dibunuh dan papa telah bersimbah darah juga. Ya Tuhan, aku telah melupakannya! Lalu di mana dia? Mengapa Tuan Haris tak pernah membahas dan menyinggung tentang kakakku? Apa yang terjadi dengannya? Lalu dia ada di mana saat ini?"
Will terus berusaha mengingat kembali kejadian malam itu. Papa dan Mama, kakak dan dirinya. Namun, semua usaha itu sia sia, yang ada kepalanya menjadi pusing karenanya. Will, melajukan kendaraannya menyusuri jalanan kota yang lenggang.
Tiba tiba dia ingin menuju ke klub Madam Fey. Entah mengapa, dia selalu nyaman saat berada di klub itu. Namun, saat dalam. Perjalanan menuju klub, Will berbalik arah, menuju apartemennya. Seolah ada yang kosong dalam dirinya saat ini. Dia merasa membutuhkan seseorang saat ini untuk menemaninya.
"Halo?"
"Gisel, kamu di mana?"
*
*
Tok.. tok.. tok..
Pintu terbuka.
"Astaga Will? Apa yang terjadi denganmu? Mengapa jadi seperti ini?" Seru Gisel saat melihat wajah sayu Will, dan bau alkohol menyengat.
Gisel menutup pintu apartemen, dan memapah Will menuju ke sofa.
"Apa yang terjadi padamu, Will?"
Will menyodorkan foto itu pada Gisel. Gisel menerimanya dan menatapnya. Baru saja dia bertemu dengan Arumi, dan mengetahui banyak hal dari sepupunya itu. Juga tentang Will. Lalu, kini, dia di hadapkan langsung pada Will, yang mungkin juga tengah bingung.
Gisel menghela napas dalam-dalam dan menatap ke arah Will.
"Ini foto siapa?" Tanya Gisel.
__ADS_1
"Keluargaku. Ini papaku, ini mamaku, ini kakakku, dan ini aku." Ucap Will sambil tersenyum.
"Dan aku tiba tiba mengingat bahwa aku masih memiliki seorang kakak, entah saat ini ada di mana? Bagaimana kabarnya, aku juga tidak tahu?" Kini Will tersenyum kecut.
Will berdiri menuju meja mini bar yang ada di sudut ruangan, dan meraih sebotol minuman, lalu meneguknya. Gisel buru buru meraih botol itu, mencegah Will minum terlalu banyak. Lalu meletakkan botol itu di atas meja kembali.
Will menatap Gisel dan meraih tangan gadis itu. Will membenarkan rambut yang ada di pipi Gisel, menyematkan kembali pada tempatnya, di belakang telinga.
Will menyusuri wajah Gisel dengan jarinya, lalu memegang dagu gadis itu dan menautkan bibirnya pada bibir Gisel dengan lembut.
Bagai terkena sengatan listrik tubuh Gisel langsung bereaksi. Meskipun Gisel sering melakukannya dengan pelanggan. Namun, sentuhan Will seakan berbeda. Gisel ingin merasakan lebih dan lebih. Seolah mendambakan sentuhan seperti ini.
Selama ini Gisel menahan perasaannya pada Will. Gisel menahan diri, karena tahu, Papanya yang membunuh keluarga Will. Dia takut Will akan meninggalkannya untuk balas dendam, saat dirinya benar benar jatuh cinta pada Will. Itu yang ada dalam. Pikiran Gisel, jadi selama ini, dia hanya menahan semua rasa yang terpendam itu.
Lalu malam ini, Will mengubunginya, seolah membutuhkan dirinya, Gisel tak ingin menyia-nyiakan semuanya. Setelah Arumi menceritakan kisah Will DNA keluarganya, Gisel bertekad akan mengungkapkan perasaannya, terserah apa yang akan terjadi nantinya.
Dan kini, tubuh mereka tak berjarak. Lidah Will menari nari dalam mulutnya, membuat Gisel hanya bisa merintih manja menandakan meminta lebih jauh lagi.
Gisel mengalungkan tangannya pada leher Will, membalas setiap ciuman yang dilontarkan oleh Will padanya.
Lalu Will menurunkan ciumannya pada leher jenjang Gisel yang membuatnya semakin merintih menikmati semuanya.
"Gisel, aku sangat menginginkan dirimu!" Ucap Will.
"Aku ada di sini, tidak akan pergi ke mana mana." Bisik Gisel.
Will terus membuka pakaian Gisel satu persatu, lalu membuat tanda ciuman pada leher, dada, dan hampir tiap inci tubuh Gisel. Seolah ingin menandai bahwa gadis ini hanya miliknya seorang.
Gisel hanya menggigit bibir bawahnya menikmati setiap sensasi yang timbul dari tiap sentuhan Will.
Gisel membuka pakaian Will juga. Kini, keduanya telah sama sama bagai bayi yang baru dilahirkan, sama sekali tak ada kain yang menempel pada tubuh mereka.
Will mengangkat tubuh Gisel ke meja mini bar, dan memainkan jarinya langsung pada roti sobek Gisel, mengaduk aduk dan memainkan lidahnya tepat pada intinya.
"Will... Oh... Tidak .. ya... Will... Ohhh... Aku.. ahhhhh!!!"
Cairan kental mengalir dari milik Gisel, Will memasukkan miliknya pada Gisel hingga Gisel hanya bisa merintih keenakan.
Will terus memompa miliknya, menghujam hingga ke pangkalnya.
"Oh, Gisel... Enak sekali, Oh... Mengapa bisa sempit seperti ini milikmu? Oh...."
Rancauan Will membuat Gisel tersenyum. Usahanya yoga tiap hari, senam kegel, dan ke dokter untuk memperbaiki miliknya akhirnya tak sia sia.
Will akhirnya bisa menikmatinya dan Gisel yakin, pria ini akan ketagihan dan ingin memintanya terus setelah ini. Sama seperti yang dilakukan oleh pelanggannya.
Will mengangkat tubuh Gisel yang masih bertaut dengan dirinya menuju ke tempat tidur, lalu melanjutkan pertempuran mereka di atas ranjang yang lembut itu. Setelah bergulat beberapa ronde akhirnya Will tergeletak sambil memeluk Gisel.
Tubuh Will dan Gisel kini bermandi peluh dan cairan. Will tertidur dengan nyenyak sambil menyunggingkan senyum. Gisel mengecup pipi Will, dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Suara air dari shower, membuat Gisel tak sadar, bahwa seseorang ada di belakang sedang memperhatikan dirinya.
"Kamu pikir karena pengaruh alkohol, aku akan lengah?" Bisik Will sambil meraih pinggang Gisel.
__ADS_1
"Oh, Will....!"
*****