
Pagi hari di hari minggu di sebuah desa di bogor yang masih asri, kicauan burung yang sepertinya sedang berbicara dalam bahasanya, embun yang terasa sejuk di kulit, dan pemandangan alam yang membuat hati tenang bagi siapapun yang melihatnya.
Tinggallah seorang gadis yang berparas cantik, manis, dan memiliki kepribadian yang baik kalau pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Dia keluar rumah untuk menuju sawah yang letaknya tak jauh dari rumah sambil bersenandung lalu menyapa orang yang bertemu dengannya dan disana terdapat ayah dan ibunya.
Ayah Ramdan dia adalah salah satu tokoh yang dituakan di desa.karena dulu pernah menjabat sebagai kepala desa, dia memilikiwajah yang tampan di usianya yang terbilang sudah tak muda lagi, dia memiliki kepribadian yang baik, suka menolong, cerdas, ramah, tegas dan keras saat mendidik anak-anaknya karena dia tak ingin anaknya terlalu terlena dengan kehidupan, selain itu dia juga lulusan dari universitas yang terkenal pada masanya. Dan Ibu Fatima dia begitu cantik dan anggun, penyayang, suka anak kecil, dan ramah kepada siapapun, terlepas dari itu semua ibu Fatima adalah lulusan pondok pesantren. Ibu Fatima dan Ayah Ramdan berjuang di desanya itu, agar desa tersebut tidak tertinggal dengan
desa yang lain. Ayah Ramdan juga membangun masjid dan sekolah madrasah (sekolah agama), di saat belum ada pemerintah yang memperhatikan desa tersebut. Itu yang membuat para warga di desa tersebut segan dan hormat kepada beliau. tak menutup kemungkinan juga banyak orang yang tidak suka akan keharmonisan dan harta yang dimiliki keluarga ini.
Saat gadis itu melihat ayah dan ibunya dia lantas berteriak lalu berlari kecil
“Ayaahh, Ibuuu, sisil datang” sambil tersenyum ke arah kedua
orang tuanya itu
Ya dia adalah Priscilla Putri Zahra biasa dipanggil sisil gadis yang berumur 16 tahun masih mengenyam bangku sekolah smk kelas 11, dan yang selalu menjadi dambaan pria dan orang tua yang ingin memiliki menantu seperti dia, bahkan namanya terkenal sampai didesa tetangga karena sifat, kepribadiannya, dan tentu kecantikan
yang dia miliki, dia juga dijuluki kembang desa oleh orang-orang. Entah dari mana asal julukan itu dia tidak mempermasalahkannya selama itu tidak mengganggu pikirnya.
Sisil juga memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Muhammad Putra Zafran biasa dipanggil Zafran yang berumur 22 tahun dan adik laki-laki namanya Muhammad Putra Huzain biasa dipanggil Zain berumur 10 tahun yang tentu sangat tampan.
“hati-hati sayang licin, nanti kamu jatuh” kata ibu sambil tersenyum
melihat tingkah anaknya itu
ayah hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat
tingkah putri kesayangannya.
“ih kok aku gak dibangunin si bu kan aku juga mau ikut ke sawah”
“kamu itu yang dibangunin susah” kata ibu sambil mencabut rumput yang ada di sawah
“abang sama adek sudah bangun kak?” tanya ayah
“abang sudah bangun yah, kalo adek tadi bangun terus tidur lagi” mendengar jawaban anaknya, kedua orang tua itu tertawa, membayangkan tingkah anak-anaknya, aku pun ikut tertawa
__ADS_1
mengingat tingkah abang dan adikku itu.
begitulah keharmonisan keluarga ini walaupun mereka orang berada namun tetap rendah hati dan selalu sederhana.
**********
hari sudah berganti kini hari senin dimana anak sekolah enggan
untuk masuk karena harus datang lebih awal untuk melakukan
upacara.
“abang, kakak, adek, bangun sholat subuh” teriak ibu dari dapur,karena kamar anak-anaknya dekat dari dapur.
“abang sudah bangun buk” sahut abang
“sudah sholat subuh belum?”tanya ibu
“sudah ibuku tersayang”
“ya sudah, tolong abang bangunin kakak sama adek ya kayaknya belum bangun, habis itu langsung mandi, terus nanti sarapan bareng”
tok tok tok mengetuk kedua pintu adik-adiknya. karena pintu kamar yang bersebelahan jadi langsung bisa mengetuk 2 pintu sekaligus
“ adek bangun sudah jam 7 ini nanti telat dihukum baru tau rasa” ucap abang yang jahil ke adik adiknya sambil tersenyum.
Di dalam kamar dua kakak beradik itu
“astaghfirullah, aabangggg” teriak kedua kakak beradik itu dan langsung lari ke kamar mandi mengambil air wudhu dan langsung menunaikan sholat subuh.
“hahahaha” tawa abang saat mendengar teriakan kedua adiknya itu, dan langsung menuju kamarnya untuk mandi.
Di kamar Sisil
setelah selesai sholat aku pun langsung melihat jam dan ternyata
jam masih menunjukkan pukul 04.33.
__ADS_1
“hufftttt abang ini, awas aja nanti ku balas kau abang” sambil melipat mukena yang baru selesai aku pakai.
“sebaiknya aku mandi biar nanti berangkat santai”
setelah mandi aku bersiap dengan seragamku dan rambut yang setengah di kuncir, aku pun keluar kamar dan menuju ke meja makan yang ada di rumah.
Di meja makan
“selamat pagi ayah” ucapku sambil mencium ayah yang sudah duduk menunggu anak-anaknya bersiap.
“selamat pagi sayang” ucap ayah sambil mencium putri
kesayangannya.
“selamat pagi ibu” ucapku kepada ibu sambil mencium ibu yang baru menaruh lauk pauk yang akan dimakan nanti.
“selamat pagi sayang” membalas sapaan putrinya dan mencium pipi putri tersayangnya itu.
setelah duduk semua, namun abang dan adiknya belum keluar.
“ kakak coba panggil abang dan adikmu kenapa belum keluar juga”
aku pun mengangguk belum sempat melangkah ternyata abang dan adik sudah keluar.
“selamat pagi ayah, ibu” ucap abang dan adik bersamaan sambil memeluk dan mencium bergantian.
setelah semua duduk mereka pun melakukan sarapan bersama dengan hening.
saat sudah selesai sarapan aku pun membantu ibu untuk membersihkan meja makan dan hendak mencuci piring.
“kamu mau ngapain kak” ucap ibu
“aku mau mencuci piring ini bu” sambil mengangkat piring kotor
“udah jangan biar ibu saja, nanti seragammu basah” ucap ibuku
“baiklah” ucapku sambil meninggalkan piring kotor itu di tempat mencuci piring dan langsung kembali duduk di kursi makan yang disitu masih terdapat ayah, abang, dan adiknya.
__ADS_1
setelah aku duduk tak lama ibu juga sudah berada di meja makan bersama kami.